Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Rapat, Rasa, dan Rahasia Lama
Beberapa pertemuan tampak profesional. Sampai seseorang mulai bicara dengan nada yang terlalu pribadi.
...Happy Reading!...
...*****...
Ada rapat yang berakhir dengan kesepakatan bisnis. Ada juga yang berakhir dengan luka lama terbuka lagi.
Rapat pagi ini tidak dijadwalkan untuk membahas masa lalu. Tapi siapa sangka, meja meeting bisa jadi saksi pertarungan dua hati yang belum selesai.
Suasana ruang meeting mengandung tekanan tak kasatmata. Tasha duduk di tengah dua orang dewasa yang kelihatannya pernah saling mengenal lebih dari sekadar hubungan profesional. Tatapan mereka seperti dua pejuang yang pura-pura tidak punya sejarah. Tapi Tasha tahu. Ada sesuatu yang mereka simpan, dan ruangan ini terlalu kecil untuk menyembunyikannya.
Cayra duduk di sampingnya, membeku seperti patung marmer. Tasha mengambil inisiatif. Sebagai Account Manager, dia sudah kenyang dengan urusan kontrak, revisi, dan ego klien. Tapi drama pribadi? Itu bukan dalam jobdesc.
Proposal brand Manterra berada di tangannya. Sudah dibaca berkali-kali, bahkan diulang semalam sebelum tidur. Tapi Cayra hanya menatapnya seperti benda asing. Tatapan kosong yang tidak biasa.
Tasha menyenggol lengannya. Sekali. Dua kali. Baru pada senggolan ketiga, Cayra sadar dari lamunannya.
"Saya ingin tahu visi dan misi perusahaan Anda sebelum saya bisa mempromosikannya," ucap Cayra. Suaranya terdengar canggung, seperti siswa baru yang diminta membaca puisi di depan kelas.
Tasha mendesah pelan. Dalam hati ia berbisik, "Padahal di dokumen itu sudah ditulis lengkap. Apa dia baca dari langit?"
Ini bukan Cayra yang ia kenal. Biasanya tegas, sistematis, dan dingin seperti karyawan of the month. Tapi kini seperti anak magang yang tersesat.
Saka menjawab dengan suara rendah namun jelas. "Pertanyaan itu sudah tertulis jelas di dokumen yang dari tadi kau pegang."
Tatapan matanya menembus seperti silet. Tasha refleks menarik napas. Sementara Cayra terlihat goyah. Bahunya turun beberapa senti. Wajahnya kehilangan ekspresi.
"Maaf, Pak Saka, sepertinya Cayra sedang kurang sehat. Kalau berkenan, saya mewakili jalannya meeting hari ini," ucap Tasha sigap.
Lalu ia berbisik lembut. "Lo ke ruang kesehatan aja. Gue lihat lo pucat banget."
Cayra mengangguk pelan. Satu langkah ia bersiap berdiri. Tapi sebuah suara menghalanginya lebih cepat dari langkahnya.
Saka menatap Cayra yang bersiap berdiri. Ada sesuatu dalam dirinya yang tertahan. Rasa yang dulu pernah tertinggal di lorong-lorong waktu.
"Apa kau memang hobi meninggalkan orang lain?"
Tasha menahan napas. Cayra membeku. Kalimat itu lebih dari sekadar teguran. Itu seperti pintu masa lalu yang tiba-tiba terbuka tanpa permisi.
Cayra menoleh. Ia kembali duduk. Perlahan, ia angkat dagunya. "Saya akan tetap mengikuti meeting ini. Karena saya tahu apa tugas saya sebagai Brand Strategist."
Saka mengangguk. "Bagus. Seharusnya begitu."
Tatapan mereka saling menantang. Tak ada yang berkedip lebih dulu, seperti dua pemain catur yang baru menyadari bidaknya saling mematikan.
Tasha hanya bisa mengamati, bingung apakah harus mencatat poin diskusi atau memasang earphone untuk menghindari konflik batin ini.
Meeting pun berjalan. Tapi suasananya lebih mirip sesi sidang perceraian yang terselubung.
"Jadi, apa alasan Anda mendirikan Manterra, brand skincare pria?" tanya Cayra.
"Bukankah sudah ditulis di latar belakang perusahaan?"
"Tidak ada alasan lain?"
Tasha tahu jawabannya ada di dokumen. Tapi ekspresi Saka mulai berubah. Ia menatap Cayra, bukan sebagai klien. Tapi sebagai seseorang yang ingin mengungkap kebenaran yang lama tertimbun.
"Sebenarnya, saya ingin membantu para lelaki agar punya wajah yang bersinar. Supaya mereka tidak terlihat culun dan hatinya tidak dipermainkan oleh seorang perempuan."
Tasha berhenti menulis. Tangannya menggantung di udara. Suasana berubah tegang. Cayra menegang. Pertanyaan yang tadinya profesional berubah menjadi peluru nostalgia.
"Apa maksud Anda tentang dipermainkan oleh perempuan? Tidak semua perempuan menilai dari fisik," bantah Cayra.
Saka menatap tajam. "Sering kali perempuan menilai lelaki dari fisik dan uang. Dua hal itu sudah cukup membuat lelaki terlihat tak berarti."
Cayra menggertakkan gigi. "Apa bukti Anda untuk menyatakan hal itu?"
Saka menjawab tanpa berkedip. "Cermin. Lihat saja dirimu."
Tasha ingin kabur. Tapi kedua kaki seperti tertempel di lantai. Cayra nyaris berdiri, namun menahan diri.
Tangan Cayra di bawah meja mengepal tanpa sadar. Tapi wajahnya tetap datar. Ia sudah terlalu sering berlatih berpura-pura tenang.
"Apa maksud Anda?" suaranya gemetar tapi teguh.
Saka tidak langsung menjawab. Suaranya merendah. "Kau tidak pernah mencintai tanpa alasan. Selalu ada syarat, ada motif, ada perhitungan."
Kata-kata itu seperti menampar, tapi Cayra menolak menunjukkan rasa sakitnya. Ia menguatkan rahangnya, seperti berusaha menahan sesuatu yang sudah lama ingin pecah.
Tatapan mereka saling mengunci. Tidak ada lagi peran Brand Strategist atau CEO. Hanya dua orang yang pernah terluka, berdiri di antara masa lalu dan masa kini.
Tasha akhirnya menurunkan pulpen. Tidak perlu mencatat. Karena ini bukan lagi rapat bisnis. Ini panggung kenangan yang belum selesai ditutup tirainya.
Catatan di buku meeting-nya berubah dari "Action Plan" jadi "Drama Cayra & Mas CEO: Episode 1."
Dan dia? Hanya penonton yang tak sengaja duduk di kursi barisan depan.