NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENEMUAN MAYAT

Seorang warga terus berteriak meminta tolong di lahan kosong yang kini di tumbuhi singkong dan ubi yang sengaja di tanam oleh warga.

"Tolong...! Tolong...!" Teriak Mamang itu.

Beberapa warga yang sedang lewat berdatangan menghampiri. "Ada apa Mang? Ada apa?"

"I-ini! Ada mayat di sini, mereka terbakar. Sepertinya mereka bunuh diri. Saya baru saja mematikan apinya" Ucap Mamang tersebut.

"Astagfirullah hala'zim, yang benar, Mang!" Ketiga warga yang sepertinya habis pulang dari sawah mendekat untuk memastikan.

"Astagfirullah hala'zim. Benar!" Gumam mereka bersamaan.

"Sepertinya saya kenal mereka ini, Mang!"

"Iya, mereka kan...? Si Karim sama si Prapto. Wajahnya masih bisa di kenali dengan jelas, walau tubuhnya sudah hangus." Timpal si Mamang

"Innalilahi wa'inna ilaihi roji'un."

"Mereka mengapa bunuh diri di sini? Inikan tanah bekas rumahnya si Yusuf. Yang kabarnya Ustad tapi tak berakhlak itu."

"Wah... jangan-jangan, kematian Yusuf ada sangkutannya sama mereka, Mang." Asram yang tak sengaja lewat ikut menimpali.

"Asram! Kamu itu, bicara sembarangan saja." Ucap si Mamang.

"Lah, kalau mereka mau bunuh diri, ngapain di sini, Mang? Dan mengapa harus dengan cara membakar diri. Bukannya ada yang lebih mudah, yaitu minum racun, atau menjatuhkan diri di tebing dalam hutan sana." Tegas Asram santai.

Semua yang ada di sana pun saling tatap.

"Halah...! Kamu, anak baru kemarin mana tau tentang kejadian itu. Lagian kamu orang baru di desa ini, jangan sok tau kamu, Asram." Sinis Mamang.

"Ya... maaf! Saya hanya mendengar gossip dari para warga saja, Mang. Dan saya yakin, kematian mereka ada hubungannya dengan masa lalunya. Lihat saja... mana ada orang yang mau mebakar diri sendiri. Udah ah, saya lebih baik panggilkan Pak RT. Pamit dulu, Mang." Asram pun pergi tanpa menoleh kepada mereka.

Semua orang yang ada di sana terdiam. Lalu tibalah pengendara sepeda motor. "Siapa Mang, yang meninggal." Orang tersebut buru-buru memarkir motornya.

Belum sempat di jawab, orang itu terkejut sambil mengelus dada saat melihat wajah yang sangat ia kenali.

"Astaga..., saya tadi baru bertemu mereka." Ucap

orang itu, ingin melanjutkan ucapannya namun tertahan karena istri dari mayat itu berdatangan.

"Mas Karim!" Teriak Desi panik. Di susul Karti.

"Bapaknya Dimas! Mas!" Karti menangis sesenggukan, ingin menyentuh suaminya namun ragu.

"Siapa yang sejahat ini kepada suami kami. Katakan! Saya tidak terima, suami saya di perlakukan seperti binatang. Huhu...!" Sambung Karti dengan bersimpuh di hadapan mayat suaminya yang masih mengepulkan asap panas.

"Nggak ada yang berbuat jahat sama suamimu, Karti." Ujar Mamang.

"Tolong, Mang. Anda orang pertama yang tahu, katakan yang sejujurnya." Cecar Desi. Yang lebih mirip menuduh.

"Astagfirullah hala'zim, beneran, Teteh! Saya pun tahunya pas ada api yang membumbung tinggi. Pas saya dekati, malah suami kalian berdua. Bersyukur saya mau memadamkan apinya, walau nyawa mereka tidak terselamatkan. Setidaknya suami kalian tidak menjadi abu, macam meninggalnya, Yusuf dulu." Si Mamang mulai geram.

"Bohong! Pasti Mamang yang membunuh suami kami. Mamang kan selama ini Mamang iri, kepada suami-suami kami! Dan kebetulan hari ini suami saya membawa uang banyak. Pasti Mamang mengambil semua uang itu, lalu membakar suami kami untuk menghilangkan barang bukti." Cerca Karti gantian.

Si Mamang makin di buat emosi. "Astaga,,naga...!" Si Mamang hanya bisa menahan emosi sambil mengelus dada.

Teing pisan... teh! Awewe dua ini. Kalau

bukan dalam kondisi berkabung, udah saya sambelin tuh mulut kalian berdua. Gerutu Mamang dalam hati.

"Teh, tapi sepertinya benar apa yang di katakan si Mamang. Soalnya... tadi pagi, saya ketemu mereka di warung kopinya mbak Anita. Dan... maaf ya? Mereka juga ada jajan, perempuan-perempuan cantik yang ada di warungnya, mbak Anita. Jadi, otomatis, mereka sudah tidak membawa uang saat terjadinya kebakaran tadi." Jelas orang itu.

Karti dan Desi seperti mendapatkan bom yang sangat dasyat.

"Masa sih, Kang? Akang salah lihat kali."

Desi masih tak percaya, walau dia tahu betul, suaminya dulu saat masih punya uang banyak, selalu ke warung kopinya, Anita.

"Ya ampun, Teh. Beneran...! Bila tak percaya, boleh tanya langsung sama mbak Anitanya."

Keduanya merasa malu sekaligus kesal karena telah di permainkan oleh suami-suami mereka.

