NovelToon NovelToon
Complicated Relationship (End Of Love)

Complicated Relationship (End Of Love)

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:246.5k
Nilai: 5
Nama Author: January99

Pernikahan yang di harapkan akan bahagia dan selamanya, nyatanya malah membawa luka yang akan membekas selamanya.

Dua tahun menikah, siapa yang mengira bahwa Dinda akan terluka untuk kedua kalinya?

Dan saat hatinya terluka, seseorang datang untuk mengobati luka itu.

Ini adalah akhir cerita dari Adinda Maheswari. Akankah ia bertahan atau pergi bersama pengobat lukanya?



Jangan lupa kritik dan saran nya ya guys..:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon January99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Complicated Relationship 11

  BAB 11

 

Dinda keluar dari lift dengan membawa bungkusan makanan di tangannya, ia sudah janjian sama Daffa untuk makan siang bersama, karena hari ini Dinda sedang libur dan Daffa tidak bisa makan diluar karena masih banyak pekerjaan.

Sebelum masuk ke ruangan Daffa, ia disapa oleh Ela yang masih setia berada di depan layar komputer padahal sudah jam makan siang.

"Selamat siang mbak, mau ketemu pak Daffa ya?" sapa Ela ramah.

"Siang.. Iya, Daffa nya ada kan?" tanya Dinda.

"Ada mbak, tapi di dalam lagi ada pak Angga, kayaknya mereka lagi bahas pekerjaan." jawab Ela.

"Oh kalau gitu, bisa tolong bilangin ke Daffa aku ada disini?" tanya Dinda.

"Tentu saja" jawab Ela dan segera mengetuk pintu ruangan Daffa.

"Permisi pak, diluar ada mbak Dinda. Katanya udah janjian sama bapak." ucap Ela.

"Suruh masuk. Kamu istirahat dulu makan, baru lanjut lagi pekerjaannya." ucap Daffa.

Ela hanya mengangguk dan berlalu untuk menghampiri Dinda.

"Mbak silahkan masuk, udah di tunggu sama pak Daffa." ucap Ela.

Dinda mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Ela, lalu ia masuk ke ruangan Daffa.

"Gak di kantor, gak di rumah, pacaran teruuusss." ucap Angga meledek Dinda.

"Ck! apasih bang, aku cuma nganterin makanan buat Daffa." ucap Dinda.

"Terseraaaahhhhh, gue mau ketempat Gea aja." ucap Angga bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.

Dinda menyiapkan makanan yang ia beli tadi, sedangkan Daffa masih fokus pada komputernya. Gadis itu memanggil Daffa untuk mengajaknya makan, pria itupun langsung bangkit dari kursinya dan pindah duduk di sofa.

Daffa dan Dinda melahap makanan mereka tanpa bersuara sedikitpun, sampai Daffa membuka suaranya terlebih dahulu.

"Kamu nanya2 tentang Laura ke Angga?" ucap Daffa dingin.

"Iya." jawab Dinda singkat.

"Kenapa?" tanya Daffa lagi,

"Gak kenapa2, cuma penasaran aja." jawab Dinda seadanya.

Daffa menghentakan garpu dan sendoknya, ia tidak suka dengan nada bicara Dinda.

"Kenapa gak tanya langsung sama aku? kenapa malah nanya ke Angga?" ucap Daffa tidak suka.

"Emangnya kalau aku tanya ke kamu, kamu bakalan jawab?" ucap Dinda.

"Lain kali kalau kamu mau tahu tentang Laura, kamu bisa bertanya padaku. Ngerti gak?" ucap Daffa lagi2 dengan nada dingin.

Dinda hanya diam, tidak menjawab.

"NGERTI GAK? AKU LAGI BICARA SAMA KAMU!" Daffa membentak Dinda.

Dinda menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang akan keluar, ia tidak bisa di bentak.

"Kok kamu bentak aku sih!" ucap Dinda dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku gak suka kamu nanya2 tentang laura ke orang lain! kalau mau tahu tanya aja sama aku. Karena yang tau Laura dengan baik hanya aku." ucap Daffa ketus.

Dinda tidak menjawab, gadis itu membereskan makanannya yang masih tersisa banyak lalu membuangnya di tong sampah. Nafsu makannya hilang! Setelah itu ia keluar dari ruangan Daffa dengan menahan kesal. Beruntung Angga tidak berada di meja nya saat ini, jika ada lelaki itu akan bertanya yang macam2.

