Tamara Hadinata adalah perempuan tegas yang terbiasa memegang kendali. Memiliki gaya hidup yang dipenuhi ambisi dan emosi, membuatnya tak pernah serius memikirkan pernikahan.
Ia sibuk bekerja, sesekali terlibat hubungan sementara tanpa komitmen nyata. Sampai keputusan papanya, mengubah segalanya.
Khawatir dengan gaya hidup dan masa depan Tamara, sang Papa menjodohkannya dengan Arvin Wicaksono—Pria karismatik, intelektual, dan dianggap mampu menjadi penyeimbang hidup putrinya.
Namun bagi Tamara, pertemuan mereka adalah benturan dua dunia dan karakter yang tak seharusnya saling bersinggungan.
____
Bagaimana pernikahan mereka bisa terjadi?
Lalu, apa jadinya jika dua orang yang nyaris bertolak belakang, disatukan dalam ikatan pernikahan?
Di tengah kesibukan dan perbedaan, bisakah keduanya hidup berdampingan meski memulai hubungan tanpa cinta?
kuyyy ikuti kisahnya ya~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lonafx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Penerimaan Hangat
Menit demi menit berlalu sudah terasa tidak terlalu menekan bagi Tamara. Perlahan, ia mulai bisa menyesuaikan diri di tengah keluarga Arvin.
Hingga waktu membawa kebersamaan mereka, dilanjutkan acara makan siang.
Aroma berbagai hidangan rumahan menguar dari atas meja panjang, ketika Tamara dan tante-tantenya membantu menyiapkan peralatan makan.
"Ini keluarga kita baru setengahnya loh, Tamara," kata Diah yang menghampirinya.
Ia meletakkan gelas-gelas kaca di atas meja. " ... yang lain sekarang sudah banyak menetap diluar kota, ada juga yang masih kuliah dan berkarir diluar negeri, seperti adik-adiknya Arvin," lanjutnya.
Tamara mengiyakan dengan anggukan sopan, sambil menyusun piring.
Di sisi lain, Elma dan beberapa orang sibuk menata kursi, layaknya mau mengadakan jamuan konferensi tingkat keluarga.
Sedangkan, suara Elva sudah menggema seperti komando barisan, mengarahkan yang lain agar berjalan teratur menuju ruang makan.
Reni yang baru meletakkan mangkuk besar berisi sup, ikut mendekati Tamara seperti orang yang baru menemukan gosip penting.
"Jadi... kamu itu nggak pacaran dulu sama Arvin ya?" tanyanya penasaran.
"Iya, Tante." Tamara menjawab singkat, tetap sopan.
"Mereka itu baru dikenalkan, terus dalam waktu dekat langsung dinikahkan." Diah ikut menjawab, mewakili.
"Hmm... ya nggak apa-apa sih. Pacaran setelah nikah lebih seru, malah. Udah halal kalau mau ngapa-ngapain," kata Reni, lalu menggamit tangan Tamara agar ikut duduk di sampingnya.
Tamara hanya melempar senyum singkat sambil menaruh sendok, kemudian duduk di tengah-tengah tantenya.
Diah yang sudah duduk di sampingnya, menepuk ringan lengannya.
"Tante tuh, cukup kaget sebenarnya waktu tahu Arvin akan menikah. Apalagi, selama ini dia nggak pernah kelihatan punya gandengan," katanya pelan.
Tamara masih menyimak tanpa memotong.
Reni ikut menambahkan, "Kadang dikenalkan sama perempuan, dia nggak mau. Tante aja sempet mikir, Arvin itu pemilih... apalagi sejak dia nggak jadi nikah waktu dulu."
Tamara membulatkan mata sesaat. Oh... Jadi Arvin pernah hampir menikah dulunya, batinnya.
"Tapi itu udah lama... udah masa lalu juga. Sekarang kan ada kamu," ujar Reni lagi sambil menuang air ke dalam gelas.
Diah tersenyum lembut. "Iya. Tante senang, akhirnya Arvin sudah menjatuhkan pilihannya. Sekarang, kamu sudah resmi jadi bagian keluarga ini, Tamara."
Tamara mengangguk, membalas senyumnya dengan ramah.
Sampai langkah yang lainnya terdengar menyusul, kebersamaan mereka berlanjut di ruangan itu.
Kursi-kursi perlahan terisi mengelilingi meja, denting peralatan makan beradu dengan suara obrolan ringan dan tawa kecil yang kembali terdengar.
Tamara duduk diapit oleh Diah dan Reni, yang sudah seperti dua orang penjaga di sisinya.
