Zielga Nadine adalah seorang forensik kepolisian yang terkenal karena kecerdasannya dalam memecahkan kasus-kasus tersulit. Kemampuannya membawa banyak penghargaan dan membuat namanya dikenal sebagai salah satu ahli forensik terbaik.
Namun di balik sosoknya yang brilian, Zielga menyimpan masa lalu yang kelam. Semasa SMP, ia mengalami perundungan brutal dan kehilangan harga dirinya berkali-kali. Luka itu tak pernah sembuh—dan menjadi api yang membakar seluruh hidupnya.
Bagaimana jika forensik jenius yang dipercaya semua orang ternyata menyimpan agenda gelap?
Inilah kisah benturan antara dendam yang membara dalam diri Zielga dan upaya polisi mengungkap kebenaran.
Siapa yang akan menang: Zielga, yang bertekad membalas semua rasa sakitnya, atau aparat kepolisian yang tanpa sadar sedang memburu rekan mereka yang paling mereka hormati?
Di atas kertas bertuliskan “Keadilan”, sebuah pertempuran dimulai.
cerita ini hanya fiksi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gdc Hb vl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Sebelumnya
Setelah melihat kepergian ziel, davis dan azri aksa di hampiri oleh mika.
"Kak aksa, kak ziel bilang kita perlu memindahkan mayat ke ruang otopsi untuk di periksa"
Kening aksa sedikit berkerut "lalu kemana mereka bertiga akan pergi!?" Tanya aska dengan penasaran.
"Ah!, mereka menemukan petunjuk, sambil meminta izin dari keluarga korban agar korban di otopsi" jawab mika dengan nada lembut pada aska.
Aksa segera mengangguk pelan mempersilahkan mika melakukan apa yang telah ziel katakan.
Namun tiba-tiba gerakan aksa terhenti saat mendengar mereka perlu izin otopsi kepada keluarga korban.
'Bukannya otopsi bisa di lakukan tanpa izin keluarga korban jika untuk kasus' batin aska saat berpikir kembali.
Dia berdiri menghampiri mika yang sedang bertugas "mika" panggil aska.
Mika yang mendengar namanya di panggil segera menoleh dan menatap aska dengan tatapan penuh tanya.
"Ya" jawab mika singkat.
"Apa yang sebenarnya ziel lakukan" tanya aksa dengan nada lembut.
Mika terdiam sebentar lalu menjawab "kalo tidak salah mereka menjadikan saudari perempuan korban sebagai tersangka!"
Mendengar itu aska seketika melotot "Apa, kenapa kalian tak memberi tahuku!" Ucapnya dengan kesal.
Mika cengengesan sambil berkata "Ee mungkin kak ziel buru-buru jadi lupa"
Wajah aksa langsung datar ketika melihat mika menjawab tanpa rasa bersalah membuat dirinya makin kesal saja.
Dia mengusap kepalanya dengan sebal berkata "Haisss, tolong kirim alamat tersangka padaku"
"Tapi kak aku gam punya alamatnya" jawab mika dengan polos.
"Pintak pada mereka mika.....!" Kekesalan aksa semakin memuncak kala mika tak mampu membaca keadaan.
"Iya iya kapten segera!" Mika dengan gugup menjawab, sedikit takut pada kekesalan aksa. Dia mengeluarkan ponsel di sakunya dan mengetik sesuatu.
Aksa sedikit lega ketika melihat mika langsung bertindak, ia menegakan bahunya dan menatap sekeliling sambil menunggu jawaban mika.
Saat aksa menatap sekeliling, tatapannya tak sengaja melihat gagang pintu utama yang ada di rumah.
Dengan penasaran dia mendekati gagang tersebut dan mengamatinya dengan teliti. Ia memegang dan melihat lebih dekat knock pintu tersebut dia langsung tau bahwa knock pintu itu jenis kunci yang mampu di buka dengan dua arah, bahkan jika salah satu arahnya menempel sebuah kunci.
Hal ini tentu membuat aksa berpikir, bahwa satu-satunya cara yang paling mudah pergi dengan misteri terkunci di rumah adalah kunci cadangan.
"Kak" sahut mika.
Aksa terkejut panggilan mika seketika membuatnya sadar dari lamunannya, dia kemudian menoleh ke arah mika.
"Udah ku kirim" ucap mika.
Aksa mengangguk, mengucapkan terimakasih pada mika lalu menyuruhnya melanjutkan pekerjaan.
Setelah menerima alamat tersebut aksa segera mengendari mobil pergi ke alamat yang di kirim oleh mik tadi.
***
Tak berselang lama mobil aska telah berhenti di tempat tujuan, di sana dia melihat mobil yang di kendaraan oleh rombongan ziel telah meninggalkan pekarangan rumah yang mereka sebut tersangka.
Aksa turun dari mobil, memasuki gedung memakai lift serta melewati lorong-lorong bangunan hingga berdiri di pintu rumah milik tersangka.
Tok
Tok
Dia kemudian mengetuk pintu dengan perlahan hingga pintu itu terbuka menampilkan sosok laki-laki yang tengah menggendong seorang anak kecil yang tertidur lelap.
Laki-laki itu menatap aska yang menggunakan seragam polisi dengan heran, "siapa" tanya tanya afdal selaku suami tiska.
Aksa tersenyum,merogok sakunya dan mengeluarkan kartu identitas polisi miliknya "Selama siang pak, saya kepolisian dari departemen roves ingin memberikan pertanyaan mengenai saudara tiska sayana selaku tersangka saat itu, apa saya boleh masuk!" Aska berbicara sambil menunjukkan kartu identitas nya.
