NovelToon NovelToon
MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

MALA & DERREN IKATAN TANPA RENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / One Night Stand / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

---


Nirmala hampir saja dijual oleh ibu tirinya sendiri, Melisa, yang terkenal kejam dan hanya memikirkan keuntungan. Di saat Mala tidak punya tempat lari, seorang pria asing bernama Daren muncul dan menyelamatkannya. membuat mereka terjerat dalam hubungan semalam yang tidak direncanakan. Dari kejadian itu, mala meminta daren menikahi nya karena mala sedikit tau siapa daren mala butuh seseorang untuk perlindungan dari kejahatan ibu tiri nya melisa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Pagi itu, udara desa terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut masih menggantung di antara pepohonan kebun teh yang luas, menciptakan suasana yang tenang… namun tidak sepenuhnya aman.

Di tempat lain, di balik salah satu bukit, Gio Arman berdiri dengan tangan di belakang punggung. Tatapannya mengarah ke jalan kecil yang menjadi satu-satunya akses keluar dari desa menuju kota.

“Sudah siap semua?” tanyanya dingin.

“Tinggal menunggu mobil target lewat,” jawab salah satu anak buahnya.

Mereka telah memasang jebakan sederhana: tumpukan batu yang tampak seperti longsoran kecil. Jika mobil melaju kencang, kemungkinan besar akan terguling atau tergelincir keluar jalur. Ditambah lagi, mereka menyiapkan dua motor di balik semak untuk mengejar jika Mala berusaha kabur.

Gio menarik napas panjang. “Kali ini tidak boleh gagal.”

Ia tidak tahu bahwa di tempat lain, enam orang yang sama sekali tidak ia perhitungkan sudah bersiaga sejak subuh.

---

Di rumah Nirmala, persiapan dilakukan tanpa suara gaduh. Nina, sopir sekaligus satu-satunya bodyguard perempuan, berdiri di samping mobil sambil mengecek ulang kaca spion.

Ardi dan Dimas berpura-pura sedang mengobrol di halaman. Gilang dan Rama berpura-pura membersihkan motor tua. Anton duduk santai di dekat pagar sambil membaca koran, padahal matanya tajam mengawasi setiap gerakan mencurigakan.

Nirmala keluar dari rumah membawa tas kecil. “Hari ini aku ke kota. Ada pesanan bahan untuk butik.”

“Baik, Bu,” ujar Nina sambil membuka pintu mobil.

Semuanya tampak normal.

Tidak ada yang tahu bahwa Mala sedang menuju rencana pembunuhan.

Tapi bodyguard-bodyguardnya, dengan ketelitian yang dimiliki para profesional, sudah menangkap sinyal-sinyal aneh sejak malam sebelumnya.

Ardi mendekat pada Anton dengan suara rendah. “Tim musuh mulai bergerak. Aku lihat dua motor mencurigakan jam empat subuh tadi.”

Anton mengangguk. “Tetap seperti rencana. Kita biarkan mereka jalankan dulu rencananya.”

“Siap.”

Mobil pun melaju keluar halaman, diikuti satu motor yang dikendarai Gilang dari kejauhan—mengawasi tanpa mencolok.

---

Sementara itu, di ibu kota, Daren sedang bersiap untuk pergi. Koper kecil sudah di tangan, kunci mobil sudah di genggaman. Ia berniat langsung berangkat setelah kegelisahan semalam membuatnya sulit tidur.

Namun begitu ia melangkah ke ruang tamu, suara tegas terdengar dari belakang.

“Daren!”

Ia berhenti. “Ibu?”

Nonya maya, ibunya, berdiri dengan tatapan tidak main-main. “Kamu mau ke kota kecil itu lagi? Pagi-pagi begini?”

Daren memejamkan mata. Waktunya buruk sekali. “Ada urusan penting, Bu.”

“Kamu pikir mama tidak curiga? Belakangan kamu sering bolak-balik ke sana, tanpa alasan jelas. Ada apa sebenarnya?” tanyanya sambil melipat tangan.

Daren terdiam.

Ia tidak bisa mengatakan apa adanya—bahwa ia menikah diam-diam, bahwa ada bahaya mengancam istrinya, bahwa ia harus melindungi Mala.

Belum waktunya.

“ma...., nanti saja. Aku harus pergi dulu.”

“Tidak!” potong ibunya cepat. “Kamu jelaskan sekarang. Kenapa kamu begitu gelisah? Kenapa kamu terus pergi ke sana?”