Sementara Arvin memilih tempat lain, di seberang meja. Sesekali matanya mengawasi istrinya, seperti pelindung yang siap siaga kapan pun jika diperlukan.
Reni melirik ke arah Arvin, menyadari tatapan protektif keponakannya itu.
"Udah dong, Vin... Nggak usah diliatin terus," sindirnya. Suaranya menembus sela-sela riuh rendah dari obrolan samar yang lain.
"Iya, Vin. Tante nggak akan ngapa-ngapain istri kamu, kok." Diah ikut menyahut.
Senyum Reni sedikit menggodanya, lalu berkelakar, "Tante cuma mau duduk dekat dengan Tamara, bukan mau gigit.... Gigit menggigit itu, bagian kamu."
Gelak tawa ringan langsung menghambur dari beberapa orang yang turut mendengarkan.
Arvin tetap diam, tak terpengaruh sedikit pun. Sedangkan Tamara sudah menunduk dengan pipi memerah, rasanya ingin langsung melompat keluar jendela saat itu juga.
Di seberang meja sisi paling pojok, Elma menghentikan tawa. "Tante tahu sekarang, kenapa Arvin akhirnya memilih Tamara buat jadi istri."
Beberapa kepala menoleh ke arahnya, turut menyimak, seolah wanita itu baru melakukan penemuan penting. Sementara beberapa yang lain, masih sibuk dengan makanan masing-masing.
"Lihat saja Tamara, bening kayak gitu. Dia perempuan muda yang sukses, terkenal, pemimpin perusahaan besar. Terus, orangnya benar-benar kalem dan lemah lembut." Elma memaparkan.
Tamara langsung terbatuk, membuat Diah dengan sigap mengambilkan air minum.
Sementara Arvin menunduk menyembunyikan senyum yang nyaris lolos, beberapa yang lain mengangguk-angguk pelan.
Tamara meneguk minumannya. Kalem? Lemah lembut? Dua predikat yang terdengar sangat lucu baginya.
Seorang paman—profesor senior,, yang duduk di sebelah papanya Arvin, ikut nimbrung. "Tipe laki-laki pemikir seperti Arvin itu, memang butuhnya perempuan yang tidak berisik. Dia tidak akan suka keributan."
Reni memberi anggukan setuju, langsung menimpali, "Betul. Dia akan alergi sama perempuan yang galak dan keras kepala."
Tamara nyaris tersedak air, kalimat itu terasa menyentilnya bertubi-tubi. Namun, di sela itu tatapannya bertemu dengan Arvin.
Laki-laki itu hanya senyum kecil dengan wajah tenang tanpa dosa, seolah tetap menikmati momen, telah menyeret istrinya ke tengah forum keluarga.
Kebersamaan itu terus berlanjut dalam suasana penuh keakraban, hingga Tamara perlahan tak lagi merasa canggung.
Berada di tengah kehangatan keluarga itu, pembicaraan pun terasa lebih mengalir, meski ia masih menyimpan rasa segan.
Kupingnya mulai menyesuaikan menerima beragam komentar bernada godaan, yang kadang terdengar absurd. Namun, di tengah canda dan riuh rendah tawa itu, Tamara menyadari ada perasaan hangat yang menyelusup.
Ini bukan seperti masa orientasi ataupun ujian mental, tapi justru inilah bentuk penerimaan yang paling tulus dari keluarga Arvin.
Selesai makan siang, mereka pun mulai berpamitan karena harus kembali pada aktivitas masing-masing.
Suasana teras rumah yang terisi penuh, kini ramai oleh celotehan ringan. Semuanya berkumpul, dengan teratur saling menyalami.
Di ujung pertemuan itu, Tamara tiba-tiba ditantang untuk mengingat kembali nama orang-orang itu satu per satu.
Untungnya, dengan kepercayaan diri yang sudah bangkit sepenuhnya, ia dengan mudah mengingat dan menyebutkan nama masing-masing, seraya menjabat tangan mereka satu per satu.
Sampai Reni yang berdiri di samping Arvin, menyeru antusias. "Nah, istri kamu lulus orientasi menantu keluarga Wicaksono, Vin! Tante kasih nilai A+, deh."
Tawa ringan kembali terdengar, Tamara pun ikut larut dalam kebersamaan itu. Meski energinya memang sempat terkuras, tapi ia justru menemukan semangat baru—entah karena apa, tapi yang ia tahu saat ini hatinya terasa lebih ringan.
Ia melirik ke arah Arvin di sela canda tawa. Ia pikir hidupnya yang berisik—yang akan memberi kejutan di hidup Arvin yang tenang.
