"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.
"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.
Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat ibu mertua
Tiga hari setelah kejadian malam itu, sebuah mobil perjalanan jarak jauh berwarna hitam berhenti di halaman rumah Yusuf dan Nora. Kabar kedatangan orang tua Yusuf—Pak Harun dan Bu Siti Aminah—dari Palembang sudah dikabarkan sehari sebelumnya. Kedua orang tua itu sengaja meluangkan waktu jauh-jauh hari, rindu pada cucu kesayangan mereka, Haikal, sekaligus ingin melihat langsung keadaan rumah tangga anak laki-laki mereka yang kini bertambah rumit dan unik.
Begitu mobil berhenti, Haikal lah yang paling pertama berlari menyambut, wajahnya berseri-seri bahagia. "Kakek! Nenek!" teriaknya riang sambil menarik tangan kakeknya keluar dari mobil.
Di ambang pintu, Nora berdiri tegap, tersenyum menyambut, berusaha menampilkan keramahan terbaiknya sebagai tuan rumah dan menantu sulung. Di sebelahnya, Yusuf berdiri, tampak lega sekaligus gugup. Dan agak di belakang, berdiri Siti dengan kepala tertunduk malu, jari-jarinya saling bertaut di depan perutnya yang makin membulat. Ia mengenakan pakaian paling rapi yang ia miliki, namun tetap menjaga jarak, sadar betul posisinya yang berbeda.
Bu Siti Aminah turun dari mobil dengan langkah tenang, wajahnya memancarkan kelembutan dan kearifan yang sudah terpatri seumur hidup. Wanita paruh baya ini bukan orang sembarangan. Ia hadir saat akad nikah Yusuf dan Siti dilaksanakan—pernikahan yang sederhana, tertutup, namun sah secara agama dan negara, yang diselenggarakan murni demi tanggung jawab, demi menyelamatkan kehormatan Siti dan nyawa janin dalam kandungannya. Saat itu pun, Mama Aminah dan Papa Harun datang, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mendukung langkah anak mereka agar bertindak benar dan terhormat. Bagi mereka, kejadian itu adalah musibah yang menimpa semuanya. Yusuf korban kelicikan teman, Siti korban keadaan, dan Nora korban nasib yang pahit. Tak ada satu pun yang pantas disalahkan sepenuhnya.
"Assalamu'alaikum, anak-anak," sapa Bu Aminah lembut, memeluk Nora terlebih dahulu dengan hangat, lalu mencium pipi menantunya itu. "Apa kabar kamu, Nora? Sehat?"
"Alhamdulillah baik, Ma. Mama sama Papa sehat?" jawab Nora sopan, meski senyumnya terasa kaku.
Bu Aminah mengangguk, lalu beralih menatap Yusuf, memberi tepukan di bahu anaknya, sebelum akhirnya pandangannya jatuh pada sosok yang berdiri agak di belakang. Siti.
Wajah Bu Aminah melembut jauh lebih dalam lagi. Ia berjalan mendekat, tak peduli pada jarak yang diciptakan Siti, lalu langsung meraih kedua tangan wanita muda itu dan menggenggamnya erat. Ia menatap wajah Siti, lalu turun menatap perut yang mulai besar itu dengan pandangan penuh kasih sayang.
"Ya Allah... Besar sekali kandunganmu, Nak. Sehat kan kamu? Ada keluhan?" suaranya terdengar begitu tulus dan lembut, membuat mata Siti seketika berkaca-kaca.
"Se... sehat, Ma. Alhamdulillah sehat," jawab Siti terbata-bata, tak menyangka akan disambut sebaik ini. Ia bersiap hati untuk mungkin mendapatkan tatapan sinis atau perlakuan dingin sebagai istri kedua, tapi sama sekali tak ia temukan di mata wanita baya ini.
"Baguslah. Syukurlah. Ayo masuk semua, jangan di luar terus. Panas," seru Pak Harun, memecah keharuan itu.
Di ruang tengah, suasana terasa hangat namun tetap memiliki ketegangan halus yang mengambang di udara. Setelah minuman dan kue disajikan, percakapan mengalir tentang kabar keluarga di kampung, tentang pekerjaan Yusuf, dan prestasi Haikal di sekolah. Namun Bu Aminah, yang matanya tajam mengamati segala gerak-gerik di sekelilingnya, mulai menangkap pola yang membuat hatinya sedikit kecewa.
Setiap kali Yusuf secara tidak sengaja duduk terlalu dekat dengan Siti, atau saat Yusuf bertanya sesuatu hal kecil pada Siti, Nora dengan cekatan dan halus selalu menyela atau mengatur jarak.
Contohnya, saat Yusuf hendak memanggil Siti untuk meminta tambahan air minum, Nora langsung menyahut cepat, "Biarkan saja, Mas. Aku yang ambil. Siti kan berat badannya, jangan disuruh sana-sini." Padahal nadanya sopan, tapi isinya jelas membatasi interaksi keduanya.