"Jadi, uang dari menjual emasku di buat main perempuan?... astaga....! Teganya kamu, Mas, tega!

Katanya mau berobat ke dukun, ternyata malah buat jajan perempuan. Nyesel aku, nyesel...! Huhu...!" Karti yang geram terus berteriak-teriak kesal, marah, namun tak dapat melampiaskannya. Dia benar-benar menyesal menyerahkan semua perhiasannya. Rasanya hancur sehancur-hancurnya. Karti pun mulai menangis histeris, sampai beberapa lelaki memeganginya.

"Kurang ajar kamu, Mas! Huhu... itu tabungan buat sekolah anak kita yang di pesantren mas. Kamu habiskan begitu saja. Aku nyesel... aku nyesel...! Huhu...!" Karti masih terus meluapkan unek-unek nya.

"Huhu... tega... kamu, Mas. Huhu...!" Desi yang bingung harus apa, hanya bisa memeluk Karti.

Mayat pun berencana akan di bawa ke masjid terdekat.

Agar memudahkan warga yang mengurus.

Namun, saat di sentuh oleh warga kedua mayat itu, tiba-tiba. "Astagfirullah! Panas banget, Pak Imam." Ujar Rofik terkejut langsung mengangkat tangannya dan mengibas-ngibaskannnya karena merasa kepanasan.

"Astagfirullah hala'zim. Coba, yang lain ikutan bantu."

Pak Imam yang panik segera mendekat akan membantu.

Beberapa warga mendekat. "Aaahhh!!!" Pekik mereka bersamaan.

"Pak Imam! Beneran panas banget! Kayak besi yang masih di atas bara api." Ujar salah satunya.

"Betul! Betul!" Imbuh yang lainnya.

Pak Anwar, beserta anak istri datang. Dan tak ketinggalan, Beni pun ikut serta.

"Ada apa ini, Pak Imam. Kabarnya Karim dan Prapto meninggal bersamaan dengan cara membakar diri." Tanya Pak Anwar. Bu Saedah memegangi lengan suaminya merasa ngeri dengan kondisi korban.

"Kabar yang saya dengar seperti itu, Pak Anwar. Dan ini pun, kami mendapat kendala, karena mayit sangat susah di sentuh. Tubuh mereka sangat panas bak besi yang terpanggang di bara api." Jelas Pak Imam berkali-kali istigfar.

Raut wajah Sulis mendadak memucat tegang.

Beni mengamati perubahan Ibunya. 'Aneh!' Pikirnya, namun ia abaikan.

"Lalu, bagaimana nasib jasad suami kami, Pak Imam. Tolonglah suami kami, Pak." Ucap Desi yang merasa prihatin.

"mbak Desi, dan mbak Karti. Mari kita berdoa bersama memohon ampunan untuk Almarhum. Kemungkinan, keduanya mempunyai dosa yang belum mereka tebus, atau belum meminta maaf kepada seseorang sebelum mereka meninggal." Ucap Pak Imam.

Desi dan Karti pun mengangguk.

"Ayo para warga, bantu mendoakan." Seru Pak Imam.

"Halah...! Saya males Pak Imam. Biarkan saja tuh istrinya yang tidak punya akhlak asal nuduh orang, yang medoakan saja. Suami sama istri sama saja! Sama-sama bejad!" Seloroh Mamang yang sudah terlanjur sakit hati.

"Iya betul! Masih butuh bantuan tetangga, tapi mulut tidak bisa di jaga." Ujar yang lain.

"Biarin, keduanya menjadi bangkai di sini. Nggak tau diri!" Teriak yang lain.

Desi dan Karti saling menggenggam tangan sambil menunduk.

"Waduh...! Sudah-sudah! Nggak baik Bapak-Bapak, berkata demikian. Berlapang dada lebih baik dari pada menyimpan seribu kebencian. Mari, kita saling menghormati dengan sesama saling memaafkan. mbak Desi, mbak Karti, meminta maaflah kepada mereka." Sela Pak Imam.

Desi dan Karti pun akhirnya patuh. Dan meminta maaf. Setalahnya, doa-doa pun di panjatkan.

Apa ini beneran karma? Lalu, jika benar arwah Yusuf yang bangkit lagi untuk menuntut balas, itu artinya, aku pun sebentar lagi akan mendapat giliran. Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku harus melakukan sesuatu. Yah! Aku harus melakukan sesuatu secepatnya. Parmi, iya Parmi! Beberapa minggu yang lalu katanya akan membawa dukun. Aku harus menanyakannya kembali. Aku tidak mau mati tragis seperti mereka.

"Bu, Ibu. Ibu, ayo kita ke masjid. Jenazah sudah berhasil di angkat." Ucap Beni. Sulis tersentak dari lamunannya.

"Eh! Oh! Sudah bisa ya? Ayo-ayo." Sulis segera menyusul rombongan.

Beni makin tak kuasa untuk menahan pertanyaannya.

"Bu, kenapa sih, ibu akhir-akhir ini sering melamun.

Ada masalah yang Ibu tidak bisa tangani? Bicara saja sama Beni, siapa tau masalah Ibu bisa Beni bantu." Ucap Beni di sepanjang jalan.

Sulis menoleh dengan tatapan tak senang. "Kamu anak kecil, tau apa? Sok ikut campur urusan orang dewasa.

Urus saja yang bener sekolah dan ladang keluarga kita, nggak usah jadi anak yang sok tau!" Ujar Sulis agak keras.

Beni sontak terdiam, tidak berani membantah ucapan Ibunya, apa lagi bertanya, walau ia masih ingin berdebat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!