NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Pagi itu, Zyan sebenarnya masih agak teler karena sisa demam semalam. Tapi, kabar dari Siska benar-benar seperti siraman air es yang bikin dia bangun seketika. Sistem kendali otomatis di proyek rumah sakit pintar yang sedang mereka bangun mengalami glitch parah. Lift macet, sistem kelistrikan overheat, dan yang paling parah, data konstruksi digital mereka mulai terhapus secara misterius.

Zyan sudah siap dengan jasnya, meski wajahnya masih sedikit pucat. "Saya harus ke kantor sekarang. Ini bukan sabotase biasa, ini serangan teknis tingkat tinggi," ujar Zyan sambil merapikan dasinya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Alexa, yang lagi asyik makan roti bakar di meja makan, memperhatikan Zyan dengan mata menyipit. "Om, lo masih sakit. Jalan aja masih sempoyongan gitu, mau sok-sokan jadi pahlawan perusahaan."

"Ini tanggung jawab saya, Alexa. Kalau proyek ini gagal, nama baik Arsalan Group taruhannya."

Alexa berdiri, ia menyambar jaket bomber, tekniknya yang penuh tempelan logo organisasi kampus. "Ya udah, gue ikut. Tapi gue nggak mau jadi asisten lo. Gue mau jadi montir buat masalah lo."

"Maksud kamu?"

"Lo bilang itu serangan teknis, kan? Sistem kendali otomatis itu dasarnya mekatronika. Itu makanan gue sehari-hari di kampus, Om. Daripada lo nunggu tim IT lo yang birokrasinya ribet, mending lo bawa gue yang bisa gerak cepet," ujar Alexa dengan nada penuh percaya diri.

Zyan menatap istrinya lama. Ada keraguan, tapi ia juga tahu betapa pintarnya Alexa soal urusan mesin dan sistem digital. "Baiklah. Tapi kamu harus tetap di belakang saya. Jangan bertindak nekat."

"Iya, iya, Bawel! Yuk jalan!"

Sesampainya di lokasi proyek rumah sakit yang masih dalam tahap pembangunan itu, suasananya sangat kacau. Para insinyur senior tampak panik di depan monitor kontrol. Di pojok ruangan, tampak Clarissa yang hadir sebagai konsultan desain interior gadungan, sedang berpura-pura prihatin sambil memegang tabletnya.

"Aduh, Zyan... kasihan sekali proyek ini. Sepertinya memang sistemnya terlalu dipaksakan modern ya? Kalau butuh bantuan dana tambahan atau teknisi dari Eropa, bilang saja ya, Papa pasti bantu," ujar Clarissa dengan senyum liciknya.

Alexa melirik Clarissa dari balik kacamata hitamnya (yang kali ini kacamata pelindung teknik). "Minggir dulu, Tante. Orang lapangan mau lewat."

Clarissa mendengus. "Mau apa bocah ingusan ini di sini?"

Zyan mengabaikan Clarissa. "Siska, berikan akses pusat kendali pada Alexa."

Para insinyur senior di sana mulai berbisik-bisik. "Pak, maaf, tapi ini sistem rumit. Mahasiswi ini tahu apa?" tanya salah satu kepala teknisi.

Alexa tidak menjawab. Ia langsung duduk di depan komputer induk, membuka barisan kode yang berjalan cepat di layar. Jarinya menari dengan sangat lincah di atas keyboard. Matanya yang tajam memindai setiap baris perintah.

"Sistem kendali kalian nggak rusak. Ini cuma di-inject pake virus looping sederhana di bagian sensor suhu," gumam Alexa. "Siapa pun yang ngelakuin ini, dia pengen bikin hardware kalian panas terus meledak sendiri, biar keliatannya kayak kecelakaan teknis biasa."

Zyan mendekat. "Kamu bisa memperbaikinya?"

"Bisa. Tapi gue butuh akses ke ruang server fisik. Sabotase kayak gini biasanya butuh perangkat keras tambahan yang dipasang langsung ke jalur kabel utama," Alexa berdiri. "Om, lo ajak si Tante lili itu ngobrol atau apa lah, biar dia nggak curiga. Gue mau ngerayap bentar."

Tanpa menunggu persetujuan Zyan, Alexa sudah menghilang di balik lorong yang gelap, membawa tas kecil berisi peralatan andalannya: obeng multifungsi, laptop tipis, dan tang pemotong.

Alexa merangkak di dalam plafon gedung yang masih berdebu. Ini adalah keahliannya sejak kecil: masuk ke tempat-tempat sempit. Ia mengikuti jalur kabel serat optik yang menuju ke ruang server utama.

Setelah sepuluh menit bermanuver di antara besi-besi penyangga, ia menemukan sesuatu yang janggal. Ada sebuah alat kecil berwarna hitam, dengan lampu LED merah yang berkedip, tertempel di salah satu panel distribusi listrik.

"Ketemu lo, tikus!" gumam Alexa.

Ia segera menghubungkan laptopnya ke alat tersebut. Dengan kemampuan hacking tingkat menengah yang ia pelajari dari komunitas motornya (buat bobol sistem alarm motor, sih, aslinya), Alexa mulai melacak ke mana data dari alat itu dikirim.

"IP address-nya... lho? Ini kan IP address dari gedung Arsalan Group sendiri?!" Alexa terkejut. "Ada pengkhianat di dalam kantor Zyan!"

