Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Pedang dan Kepercayaan
Suasana Reruntuhan Athena benar-benar mencekam. Albertio telah bersiap menebas kepala Alice, ia mempertanyakan siapa sebenarnya wanita di hadapannya, rekan setimnya, ataukah iblis dari dasar dungeon yang telah melahap jiwa temannya.
Sementara itu, Alice yang kini menyandang kekuatan dewi hanya diam membeku. Meskipun memiliki sihir luar biasa, kekuatan yang ia genggam saat ini adalah anugerah untuk memberi kehidupan dan perlindungan, bukan sihir penghancur untuk membinasakan makhluk di depannya.
Trek...
Albertio mendorong sedikit katananya dengan ibu jari, bersiap melesat maju.
"Albertio, jang—" Belum sempat Arthur menyelesaikan peringatannya, Albertio telah menerjang Alice dengan kecepatan yang tak masuk akal.
"Biar kupaksa kau keluar dari tubuh itu dengan pedangku!" ucapnya ketus sambil menusukkan bilah baja ke arah kepala Alice. Namun, secara tiba-tiba Violet muncul di hadapan wanita itu, membentengi Alice dengan menyilangkan kedua belatinya di depan dada.
Tiiinng...!!!
Violet yang sudah berdiri melindungi Alice tersenyum lebar menatap Albertio. "Ahaha... Belum lama muncul, aku sudah bisa menikmati pertarungan seindah ini... Terima kasih... ALICEEE!!!" teriak Violet sembari melayangkan tendangan ke arah rusuk kanan Albertio.
Swaap...
Albertio menghilang seketika dari pandangan, lalu muncul kembali dalam sekejap tepat di belakang Alice dengan pedang terhunus. Dengan gerak refleks yang mematikan, Violet berbalik dan bermanuver dengan presisi seorang pembunuh, ia kembali memotong jalur serangan Albertio. Traang...!!!
Alice tak sempat bergerak. Kecepatan mereka berada di luar jangkauan indra manusia biasa. Meskipun kini ia memiliki sihir dewi, cadangan mananya terbatas dan jati dirinya tetaplah seorang support.
Seketika, di sekeliling Alice yang terpaku, dipenuhi denting logam yang berbenturan dari segala arah. Violet dan Albertio bertarung dalam kecepatan yang nyaris tak kasat mata.
Trang.. Tash.. Trang.. Tash..
Albertio tetap fokus mengincar Alice, namun Violet yang tak kalah gesit selalu berhasil menangkis setiap tebasan. Gerakan mereka yang cepat menciptakan gelombang udara kecil di sekitar area tersebut.
Wuush....!!!
"Hentikan, bodoh!" teriak Arthur mencoba melerai, namun suaranya tenggelam dalam kekacauan yang kian memanas.
"Awa.. waaa... Albertio... Hentikan...!!!" Xena mulai histeris melihat rekan-rekannya saling beradu senjata.
"Aku harus apa? Aku bahkan tidak bisa menganalisis gerakan mereka tanpa mode awakening. Apa yang harus kulakukan?" pikir Alice di tengah badai yang ia ciptakan secara tak sengaja itu.
Wuuush traaaang...!!
Violet menangkis serangan Albertio lagi dan lagi.
"Minggir, cewek gila..." ucap Albertio dingin.
"Langkahi mayatku jika ingin menyentuh rambutnya, ahaha..." Violet tertawa riang. Inilah momen yang paling ia nantikan, sensasi bertarung dan mencium aroma darah.
Serangan Albertio semakin cepat. Beberapa sabetannya berhasil menyobek jubah putih Alice, potongan kainnya jatuh ke lantai dungeon yang menjadi saksi bisu pertarungan luar biasa itu.
Albertio menghilang kembali dan muncul tak jauh di samping kiri Alice dalam hitungan milidetik.
Ssssssrrrrk....
Suara lantai menahan gesekan kecepatan kilat pria itu. Ia berhenti mengandalkan kelincahannya dan mulai menghimpun tenaga dalam satu tebasan pemungkas.
