Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita yang Datang
Lift privat itu terbuka perlahan. Alessandro keluar sendirian, menuju rooftop gedung Virel Corp dengan langkah tenang. Sementara angin malam menyapu jas hitamnya.
Kota Jakarta membentang di bawah sana, lautan cahaya yang terlihat indah dari kejauhan, tapi busuk di dalam.
Sudah tiga malam berturut-turut ia merasa sedang diawasi, dan malam ini, firasat itu kembali datang.
Alessandro berhenti di dekat pegar besi rooftop, tatapannya tajam menelusuri setiap sudut gelap.
Hingga suara wanita terdengar di tengah sunyinya malam.
"Kalau dari tadi gue mau menembak lo, mungkin sekarang lo sudah mati."
Suara wanita itu terdengar dingin, santai, dan penuh ancaman.
Alessandro menoleh cepat, seorang wanita tengah berdiri di atas container besi dekat menara antena.
Wanita itu mengenakan hoodie hitam oversize, dengan masker yang menutupi setengah wajahnya.
Rambut gelapnya tertiup angin malam, dan yang paling mengganggu dia memegang sebuah pistol dengan posisi sangat stabil.
Tatapan Alessandro langsung berubah tajam, "Siapa lo?"
Wanita itu melompat turun dengan ringan, sepatunya menyentuh lantai beton tanpa suara keras.
"Pertanyaan yang salah," ucapnya dengan berjalan mendekat. "Yang seharusnya lo tanyakan itu, siapa orang yang sekarang sedang memburu lo."
Alessandro diam, instingnya langsung mengatakan bahwa wanita ini berbahaya. Dan wanita ini bukan sekedar penguntit biasa.
"Gue nggak suka basa-basi," ucap Alessandro dingin. "Jawab sebelum gue paksa lo untuk bicara."
Wanita itu tertawa kecil, "Wow, cukup menarik. Tatapan itu... persis seperti Leonardo Valerio."
Nama itu langsung membuat suasana terasa berubah, rahang Alessandro menegang. "Lo sama sekali nggak kenal siapa dia."
"Kebohongan pertama."
Wanita itu membuka maskernya, wajahnya muda, cantik, tapi bukan kecantikan yang lembut. Tatapannya tajam seperti pisau, ada luka tipis di bawah mata kirinya, membuat wajahnya terlihat lebih berbahaya daripada rapuh.
Untuk sesaat, Alessandro terpaku, tapi bukan karena kecantikannya. Melainkan karena perempuan itu, terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup di dunia gelap.
"Nama gue, Reina."
Alessandro tersenyum sinis, "Dan gue sama sekali nggak peduli nama lo."
"Sayang banget," Reina tersenyum tipis. "Padahal gue baru saja menyelamatkan hidup lo."
Alessandro mengernyit heran, "Apa maksud lo?"
Reina melempar sebuah flashdisk ke arahnya, dan Alessandro langsung menangkap benda itu.
"Kamar server lantai tiga," kata Reina santai. "Coba cek CCTV jam 19.42."
Belum sempat Alessandro bicara, tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari sistem keamanan gedung.
"AKSES TIDAK DIKENAL TERDETEKSI."
Mata Alessandro langsung berubah dingin, ia menatap Reina lagi. "Siapa lo sebenarnya?"
Reina berjalan melewatinya begitu saja, "Gue seseorang yang tahu, kalau RED ASHES sekarang sudah bangun lagi."
Langkah Alessandro terhenti, untuk pertama kalinya, malam itu emosinya benar-benar terusik.
"Dari mana lo tahu nama itu?"
Reina menoleh sedikit, karena dalam beberapa tahun terakhir, hampir tidak ada yang berani menyebut nama organisasi itu secara langsung.
Dan wanita ini mengucapkannya tanpa rasa takut.
"Karena gue pernah ada di dalamnya."
Angin malam terasa semakin dingin, tatapan Alessandro perlahan berubah. Kini bukan sekedar waspada, tapi rasa penasaran muncul dalam diri Alessandro.
Reina tersenyum tipis, saat melihat raut wajah Arkan yang berubah.
"Nah," bisiknya pelan. "Akhirnya sekarang lo mulai tertarik juga."
Ruangan server itu gelap dan dipenuhi suara dengung mesin.
