Nyangka nggak kalau temen mu sendiri bisa jadi setan yang sesungguhnya di dunia nyata?
Ini yang dialami Badai, lelaki 23 tahun ini dijual ke mantan pacarnya sendiri sama temennya, si Sajen!
Weh kok bisa? Ini sih temen laknatullah beneran ya kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dfe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian pacar dan penderitaan teman
Hujan masih turun deras saat motor Dai berhenti tepat di depan lobi apartemen Kilau. Gedung tinggi dengan dinding kaca itu memantulkan cahaya lampu kota, kontras dengan langit malam yang gelap dan basah.
Kilau turun lebih dulu. Tanpa pikir panjang, dia berlari kecil masuk ke dalam, menghindari guyuran hujan yang makin menjadi. Sepatu heels-nya mengetuk lantai marmer lobi, terdengar nyaring dan cepat. Tubuhnya langsung disambut hangatnya ruangan.
Namun langkahnya melambat, dia berhenti lalu menoleh ke samping kanan, kiri juga belakangnya tapi kok kosong. Tak ada Dai di sana. Refleks, Kilau langsung berbalik. Dia kembali keluar, dia menemukan Dai masih ada di sana.
"Dai! Masuk, ngapain di situ!" panggilnya.
Badai masih berdiri di dekat motor. Kaosnya sudah basah kuyup menempel sempurna di tubuhnya. Tangannya sibuk menyisir rambutnya dengan jemari tangan. Lalu menyeka air yang jatuh membasahi mukanya.
"Tugas gue nganterin lo pulang, Ki. Bukan nemenin lo nyampe ke dalam." tanyanya santai, seolah hujan ini bukan masalah besar.
"Nggak usah sok jago lo. Buruan masuk! Gue nggak suka orang ndablek yang nggak dengerin apa kata gue ya, Dai. Kalau lo sakit, gue juga yang repot. Lo harus nemenin gue ketemu orang tua gue besok, lo nggak lupa kan?!" oleh ucapan Kilau itu, Dai menggeleng ringan.
"Gue inget, Ki. Udah sana masuk. Gue mau langsung pulang, lo juga tau kan kerjaan gue banyak banget di bengkel." Jawab Dai ringan, tapi tegas.
Kilau mendesah pelan. "Ya udah sih, masuk dulu. Minimal sambil nunggu hujan reda."
"Nggak mau. Model hujan kayak gini tuh awet nyampe besok pagi, lo mau gue nginep di sini apa gimana?"
"Ya udah deh. Terserah lo aja." Kilau lalu berusaha melepas jaket Dai yang masih membungkus tubuhnya. Tapi suara Dai lebih cepat menahan.
"Nggak usah dilepas. Pakai aja, percuma juga gue pakai udah basah kayak gini." cegah Dai sudah kembali menaiki motornya. "Gue balik ya."
Nggak ada godaan, tak ada ucapan manis, bahkan ucapan selamat malam pun nggak Dai berikan, tapi Kilau justru membeku dengan tindakan Badai itu.
"Hati-hati, kalau udah sampai langsung kabarin gue." perintah Kilau yang langsung diberi anggukan mengerti oleh Dai.
Mesin dinyalakan lalu pemuda itu benar-benar pergi menembus hujan. Kilau tak langsung masuk ke dalam lobi, dia berdiri memandangi punggung Dai yang semakin jauh, sampai akhirnya hilang di antara lampu jalan dan derasnya hujan.
Malam makin larut, Dai sibuk dengan beberapa motor yang mengantri untuk diperbaiki. Kedatangan Kilau tadi sore di bengkelnya membuat pekerjaannya tertunda, dan mau tak mau dia harus lembur untuk menyelesaikan apa yang tadi dia tinggalkan demi si mantan pacar.
Di luar sana hujan makin deras, Dai bahkan lupa janjinya untuk mengabari Kilau setelah sampai ke rumah. Ya ini kan bukan rumah, ini bengkel. Jadi Dai anggap kewajiban untuk mengabari sang tuan putri dianggap nggak perlu.
"Bangke!" suara Sajen tiba-tiba muncul di sisi barat daya barat barat laut utara timur laut.
"Lo yang bangke, muncul tengah malem nggak pake salam nggak pake permisi, beneran utusan setan lo ya?!" tanpa menoleh Dai sudah tau siapa yang datang dari bau parfum minyak nyong-nyong yang dipakai Sajen untuk memikat para lelembut.
"Lo balikan sama Kilau?" serta merta Sajen duduk di atas motor yang diperbaiki Dai.
Mata elang pemuda itu langsung memindai teman jahanamnya yang melakukan perbuatan tak menyenangkan di depan matanya.
"Mata mu picek apa gimana sebenarnya? Motor lagi dibenerin malah main dinaikin kayak gitu. Minggir lo dari sana sebelum gue pretelin semua gigi lo pake kunci inggris!" ancam Dai sambil memegang kunci inggris di tangannya.