Afdal menatap aksa dengan sedikit heran, pasalnya baru saja istrinya di bawa ke kantor polisi dan saat ini orang lain ingin menginterogasinya mengenai istrinya.
Awalnya afdal ragu, namun saat melihat kartu identitas aksa dia mempersilahkan aksa masuk, toh lagipula jika dia penjahat afdal bisa melawannya karena ia dulu atlet tinju.
"Ya, silahkan" jawab afdal dengan pelan agar tak membangunkan anaknya.
Aksa melangkahkan kakinya masuk ke perumahan secara perlahan agar tak membangunkan anak kecil yang di gendong oleh afdal.
Afdal mempersilahkan aksa duduk dahulu, dia pergi ke kamar tidur untuk meletakkan anaknya di sana.
Setelah selesai dia segera menghampiri aksa sambil bertanya "apakah anda mau minum pak" tanyanya pada aksa.
Aksa menggelengkan kepalanya "tidak perlu, saya ada banyak urusan, bisakah kits langsung ke intinya saja" jawab aksa.
Afdal segera duduk berhadapan dengan aksa "apa yang perlu anda tanyakan pak" tanya afdal, menatap, aksa sedikit tak suka.
"Semalam istri anda apakah tidak ada di rumah" tanya aska.
Afdal menggelengkan kepalanya "istri saya semalam bilang pergi bersama teman-temannya jadi tidak ada di rumahnya" jawab afdal, dia kemudian menambahkan
"Saya yakin , dia tak bersalah pak, ini pasti salah paham" ucapnya dengan lembut.
Kening aksa berkerut ketika mendengar itu dia bertanya kembali "lalu semalam istri anda pulang pukul berapa!?"
Afdal sedikit gagap ketika mendengar pertanyaan itu, dia kemudian berkata "saya semalam ketiduran di sofa hingga pagi hari jadi saya tidak tau" jawab afdal.
Aksa menatap afdal dengan lembut dan berkata lagi "Kalau begitu apa istri anda memiliki kunci cadangan rumah saudara reza agraha?"
Afdal yang mendengar itu berpikir sejenak "aku rasa ada" jawab afdal sambil berpikir.
"Kalau begitu boleh aku minta kuncinya"
Mendengar permintaan aksa afdal segera berdiri memasuki kamarnya dan kembali sambil membawa sebuah kunci cadangan rumah reza.
"Ini pak" dia segera memberikan benda tersebut ke arah aksa.
Aksa mengambil kunci itu dan mengamatinya, kunci tersebut sama persis dengan kunci yang ada dirumah reza.
Saat aksa mengamati, tubuh afdal bertanya dengan gugup "pak, apa ini jadi bukti istri saya bersalah?" Tanyanya dengan sedikit gugup.
Aksa menatap tajam afdal sambil berkata "kalo iya, apa ada masalah!"
Mendengar hal itu afdal segera menjelaskan semuanya "tapi pak rumah ini milik mereka berdua sebelum saya menjadi suami tiska, begitu pula dengan restoran yang reza pimpin saat ini, sebelum saya menikah dengan tiska, kedua saudara ini saling melengkapi jadi tidak mungkin istriku membunuh saudaranya pak"
Mendengar hal itu aksa langsung mengangguk mengerti, dia kemudian berdiri sambil memberikan salam terakhir sebelum pergi.
"Baiklah kalau begitu pak afdal, terimakasih atas informasi yang anda berikan, saya pamit" ucap aska.
Saat aksa melangkahkan kaki ingin pergi gerakan nya terhenti saat merasakan pergelangan tangannya di tarik dari belakang.
Dia kemudian menoleh ke arah afdal yang mencegahnya untuk pergi.
"Apa ada yang mau anda sampaikan pak" tanya aska.
"Saya mohon pak polisi, istri saya tidak akan melakukan itu, saya mengenalnya dengan sangat baik dan saya tau betapa dia sangat menyayangi adiknya itu" ucap afdal dengan wajah yang memohon ke pada aksa.
Aksa kemudian tersenyum lembut kepadanya, dia melepaskan tangan afdal yang mencegahnya lalu berkata "maaf pak, kami mengandalkan bukti dan kenyataan, bukan sebuah perasaan!" Ucapnya dengan lembut namun menusuk.
Aksa kemudian melanjutkan langkah nya pergi dari rumah tiska.
Saat dia memasuki lif dia menunggu lif turun bersama dengan seorang wanita yang berumur kisaran 40 tahun.
Karena wanita tersebut masuk lif bersama aksa, aksa dengan berani mengajukan pertanyaan.
"Halo buk, apakah anda tingal di lantai 5 gedung ini" tanyanya aska pada wanita tersebut.
Wanita itu awalnya heran namun langsung mengangguk dengan canggung "ya saya tinggal di sana" jawabnya.
Mendengar jawaban wanita itu aksa bertanya kembali "Apakah anda tau orang yang bernama tiska sayana yang tinggal di lantai lima!"
"Tentu saja aku tau!, kuberi tahu kau yah wanita itu semalam pulang jam 2 malam, padahal suaminya ada di rumah, dia seperti seorang wanita yang tengah selingkuh tau!" Wanita itu berkata dengan nyinyir membuat aksa mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ha ha begitu ya buk" jawab aksa dengan canggung, namun di balik kecanggungan nya ia menemukan sesuatu yang bisa menjadi bukti lebih besar dari yang ia kira.
Setelah lif sampai di lantai bawa aksa segera pergi dari pekarangan rumah tersangka untuk kembali ke kantor polisi.