Atau saat makan siang disajikan. Yusuf tanpa sadar hendak mengambilkan lauk yang letaknya jauh untuk diberikan ke piring Siti—sebuah perlakuan wajar suami pada istrinya, apalagi istrinya sedang hamil besar dan sulit bergerak—tapi lagi-lagi Nora bergerak cepat. Ia melewati piring itu dulu, mengambilkan lauknya sendiri, lalu menyerahkan piring itu kembali ke depan Yusuf, seolah memutus alur perhatian itu.
Bu Aminah memperhatikan semua itu dalam diam. Di hatinya, timbul rasa kecewa yang sedikit mengganjal. Ia paham betul posisi Nora. Ia mengerti betapa sakitnya hati wanita itu, betapa hancurnya perasaannya harus berbagi suami, harus menerima kenyataan pahit bahwa ada wanita lain yang mengandung darah daging suaminya. Bu Aminah sama sekali tidak menyalahkan Nora atas rasa sakit itu.
Tapi sebagai seorang ibu, sebagai wanita yang sudah hidup lebih lama dan paham seluk-beluk rumah tangga, ia juga paham betapa beratnya beban yang dipikul Siti. Wanita muda itu tak punya pilihan. Ia adalah korban dari kelicikan orang lain, korban dari khilaf Yusuf yang terpengaruh obat. Ia datang ke rumah ini bukan karena ambisi, bukan karena ingin merebut kekuasaan atau kasih sayang, melainkan semata-mata demi keselamatan nyawa anak yang dikandungnya dan demi menjaga kehormatan dirinya yang sudah terlanjur ternoda oleh kejadian naas itu.
Bagi Bu Aminah, Yusuf punya tanggung jawab besar pada Siti selayaknya suami. Ia berhak mendapatkan perhatian, perlindungan, dan hak-hak istri, selagi ia ada di rumah ini sampai melahirkan dan pulih. Tapi yang dilihat Bu Aminah sekarang, Nora seolah-olah membangun tembok tinggi di sekeliling Yusuf, membatasi bahkan hal-hal kecil, hal-hal yang sifatnya kemanusiaan dan kewajiban suami demi keamanan ibu hamil. Nora bertindak seolah Siti hanyalah orang asing yang menumpang, bukan istri sah kedua anaknya.
Sore itu, saat Yusuf keluar sebentar untuk mengurus kendaraan, Haikal pergi bermain ke rumah teman, dan Siti masuk ke kamar untuk beristirahat karena kakinya bengkak, Bu Aminah meminta Nora tetap duduk bersamanya di teras belakang. Pak Harun pun memahami maksud istrinya, ia ikut duduk, memberi ruang untuk pembicaraan hati ke hati.
"Nora, Nak..." Bu Aminah membuka pembicaraan perlahan, suaranya lembut namun tegas. "Mama lihat tadi, kamu sering sekali menahan atau memisahkan Yusuf kalau dia mau membantu Siti. Apa kamu masih belum bisa menerima keberadaan dia di sini, Nak?"
Nora menunduk, memilin ujung kain bajunya. Ia tahu ia diamati. "Maaf, Ma. Bukan begitu. Aku cuma... aku cuma ingin memastikan semuanya tertib. Aku takut kalau terlalu dekat, nanti timbul salah paham atau masalah baru. Aku ingin batasan kita jelas. Dia ada di sini karena anaknya, bukan karena yang lain."
Bu Aminah menghela napas panjang, lalu meraih tangan Nora, mengusap punggung tangan itu perlahan.
"Nora, Mama mengerti rasa sakitmu. Sangat mengerti. Kalau Mama ada di posisimu, mungkin hati Mama pun akan terasa terbakar cemburu dan kecewa. Kamu wanita baik, kamu istri yang setia, kamu menantu yang kami banggakan. Tak ada sedikit pun di hati kami yang menyalahkanmu atas semua yang terjadi ini."
Bu Aminah berhenti sejenak, menatap mata menantunya itu lekat-lekat.
"Tapi Nak... ingat satu hal penting. Kami sudah bahas ini semua jauh-jauh hari, bahkan sebelum Siti resmi dinikahkan oleh Yusuf. Kami semua sepakat, bahwa kejadian naas itu adalah musibah. Yusuf bukan orang yang sengaja menduakanmu demi nafsu. Dia dipermainkan, dia dijahati, dia diracun oleh orang yang iri padanya. Yusuf itu korban. Dan Siti? Dia lebih besar lagi jadi korbannya. Dia gadis muda, suci, masa depannya cerah, tiba-tiba hancur seketika karena jadi sasaran kejahatan yang ditujukan pada suamimu."
Air mata Nora mulai menggenang. Ia mendengarkan, menahan sesak di dadanya.
"Maka dari itu, Nak," lanjut Bu Aminah lagi, suaranya bergetar namun penuh ketegasan bijak. "Kami tak pernah menyalahkan siapa-siapa. Tak menyalahkan Yusuf karena khilaf di luar kendali, tak menyalahkan Siti karena terjebak keadaan, dan apalagi tak mungkin menyalahkan kamu yang tak tahu apa-apa. Kalian semua korban di sini. Dan jalan satu-satunya yang terhormat dan benar menurut agama dan adat kami, ya inilah yang kalian jalani sekarang. Yusuf bertanggung jawab, Siti dijaga kehormatannya, kamu kami minta sabar dan ikhlas sekuat tenaga."
