“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah berikutnya
“Sekar ...”
Seseorang memanggil namanya saat ia tengah memesan makanan di sebuah restoran bersama mertuanya.
Sekar menoleh.
Seorang wanita muda berdiri beberapa langkah darinya. Ia mengenakan blazer rapi, tas bermerek tersampir di bahu, dan sepatu berhak tinggi yang membuat penampilannya terlihat profesional.
“Masya Allah … Nesa, kan?” Sekar tersenyum lebar sebelum memeluk perempuan itu hangat. “Kebetulan banget ketemu di sini.”
Nesa ikut tertawa senang.
“Ya ampun, nggak nyangka ketemu Bu Direktur di sini. Lagi belanja, ya?”
Sekar hanya nyengir kecil. “Nggak, kok. Cuma ngajak Bu Mertua jalan-jalan.”
Obrolan ringan mengalir di antara keduanya. Mereka saling menanyakan kabar, pekerjaan, dan kehidupan masing-masing.
Namun belum lama berbincang, ponsel Nesa tiba-tiba berdering. Perempuan itu melirik layar ponselnya sekilas lalu mendesah kecil.
“Sekar, aku duluan ya. Hari ini aku ada kelas. Habis dari kantor harus langsung ke kampus.”
Sekar mengerutkan kening. “Loh, kamu kuliah lagi?”
Nesa mengangguk.
“Iya. Kelas karyawan, kok. Ngambil S2 sepulang kerja. Lumayan buat nambah ilmu sekalian memperluas relasi.”
Sekar mengangguk-angguk pelan.“Oh, gitu … hebat kamu, Nes.”
Nesa tersenyum singkat sebelum berpamitan. “Nanti kita ngobrol lagi, ya. Aku benar-benar harus pergi sekarang.”
Setelah itu Nesa pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Sekar yang masih berdiri beberapa detik di tempatnya.
“Kamu kenal dia, Nak?” tanya Ayunda saat Sekar kembali ke meja.
“Namanya Nesa, Ma. Teman kuliah Sekar dulu.”
Sekar duduk kembali di kursinya. Namun pikirannya justru kembali mengingat ucapan Nesa.
Kelas karyawan. S2 sepulang kerja.
Sekar menyesap minumannya perlahan. Matanya tiba-tiba menyipit tipis. Kuliah lagi. Entah kenapa, kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Selama ini hidupnya hanya berputar pada rumah tangga dan melayani keperluan Raka.
Mungkin sudah waktunya ia melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Bibir Sekar melengkung tipis.
‘Kalau kamu sibuk mencari kesenangan di luar sana, maka aku akan sibuk dengan diriku sendiri, Mas.’
***
Lagi-lagi Sekar harus menerima kenyataan dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa ketika malam ini Raka kembali memberi alasan pulang terlambat karena lembur. Padahal beberapa menit lalu ia baru saja menghubungi Bagas, dan lelaki itu mengatakan Raka sudah meninggalkan kantor sejak sore.
“Kemana lagi kalau bukan ke rumah perempuan itu,” gumam Sekar pelan.
Dadanya terasa sesak, tetapi ia sudah terlalu lelah untuk marah seperti dulu.
Sekar meraih ponselnya. Ia membuka galeri, lalu memotret lingerie yang tadi siang ia beli. Beberapa detik ia menatap layar itu, ragu.
Sebenarnya ia tidak perlu melakukan ini. Tidak ada gunanya. Namun entah kenapa, rasa sakit di dadanya mendorongnya menekan tombol kirim.
[Aku beli ini tadi siang. Menurut kamu bagus nggak?]
Pesan itu terkirim ke ponsel Raka.
Sekar meletakkan ponselnya di meja, berusaha bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Mencoba menghibur hatinya sendiri.
Tanpa Sekar tahu, di seberang sana Anita langsung meradang begitu melihat gambar lingerie hitam berenda yang dikirimkan perempuan itu.
“Mas … apa-apaan ini?” geramnya pelan sambil melempar ponsel Raka ke arah pria yang sedang bersandar santai di atas tempat tidur.
“Apa, sih, Sayang?” Raka mengeluh malas. Namun begitu melihat isi pesan itu, ia justru terkekeh kecil.
Anita semakin kesal.
Raka meletakkan ponselnya di meja lalu menarik Anita yang masih bermuka masam ke dalam pelukannya.
“Udah, jangan marah gitu. Itu cuma gambar doang.”
Anita mendengus, jelas belum puas. Melihat wajah cemburunya, Raka malah gemas. Ia mengecup bibir Anita sekilas.
“Aku juga nggak bakal ngapa-ngapain sama Sekar,” ujarnya santai. “Dia cuma bilang habis beli, kan? Lagi pula dia lagi hamil muda.”
Raka menyeringai tipis.
“Dokternya juga bilang aktivitas malamnya harus dikurangi. Jadi … kamu tahu, kan, aku bakal ke mana kalau lagi butuh?”