Tapi ternyata... malah hidup Arvin yang memberinya kejutan duluan, dan ia tahu ini hanya permulaan.
Tamara sedikit menundukkan pandangan. Entah apalagi setelah ini, pikirnya.
...
Beberapa saat berlalu usai pertemuan keluarga besar, suasana rumah itu kini jadi kembali sunyi, namun tetap terasa hidup.
Suara obrolan samar dan tawa ringan masih terdengar pelan, ketika Tamara asyik berbincang dengan mama mertuanya.
Mereka berdiri di depan salah satu sudut interior rumah. Pandangan keduanya tertuju pada sebuah dinding, yang berisikan susunan bingkai foto-foto kenangan.
Elva menunjuk ke arah beberapa foto sambil menjelaskan kenangan di baliknya, mulai dari foto kebersamaan keluarga mereka, hingga deretan foto lama Arvin yang tak jauh-jauh dari dunia pendidikan.
"Nah, kalau yang ini waktu Arvin pengukuhan guru besar," kata Elva sambil menunjuk satu foto.
Tamara memperhatikan. Dalam foto itu, Arvin tampak berwibawa dengan baju toga kehormatannya—diapit oleh Elva dan Arman yang tersenyum bangga di sisinya.
Ada jeda hening sebentar saat Tamara memandang foto itu lebih lama. Sudut bibirnya terangkat samar, setengah kagum.
Alisnya terangkat ringan. Apa dia benar-benar milikku sekarang?
Hingga helaan napas Elva, mengalihkan perhatiannya. "Rumah ini ya gini-gini aja, Tamara. Sepi. Kadang ramainya waktu lagi ngumpul aja, apalagi Arvin sering di rumahnya sendiri," kata wanita itu, terdengar lirih.
Pandangannya beralih ke beberapa foto di dinding. "Makanya, Mama tuh kalau lagi nggak ngajar, ya ngurusin panti."
Tamara mendengarkan tanpa memotong, ia mengikuti arah pandangan Elva ke arah beberapa foto kenangan di sebuah panti asuhan yang dikelola Elva.
Wanita paruh baya tersenyum lembut menatapnya. "Sekarang... rumah ini bakal sepi lagi deh, karena kalian hari ini juga mau langsung ke rumah Arvin."
Belum sempat Tamara menanggapi, kehadiran Arvin langsung mengalihkan perhatian mereka.
"Barang-barang udah aku masukin semua ke mobil," ujar Arvin memberitahu.
Tamara mengangguk. Mereka segera menuju area beranda rumah, dan berpamitan pada orang tua Arvin.
"Jagain Tamara loh, Vin. Kalian itu sudah suami istri," kata Arman, ketika putra sulungnya itu mencium punggung tangannya.
Elva tak mau kalah, turut mengingatkan. "Jangan lupa sering-sering main ke sini, juga mengunjungi papanya Tamara."
Keduanya hanya mengangguk mengiyakan, layaknya anak yang patuh.
Elva menatap Tamara dengan senyum lembut. "Kamu tenang aja, Tamara. Arvin itu orangnya nggak ribet, kok. Penyakitnya cuma satu, sering tidur larut malam."
Tamara senyum kecil. "Iya, Ma."
Pandangan Elva berpindah ke arah putranya. "Oh ya, Vin... karena sekarang Tamara tinggal sama kamu, Mama sudah minta Yuli buat bantu-bantu di sana ngurus rumah. Sekalian bantuin kerjaannya Yanto."
Arvin mengiyakan, lalu membukakan pintu mobil untuk Tamara.
Mobil yang dikemudikan Arvin segera melaju meninggalkan halaman rumah, diiringi segenap doa restu dari orang tuanya.
Hari itu, keduanya tahu perjalanan baru hidup mereka dimulai. Bukan sebagai pasangan yang menikah karena cinta, tapi dua orang yang mencoba memulai hidup bersama, meski belum sepenuhnya tahu caranya.
BERSAMBUNG...
Rencana papa sudah berjalan mulus nih..
Keluarga Arvin juga menerima Tamara dengan baik...
Keduanya punya karir yang bagus, mapan...
Sudah mau mencoba memulai hidup bersama...
Tapi apakah kisah mereka akan selesai sampai situ aja?
Oh tentu tidak.
Ini justru baru permulaan... 😂
Siap untuk ketemu badai yang sebenarnya?
Ikuti terus kisahnya ya~~
arvin godaanmu sampai ke hatiku🤣
. yg lagi mahal sekarang🥺