NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Ikatan yang Terlarang

​Mendapat respons positif dari Rumah Sakit Merdeka—sebuah rumah sakit swasta besar di Jakarta Selatan—memberiku suntikan semangat yang sangat kubutuhkan. Mereka menawariku posisi Dokter Umum Paruh Waktu, dengan janji rotasi ke spesialisasi bedah jika performaku bagus dan izin praktikku sudah diurus.

​Aku harus menjaga berita ini rapat-rapat. Jika Arvino tahu aku akan bekerja, dia pasti akan menggunakan segala cara, termasuk koneksinya, untuk menghalangi karierku. Dia harus tetap melihatku sebagai "pengangguran" yang terikat pada kontrak di rumah.

​Selama seminggu terakhir, aku mengalihkan fokusku sepenuhnya pada Lili. Aku tidak lagi peduli dengan tatapan dingin Arvino saat kami berpapasan. Aku hanya peduli pada jadwal tidur Lili, asupan makanannya, dan latihan motoriknya.

​Sikapku yang konsisten dan penuh perhatian mulai membuahkan hasil. Lili, yang kini menginjak usia sembilan bulan, bukan lagi bayi yang rewel. Dia mulai merespons namaku dengan celotehan gembira setiap kali aku masuk ke kamar.

​Pagi itu, aku sedang melakukan tummy time di karpet kamar Lili. Aku meletakkan beberapa mainan di depannya untuk merangsang tangannya. Lili, yang baru bisa merangkak pendek-pendek, kesulitan meraih mainan itu dan mulai merengek frustrasi.

​Aku mendekatkan wajahku padanya. "Ayo Nak, sedikit lagi. Jangan menyerah," bisikku sambil memegang pinggulnya agar ia bisa menahan beban tubuhnya sendiri.

​Lili mendongak ke arahku. Wajahnya yang bulat dan merah itu tiba-tiba tersenyum lebar. Tawa bayi yang murni dan nyaring memenuhi ruangan. Tawa itu, meskipun singkat, membuat jantungku hangat dan mataku berkaca-kaca.

​Itu adalah tawa pertama Lili yang ditujukan padaku.

​"Terima kasih, Sayang," bisikku sambil mencium keningnya. "Terima kasih sudah memberiku izin untuk bahagia lagi."

...----------------...

​Momen ajaib itu datang dua hari kemudian.

​Saat itu malam hari. Arvino baru pulang dari acara gala dinner rumah sakit. Dia tampak lelah, jasnya dilepas di sofa. Aku sedang duduk di ruang keluarga, membaca laporan rumah sakit baruku.

​Lili, yang sudah tidur di kamarnya, tiba-tiba menangis kencang. Tangisan khas yang membuat siapapun tahu bahwa bayi itu sedang kesakitan atau sangat ketakutan.

​Arvino, yang tadinya hendak naik ke kamar tamu, langsung berlari ke atas. Aku mengikutinya.

​Kami berdua sampai di kamar Lili. Lili berdiri di boks bayinya, menangis sambil memegangi jeruji kayu, matanya merah.

​"Sayang, kenapa? Kenapa menangis?" Arvino segera menggendong Lili, menenangkannya dengan suara panik.

​"Mungkin dia mimpi buruk, Kak. Atau gigi sedang tumbuh," kataku, menganalisis.

​Arvino mengabaikanku. Dia mencoba menepuk punggung Lili, berjalan mondar-mandir. Biasanya ini berhasil, tapi malam ini tidak. Tangisan Lili semakin keras.

​Arvino frustrasi. Dia terlihat lelah secara emosional. "Kenapa kamu rewel sekali, Nak? Papa lelah," keluhnya.

​Aku mendekat. "Kak, berikan padaku. Biar aku yang tenangkan. Dia butuh sentuhan yang lembut."

​Arvino awalnya menolak, tapi melihat Lili yang tidak kunjung diam, dia mengalah. Dia menyerahkan Lili kepadaku dengan kasar.

​Saat Lili berpindah ke pelukanku, tangisnya perlahan mereda. Aku mendekapnya erat, membiarkan kepala mungilnya bersandar di bahuku. Aku mulai bersenandung pelan, lagu yang sama yang kuperdengarkan padanya di rumah duka.