Layar monitor menyala satu per satu, saat Alessandro memutar rekaman CCTV.
Jam 19.42. Terlihat seorang pria berseragam teknisi masuk ke area basement. Semuanya terlihat normal, tapi lima detik kemudian, pria itu mengangkat wajah ke arah kamera.
Dan Alessandro langsung mengenal simbol kecil di lehernya, seekor serigala merah. Simbol lama RED ASHES.
Tatapan Alessandro berubah tajam, pria itu lalu tersenyum ke arah kamera, seolah tahu dirinya sedang direkam.
Dan layar langsung mati penuh gangguan statis.
BRAK!
Alessandro memukul meja server dengan keras, sampai monitor bergetar.
Sial.
Mereka benar-benar kembali.
Ponselnya bergetar, pesan anonim masuk.
"DARAH VALERIO TIDAK AKAN PERNAH BISA SEMBUNYI."
Alessandro menatap layar itu lama, perlahan sesuatu dalam dirinya mulai bangkit.
Sesuatu yang selama ini ia kubur, yaitu kemarahannya.
Di parkiran basement, Reina duduk santai di atas motor hitam besar, sambil memainkan korek api.
Saat Alessandro datang, wanita itu bahkan tidak terlihat terkejut.
"Jadi bagaimana?" tanyanya. "Apa sekarang lo sudah percaya?"
"Kenapa lo bantu gue?"
Reina tersenyum tipis, "Karena kalo lo mati sekarang, permainannya akan jadi membosankan."
Alessandro mendekat pelan, "Lo tahu terlalu banyak."
"Dan lo terlalu lambat."
Tatapan mereka saling bertemu, tegang, berbahaya. Ada sesuatu dalam diri Reina yang langsung membuat Alessandro sulit percaya.
Tapi anehnya, ia juga sulit untuk mengabaikannya.
"Apa tujuan lo yang sebenarnya?" tanya Alessandro.
Reina mematikan korek apinya, "Gue sedang mencari seseorang."
"Siapa?"
Tatapan Reina berubah tajam, "Seseorang yang sudah membunuh kakak gue."
Untuk pertama kalinya, Alessandro melihat luka di balik mata wanita itu.
"Lalu apa hubungannya dengan RED ASHES?"
Reina mengangguk kecil, "Dan mungkin... ada kaitannya juga dengan bokap lo."
Alessandro mencengkram pergelangan tangan Reina dengan cepat, "Jangan bicara sembarangan soal Leonardo."
Reina menatap tangannya yang di cengkram, lalu tertawa pelan. "Lihat? Lo bahkan nggak sadar, kapan lo mulai berubah jadi bokap lo sendiri."
Kalimat itu menghantam lebih keras dari sebuah pukulan, cengkraman Alessandro perlahan mulai melemah.
Dan untuk beberapa detik, ia membenci dirinya sendiri. Beberapa hari terakhir, ia mulai menikmati rasa takut orang lain.
Mulai menikmati mengontrol, kekuasaan, dan itu sama persis seperti Leonardo.
Reina menarik tangannya perlahan, "Gue bisa bantu lo buat bertahan hidup."
"Tapi?"
"Tapi kalau suatu hari nanti lo berubah jadi monster, gue yang akan jadi orang pertama untuk menembak kepala lo."
Alih-alih marah, Alessandro justru tersenyum tipis. Senyuman kecil yang begitu dingin.
"Berani juga lo."
"Karena gue nggak takut sama seorang Valerio," ucapnya dengan tatapan dingin.
Seketika suasana menjadi sunyi, namun sekarang ada sesuatu yang berbeda. Bukan sekedar ancaman, atau pun kerja sama. Tapi chemistry berbahaya, yang bahkan mereka sendiri belum mengerti.
Lampu basement berkedip pelan, dan di sudut gelap parkiran, seseorang diam-diam memotret mereka dari kejauhan.
Foto Alessandro dan Reina langsung terkirim ke nomor anonim. Dengan satu pesan singkat:
"TARGET SUDAH MENEMUKAN PEWARIS."
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
"AWASI WANITA ITU, DIA BISA SAJA MENGHANCURKAN ALESSANDRO. ATAU MUNGKIN, DIA AKAN MENJADIKANNYA SEBAGAI LEONARDO YANG BARU."