Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Lisa benar-benar merasa hari ini suaminya sudah ketempelan jin baik, selain tadi membukakan pintu mobil untuknya. Sekarang Angga juga menggeser kursi meja makan untuk dirinya.
Mereka tengah makan siang di sebuah restoran kesukaan Lisa, Resto Padang yang begitu jadi favorit Lisa. Tapi kenapa Angga mengajak dia kesini? Angga tidak begitu suka pedas.
"Kamu beneran mau makan di sini?" Tanya Lisa memastikan, dia tidak mau di ajak pergi setelah makanan di sajikan.
"Bukannya aku sudah membelokkan mobilnya kesini?" Jawab Angga sedikit datar.
"Jangan berubah fikiran ya mas?"
"Hem"
Begitu makanan datang, Lisa nampak bahagia sekali.
Angga sedikit agak kesal juga karena Lisa sama sekali tidak terlihat baper meski dia sudah membukakan pintu mobil, dia juga sudah menggeser kursi untuk istrinya, tapi kenapa respon Lisa biasa saja?
Lisa melirik Angga yang kembali mode kulkas sepuluh pintu, Angga bahkan tak terlihat tertarik dengan makanan di depan mereka. Padahal Nasi di piring Lisa sudah habis separuh. Lisa tahu Angga tidak bisa makan pedas. Lisa sengaja memesan udang dan ikan Nila yang tidak pedas untuk Angga.
"Ini untuk mas Angga" ucap Lisa sambil menggeser ikan Nila dan udang itu ke arah Angga.
"Udang itu favorit aku, aku berikan itu ke mas karena hanya dua ikan itu yang tidak pedas" ujar Lisa.
Hati Angga sedikit menghangat, dia mulai ikut makan dan menikmati menu yang sama sekali tidak pernah dia coba.
"Bumbu karinya tidak pedas kog Mas, yang pedas tuh ini sambal hijaunya"
Angga manggut-manggut, ternyata nasi Padang seenak Ini. Pantas saja Lisa sangat suka makanan ini.
Angga mengupas udang pemberian Lisa. Niat hati ingin menyuapi Lisa dengan udang itu. Namun Lisa justru bingung saat Udang itu ada di depan wajahnya.
"Kenapa mas? Mas Angga tidak suka udang?" Angga jadi bingung sendiri, dia ingin seperti adiknya galih, setiap makan di meja makan, Galih selalu menyuapi Lisa dengan udang yang telah dia kupas. Angga hanya ingin melakukan saran Bik Sumi.
"Sedikit romantis tuan dengan Non Lisa kayak Den Galih"
itu yang dikatakan bik Sumi, Angga hanya mempraktekkan apa yang pernah dia lihat saat adiknya masih hidup. Tapi ternyata respon Lisa berbeda. Dulu saat Galih mengupaskan udang untuk Lisa, Lisa langsung tersenyum malu-malu, wajahnya memerah karena senang. Tapi sekarang kenapa perempuan itu justru tidak peka? Dia bahkan menarik kembali satu piring udang yang ada di depannya.
Kesal karena tidak berhasil menyuapi Lisa, akhirnya Angga memilih memakan udang itu sendiri.
"Kalau tidak suka bilang Mas, nggak usah kesal gitu" Ujar Lisa tanpa rasa bersalah.
"Hem" Jawab Angga singkat.
Sudahlah, Angga tidak akan mengajak Lisa makan bersama lagi, istrinya benar-benar tidak peka. batin Angga kesal.
*****
Malam harinya
Angga nampak mondar-mandir di depan kamar Lisa, dia ragu ingin mengetuk. Angga berniat ingin tidur bersama istri nya, bukan untuk meminta jatah tapi dia ingin tidur layaknya pasangan suami-istri pada umumnya. Selama tiga tahun ini mereka sama sekali tidak pernah tidur seranjang. Awalnya dulu dia takut Lisa akan tahu kalau dia menyukainya, Angga tidak mau Lisa ilfil padanya, jadi dia memutuskan untuk pisah kamar, tapi malah keterusan sampai sekarang.
Jadi mulai malam ini Angga memutuskan untuk memperbaiki kesalahan itu.