"Mari kita lihat..." Albertio menutup mata, memfokuskan seluruh energinya pada bilah katana. Perlahan, pendaran cahaya ungu berkumpul dan terserap masuk ke dalam pedangnya, membuat atmosfer sekitar menjadi silau.
Violet muncul tepat di hadapan Albertio, bersiap menahan gempuran tersebut. Wajahnya tetap menyeringai meski peluh mulai membanjiri keningnya. "Ahaha... Sepertinya darahku sendiri yang akan kulihat..." ucapnya berkeringat dingin sembari memperkuat cengkeraman pada kedua belatinya .
Hening.
[Perfect Wide Slash]
Albertio mengayunkan katananya yang telah diperkuat aura, meningkatkan ketajaman pedang itu berkali-kali lipat. Bilah katana itu diselimuti cahaya ungu pekat yang panjangnya melampaui fisik pedang itu sendiri.
Waktu seolah melambat...
Alice melihat pantulan dirinya sendiri di bilah katana Albertio.
"Apa aku akan benar-benar mati?" pikirnya di tengah ketidakberdayaan untuk bergerak.
Waktu kembali berputar normal.
Swiiiinng..... Duaaaar.....
Debu tebal seketika menyelimuti Alice dan Violet. Mereka lenyap ditelan kabut pekat yang tercipta dari dampak serangan mematikan tersebut.
"Haaah..." Xena membekap mulutnya sendiri. Ia jatuh terduduk menyaksikan kehancuran di depannya. Secara tak sengaja, botol ramuan peledak dari tasnya menggelinding keluar ke arah Albertio yang tengah berdiri diam menyarungkan pedang dengan gaya elegan sambil memejamkan mata.
Teng.. Teng.. Teng.. Wiiissshh..... !!!
Albertio terbelalak. Ramuan itu kini berada tepat di dekat kakinya. Ia terkejut dan tak sempat bereaksi karena fokusnya hanya pada Alice, botol itu meledak seketika, menambah kekacauan di reruntuhan.
Duaaaar...!!!!
Kini Albertio, Alice, dan Violet sama-sama tertutup oleh debu yang kian pekat. "Ukh.. Xena... Apa yang kau lakukan..." geram Arthur sembari menatap kumpulan debu itu dengan keringat dingin.
"Hee... Ma.. Ma... Maaaf.." Xena panik, matanya mulai berkaca-kaca saat menatap kepulan debu di depannya.
Sssshhhh...
Gema suara yang tadinya memekakkan telinga, perlahan mulai meredup. Bersamaan dengan menipisnya kepulan asap yang berterbangan di tempat Alice bertarung.
Debu akhirnya memudar. Tak lama kemudian, Alice dan Violet muncul di samping Arthur dalam sekejap, Wuuush.. menciptakan gelombang kejut tipis disekitar mereka.
Violet berhasil menggendong Alice dan menghindari tebasan Albertio di detik-detik terakhir. Sementara itu, Albertio jatuh terkapar dan terluka ringan. Ia tidak berteriak, ia hanya berusaha bangkit dengan susah payah dalam keheningan.
Sunyi...
Suasana di ruangan itu mendadak berat dan canggung. Albertio masih berupaya berdiri tegak dengan bantuan katananya meski tampak sedikit kesulitan. Mereka semua tetap tidak beranjak dari tempat itu.
Alice turun dari gendongan Violet, dan menatap Albertio dengan tatapan sedih. Setelah itu, Ia berlari kecil mendekati Albertio, mencoba memberikan pertolongan.
"Kau tidak apa-a—"
"JANGAN MENDEKAT!!" teriak Albertio dengan nada frustrasi yang seketika menghentikan langkah Alice.
"Tapi tubuhmu..." ucap Alice khawatir.
"JANGAN...!!!" teriaknya lagi.
"BAGAIMANA AKU TAHU KALAU KAU TIDAK AKAN MEMBUNUHKU?" ucap Alberio lantang, sangat kontras dengan sifat tenang yang biasa ia perlihatkan.
