NovelToon NovelToon
Setitik Cinta Di Atas Harapan

Setitik Cinta Di Atas Harapan

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Pernikahan akan terasa indah selagi masih ada cinta dari seorang suami.
Namun hal itu tidak berlaku pada seorang wanita muda. Pernikahannya hancur karena campur tangan keluarga suaminya. Apalagi sang suami tak lagi berpihak pada dirinya.
Nama wanita itu adalah Amara.
Di tengah-tengah keputusasaannya, ia bertemu dengan cinta pertamanya.
Apakah yang akan terjadi pada kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua belas.

Griya lansia

Reza baru saja tiba di sebuah gedung 3 lantai yang berada di tengah sebuah perkampungan.

Gedung itu di huni oleh orang-orang yang telah lanjut usia. Beberapa diantaranya adalah para orang tua yang biasanya ditelantarkan oleh keluarga mereka. Ada juga yang memilih untuk tinggal di sana karena tak ingin menyusahkan anak-anak mereka. Biasanya karena alasan kesepian.

Reza berada di sini untuk mengunjungi ibunya yang sudah beberapa tahun belakangan ini memilih untuk menghabiskan masa tuanya di panti ini.

Setiap sebulan sekali ia selalu mengunjungi ibunya di sana. Reza sibuk mengurus kantor pusat dan beberapa kantor cabang lainnya yang berada di luar kota. Sehingga ia harus sering bolak-balik ke luar kota untuk bekerja.

Biasanya ketiga kakak perempuannya lah yang selalu bergantian untuk mengunjunginya setiap satu minggu sekali.

"Kau lama sekali datangnya?" seorang wanita setengah baya tampak menghampirinya dengan raut wajah kesal.

"Aku sudah berusaha datang secepatnya ibu. Tapi akses jalan menuju panti agak jauh masuk ke dalam. Makanya perjalanan menjadi lebih lama. Setiap kali memang seperti itu ibu." jelasnya.

Wanita itu membawa putranya masuk ke dalam. Ketua yayasan juga datang untuk menyambutnya. Kebetulan Reza menjadi salah satu donatur tetap di panti tersebut. Sehingga ia sudah di kenal baik di sana.

Bahkan para penghuni panti juga ikut menemuinya. Mereka selalu mengerubunginya bahkan menggodanya.

Mereka tahu jika Reza itu masih lajang. Beberapa bahkan ada yang berusaha untuk menjodohkan Reza dengan putri ataupun cucu perempuan mereka.

Reza tidak terlalu ambil pusing dengan hal itu karena ia sudah terbiasa.

Laura, nama wanita itu, membawa putranya masuk ke dalam kamar agar tidak di ganggu oleh yang lainnya.

"Bu! Jangan mempromosikan diriku lagi pada mereka. Mereka mengerubungi ku seperti semut." omelnya pada wanita itu.

"Ibu tidak mempromosikan dirimu pada mereka. Kau pikir ibu tidak punya pekerjaan lain di sini. Mereka saja yang sangat antusias untuk mendekatimu." sanggahnya sambil tersenyum.

Ibu dan anak itu tampak melepaskan rindu satu sama lainnya. Reza sudah hampir satu Minggu berada di kota ini. Dan rencananya nanti sore dia akan kembali. Laura sebenarnya tidak ingin berpisah, tetapi hidup di panti ini adalah keinginannya di masa tua.

Di sini dia mendapatkan banyak teman dan bisa melakukan berbagai kegiatan. Sehingga ia sama sekali tidak merasa jenuh sedikitpun.

"Oh iya! Apa kau tahu ada seorang tukang masak baru yang bekerja di sini. Dia wanita yang sangat menyenangkan juga sangat baik. Ibu senang sekali bisa berteman dengannya." jelas Laura.

"Apa dia juga punya anak perempuan yang belum menikah?" tanya Ervin sudah bisa menebak ke mana akhir cerita ini.

Biasanya wanita itu akan berkata jika dia punya seorang anak perempuan yang belum menikah dan ingin mengenalkan pada Reza. Dia sudah hapal dengan alurnya.

"Tidak. Putrinya sudah menikah. Jadi kau aman." jelas Laura sambil tertawa.

"Tapi ... Kapan kau berencana untuk menikah? Sudah waktunya bagimu untuk memikirkan tentang masa depanmu." tanya Laura cemas.

"Bu, sudahlah! Tidak perlu memikirkan hal itu. lagipula usiaku masih 30 tahun. Masih banyak waktu untuk memikirkan tentang pernikahan." jelas Reza santai.

"Dasar! Sebenarnya apa yang sedang kau tunggu? Apa kau menunggu bidadari jatuh dari langit?" sindirnya.

"Iya. Sepertinya begitu. Mungkin saja ada bidadari yang sedang mengincarku." ia menanggapi sindiran ibunya dengan tersenyum.

"Dasar kau ini!"

Di tengah pembicaraan mereka, seorang wanita mengetuk pintu kamarnya dengan tergesa-gesa.

"Siapa itu, Bu? Kenapa dia mengetuk pintu kamar ibu seperti itu?" tanya Reza kesal karena hal itu mengganggunya.

"Dari suaranya terdengar seperti Nina. Sebentar biar ibu bukakan dahulu pintunya." wanita itu beranjak dari sofa dan membuka pintu.

Itu benar Nina, tukang masak yang baru saja diceritakannya pada putranya.

Wanita itu tampak cemas.

"Ibu Nina! Ada apa, Bu? Kenapa ibu terlihat panik?" tanyanya heran.

"Nyonya Laura! Tolong bantu saya, Bu." pintanya sambil memohon.