Pindah lah Sajen ke bangku panjang yang sebenarnya menanti untuk di duduki, dia colokin ponselnya ke kabel charger yang tersedia di sana. Dia celingukan mencari apakah ada sesuatu yang bisa dia makan untuk membuat rahangnya bekerja. Dan dia menemukan toples berisi pilus sisa lebaran yang mungkin sudah melempem dan berubah rasa.
"Kilau neror gue Dai. Dia nanyain lo udah sampai rumah apa belum. Gue bilang nggak tau karena gue bukan emak lo, eh dia marah-marah berasa gue adalah orang paling salah di seluruh dunia. Gue disuruh nengokin lo di bengkel, gue iya-iyain tapi nggak gue lakuin.. orang gue lagi battle bareng tim gue main EpEp lawan musuh bebuyutan. Lha dia malah pidio kol dong, makin ngamuk kek orang kesurupan. Nggak betah banget gue di omelin kayak begitu, ada apa sih sama kalian? Balikan sama mantan ya?"
Kletak-kletuk bunyi pilus yang dikunyah Sajen, manusia tak tahu malu itu bahkan menyeruput kopi yang mulai dingin di meja. Entah punya siapa tapi Sajen yakin itu punya sahabatnya. Culamitan sekali manusia satu ini.
"HP gue mati baterainya abis, bilang gitu ke dia." jawab Dai singkat sambil kembali melakukan perbaikan pada motor di depannya.
"Kan tinggal lo ces hp lo itu, bahlul! Ini kabel ces'an namanya Dai kalo lo nggak tau. Fungsinya buat nambah daya di hp lo. Kelamaan idup di goa sih ya, jadi agak gimana gitu.. Segala hp lowbat aja nggak ngerti cara ngidupinnya."
Dai melirik sebentar, "Kopi itu lo minum tadi?"
"Iya. Punya siapa? Punya lo kan?" kembali meminum kopi hingga tandas tak tersisa.
"Tadinya iya punya gue. Nggak gue minum lagi, orang dibuat berenang sama cicak. Nggak liat lo ya, di dalamnya ada sodara lo berenang bahagia di sana?" Dai berdiri mengambil ponsel Sajen tanpa memperdulikan temannya itu misuh-misuh segala penduduk kebun binatang keluar semua dari mulutnya.
"Hueek! Bajingan lo Dai, kok lo diem aja tadi pas gue minum kopi nista itu? Anjir, jangan-jangan tuh cicak udah buang kotoran juga di sana. Kopinya pait, dan paitnya itu beda. Syu asyuu!" ngomel nggak jelas dia.
"Ya gimana ya, gue suka bahagia gitu kalo liat lo menderita, Jen."
"Bangsui!" misuh lagi kan jadinya.
Dai tertawa puas. Dengan ponsel Sajen, Dai mengirimkan pesan singkat pada Kilau.
Dai : Ini gue Dai. Maaf ya Ki, gue lupa hubungi lo tadi. Hp gue mati, lowbatt. Dan gue juga masih kerja sekarang. Met istirahat, Ki.
Dai meletakkan kembali ponsel Sajen tanpa menyambungkan kembali ke kabel chargernya.
"Colokin lagi ke ces'an lah Dai." perintah Sajen yang kini sudah menghabiskan setengah botol air mineral yang dia ambil dari kulkas. Kali ini dia cek dulu sebelum minum, siapa tahu Dai memasukkan minuman kadaluarsa ke dalam kulkasnya.
"Lo ke sini tengah malem gini mau apa sih sebenarnya?" Tentu saja Dai acuh tak melaksanakan permintaan Sajen untuk kembali menghubungkan hpnya ke kabel charger. Sajen manyun bersungut-sungut, sambil nyolokin kembali ponselnya.
"Yang pertama gue numpang ngeces. Listrik di rumah gue udah bunyi nit nit nit kek minta asupan nutrisi.Yang kedua gue ogah diteror sama mantan lo mulu, dan yang ketiga.. Gue mau minjem kemeja putih lo. Besok gue mau interview, gue harus keliatan ganteng dan rapi." Sajen menjelaskan sambil melihat balasan pesan yang tadi dikirim Dai untuk Kilau.
"Elaah.. Udah balikan beneran ternyata lo sama Kilau? Iya Dai nggak apa-apa, lo juga jangan begadang kalau udah kelar kerjaannya buruan tidur. Istirahat yang cukup, oke. Eleh ntuuut! Ngapain sih lo kirim-kiriman chat kayak gini di hp gue? Biar apa gue tanya?!" Sajen membacakan balasan pesan dari Kilau dengan tampang Rahwana gagal menculik Dewi Sinta.
Dai tersenyum. "Biar lo iri. Puas?"
"Emang binatang lo, Dai!" makin lebar saja senyum Dai. Bahagia banget dia, satu karena perhatian Kilau yang kedua karena bisa bikin Sajen emosi jiwa.
tapi nanti, stlh kamu tau siapa dia sbnrnya, pasti kamu bakal gencar agar mreka cepet² meresmikan hubungannya kan?! 😏
bisa diandelin buat jadi pasangan😚