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di bawah plafon tempat Alexa merayap. Ia menahan napas. Dari celah plafon, ia melihat Clarissa sedang menelepon seseorang dengan suara pelan.

"Iya, alatnya sudah terpasang. Sebentar lagi sistemnya akan overload total. Zyan tidak punya pilihan selain menandatangani kerjasama dengan kita sore ini... Apa? Si anak kecil itu? Tenang saja, dia cuma sibuk main komputer di depan, mana mungkin dia tahu soal jalur kabel fisik," ujar Clarissa sambil tertawa sinis.

Alexa yang mendengar itu langsung geram. "Oh, jadi lo biangnya ya, Tante Lili."

Alexa segera merekam percakapan Clarissa menggunakan ponselnya. Namun, sialnya, sebuah obeng di saku jaket Alexa terjatuh dan menabrak pipa besi.

TING!

Clarissa langsung mendongak. "Siapa di sana?!"

Alexa tidak punya waktu lagi. Ia segera memotong kabel koneksi alat sabotase itu, mencabut alatnya, lalu melompat turun dari lubang plafon dengan gerakan akrobatik, tepat di depan Clarissa.

BRUK!

Alexa mendarat dengan mulus, debu-debu bangunan beterbangan di sekitarnya. Ia berdiri sambil membersihkan jaketnya, lalu menatap Clarissa dengan senyum kemenangan.

"Halo, Tante. Lagi nyari sinyal buat kirim kabar ke papa tersayang?" tanya Alexa sambil menggoyang-goyangkan alat penyadap itu di depan wajah Clarissa.

Wajah Clarissa pucat pasi. "Kamu... dari mana kamu—"

"Gue dari masa depan lo yang suram, Tante. Yuk, ikut gue ketemu Om Duda. Dia udah kangen tuh pengen denger suara rekaman lo," Alexa mencengkeram lengan Clarissa dengan kuat. Meski Clarissa lebih tinggi, tapi tenaga Alexa sebagai anak motor jauh lebih besar.

Di ruang kontrol, Zyan sedang berdebat dengan para komisaris yang mulai menuntut penjelasan. Tiba-tiba pintu terbuka, dan Alexa masuk sambil menyeret Clarissa yang sudah berantakan rambutnya.

"Om! Masalah teknis beres. Dan ini, gue bawa hama yang bikin sistem lo rusak," Alexa melempar alat penyadap dan rekaman suara Clarissa ke meja rapat.

Zyan mendengarkan rekaman itu. Sorot matanya yang tadi lelah kini berubah jadi sangat dingin dan mematikan. Ia berdiri dan menatap Clarissa dengan tatapan yang bisa membekukan darah.

"Jadi ini caramu membantu saya, Clarissa? Merusak proyek kemanusiaan rumah sakit demi ambisi keluargamu?" suara Zyan sangat tenang, tapi semua orang di ruangan itu tahu bahwa itu adalah tanda kemarahan puncaknya.

"Zyan, aku... aku bisa jelaskan... Ini semua ide Papa, aku cuma—"

"Siska! Hubungi polisi sekarang. Berikan semua bukti yang ditemukan Alexa. Dan hubungi tim legal, batalkan semua rencana kerjasama dengan keluarga mereka selamanya!" perintah Zyan tegas.

Clarissa dibawa keluar oleh tim keamanan, menangis histeris. Para komisaris dan teknisi senior kini menatap Alexa dengan pandangan hormat yang luar biasa. Mahasiswi yang tadi mereka remehkan ternyata adalah penyelamat perusahaan.

Zyan mendekati Alexa yang sekarang wajahnya penuh debu plafon dan ada luka kecil di pipinya karena tergores seng. Ia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, ia langsung memeluk Alexa erat-erat.

"Terima kasih, Alexa. Kamu luar biasa," bisik Zyan di telinganya.

Alexa melepaskan pelukannya sebentar, lalu menyeka debu di pipinya. "Biasanya kalau asisten montir berhasil benerin mesin rusak, ada bonusnya kan, Om?"

Zyan terkekeh. "Kamu mau apa? Mobil baru? Liburan lagi?"

"Gue mau lo masakin gue makan malem. Tapi lo yang masak sendiri, tanpa bantuan Pak Bambang!" ujar Alexa sambil nyengir.

"Masak? Kamu tahu kan saya tidak bisa masak?"

"Ya makanya belajar! Masa kalah sama gue yang bisa bikin bubur industrial!"

Zyan tertawa lepas, sebuah tawa yang benar-benar tulus tanpa beban. "Baiklah, Nyonya Arsalan. Malam ini, dapur kita akan jadi laboratorium eksperimen saya."

Namun, di tengah kebahagiaan mereka, sebuah pesan masuk ke ponsel Alexa dari nomor tak dikenal.

**[15.30] Unknown:**

*Selamat atas kemenangannya hari ini. Tapi tanyakan pada suamimu, siapa sebenarnya yang menyebabkan kecelakaan ayahmu 25 tahun lalu. Apakah benar itu sabotase internal, atau justru Ayah Zyan sendiri yang mematikan sistem keamanan mobilnya demi klaim asuransi?*

Alexa membeku. Senyumnya menghilang seketika. Kebenaran yang baru saja ia dengar dari ayahnya mulai diguncang oleh keraguan baru yang jauh lebih mengerikan.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!