Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 – Dua Dunia yang Berbeda
Hujan deras masih mengguyur kota malam itu. Petir menyambar di langit, membelah kegelapan dengan cahaya putih sesaat, memantulkan bayangan rumah besar keluarga Kazuma di genangan air. Di depan gerbang, simbol naga terbakar masih mengepulkan asap tipis tanda perang yang baru saja dimulai.
Di dalam rumah, suasana tegang menggantung berat. Ruang utama yang biasanya hanya diisi suara api di perapian kini dipenuhi napas berat dan tatapan tajam. Yuto dan Akira berdiri canggung di dekat pintu, masih mengenakan seragam sekolah yang basah oleh hujan.
Kenji duduk di kursi panjang, kepala menunduk, menatap luka di tangannya yang belum sempat dibalut. Sementara di depan jendela, Kazuma berdiri dengan punggung tegak, memandangi langit yang gelap. Di sampingnya, Ryo duduk tenang dengan segelas teh yang sudah dingin di tangan.
“Simbol naga,” kata Ryo pelan, suaranya berat. “Mereka akhirnya menunjukkan diri.”
Kazuma tidak berbalik. “Aku sudah menduganya sejak lama. Tapi aku tidak menyangka mereka akan memilih waktu secepat ini.”
Kenji menatap papanya dari tempat duduk. “Papa … siapa sebenarnya mereka?”
Kazuma masih diam. Ia baru berbalik ketika petir menyambar lagi, menerangi ruangan. “Hirano Daisuke.”
Nama itu jatuh seperti petir kedua. Yuto dan Akira saling pandang, tidak mengerti, tapi mereka bisa merasakan ketegangan yang membara dari dua pria dewasa di depan mereka.
Kazuma berjalan pelan ke arah meja, menatap foto tua yang tergantung di dinding dua pria muda berdiri berdampingan, mengenakan jas hitam dan menatap kamera dengan senyum samar. Salah satunya adalah Kazuma muda. Yang lain Daisuke Hirano.
“Dulu, kami sahabat,” ucap Kazuma lirih.
“Kami membangun dunia bawah ini bersama. Tapi keserakahan mengubahnya jadi medan perang. Dan dalam perang itu … Mamamu jadi korban.” Mendengar kata mama membuat napas Kenji tercekat.
Kenji memejamkan mata, memori masa kecilnya muncul rumah yang terbakar, suara papanya berteriak, dan tangan lembut sang ibu yang terakhir kali menggenggamnya.
“Jadi… semua ini karena keluarga Hirano?” suaranya nyaris pecah.
Kazuma mengangguk tanpa menatap. “Ya. Dan simbol naga terbakar itu, Kenji itu bukan hanya peringatan. Itu tantangan. Artinya mereka siap menuntut balas.”
Yuto maju setapak. “Balas? Tapi, kenapa harus Kenji juga yang kena? Dia kan cuma anak sekolah!”
Kazuma menatap Yuto, tajam namun tidak marah. “Karena darah Kazuma mengalir di tubuhnya. Dan dalam dunia kami, darah adalah warisan,dan sekaligus kutukan.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Hujan di luar makin deras, membentur kaca seperti irama detak jantung yang gelisah. Kenji menatap api di perapian, suaranya rendah tapi jelas,
“Jadi… perang itu belum berakhir. Dan sekarang, mereka datang untukku.” Ryo menghela napas.
“Bukan hanya untukmu. Mereka datang untuk menghancurkan semua yang tersisa dari keluarga Kazuma. Daisuke mungkin sudah tua, tapi cucunya.” Ia berhenti sejenak, menatap Kazuma dengan ekspresi serius.
“Ren Hirano. Anak itu sekarang di sekolah yang sama dengan Putramu.” Kata itu membuat kepala Kenji seolah berputar.
Senyum sopan di koridor sekolah, suara halus yang memperkenalkan diri, dan tatapan mata yang terasa terlalu tajam untuk anak seumurannya semua potongan memori itu tiba-tiba terasa masuk akal.
“Ren Hirano, ” kata Kenji, hampir tak percaya. “Dia … cucu musuh kita?”
Kazuma menatap anaknya, ekspresinya sulit dibaca. “Dan dia sudah tahu siapa kamu.”
“Bagaimana kalau dia menyerang duluan?” tanya Kenji cepat.
Kazuma menatapnya dalam-dalam. “Maka, bertahanlah. Tapi ingat, bertahan bukan berarti takut. Kadang, menunggu waktu yang tepat adalah senjata paling mematikan.”
Di sisi lain, Yuto dan Akira tampak kebingungan. Dunia yang mereka masuki terasa terlalu jauh dari kenyataan.
Yuto akhirnya memberanikan diri bicara. “Tuan Kazuma, sebelumnya maaf kalau boleh tahu, simbol naga itu artinya apa?”
Ryo ingin menjawab sebelum Kazuma sempat bicara. “Tanda perang antar keluarga. Kalau dikirim ke depan rumah … artinya mereka sudah memilih waktu dan tempat.”
Akira menelan ludah. “Tempat? Maksudnya di mana?”
Kazuma menjawab datar, “Sekolah Emerald. Besok pagi.”