Semua terdiam menyaksikan sikap Albertio yang tidak biasa. Mereka ingin mengakhiri pertikaian ini, namun situasi terasa benar-benar menyesakkan.
Alice menatap Albertio dengan pancaran kesedihan yang murni. Ia mencoba meraih tubuh pria yang tengah kehilangan arah tersebut. Albertio tidak tinggal diam, ia langsung mengangkat pedangnya dan mengarahkan ujung tajam katana itu tepat ke leher Alice. Swaaap!!!
Alice terpaku di tengah-tengah langkah kaki, menuju Albertio. Wajahnya sedikit menengadah ke atas, sementara katana di lehernya siap merobek kulit gadis itu jika ia melakukan kesalahan sedikit saja.
Arthur mengulurkan tangannya secara tidak sengaja, mencoba menghentikan apa yang sahabatnya lakukan kepada Alice, namun jarak mereka terlalu jauh. Xena membekap mulutnya tak mampu berkata-kata, sementara Violet memasang wajah sangat serius, seolah dia siap membenamkan belatinya ke leher Albertio kapan saja.
Alice hanya menatap Albertio dengan sayu sebelum akhirnya angkat bicara.
"Aku tidak peduli apakah kau percaya padaku atau tidak, Albertio. Tapi setidaknya... Izinkan aku mengobati lukamu," ucapnya dengan suara bergetar.
Tanpa memedulikan katana di lehernya, Alice merapalkan sihir penyembuhan. Ia tidak lagi menggunakan sihir dewi karena mana yang sudah menipis, sembari menutup kedua matanya.
"Dengan tangan ini... Kuberikan kehidupan pada mereka yang membutuhkan..." Beberapa partikel mana muncul berpendar di sekitar tubuhnya.
[Heal]
Perlahan, luka-luka gores di tubuh Albertio mulai menutup. Pria itu hanya terdiam, tangannya tak sanggup menggores leher wanita di depannya. Kehangatan dan kepedulian ini... ini bukanlah sosok iblis yang harus ia takuti.
"Kalau dia iblis.. Kenapa rasanya begitu hangat.. Mengapa tanganku tidak bisa kugerakkan?" Albertio membatin ragu merasakan kehangatan yang dialirkan Alice.
Tangannya gemetar, matanya melebar, ia tidak sanggup melukai sedikit pun tubuh gadis yang berada di depannya saat ini.
Katananya terjatuh ke lantai reruntuhan, trang...!!! Matanya hanya menatap lantai dengan rasa bersalah yang mendalam, meskipun tubuhnya telah kembali bertenaga setelah dialiri sihir penyembuh Alice. Ia tetap tidak mampu mengeluarkan kata-kata sedikitpun.
Alice perlahan menurunkan kedua tangannya, tubuhnya gemetar, kondisi fisik Alice mulai tidak stabil. Ia hampir pingsan. Mananya yang baru saja sedikit pulih harus terkuras kembali demi mengobati para rekan.
"Alice!!" Xena segera mendekat dan merangkul tubuh gadis itu.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Xena dengan nada bergetar.
"Aku... baik-baik saja..." Alice mencoba menopang tubuhnya yang kemudian dibantu oleh Violet.
Xena menatap wajah Alice sedikit lebih lama dengan raut wajah khawatir, mencoba memastikan sosok disampingnya itu baik-baik saja. ia melihat Alice yang mencoba tetap tenang, meski masih berdiri di topang oleh dirinya dan Violet.
Perlahan, Xena menghela napas lega, terbebas dari kengerian pertarungan antar temannya itu. Meskipun mana Alice mulai memudar, mereka semua merasa takjub. Sihir penyembuhan tingkat tinggi milik Alice adalah sesuatu yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.
Albertio hanya diam, masih terduduk merenungi kesalahannya. Ia membeku tepat di mana Alice baru saja memberinya kehidupan.
Arthur berjalan mendekat lalu memukul pelan kepala sahabatnya itu.