Angga memberanikan diri mengetuk pintu. Ketukan pertama tak ada respon.
"Apa kurang keras? Mungkin tidak terdengar?" Gumam Angga. Dia mengetuk kembali pintu itu.
Tapi masih tidak ada respon dari dalam, akhirnya Angga mengetuk lebih keras lagi.
"Lisa!" Teriak Angga.
Meski sudah puluhan kali mengetuk dan memanggil nama Lisa, namun tetap saja pintu tidak terbuka. Rasanya Angga ingin menjebol saja pintu di depannya ini.
Apa Lisa sudah tidur? Tapi ini baru jam delapan malam, dia pasti belum tidur. Apa Lisa sengaja pura-pura tidak mendengarnya? "Sial!" Gumamnya pelan.
Angga hampir saja menendang pintu di depannya, namun suara lembut dari belakang membuatnya jadi salah tingkah.
"Mas ngapain di depan pintu kamar aku?" Gumam Lisa. Angga mengelus tengkuknya sambil tersenyum kikuk, dia kira Lisa sengaja tidak membuka pintu. Tidak tahunya dia tidak ada di dalam kamar.
"E aku, Aku_"
melihat Angga ragu, Lisa mengerutkan keningnya. Dia kembali berjalan ke arah pintu sambil melihatnya aneh.
"Kamu dari mana saja? dari tadi aku panggil tidak ada sahutan" Ujar Angga pada Akhirnya.
"Dari bawah, ada beberapa kerjaan, tadi pagi tidak masuk, jadi banyak jadwal yang harus di reschedule ulang"
"Ooo"
Setelah menjelaskan Lisa masuk ke kamarnya, karena melihat Angga diam saja, dia berniat menutup pintu. Namun tanpa dia duga, Angga memajukan kakinya ke pintu Lisa, membuat Lisa tidak bisa menutup pintu.
"Mas Angga ada apa lagi?" Gumam Lisa pelan. Lisa sudah memutuskan untuk bersikap baik pada Angga, lelaki itu masih dalam proses penyembuhan, jadi dia tidak ingin membahas perceraian mereka untuk sementara waktu.
Angga tidak menjawab, dia langsung masuk begitu saja ke kamar Lisa. Lisa kini agak sedikit kesal melihat tingkah aneh mantan kakak iparnya ini, biasanya jika minta jatah, dia hanya bilang.
"Aku mau"
Hanya kata itu yang keluar, wajah dan ekspektasi tubuhnya tetap datar, tapi sekarang lihatlah Angga seperti anak kecil yang ingin mencuri uang orang tuanya. Dan dengan percaya dirinya Angga tidur di atas ranjang miliknya. Melihat gelagat lelaki itu, dia terlihat tidak ingin melakukan hubungan suami istri, tapi tumben saja dia masuk seperti anak kecil. Di mana wajah tegas dan dinginnya?
"Mas aku mau tidur, besok banyak kerjaan di kantor" Keluh Lisa. Dia tidak akan membiarkan Angga menguasai ranjang miliknya.
"Kamu mau tidur?" Tanya Angga, Lisa tentu mengagguk pelan.
"Kalau begitu tidur saja"
"Aku mana bisa tidur kalau mas ada di situ"
"Mulai malam ini kamu harus bisa"
"Maksudnya!"
"Mulai malam ini kita tidur bersama, kita suami istri yang sah bukan?"
"Tapi kita_" Lisa tak jadi melanjutkan ucapannya karena sudah berjanji pada bik Sumi untuk tidak mengatakan ingin bercerai lagi di depan Angga sebelum lelaki itu benar-benar pulih.
Angga menarik begitu saja tangan Lisa agar ikut berbaring di sebelahnya. Lisa awalnya kesal, tapi sekarang ada rasa aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ini pertama kalinya Angga memeluknya.
Lisa merasa jantungnya melompat-lompat di dalam sana.
"Mas apa tidak terlalu dekat?"
"Begini sudah nyaman"
Hati Lisa menghangat, Apa Angga mulai menerima hubungan ini? tapi Gina? wanita itu yang di cintai Angga.
"Tidurlah jangan berfikir aneh-aneh" Gumam Angga sambil memeluk Lisa lebih erat lagi.
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