"Ibu ingin bantuan apa dari saya? Hmm... Sebaiknya kita bicarakan di dalam saja. Ayo, masuk!" ajaknya sembari merangkul pundaknya.

Nina lalu menceritakan semuanya pada wanita itu.

...****************...

Sementara itu di rumah, Amara dan Wahyu menunggu dengan cemas. Melihat ibunya setengah berlari seperti itu membuatnya bingung.

"Sebenarnya siapa yang ingin di temui oleh ibu?"

Ia tampak mondar-mandir di teras rumahnya untuk menunggu ibunya.

Tak lama kemudian ia melihat sebuah mobil sedan masuk ke pekarangan rumah itu.

Seketika raut wajahnya berubah pias karena ia tahu siapa pemilik mobil itu.

"Kak! Mau apa dia datang ke sini?" tanya Wahyu cemas.

Tak lama Randi turun dari mobilnya. Namun ia tak sendiri, ia datang bersama Yanti.

"Ternyata kau bersembunyi di sini? Sudah aku duga. Kenapa kau tidak pulang kemarin malam? Kenapa tidak memberi kabar jika kau menginap di sini?" Randi mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

"Wahyu! Kau juga ada di sini?" tanya Yanti ketika ia melihat putranya itu.

"Ayo, pulang!" Randi menarik tangan Amara dengan paksa.

Namun Amara menepisnya. "Tidak, mas. Aku tidak akan pulang dan kembali ke rumah itu." jawabnya tegas.

"Apa maksud mu? Kau sudah berani membantah perkataan ku?" tanya Randi kesal.

"Iya, ran! Istrimu ini sudah berani membantah sekarang. Itu pasti karena hasutan ibunya." Yanti memanas-manasi putranya itu agar memarahi istrinya.

"Ayo, pulang!" tariknya lagi dengan paksa hingga membuat tangan Amara kesakitan.

"Lepaskan tangan kak Mara, mas. Jangan menyakitinya seperti itu, mas." tegur Wahyu sambil menepis tangan kakak lelakinya itu.

"Jangan ikut campur Wahyu. Biarkan mas mu mendidik istrinya." tegur Yanti tak senang.

"Aku sudah mengatakan jika aku tidak akan pulang ke rumah. Lagipula untuk apa aku kembali ke sana? Bukankah mas Randi berniat untuk menceraikan aku secepatnya?" tanya Amara kesal.

Randi tersentak ketika mendengarnya.

"B-bagaimana kau bisa tahu... Tidak! Maksud ku apa yang kau bicarakan. Memangnya siapa yang mengatakan jika aku akan menceraikan mu?" tanya Randi balik berusaha menyangkal.

Ia lalu melirik tajam ke arah adiknya. "Apa anak ini mengatakan hal yang macam-macam kepadamu?" tuduhnya.

"Wahyu tidak mengatakan apa-apa padaku, mas. Aku mendengarnya sendiri dengan telingaku. Kau menjanjikan hal itu pada wanita itu 'kan? Jadi untuk apa kau memaksa ku untuk pulang sekarang? Segera urus saja perceraiannya. Aku juga sudah lelah." Amara berusaha keras untuk terlihat tegar.

Ia tak mau terlihat lemah di depannya. Sudah cukup baginya untuk bersabar.

Randi terdiam sejenak. Hatinya sebenarnya masih merasa bimbang.

"Kita tidak akan bercerai. " ucapnya kemudian.

"Kau bicara apa Randi? Bagaimana dengan Dina? Tanya ibunya cemas mendengar putranya tiba-tiba saja merubah pikirannya.

"Ayo, pulang sekarang." perintahnya lalu menarik tangan Amara lagi dengan paksa.

"Apa kau sudah tidak waras, mas. Lepaskan tanganku?" perintah Amara sambil berusaha untuk menarik tangannya.

"Lepaskan kak Mara, mas!" Wahyu berusaha untuk membantu.

Tetapi Randi malah memukul wajahnya karena kesal. Wahyu terjatuh ke tanah. Sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah.

Amara melepaskan tangannya begitu ada kesempatan dan menghampiri adik iparnya itu.

"Kau terluka." ucapnya pada Wahyu.

"Kenapa kau memukul adikmu seperti ini, mas? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Kau ingin menceraikan aku, 'kan?" bentaknya kesal.

"Tidak. Aku..."

"Apa yang sedang terjadi di sini?"

...****************...

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Nantikan lanjutan ceritanya..

Buat yang udah dukung karya saya ini, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.

Sampai jumpa lagi...

♥️🌹

1
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Telur ular gw sediain buat Lo. gw campur pake sambel lalu gw masukin ke mulut lo.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
idih najis banget mertu kayak begini bikin menguras mental 😤
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
aku mampir dulu ke karya mu yang lain sambil nunggu 2 novel kamu yg entah kapan itu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
pret ah cek kamu we ngomong mudah, kesonona mah kagak tahu.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
iya akhiri aja, lagian nggak jelas kan.
SANG
Cucok banget💪👍
SANG
Semangat ya dek
SANG
Semangat ya dek💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu dek💪👍
SANG
Bintang lima untukmu dek. Semangat ya, aku berharap mendapatkan rangking
SANG
Astaga
SANG
Widih
SANG
Like iklan plus komen💪👍
SANG
Lanjutkan aksimu tho💪👍
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Hadir dek
SANG
Keren habis💪👍
SANG
Novel baru semangat baru💪👍
Fathir Albiansyah
ceritanya menarik gsk bosan
-Thiea-: terimakasih 🙏🏿
total 1 replies
MULIANA 💦
Berarti amara gak marah? syukurlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!