"Apa yang kau lakukan, pria bodoh!" teriak pria itu.
"Berpikirlah sebelum bertindak!" tambahnya tegas.
"Cih," balas Albertio mendecih.
Sementara itu, di sisi Violet dan Alice, mata gadis pembunuh itu tampak berkaca-kaca menatap sosok di sampingnya yang mengaku ingin memperbaiki dunia. Itu bukanlah tatapan kesedihan, melainkan tatapan kagum, senang, dan... sesuatu yang lebih gila.
"Nona Kelinci... Aku akan mengikutimu..." ucap Violet dengan mata berbinar-binar.
Alice merasa nyaris pingsan menghadapi tatapan itu, tatapan yang sedikit... aneh. Namun ia tetap memaksakan diri untuk tetap tenang.
Kini, semua menatap Alice dengan rasa kagum atas kebaikan hatinya. Terkecuali Albertio, ia hanya diam seribu bahasa.
"Baiklah..." Alice menarik napas sejenak.
"Sudah cukup, kan, Albertio?" Alice menatap Albertio dengan wajah tersenyum dan keringat tipis yang mengalir di dahinya. Ia sendiri merasa panik. Albertio tetap saja membeku, menutup mata sambil bersedekap, memilih untuk tidak menyahut.
Kemudian Alice menatap wajah rekan-rekannya satu per satu.
"A... Aku tidak meminta kalian percaya sepenuhnya padaku. Aku hanya ingin kalian... membantuku sedikit saja," ucap Alice dengan raut wajah yang tulus.
Udara di ruangan itu perlahan melunak, ketegangan fisik mulai mencair. Xena berdiri perlahan sembari memilin ujung jubahnya.
"Aku akan... akan mengikutimu, Alice. Jika kau adalah sesuatu yang jahat, kau pasti sudah menyerang kami dari tadi," ucap Xena gugup, benar-benar melupakan fakta bahwa kecerobohannya lah yang membuat Albertio terluka ringan.
"Untuk sementara, aku akan mengikutimu, Alice," ucap Arthur sembari berlutut. Sementara itu, Albertio tetap terpaku tanpa menoleh sedikit pun.
Alice tersenyum, sebuah senyum misterius yang menyimpan rencana besar untuk menaklukkan setiap jengkal tanah di Celestia Online demi mengubah dunia, atau mungkin... demi keselamatannya sendiri.
"Baiklah, setidaknya aku bisa membuat dunia ini lebih baik lagi sekarang. Demi kebaikanku juga," batin Alice bersorak kegirangan.
Ia menoleh ke arah pintu keluar reruntuhan, seolah pandangannya mampu menembus dinding batu tebal menuju cakrawala Benua Vlagria yang penuh dengan konflik berdarah.
Udara membeku, hanya terdengar suara kaca yang saling beradu dari tas Xena yang sedang membenarkan isi tas petualangnya.
"Alice, kondisimu sedang tidak stabil, izinkan..." Arthur menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Izinkan aku menggendongmu. Untuk sementara, kita bisa beristirahat di Desa Tura yang tak jauh dari sini," ucapnya tanpa berani menatap kedua mata gadis itu. Ia hampir maju mendekat merasa gagal melindungi Alice.
"Terima kasih Arthur.. Tentu saja.. Aku benar-benar kelelahan," sahut Alice sembari tersenyum hangat menatap Arthur.
Arthur hanya memalingkan wajah sedikit merona, menatap tas sandang Xena yang mendadak menjadi terlihat lebih menarik dibandingkan apapun.
"Mari kita pergi, kita harus beristirahat di desa yang kau katakan itu, aku sudah lelah," ucap Alice sembari berjalan lalu, naik ke punggung Arthur karena kelelahan yang absolut.
"Terima kasih sudah mau membantuku." bisiknya lirih.
Desa Tura kini menjadi tujuan peristirahatan mereka. Apakah Alice mampu membawa kehidupan baru ke dunia yang kejam ini?
cape😅