Ia menunduk, mengendus leher Anita hingga perempuan itu terkikik geli.
Tak butuh waktu lama sebelum keduanya kembali larut dalam kenikmatan yang mereka anggap biasa. Tanpa peduli bahwa di rumah, ada seorang perempuan yang masih menunggu suaminya pulang.
***
Di tempat yang lain, Langit membaca pesan dari Sekar sekali lagi.
[Anita Wibisono. Itu nama perempuan itu, kan, Mas? Apa yang kamu tahu tentang hubungan mereka? Mereka kenalan dari mana? Mereka kenal jauh sebelum aku menikah?]
Pria itu bersandar di kursinya. Pandangannya tertahan cukup lama pada layar ponsel sebelum akhirnya ia mengetik balasan.
[Dari mana kamu tahu?]
Tak butuh waktu lama, pesan dari Sekar kembali muncul.
[Aku menemukan mutasi rekening Mas Raka. Ada banyak transfer ke rekening atas nama Anita Wibisono. Hotel, restoran, semuanya tercatat.]
Langit mengembuskan napas pelan. Ia sudah menduga Sekar akan sampai pada titik ini cepat atau lambat. Jarinya kembali bergerak di atas layar.
[Kalau aku ceritakan semuanya sekarang, kamu hanya akan marah dan bertindak gegabah.]
Balasan Sekar datang hampir seketika.
[Sudah aku bilang, aku nggak sebodoh itu, Mas! Kenapa, sih, suka banget main teka-teki?]
Langit tersenyum tipis, meski sorot matanya tampak lebih serius. Ia mengetik perlahan.
[Karena ada hal yang lebih penting daripada sekadar mengetahui mereka berselingkuh. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu. Dan aku harus memastikan kamu siap mendengarnya.]
Sekar tampak tidak puas. Ia menggerutu pelan di ujung sana. Beberapa detik kemudian muncul lagi pesan berikutnya.
[Perempuan itu bukan orang baru dalam hidup suamimu. Atur waktu kapan kita bisa ketemu, aku akan jelaskan semuanya.]
Tak ada penjelasan lain. Hal itu membuat Sekar semakin penasaran. Ia menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Ada sesuatu yang tidak ia pahami. Sebenarnya ada apa dengan kedua kakak beradik ini?
Sebenarnya siapa Raka … dan siapa Langit?
Dan rahasia apa yang membuat keduanya menyimpan cerita yang tidak pernah ia ketahui selama ini?
***
“Semalam kamu pulang jam berapa, Mas?” tanya Sekar sambil meletakkan piring sarapan di depan Raka. Wajahnya terlihat biasa saja.
“Entah … mungkin sekitar jam sepuluh atau sebelas,” jawab Raka santai. “Mas lupa. Sampai rumah langsung tidur.”
Ia meraih tangan Sekar lalu mengecupnya singkat.
“Maaf ya semalam Mas nggak balas chat kamu. Kerjaan lagi banyak banget. Pas sampai rumah kamu sudah tidur.”
Raka menarik Sekar mendekat hingga perempuan itu terduduk di pangkuannya. Ia berbisik di telinga istrinya dengan nada menggoda.
“Tapi bajunya bagus. Yang kamu kirim semalam.”
Tangannya mengelus paha Sekar perlahan naik ke atas.
“Malam ini kamu pakai lagi, ya?”
Sekar mendengus kecil, wajahnya dibuat cemberut. “Tapi kata dokter belum boleh, Mas.”
“Janji pelan-pelan, kok. Si baby nggak akan apa-apa,” bujuk Raka sambil mengendus pipi Sekar hingga perempuan itu kegelian.
“No. Nggak boleh nakal, Pak Direktur,” balas Sekar sambil menahan tawa. “Ini pesan dokter. Demi anak kita. Mas nggak apa-apa, kan?”
Raka mengembuskan napas panjang, seolah kecewa. “Padahal Mas kangen sama kamu, Sayang. Masa harus puasa dulu?”
Sekar terkekeh. Ia menangkup wajah suaminya lalu mengecup pipinya gemas.
“Besok pas jadwal kontrol kita tanya dokter lagi, ya. Kalau dokter udah mengizinkan, boleh nengok baby.”
Raka akhirnya mengangguk sambil tersenyum puas.
“Baiklah. Apa pun untuk istri Mas dan calon baby di perut kamu.”
Tangannya mengusap perut Sekar dengan lembut. Sekar kemudian bangkit dari pangkuannya dan kembali duduk di kursi seberang meja.
Ia menatap Raka sebentar sebelum berkata pelan, “Mas … sebenarnya ada yang mau aku bicarakan.”
“Katakan aja, Sayang,” jawab Raka tanpa curiga, masih sibuk dengan sarapannya.
Sekar menarik napas pelan.
“Aku mau kuliah lagi.”
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