Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONFRONTASI DUA DUNIA
Mobil sport merah menyala itu berhenti tepat di depan gerbang utama Pesantren Al-Hidayah, menebarkan aroma ban terbakar dan kemewahan yang sangat kontras dengan keteduhan pohon-pohon sawo di sekitarnya. Nadia turun dengan kacamata hitam besar dan gaun mini yang sangat mencolok.
"OMG, Tari! Tempat apa ini? Panas banget, debuan lagi!" Nadia berteriak sambil mengibas-ngibaskan tangannya, mengabaikan tatapan kaget para santri yang sedang lalu-lalang.
Mentari berdiri mematung. Jantungnya berpacu. Di satu sisi, ia merindukan sahabat lamanya, namun di sisi lain, ia tahu kehadiran Nadia adalah ancaman bagi kedamaian yang baru saja ia bangun.
"Nadia? Lo ngapain ke sini?" tanya Mentari pelan, mencoba tetap tenang.
"Gue mau jemput lo, lah! Reno depresi berat, Tari. Dan liat lo sekarang..." Nadia melepas kacamatanya, menatap Mentari dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Lo pakai daster panjang begini? Kerudung? Lo beneran sudah dicuci otak sama cowok sarungan itu?"
Bondan maju selangkah, masih memegang sikat cucinya yang penuh busa. "Heh, Mbak yang bajunya kurang bahan! Di sini tempat terhormat, mulutnya dijaga ya!"
Nadia mendelik. "Siapa sih lo? Asisten rumah tangga?"
"Gue sahabatnya Mentari yang paling setia, nggak kayak lo yang cuma ada pas mau party doang!" balas Bondan berapi-api.
Hafizah menarik bahu Bondan untuk mundur, sementara Fahma hanya berdiri bingung di samping Mentari. "Tari... Mbak ini kenapa marah-marah? Dia belum makan seblak ya?" bisik Fahma polos.
Nadia mengabaikan mereka dan meraih paksa tangan Mentari. "Ayo ikut gue. Pesawat ke Jakarta berangkat jam empat. Lo nggak pantes di sini, Tari. Lo itu Mentari yang bar-bar, yang liar, bukan ustadzah gadungan begini!"
"Lepaskan dia."
Suara itu rendah, namun memiliki getaran yang membuat Nadia seketika melepaskan cengkeramannya. Gus Zikri berjalan mendekat dengan langkah tenang. Sorot matanya tidak tajam, namun sangat dalam—seperti samudera yang sedang tenang namun mematikan.
Nadia tertegun sejenak melihat ketampanan Zikri, namun ia segera memasang wajah angkuh. "Oh, jadi ini si 'Imam' itu? Hebat ya, bisa bikin Mentari jadi pembantu di sini?"
Zikri berdiri tepat di samping Mentari, menaruh tangannya di bahu istrinya sebagai tanda perlindungan. "Istri saya bukan pembantu. Dia adalah ratu di rumah saya, dan dia sedang belajar untuk menjadi bidadari di surga-Nya. Jika Anda datang hanya untuk menghina pilihan hidupnya, silakan pergi. Pintu keluar ada di belakang Anda."
Nadia tertawa sinis. "Tari, lo denger itu? 'Bidadari'? Lo lupa siapa diri lo? Lo lupa apa yang kita lakuin di Bali bulan lalu?"
Mentari menarik napas panjang. Ia menatap Nadia, lalu beralih menatap Zikri. Rasa takutnya perlahan hilang berganti dengan keyakinan. Ia melepaskan tangan Zikri sejenak, melangkah maju menghadapi Nadia.
"Nad, gue nggak lupa siapa gue dulu. Tapi gue lebih suka siapa gue sekarang," ucap Mentari mantap. "Dulu gue punya segalanya, tapi hati gue kosong. Di sini, gue mungkin cuma pakai gamis dan ngajar anak-anak kecil, tapi tiap malam gue bisa tidur tenang tanpa harus minum obat penenang atau alkohol."
Mentari tersenyum tipis. "Bilang sama Reno, jangan cari gue lagi. Gue sudah punya Imam, dan gue nggak butuh Oppa-oppaan kayak dia lagi."
Wajah Nadia memerah padam karena malu dan marah. "Fine! Jangan nyesel kalau suatu saat lo kangen sama kehidupan kita! Dasar munafik!"
Nadia masuk ke mobilnya dan memacu gasnya dengan kencang, meninggalkan debu yang beterbangan.
Setelah mobil itu hilang dari pandangan, Mentari merasa seluruh tenaganya terkuras. Ia hampir saja limbung jika Zikri tidak segera menangkapnya.
"Kamu hebat, Mentari," bisik Zikri di telinganya.
Bondan dan Fahma bersorak kecil. "Gila, Tari! Tadi lo keren banget! Kayak adegan di film-film yang gue tonton!" seru Bondan.
"Iya, Tari! Mbak tadi langsung pergi karena kalah cantik sama iman kamu!" tambah Fahma sambil memberikan sebotol air mineral pada Mentari.
Hafizah memeluk Mentari erat. "Satu pintu masa lalu sudah kamu tutup sendiri, Tari. Sekarang, fokuslah pada pintu masa depan yang sedang terbuka lebar di depanmu."
Sore itu, saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, Mentari berjalan pulang bersama Zikri. Ia merasa lebih ringan. Ia tahu ujian akan tetap ada, tapi ia tidak lagi takut. Karena di sampingnya, ada seorang laki-laki yang tidak hanya menjadi suaminya, tapi juga menjadi pembimbing jiwanya menuju cahaya yang sesungguhnya.
"Gus," panggil Mentari saat mereka sampai di depan pintu rumah.
"Iya?"
"Malam ini aku mau belajar surat baru. Aku mau hafalin surat yang artinya tentang kesetiaan."
Zikri tersenyum manis, senyuman yang kini hanya ia berikan untuk Mentari. "Kita mulai dari Ar-Rahman lagi, ya? Biar kamu ingat betapa banyak nikmat Tuhan yang sudah kita dapatkan."
Mentari mengangguk, masuk ke dalam pelukan hangat suaminya di tengah kesunyian pesantren yang mendamaikan.