Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
Seminggu berlalu, semua berjalan seperti biasanya. Kejadian yang berulang-ulang itu Amira biarkan karena ia menyadari kesibukan suaminya. Farhan benar-benar irit bicara; ia lebih banyak diam dan menyimak apa yang diucapkan Amira. Bahkan saat Amira meminta pendapat, Farhan hanya akan bilang, "Terserah kamu aja, aku ikut. Pokoknya kamu yang atur semuanya, aku yang cari uangnya." Amira merasa sendiri menjalani rumah tangga ini. Dia pun merasa kesepian, apalagi kedua adiknya disibukkan untuk belajar agar bisa naik kelas dan lulus dengan prestasi.
Hari ini Amira berencana membuat kue brownis dan akan mengirimnya ke rumah mertuanya untuk camilan sore hari. Dia sibuk di dapur, sesekali Bi Sumi membantu, tapi pekerjaan membuat kue lebih banyak dilakukan Amira. Dia sibuk sejak suami dan adik-adiknya pergi; setelah zuhur, pekerjaan itu baru selesai.
"Sebaiknya aku tidur siang dulu, rasanya capek sekali. Nanti habis ashar aku antar ke rumah orangtua Mas Farhan," ucap Amira, lalu langsung pergi ke kamarnya dan membersihkan diri, kemudian tidur siang. Namun, sampai jam satu lewat Amira belum juga tidur dia masih sibuk dengan hapenya berselancar di medsos. Saat pukul setengah tiga, Amira baru mengantuk dan tertidur.
Amira bangun agak sorean. Jam setengah empat baru bangun, alhasil dia buru-buru bangun, mandi, dan melakukan ibadah. Setelah selesai, dia mengambil kue yang akan dibawa ke rumah mertuanya Amira sudah pesan ojek online. Awalnya Amira ingin minta tolong kurir saja yang antar, tapi setelah dipikir-pikir, dia belum melihat keadaan mertuanya selama lebih dari seminggu ini.
Jam lima kurang, Amira sampai di kediaman mertuanya, tapi rumah itu seperti lagi ada acara. Tenda terpasang di halaman luas milik keluarga Hutama. Para pekerja sibuk dengan tugasnya masing-masing. Di pos satpam Amira berhenti.
"Pak, ini ada acara apa?" tanya Amira pada satpam yang bertugas sore itu.
"Oh, ini Mbak, lagi persiapan buat acara Ibu sama Bapak pemilik rumah. Mbak mau bertemu sama orang rumah ya?" tanya satpam bernama Yono. Sepertinya pria usia 40-an itu tidak mengenal Amira, karena Amira saja baru melihatnya.
Saat sedang asik bertanya-tanya, Amira melihat mobil suaminya masuk, tapi Farhan tidak menyadari hal itu.
"Loh, itu kan mobil Mas Farhan, kok pulang ke sini?" ucap Amira, yang didengar oleh Pak Yono.
"Mbak kenal Mas Farhan? Dia memang sering pulang ke sini. Katanya udah nikah, tapi saya belum pernah lihat istrinya, karena saya baru kerja seminggu gantiin Pak Min yang udah pensiun."
Amira terkejut. "Sering pulang ke sini? Setiap hari, Pak?" tanya Amira memastikan.
Satpam itu mengangguk. "Seingat saya, selama saya kerja seminggu di sini, Mas Farhan selalu datang, dan pulang saat malam. Entahlah urusan orang kaya, mungkin lagi berantem sama istrinya." Pak Yono membicarakan majikannya, padahal di hadapannya adalah istri dari majikannya.
Tubuh Amira bergetar hebat wajahnya sudah memerah, tapi sebisa mungkin dia tidak ingin menangis. Saat Farhan turun dari mobil, sepupu-sepupunya menyambut Farhan dan memeluk laki-laki itu.
"Han, kangen banget sama kamu. Udah lama kita nggak ketemu, kamu juga jarang chat aku duluan," ucap sepupu perempuan yang usianya seumuran Amira.
"Iya ih, sombong banget. Kalau nggak Tante yang telepon kita langsung buat hadir di anniversary-nya, mungkin kita nggak akan ketemu kamu," ucap sepupu satunya.
"Mas Farhan kok kurusan sih? Jarang makan ya? Lagi stres ya? Aduh… aduh, perempuan mana yang bikin Mas aku stres gini?" sambar salah satu perempuan yang baru keluar dari dalam rumah.
"Kalian berisik banget," sahut Farhan.
Obrolan mereka masih terdengar jelas di telinga Amira hal itu membuat dada Amira benar-benar sesak. Dia benar-benar orang asing di keluarga Hutama. Acara sebesar ini dia tidak dilibatkan, bahkan Amira tidak dikenalkan dengan keluarga besar yang lain. Lalu, suaminya yang ia anggap peduli pada dirinya, ternyata selama ini sudah berbohong. Dengan tangan bergetar, Amira pamit pada Pak Yono.
"Pak, ini kue pesanan tuan rumah, katanya buat para pekerja hari ini. Saya pamit ya, Pak. Terima kasih." Amira sudah tidak tahan berlama-lama di sana, dia memutuskan untuk pulang.
"Oh, iya Mbak, terima kasih ya. Nanti saya bawa ke bagian dapur." Amira mengangguk dan pergi.
Ia seperti hilang arah, berjalan seperti orang bingung. Tiba-tiba sore itu hujan cukup deras, tapi Amira tidak berteduh dia memilih menangis bersama derasnya hujan. Dia tidak peduli setelah ini akan sakit, yang jelas dadanya yang sesak ini harus ia lampiaskan.
"Kamu anggap apa aku selama ini, Mas?" ucap Amira sambil menangis.
"Apa aku tidak selayak itu di mata keluargamu? Kenapa kamu berbohong? Aku kira kamu benar-benar sedang lembur, tapi kamu malah pulang ke rumah orangtuamu," tanya Amira bertubi-tubi, meskipun suaminya tidak ada.
Hujan terus membasahi tubuh Amira, namun rasa dingin itu kalah jauh dibanding rasa kecewa yang begitu menyakitkan. Air hujan bercampur dengan air mata yang tak henti mengalir, membuat siapa saja tak bisa lagi membedakan mana air langit dan mana air mata yang tumpah karena kecewa. Langkah kakinya gontai, tak peduli betapa orang-orang yang lewat menatapnya heran. Di kepalanya terus berputar ucapan Pak Yono “Setiap hari Mas Farhan ke sini, pulangnya malam.”