NovelToon NovelToon
Takdirku Yang Tak Terduga

Takdirku Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: Veela_

Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 13

Roh-roh itu mulai merasuki tubuh Mark.

"Bukankah itu senior Mark?!'

Tanya Yuka.

Murid yang mengikutiku mulai panik. Jika aku menunggu Tuan Josep, ini akan terlambat. Ku ambil sebuah kapak darurat yang terpajang di dekat APAR. Aku membuka paksa gembok itu sampai membuat tanganku berdarah. Saat gembok itu terbuka, aku berlari menuju atap gedung sekolah itu. Yuka, Jina dan murid yang lain mengikutiku.

"Aku mohon... Aku mohon..."

Harapku dalam hati.

"Mati! Mati! Mati!!"

Kalimat itu semakin jelas ku dengar. Saat aku sampai di atap, Mark sudah ada di sana sedang berjalan hendak melompat dari gedung ini.

"Mark?! Mark!!"

Panggilku. Namun itu tidak ada gunanya. Mark sudah sepenuhnya dikendalikan. Tiba-tiba Yuka dan teman yang lain memegangi tubuhku.

"Lepaskan aku!"

Teriakku memberontak.

"Kau benar-benar yah!"

Ucap Yuka kesal.

"Senior Mark!!"

Teriakku lagi mencoba membangunkan kesadaran Mark.

"Berhenti meneriaki nama Senior Mark! Kau tidak pantas menyelamatkannya. Hanya aku yang pantas menjadi penolong Senior Mark!"

"Benar Jina, ini menjadi kesempatan bagimu."

Yuka memprovokasinya.

"Mark!!!"

Teriakku lebih keras lagi.

"Entah apa yang ada dalam pikiran mereka di situasi seperti ini malah menahanku. Apa mereka gila?!"

Tiba-tiba saja Mark menoleh ke arahku dan menatap tajam kearah orang-orang yang memegangi aku.

"Pembully. Mati."

Kata-kata itu keluar dari mulut Mark.

Mendengar kalimat itu aku mulai menduga-duga. Aku melihat ke arah Jina yang hendak menolong Mark. Aura kematian itu... Bukanlah untuk Mark!

"Jina!!!"

Teriakku saat Mark mulai berjalan mendekati kami.

Aku melihat ke arah pergelangan tangan Mark. Gelang itu tidak ada. Namun sebuah pisau yang di genggam Mark juga terlihat olehku. Mark yang ku pikir awalnya hendak menyerang Yuka, ternyata malah menghunuskan pisau yang ada di tangannya ke arah Jina. Untung gerak refleksnya cepat.

"Se-Senior Mark."

Jina terkejut.

"Pembully harus mati."

Kalimat itu keluar lagi dari mulut Mark.

Mata Yuka dan teman-temannya terbelalak saat melihat kejadian itu. Cengkraman mereka pada tubuhku pun mengendur. Aku segera berlari kearah Mark dan langsung memegang tangannya yang memegang pisau.

"Dewa Agung yang suci. Yang melindungi seluruh semesta dan bumi tempat yang aku tinggali. Yang menjaga surga. Yang mengendalikan neraka. Lindungilah kami dari iblis dan roh jahat ini. Sucikan kami. Hindari kami dari segala marabahaya. Aku memohon dengan tulus."

Aku meniupkan do'a ketubuh Mark. Beberapa roh lemah yang menempati tubuhnya keluar dari tubuhnya. Dan saat roh-toh itu keluar, roh-roh itu menyerang kedua mata Yuka, Jina, dan murid yang lain sehingga mereka bisa melihat wujud asli yang merasuki Mark.

"Aaaaaaaaa!!"

Teriak mereka ketakutan saat melihat banyak sosok hitam yang keluar dari tubuh Mark. Pisau itu terlepas dari tangan Mark.

"Yuka! Jina! Kalian semua pergi dari sini!!" Perintahku.

Jina dan teman-temannya membeku karna terkejut dan ketakutan yang membuat kakinya bahkan tidak bisa digerakan karena melihat sosok mengerikan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka. Tiba-tiba Tuan Josep datang.

"Apa yang terjadi sebenarnya?!"

Tuan Josep tidak dapat melihat roh-roh yang merasuki Mark dan bertanya dengan perasaan bingung ketika melihat murid yang lain ketakutan. Namun, kehadirannya membuat roh-roh itu seperti ketakutan. Aku menoleh kearah Tuan Josep. Aku melihat gelang giok putih ditangannya yang sebelumnya belum pernah aku lihat.

"Mila!!"

Teriak Tuan Josep terkejut saat melihat tangan Mark mencekik leherku tiba-tiba.

"Mark! Apa yang kau lakukan!"

Lanjutnya kemudian.

"P-Pak Josep. I-itu bukan Senior Mark!"

Ucap Yuka yang berdiri didekatnya.

"Apa maksudmu?"

Aku bertaruh dengan gelang giok putih yang ada di tangan Tuan Josep.

"P-Pak Josep! To-tolong Se-sentuh M-Mark! Ce-cepat!"

Ucapku dengan susah payah.

"Pak, tolong Senior Mark."

Jina mulai menangis ketakutan.