​Lili berhenti menangis. Dia mendongak, menatap mataku dengan mata bulat basah. Jemari mungilnya yang tadi mencengkeram kemeja Arvino, kini beralih meraih wajahku.

​"Ma..." bisik Lili pelan, celotehnya terdengar di antara isakan terakhir.

​"Ya, Sayang. Mama di sini," jawabku refleks, memeluknya erat, air mata kebahagiaan membanjiri pipiku.

​"Ma... ma..." ulang Lili, suaranya lebih jelas.

​Itu adalah kata pertama yang dia ucapkan setelah "Pa-pa" yang ia lontarkan beberapa minggu lalu. Dan kata itu ditujukan padaku. Bukan sekadar celotehan, tapi respon nyata saat ia dalam kesulitan.

​Kebahagiaan itu begitu murni, begitu menghancurkan, hingga aku melupakan keberadaan Arvino di ruangan itu.

​Detik berikutnya, aku teringat. Dan itu adalah penyesalan terbesarku.

​"JANGAN!"

​Raungan Arvino membuatku tersentak. Dia melompat dan merebut Lili dari pelukanku dengan paksa, cengkeramannya pada bahuku menyakitkan.

​Lili kembali menangis histeris karena direbut tiba-tiba.

​"Apa yang kau lakukan?!" Arvino menatapku dengan mata menyala. Kebencian, cemburu, dan ketakutan menyatu dalam tatapannya.

​"Aku... aku tidak bermaksud, Kak. Lili hanya memanggilku..."

​"Aku mendengarnya!" Arvino berteriak. "Aku dengar kau memanggil dirimu 'Mama'! Kau meracuni anakku! Kau mencoba menghapus Sarah dari pikirannya! Kau licik, Aluna!"

​Dia menggendong Lili, menepuk-nepuknya dengan kasar, mencoba menenangkannya. Lili terus menangis, menoleh ke arahku seolah meminta kembali.

​"Lili bukan anakmu! Dia anak Sarah! Hanya Sarah yang ibunya!" raung Arvino. Dia mendekatkan wajahnya yang penuh amarah ke wajahku.

​"Dengar baik-baik, Aluna. Jangan pernah, kau ulangi, JANGAN PERNAH membuat Lili memanggilmu 'Mama' lagi! Jika dia memanggilmu, ajari dia memanggilmu 'Tante' atau 'Bibi'. Atau aku akan menyeretmu keluar dari rumah ini dan Papa tidak akan bisa berbuat apa-apa!"

​Ancaman itu, yang dilemparkan di atas tangisan Lili, terasa begitu dingin. Arvino tidak hanya ingin memisahkan kami secara fisik, tapi juga secara emosional.

​Aku berdiri mematung. Mataku kosong. Lili adalah satu-satunya sumber kekuatanku, dan Arvino baru saja melarangku untuk diakui olehnya.

​"Aku akan menceraikanmu hari ini juga, jika kau berani membiarkan Lili memanggilmu 'Mama' lagi!" ancam Arvino, suaranya mengandung janji kejam.

​Dia berbalik, membawa Lili yang masih sesenggukan, dan keluar dari kamar.

​Aku terduduk di lantai, merasakan sakit di dada yang tidak bisa dijelaskan dengan istilah medis mana pun. Aku tidak menangis karena penghinaannya, aku menangis karena kata "Mama" yang baru saja keluar dari mulut Lili, kini menjadi kata yang terlarang bagiku.

​Aku telah membangun benteng profesional, tapi Lili telah menghancurkannya dengan satu kata sederhana. Dan Arvino menggunakan kata itu untuk menusukku tepat di jantung.

​Aku harus menemukan pekerjaanku. Aku harus segera pergi dari rumah ini, setidaknya untuk beberapa jam sehari, sebelum kebencian Arvino benar-benar menghancurkan jiwaku.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
shabiru Al
aluna yang malang tpi hebat mau bangkit dan ttp maju kedepan💪
shabiru Al
bodoh kalau aluna ttp bertahan demi lili
shabiru Al
ya kirain bakalan berubah fikiran aluna nya,, good aluna setidaknya tdk terlalu tercekik berada dlm atap yang sama
shabiru Al
aku kira aluna tdk akan berani memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri kebebasan nya sendiri,, good job aluna... 👍
Yulianti Yulianti
ini udah tamat sampai sini bukan kak
tanty rahayu: belum ka 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!