Daren menghembuskan napas, menahan emosi. “ma, tolong… jangan paksa aku bicara sekarang. Aku janji akan jelaskan semuanya. Tapi bukan hari ini.”

Justru itu membuat ibunya makin curiga. “Daren, Ibu ini ibumu! Kamu tidak bisa meninggalkan rumah dengan wajah begitu tanpa menjelaskan apa-apa!”

Sebelum situasi memanas, Ayah Daren—tuan armand—menghampiri dengan tenang.

“Sudah, Mah.” Suaranya lembut tapi tegas. “Biarkan Daren pergi. Dia sudah dewasa. Kalau dia bilang belum saatnya menjelaskan, kita hormati.”

“Tapi Pa—”

“Mah,” ulang tuan armand, “kehidupan dia bukan semuanya di bawah kendali kita.”

Nyonya maya terdiam, meski wajahnya masih penuh kekhawatiran.

Daren mengangguk hormat pada ayahnya. “Terima kasih, Pa.”

“Pergilah. Hati-hati,” kata ayahnya.

Tanpa menunggu, Daren bergegas keluar rumah.

---

Di desa…

Mobil yang dikendarai Nina melaju perlahan di jalan tanah yang menghubungkan desa ke jalan utama. Pemandangan hijau terbentang luas, tapi suasananya terasa berbeda.

“Bu,” ucap Nina pelan sambil melirik kaca spion. “Ada motor yang mengikuti dari tadi.”

“Aku sudah merasa,” jawab Mala tanpa menoleh. “Apa itu orang yang sama seperti kemarin?”

“Tidak yakin. Tapi kita harus waspada.”

Ketegangan itu pecah ketika mobil berbelok ke tikungan tajam dan…

BRAK!

Ban menggilas batu besar dan mobil oleng.

“Longsoran kecil?” gumam Nirmala, memicingkan mata. “Terlalu rapi untuk longsoran.”

Nina menginjak rem kuat-kuat.

“Jangan turun!” teriak Nina sambil meraih tas kecil di sampingnya yang ternyata berisi tongkat lipat.

Namun mereka terlambat.

Dua motor meluncur dari balik semak dengan kecepatan tinggi.

Salah satunya langsung menabrak pintu samping dengan sengaja.

Nirmala terhuyung.

Dan Gio muncul dari kejauhan, berdiri di tengah jalan dengan wajah penuh ketenangan gelap. “Sudah lama aku ingin menyelesaikan ini,” ujarnya pelan.

Nina langsung keluar. “Bu, tetap di dalam!”

Tapi Nirmala tidak bisa hanya duduk diam. Ia mengintip—dan melihat Gio mengangkat pipa besi, siap menghancurkan kaca depan.

Namun sebelum itu terjadi…

Seseorang melayang keluar dari arah bukit kecil dan menendang tangan Gio.

PLAK!

Gio terkejut.

Ardi melompat turun, disusul Dimas dan Rama dari arah berbeda. Semua bodyguard sudah bersiaga, mengelilingi Nirmala.

Anton dari kejauhan mengarahkan ketapel baja kecil ke ban motor yang lain, membuatnya terguling.

Gio mundur perlahan, menilai situasi. Rencananya jelas gagal.

“Dia punya bodyguard…,” gumamnya kesal. “Sial.”

Ardi menatap Gio tajam. “Pergi. Sebelum tulangmu yang kami patahkan.”

Gio meludah ke tanah. “Ini belum selesai.”

Ia lalu melambaikan tangan pada anak buahnya. Mereka kabur ke hutan kecil di samping jalan.

Serangan pertama gagal.

Namun bahaya baru saja dimulai.

---

Nirmala keluar dari mobil dengan napas terengah, tapi matanya tajam. “Terima kasih… kalian semua.”

Ardi menunduk. “Kami hanya menjalankan tugas, Bu.”

Nina mendekat. “Bu… kita harus kembali ke rumah. Mereka akan mencoba lagi.”

Nirmala mengangguk cepat. “Kita pulang. Kita harus beritahu Daren.”

Tapi teleponnya tiba-tiba bergetar.

Satu pesan masuk dari Daren.

“Mala, aku dalam perjalanan. Tunggu aku.”

Nirmala menatap jalan panjang di hadapannya.

Assalamualaikum selamat sore

Like komen nya ya...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!