NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 ​Sang Pewaris yang Kembali ke Sarang

Karpet beludru merah marun yang membentang di sepanjang koridor utama kediaman besar keluarga Prawijaya seolah menjadi saksi bisu kembalinya sang putri tunggal. Rumah besar bergaya Eropa klasik yang berdiri megah di kawasan elite Jakarta itu hari ini tampak lebih hidup dari biasanya. Seluruh pelayan, mulai dari kepala rumah tangga, juru masak, hingga penjaga kebun, berbaris rapi di dekat pintu masuk utama. Mereka semua mengenakan seragam terbaik, memasang senyum paling ramah, dan menundukkan kepala dengan takzim saat pintu gerbang besi tinggi terbuka otomatis.

​Hari ini adalah hari di mana Aruna Prawijaya akhirnya menginjakkan kaki kembali di rumah masa kecilnya setelah melewati badai besar di London, disusul dengan masa-masa kritis operasi jantung di rumah sakit akibat insiden fatal yang digawangi oleh Michelle.

​Mobil sedan mewah yang membawa Aruna berhenti tepat di depan lobi. Pintu mobil dibuka oleh seorang pengawal, dan dari dalam sana, Aruna melangkah keluar. Tubuhnya masih tampak kurus, wajahnya pun masih menyisakan sisa-sisa kepucatan pasca operasi besar. Namun, cara wanita itu berdiri dan menatap sekelilingnya telah berubah total. Tidak ada lagi binar kepolosan atau kerendahan hati yang dulu melekat padanya saat masih menjadi mahasiswi biasa di London. Yang ada hanyalah sosok wanita yang anggun, dingin, dan memancarkan aura penguasa yang mutlak.

​"Selamat datang kembali di rumah, Nona Muda," ucap para pelayan serempak, membungkuk memberi hormat.

​Di ujung barisan pelayan, Deon Prawijaya dan istrinya sudah berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Sang ibu langsung melangkah maju, membuka kedua tangannya lebar-lebar untuk menyambut sang putri ke dalam pelukan hangat yang sudah lama ia rindukan. Semua persiapan penyambutan ini, mulai dari dekorasi bunga segar yang menghiasi setiap sudut ruangan hingga menu makanan sehat khusus pascaoperasi, dipersiapkan sendiri oleh kedua orang tuanya selama berhari-hari. Mereka ingin membuktikan bahwa kini, Aruna adalah prioritas utama mereka.

​Namun, harapan kedua orang tua itu untuk mendapatkan momen reuni yang mengharukan harus kandas seketika.

​Saat sang ibu mencoba merengkuh tubuhnya, Aruna dengan gerakan halus namun tegas melangkah mundur satu langkah. Ia menghindari pelukan itu dengan raut wajah yang sangat datar, membuat tangan ibunya kembali menggantung di udara dengan rasa kecewa yang mendalam.

​"Aruna... Mama sudah menyiapkan kamar barumu di atas. Semua dekorasinya diganti dengan warna kesukaanmu, dan koki rumah juga sudah memasak sup herbal khusus untuk memulihkan tenagamu, Nak," ujar ibunya, mencoba menahan getaran di suaranya agar tetap terdengar ceria dan penuh perhatian.

​Aruna melirik sekilas ke arah ibunya, lalu beralih menatap sang ayah yang berdiri di belakang dengan tatapan penuh harap. Alih-alih merasa terharu atau berterima kasih atas semua kemewahan dan sambutan luar biasa ini, sudut bibir Aruna justru terangkat, menciptakan senyuman sinis yang teramat tipis. Bagi Aruna, semua kemewahan ini terasa hambar. Rasa sakit yang ia bawa dari London, baik sakit fisik di dadanya maupun luka batin akibat penolakan dan ketidakpedulian orang tuanya selama bertahun-tahun tidak akan bisa disembuhkan hanya dengan karpet merah, bunga-bunga segar, atau sup herbal mahal.

​"Semua ini berlebihan," ucap Aruna dengan nada suara yang sangat ketus, dingin, dan memotong atmosfer kebahagiaan di ruangan itu dalam sekejap. "Aku hanya butuh tempat untuk tidur, bukan pesta penyambutan. Tolong minta seseorang untuk membawa barang-barangku ke kamar."

​Deon Prawijaya menghela napas pendek, mencoba menekan ego besarnya sebagai seorang penguasa bisnis demi menghadapi putrinya yang mengeras bagai batu karang. Ia melangkah mendekat, mencoba menyentuh pundak Aruna. "Papa tahu kamu masih lelah, Aruna. Kami hanya ingin menebus waktu yang hilang. Mulai hari ini, kamu tidak perlu memikirkan apa pun lagi. Rumah ini adalah tempat teraman untukmu, dan semua aset keluarga sudah Papa persiapkan untuk beralih atas namamu sebagai pewaris tunggal."