Bu Aminah menatap ke arah kamar Siti yang tertutup pintunya.
"Melihat kamu membatasi Yusuf begitu keras... jujur saja, Mama sedikit kecewa, Nora. Bukan karena Mama berpihak padanya, tapi karena Mama kasihan melihat Siti. Dia hamil besar, Nak. Berat badannya bertambah, kakinya bengkak, punggungnya sakit. Secara agama dan manusiawi, Yusuf wajib membantunya, wajib mengurus keperluannya selagi dia ada di bawah tanggung jawabnya. Kamu melarang atau mencegah hal itu... sama saja kamu menyiksa dirimu sendiri dengan rasa cemburu, dan menyiksa dia dengan kesendirian, padahal dia punya suami."
"Aku takut, Ma... Aku takut kalau mereka terlalu dekat, kalau Mas yusuf terlalu baik, nanti Mas Yusuf lupa sama aku, lupa sama Haikal... atau nanti Siti jadi berharap lebih," jawab Nora lirih, suaranya pecah tertahan tangis.
Pak Harun yang sedari tadi diam, kini angkat bicara dengan nada tenang dan berwibawa.
"Nak... Yusuf itu laki-laki bertanggung jawab. Dia tahu persis apa kewajiban utamanya. Dia sangat mencintaimu, Nora. Itu takkan pernah berubah. Tapi rasa tanggung jawab itu beda rasa cintanya. Kebaikan yang dia berikan pada Siti hanyalah penebusan dosa dan pelindungan, bukan cinta asmara. Kalau kamu terus menerus memisahkan, terus menerus membatasi, justru yang terjadi malah sebaliknya. Yusuf makin merasa bersalah besar padanya, makin merasa wanita itu menderita gara-gara dia. Rasa bersalah itu bisa berubah jadi rasa sayang yang berlebihan kalau kamu paksa terus-terusan."
Bu Aminah mengangguk setuju. "Benar kata Papa. Biarkan saja, Nak. Biarkan Yusuf bertindak selayaknya suami yang menjaga istrinya yang sedang mengandung. Itu hak Siti, dan itu kewajiban Yusuf. Lagipula... ingat janji kalian berdua. Siti takkan lama lagi di sini. Begitu bayi lahir, sehat, dan Siti cukup pulih, dia akan pergi, hidup terpisah, cukup nafkah saja yang didapat dari ayah anaknya. Kenapa kamu harus menyiksa diri sendiri selama masa-masa sisa ini? Kenapa harus bikin suasana makin panas dan sakit? Santai saja, Nak. Jaga harga dirimu sebagai istri sah, sebagai dokter yang berpendidikan tinggi. Tunjukkan kebesaran hatimu. Biarkan Siti merasa aman dan dihargai selagi dia di sini, supaya nanti saat dia pergi, dia pergi dengan damai, tanpa dendam, dan tanpa meninggalkan masalah baru buat kalian."
Kata-kata itu menohok hati Nora. Kata-kata yang bijak, yang tak memihak siapa pun, yang hanya berusaha menyeimbangkan rasa sakit dan kewajiban. Nora menyeka air matanya, menunduk dalam. Ia sadar, mertuanya benar. Ia terlalu keras, terlalu memagari hatinya hingga lupa melihat penderitaan wanita lain yang sama-sama terjebak dalam kekacauan ini.
"Maafkan aku, Ma... Pa... Aku... aku cuma belum bisa menahan rasa sakitku. Tapi aku akan coba. Aku akan coba ubah sikapku. Aku sadar, Mama benar. Kami semua korban. Tak ada yang salah sepenuhnya," jawab Nora pelan, penuh penyesalan.
Di dalam kamar, di balik celah pintu yang sedikit terbuka, Siti mendengar semuanya. Air matanya mengalir deras diam-diam. Ia bersyukur sekali memiliki mertua sebaik dan sebijak Bu Aminah dan Pak Harun. Orang tua yang tak pernah sekali pun memandangnya rendah, yang mengerti betul posisi rumitnya, dan yang berusaha mendamaikan hati semua anak-anak mereka.
Sore itu menjadi titik balik. Sejak percakapan itu, suasana rumah perlahan berubah. Nora mulai melembut. Ia berhenti memotong pembicaraan atau mencegah Yusuf membantu Siti. Ia mulai membiarkan Yusuf melakukan kewajibannya selayaknya suami pada istri yang sedang mengandung, menyadari bahwa kebaikan itu milik semua manusia, dan bahwa kebesaran hatinya justru akan membuatnya semakin dihormati dan dicintai oleh Yusuf.
Dan bagi Bu Aminah dan Pak Harun, hati mereka pun sedikit lega. Mereka tahu, perjalanan rumah tangga anak mereka masih panjang dan penuh luka, tapi setidaknya sekarang, benih-benih pengertian mulai tumbuh, dan kedamaian perlahan mulai terasa kembali di rumah itu.
Bersambung.....
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