Ruangan seketika terasa dingin. Saat mendengar akan terjadi sesuatu besok pagi di sekolahnya.
Yuto spontan melangkah maju. “Jadi besok kemungkinan mereka bakal datang ke sekolah kita?”
Kazuma menatap mereka dengan mata tajam. “Kemungkinan besar. Karena di sana, anakku tidak dijaga. Dan mereka tahu itu.”
Kenji berdiri, suaranya bergetar tapi tegas. “Kalau begitu, biar aku yang hadapi sendiri. Dunia ini berawal dari darah keluarga, biar aku yang menutupnya.”
“Kenji!” Yuto memotong cepat. “Jangan bodoh! Kamu nggak harus ngelakuin semuanya sendirian!”
Kenji menatap sahabatnya itu, senyum tipis muncul di bibirnya. “Aku nggak sendirian, Yuto. Kalian udah cukup banyak menolong aku. Tapi ini … urusanku.”
Akira ikut menatapnya, suara lembut tapi gemetar. “Kalau kamu nekat, kita bakal ikut. Karena selama ini kamu selalu maju sendiri. Sekarang giliran kami di sisimu.”
Ryo tersenyum kecil. “Kalian punya nyali besar. Tapi dunia ini tidak punya belas kasihan untuk orang baik.”
Kazuma perlahan mendekat, menatap Yuto dan Akira. Ia merasa kagum dengan persahabatan antara anaknya dengan Yuto dan Akira.
“Anak-anak ini memang bodoh,” katanya pelan, tapi suaranya mengandung rasa kagum.
“Terkadang, kebodohan seperti itu yang membuat seseorang bertahan di dunia ini.” kata Kazuma kembali.
Kenji menatap papanya, suaranya tenang. “Aku siap, Papa. Kalau ini jalanku, aku akan jalani. Aku nggak akan biarin mereka hancurkan apapun lagi.”
Kazuma menatap anaknya lama, lalu menepuk bahunya perlahan. “Aku tidak akan melarangmu, tapi ingat setiap langkahmu akan dilihat banyak mata. Dunia bawah tanah akan menilai apakah kau pewaris sejati atau hanya anak yang lahir dari nama besar.”
Hening kembali menyelimuti ruangan. Api di perapian mulai padam, hanya menyisakan cahaya merah yang berdenyut di dinding.
Ryo meneguk tehnya perlahan, lalu berkata lirih, “Besok pagi, aku akan kirim beberapa orang untuk berjaga di sekitar sekolah. Kita tidak bisa ambil risiko.”
Kazuma mengangguk. “Lakukan dengan tenang. Aku tidak mau dunia tahu perang ini sudah dimulai.”
Yuto dan Akira akhirnya dibolehkan pulang dengan mobil pengawal, sementara Kenji masih berdiri di depan jendela, menatap hujan yang perlahan mereda. Dalam pantulan kacamatanya terlihat lebih tajam dari sebelumnya seperti mata seseorang yang sudah menatap sisi gelap dirinya sendiri.
Tiba-tiba, telepon tua di ruang kerja Kazuma kembali berdering.
Nada deringnya menembus keheningan malam, membuat semua orang berhenti bicara. Kazuma berjalan pelan ke arah meja, mengangkat gagang teleponnya. Suara di ujung sana terdengar muda, tenang, tapi dingin penuh kebencian yang terbungkus sopan santun.
“Kazuma-san, ini kehormatan bisa mendengar suara Anda lagi. Dunia lama kita sudah menunggu dan saya pikir, waktunya generasi baru menyelesaikan urusan lama.” Kazuma kaget mendengar suara dari ujung telepon.
Kazuma membeku. “Ren Hirano.”
Suara di seberang tertawa kecil. “Tepat sekali. Besok, saya akan menemuinya di tempat yang paling damai di dunia sekolahnya. Dan kita lihat, apakah darah Kazuma masih sekuat dulu.”
Klik, seketika telepon terputus, dan seketika suara menjadi hening. Hanya suara hujan yang perlahan berhenti di luar. Kazuma menatap gagang telepon itu lama, lalu menatap ke arah Kenji yang masih berdiri di jendela.
“Kenji” katanya pelan, tapi penuh tekanan. “Besok pagi, semuanya akan dimulai. Jaga dirimu dan jangan pernah ragu.”
Kenji tidak menjawab. Ia hanya menggenggam kalung peninggalan ibunya, matanya memantulkan bayangan langit yang mulai cerah.
“Aku tidak akan mundur, Ma. Dunia yang kau tinggalkan akan aku lindungi dengan caraku.” Kenji sambil memandang kalung yang sudah lama ia pakai selama ini.
Di luar, sinar bulan akhirnya menembus awan.Di bawah cahayanya, bayangan panjang keluarga Kazuma terlihat di lantai dua generasi yang akan menanggung dosa dan dendam masa lalu. Dan di kejauhan, di sebuah apartemen gelap di distrik Shinjuku, seorang pemuda dengan rambut abu-abu tersenyum sambil menatap peta sekolah Emerald di mejanya. Ren Hirano. Tangannya menggambar simbol naga dengan tinta merah di sudut kertas.
“Kita lihat, Kenji Kazuma … siapa yang benar-benar pantas menyandang nama keluarga mereka.”