Black Rose julukannya, ada tatto mawar hitam di punggungnya. Dia agen rahasia XpostOne 06 yang paling ditakuti. Sepak terjangnya terdengar sampai belahan dunia. menyamar sebagai jurnalis dan presenter hot news di sebuah televisi swasta milik ayahnya.
Kini ia ditugaskan untuk menangkap seorang pemb*nuh bayaran yang lari ke luar negeri. Konon pemb*nuh ini sangat licik dan dilindungi oleh sindikat bawah tanah.
Mampukah dia menangkap pemb*nuh itu atau dia malah terb*nuh?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13. KE BALI.
Setelah sepuluh tahun diluar negeri, ia di tugaskan oleh Maroko pimpinan gangster bawah tanah, untuk menjadi bodyguard Edoardo. Ia mendapat bayaran lima puluh miliar.
"Ada seratus miliar untuk melindungi anak menteri, kita bagi uangnya fitty-fitty, kau pergi ke Indonesia dan jaga pemuda itu jangan sampai terbunuh." ucap Maroko memberinya cek.
Itu awalnya kenapa dia bisa ke Indonesia, karena Maroko mengirimnya. Tapi dia gagal menjaga Edoardo, uang di minta kembali oleh ibu mentri.
Itu membuat Maroko marah dan merasa rugi, harusnya dikembalikan setengah, tapi Berlin terlalu emosi karena dihina oleh bu menteri, ia lalu mengembalikan sepenuhnya.
Semua perkara ada hikmahnya, kalau tidak menjadi bodyguard mungkin ia tidak bertemu Black Rose. Bukan karena fell in love at first sight, tapi pertemuan itu penuh kejutan.
Seharian a memikirkan Black Rose, bukan karena mengkhayal tubuh sexynya, murni karena dendam...ya dendam, mana mungkin ia bisa jatuh cinta kepada gadis yang pernah menembaknya, rasa sakit di dadanya kadang masih berdenyut.
Sebulan merenung disini membuatnya sadar, saat ia opname di rumah sakit, tak ada satu pun orang datang menemaninya apalagi memberinya makan.
Waktu itu ia merasa iri kepada pasien di sebelahnya. Setiap hari pasien itu di bezuk oleh istri dan anaknya. Mereka berdoa bersama, makan disuapi oleh istrinya, bahagia banget, padahal lauknya sederhana sekali.
Rupanya hidup bahagia tidak karena uang banyak, tapi karena adanya rasa diantara kita, yang bisa menciptakan bahagia. Tak ada gunanya mengejar harta sampai ke ujung dunia dan mengorbankan nyawa. Kekayaan tidak sepenuhnya membuat bahagia.
Setelah ia pikir-pikir lebih baik menjauh dari keluarga Raharja, ia akan pergi ke Bali membeli properti di sana. Merebut warisan keluarga Raharja bukan typenya.
Mungkin ia akan mengajak paman tinggal di Bali, itu pun kalau paman mau. Tapi apa betah tinggal di pulau kecil itu? Ntahlah..
SEMINGGU KEMUDIAN.
Qai turun dari privat jet dengan ransel di punggung. Setengah wajahnya tertutup masker, ia sengaja membiarkan rambut panjangnya tergerai. Biasanya ia paling suka memakai topi eiger, tapi kali ini tidak. Ia juga melepas kaca mata agen di ganti dengan kaca Ray-Ban, Oakley.
"What's wrong Qai, are you rebelling dari Jhon Meyer?"
Sebuah notif muncul di GSM privatnya. GSM adalah alat komunikasi rahasia dilingkungan agen XpostOne, menyerupai hape apel kroak, jadi tidak ada yang mencurigai.
"Aku ingin menenangkan diri dan berpikir pindah ke Bali. Kau dimana? Apakah kau melihat aku?" ucap Qai celingukan.
Tidak mungkin Nathan ada di Bali, dia masih menjalankan misi ke Thailand dengan Bayu. Bathinnya.
Tidak ada jawaban dari Nathan, ia pun melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir. Hari ini Bali sangat panas, belum ada sepuluh menit di parkiran keringatnya sudah mengucur.
Ya ampun...pantas bule-bule itu hampir semua berpakaian minim, ini sebabnya. Panass..
Mobil Rolls-Royce dengan DK.828 telah menjemputnya. Dewi tersenyum manis dan menyuruhnya masuk.
"Kamu tugas di Bali?" tanya Qai setelah mereka berada satu mobil.
"Aku disuruh bos menjemputmu, Jhon Meyer bilang kau ngambek, satu lusin gelas, piring dan pot bunga telah kau hancurkan. Bener begitu?"
Qai terdiam, ia menarik nafas panjang, semenjak kejadian di hotel Eden hatinya selalu kacau. Ia merasa tak berguna...
"Qai, aku bertanya dengan nada lembut, jawab donk. Ada apa sayank, biasanya kau tegar, tidak gampang menyerah. Cerita sayank...aku siap mendengarkan."
"Tidak ada yang perlu diceritakan, Jhon Meyer terlalu khawatir."
"Aku melihat wajahmu pucat tidak seperti biasanya. Apa ada yang menindasmu?"
"Ya ampun Dewi, mana ada begitu. Aku memang ada masalah tapi sudah clear."
"Oh gitu, semoga tidak terjadi sesuatu, kedatanganmu ke Bali dalam rangka apa, aku rasa tidak ada jadwal mu di Bali. Apa kau mau membantu misi ku?"
"Aku mau menenangkan pikiran dulu, tidak mau menginap di tempat mu, sorry ya..."
"Qai..kau betul-betul berubah, apakah karena Nathan?" tanya Dewi hati-hati.
"Emang Nathan kenapa? Ada di Bali ya. Tadi dia chat, aku balas dia gak lanjut."
"Kapan dia chat, jam berapa? Coba lihat GSM privat mu."
"Kau kenapa Dewi, panik sekali." ucap Qai memperlihatkan GSM nya.
"Wehh...jangan diambil GSM ku, tidak boleh, ini privasi."
Dewi mengembalikan GSM Qai, air matanya menggelinding jatuh. Tubuhnya bergetar menahan kesedihannya. Qai mengira Dewi tersinggung mendengar ucapannya, ia buru-buru minta maaf.
*****