​Aruna menatap ayahnya tepat di manik mata. Sorot mata dinginnya seolah mampu menembus isi kepala pria paruh baya itu. "Aset? Uang? Jadi, bahkan setelah aku hampir mati di London, yang ada di pikiran Papa masih tetap tentang urusan bisnis dan nama baik pewaris Prawijaya?"

​"Aruna, bukan begitu maksud Papa—"

​"Aku mau ke kamar. Permisi," potong Aruna dengan cuek. Ia membalikkan badannya dan melangkah menaiki tangga marmer tanpa menoleh lagi, meninggalkan kedua orang tuanya yang berdiri mematung di tengah aula besar dengan hati yang berdenyut ngilu. Para pelayan yang menyaksikan interaksi itu hanya bisa menunduk dalam-dalam, terkejut melihat bagaimana Nona Muda mereka yang dulu lembut kini berubah menjadi sosok yang begitu ketus dan tak tersentuh.

​Sesampainya di dalam kamar barunya yang luas, Aruna langsung mengunci pintu dari dalam. Ia melemparkan tas kecilnya ke atas sofa beludru, lalu berjalan menuju balkon kamar yang menghadap langsung ke arah taman belakang. Keheningan malam Jakarta mulai merayap masuk. Di dalam kesunyian itu, Aruna mendudukkan dirinya di kursi santai, memeluk kedua lututnya sendiri.

​Pikirannya mendadak melayang pada kedua sahabat baiknya, Devan dan Theo. Biasanya, di saat-saat penuh tekanan seperti ini, kedua pria konyol itulah yang selalu berhasil mencairkan suasana dengan candaan mereka yang tidak bermutu namun menenangkan. Namun, untuk kali ini, Aruna harus berjuang sendirian di Indonesia tanpa kehadiran mereka di sisinya.

​Setelah kelulusan mereka di London, Devan dan Theo memutuskan untuk menetap sementara di Indonesia demi melanjutkan pendidikan S2 mereka. Beruntung, keduanya berhasil lolos dalam seleksi beasiswa bergengsi di salah satu universitas negeri terbaik di Jakarta. Saat ini, mereka berdua sedang disibukkan dengan urusan administrasi, pendaftaran ulang, dan persiapan orientasi kampus yang sangat padat. Aruna sengaja melarang mereka untuk ikut menjemputnya hari ini, ia tidak ingin merepotkan atau menjadi beban bagi masa depan kedua sahabatnya yang sedang berjuang menata karier akademis mereka di dalam negeri.

​Setidaknya, Devan dan Theo sedang berjalan menuju masa depan mereka yang cerah, batin Aruna, senyum tulus yang sangat tipis akhirnya muncul di wajahnya yang lelah. Mereka tidak boleh ikut terseret ke dalam lingkaran kegelapan dan dendam yang sedang kubangun di rumah ini.

​Aruna memejamkan matanya, meraba dadanya yang sesekali masih terasa nyeri akibat bekas operasi. Di balik tulang rusuknya, jantung baru itu berdetak dengan ritme yang konstan. Jantung yang ia dapatkan setelah bertaruh nyawa akibat dorongan kejam Michelle yang menyebabkannya jatuh dan koma berhari-hari.

​Kejadian di London itu telah mengubah Aruna sepenuhnya. Di dalam kegelapan komanya, ia telah bersumpah, jika ia diberikan kesempatan untuk membuka mata kembali, ia tidak akan pernah membiarkan dirinya diinjak-injak oleh siapa pun lagi. Baik oleh Michelle yang dengki, oleh kedua orang tuanya yang terlambat peduli, maupun oleh Baskara Dirgantara, mantan dosennya yang berhati es yang kini, entah mengapa, mulai terus-menerus mencoba mendekatinya dengan kedok penyesalan.

​Aruna membuka matanya kembali, dan kali ini, kilatan di dalam netranya terasa jauh lebih tajam dan berbahaya di bawah sinar rembulan. Ia telah kembali ke Indonesia bukan sebagai mahasiswa lemah yang bisa ditindas, melainkan sebagai Aruna Prawijaya sang pewaris tunggal yang siap mengambil alih apa yang menjadi haknya, sekaligus membangun benteng pertahanan yang tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh siapa pun, termasuk oleh pria bernama Baskara Dirgantara yang dulu pernah menghancurkan kepercayaannya.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!