Pak Josep masih terlihat bingung, namun dirinya mengikuti kata-kataku. Langit berubah gelap. Tubuh Mark terguncang. Cengkramannya di leherku terlepas. Mark terlihat kesakitan dan terkapar di lantai. Roh-roh yang tersisa di tubuh Mark mulai keluar satu demi satu. Bayangan hitam itu menyentuh mata Tuan Josep saat mereka keluar dari tubuh Mark. Sontak Tuan Josep memegang matanya seperti ada benda yang tidak sengaja masuk kedalam matanya. Tangannya terlepas dari tubuh Mark. Sontak Mark mencekik Tuan Josep. Melihat reaksi Tuan Josep saat melihat Mark aku sudah menduganya. Tuan Josep melihat sosok terkahir yang menempati di tubuh Mark. Kekuatan iblis sungguh besar. Sampai kekuatan gelang giok putih itu seperti tidak berfungsi lagi.

Aku memegang kepala Mark dan membaca kembali do'a lalu meniupkannya. Namun iblis itu tidak bergeming. Tuan Josep mulai kehabisan napas.

"Aku sudah dalam keadaan yang buntu. Do'anya tidak mempan. Apakah aku harus menggunakan cara terakhir? Apa ini akan berhasil?"

Aku mengambil pisau dan melukai jariku. Ku buat simbol suci para dewa di keningnya.

"Dewa agung. Aku pertaruhkan seluruh kebajikan yang selama ini aku kumpulkan semasa hidupku. Aku menukarnya dengan kehidupan anak ini!!"

Warna merah darah itu seketika berubah. Cahaya muncul dari simbol itu. Cengkramannya mengendur. Namun roh terakhir itu belum mau keluar juga.

"Apa yang kau mau dari tubuh ini?!"

Aku mencoba bernegosiasi.

"Kau mengganggu pembalasan dendam kami."

Sosok Mark kini berubah. Yang kami lihat kini hanyalah sosok perempuan yang memakai seragam yang sama dengan kami. Darah keluar dari sekujur tubuh sosok itu. Rambutnya sangat berantakan. Bola matanya melotot mengeluarkan darah.

"Aaaaaaa!"

Yuka, Jina dan yang lainnya berteriak ketakutan saat melihat sosok itu kemudian pingsan.

Mulut sosok itu robek. Dan panjang robekan itu dari telinga kanan melewati mulut sampai ketelinga kirinya. Berbagai memar yang ada ditubuhnya terlihat olehku. Bau amis darah tercium.

"Kami telah membunuh mereka."

"Mereka siapa?!"

"PEM-BU-LLY."

Cengkraman itu terlepas dari leher Tuan Josep.

"Jadi semua itu ulah roh halus?"

Aku tidak mengerti apa yang dimaksud dari perkataan Tuan Josep.

"Hahahaha."

Sosok itu tertawa keras.

"Kami harus melenyapkan alasan utama kami mati."

Tubuhku tiba-tiba saja memanas. Mata dan hidungku mulai mengeluarkan darah. Aku membaca kembali do'a.

"Dewa agung. Aku pertaruhkan seluruh kebajikan yang selama ini aku kumpulkan semasa hidupku. Aku menukarnya dengan kehidupan anak ini!! Bantu aku. Tolong aku. Lenyapkanlah semua sosok jahat yang mengendalikan tubuh ini!!"

"Kalian para pendosa haruslah mati! Hahaha."

Aku hampir tidak bertahan lagi. Tubuh Mark mulai mengejang.

"Aaaaaaaa!!!! SE-LA!!"

Teriak kesakitan sosok itu.

Seketika gelang giok putih yang dikenakan Tuan Josep pecah. Sosok yang ada di hadapanku berubah wujud seketika menjadi sosok dimana ia pernah hidup. Air matanya mengalir.

"Tolong adikku."

Sosok itu pun menghilang bersama cahaya yang menjemputnya. Mark tak sadarkan diri. Aku terkulai lemas.

"Adik?" Gumamku.

"Kau baik-baik saja?"

Tanya Tuan Josep yang menghampiriku.

Saat aku mulai menyadari sesuatu, dengan segera aku berlari pergi. Jina mulai sadar.

"Kau jaga mereka. Bapak akan kejar Carmila."

Ucap Tuan Josep pada Jina yang setengah sadar lalu mengejarku.

"Sela. Sela. Sela."

Gumamku saat berlari pergi.

Seluruh murid di sekolah yang melihat darah di wajahku terkejut. Beberapa siswi ketakutan. Suasana sekolah mulai riuh.

...----------------...

Point of view Gerald

Aku menyaksikan kejadian tidak terduga itu dengan kedua bola mataku. Saat langit tiba-tiba berubah gelap lalu sebuah cahaya muncul menerangi atap gedung olahraga itu. Beberapa saat kemudian seorang wanita yang wajahnya berlumuran darah keluar dari gedung olahraga itu. Wanita itu tampak tidak asing. Suasana di kelasku mulai tak terkendali. Bahkan guru yang mengajar kami terlihat cemas. Kami semua hanya menyaksikannya melalui jendela kelas kami.

...----------------...

Point of view Carmila.

Aku mencari seseorang yang di sebutkan sosok itu. Satu persatu kelas aku buka dan membuat murid yang melihatku malah ketakutan. Kecurigaanku sudah mulai tidak bisa dikendalikan lagi dan kini sudah menjadi keyakinanku. Pasti. Pasti ada seseorang yang menjadi dalang dari kejadian ini. Ada seseorang yang mencoba membangkitkan dan mengendalikan sosok-sosok mereka. Dan itu hanya bisa di lakukan dengan perjanjian iblis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!