Di dalam, Daffa merasa bersalah telah membentak Dinda. Ia segera mengambil ponselnya untuk menelpon Dinda. Ini sudah yang ketiga kalinya, tetapi tidak ada jawaban dari gadis itu.

Dinda berpapasan dengan seorang wanita cantik saat pintu lift terbuka, ia tidak sengaja menyenggol wanita itu ketika hendak keluar dari lift, dan membuat pakaian wanita itu tersiram kopi yang sedang wanita itu pegang.

"Eh maaf mbak, saya gak sengaja." ucap Dinda.

"DUHH!! GAK PUNYA MATA YA? LIHAT NI BAJU GUE KOTOR!" ucap Laura dengan nada tinggi yang membuat seluruh orang di lantai satu melihat ke arah mereka.

Dinda menarik napas panjang dan membuangnya dengan pelan, ia menutup mata sejenak, jika Maya yang memarahinya ia akan diam saja, tapi tidak dengan wanita ini.

"Saya kan udah minta maaf mbak! Mau minta ganti rugi kayak di sinetron2? Baju gini doang mah di laundry juga bisa kali." Ucap Dinda. Ia tahu bahwa ia yang salah, tetapi jika wanita tadi tidak membentaknya ia berniat akan mengganti rugi.

Setelah berbicara seperti itu, Dinda langsung berlalu pergi tidak memperdulikan si wanita yang masih ngomel-ngomel. Moodnya saat ini sedang hancur.

Saat ini Dinda sedang berada di dalam angkutan umum, ia mengingat kembali kata-kata Daffa tadi. 'Yang tahu Laura dengan baik hanya aku!' Itu artinya dia gak mau orang lain bicara hal yang buruk tentang Laura kan? pikir Dinda. Gadis itu merogoh tas nya untuk mengambil handphone, Dinda ingin menelpon Gea, tetapi ponselnya tidak ada didalam tas. Setelah berpikir, Dinda menepuk pelan jidatnya, ia baru ingat kalau handphonenya tertinggal di kamar mandi di ruangan Daffa saat ia tadi mencuci tangan.

Daffa masih di ruangannya, makanan yang tadi Dinda bawa tidak ia makan lagi. Ia sudah banyak kali menelpon Dinda, tetapi gadis itu tidak menjawab telponnya. Daffa menjambak rambutnya frustrasi, tiba-tiba pintu ruangan dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu, Daffa sudah menatap tajam kearah pintu, tapi tatapan tajam nya berubah menjadi senyuman saat melihat seorang wanita yang masuk.

Berbeda dengan Daffa yang menyambutnya dengan senyuman, Laura malah menampilkan wajah cemberutnya.

"Baby, liat deh baju aku! Rusak gara-gara cewek kampungan!" ucapnya merengek.

"Mana gak mau tanggung jawab lagi, aku lagi marah-marah malah ditinggal gitu aja! Nyebelin kan?" tambah Laura.

Daffa menarik tangan Laura yang masih berdiri dihadapan Daffa sambil marah2 untuk duduk di pangkuannya.

"Nanti aku aja yang ganti yah, sekarang kamu bersihin dulu baju kamu." ucap Daffa lembut. Laura hanya mengangguk dan berlalu pergi ke kamar mandi.

Laura keluar dari kamar mandi dengan membawa sebuah handphone.

"Baby, ini handphone kamu?" tanya Laura menunjukan ponsel yang ia temui di westafel.

Itu adalah ponsel milik Dinda, pantas saja ia tidak mengangkat telponku. pikir Daffa.

"Oh itu handphone nya Angga, sini ntar aku balikin." ucap Daffa, Laura pun menyerahkan ponsel itu pada Daffa.

"Babe, Angga belum tau tentang kita kan?" tanya Laura, bisa gawat kalau Angga tahu ia sudah kembali. Kebohongan yang ia tutupi akan terbongkar.

"Belum, aku juga males mau cerita sama dia. Waktu kamu pergi ninggalin aku, dia malah bersyukur gak ada simpati-simpati nya." jawab Daffa, memang benar saat Daffa cerita tentang Laura yang pergi, Angga tampak biasa saja. Sahabatnya itu malah berkata 'Tu cewe ninggalin lo? bagus deh!'

Laura menghela napas lega, ia melirik ke arah meja yang terdapat makanan.

"Kamu udah pesen makan ya? Aku kesini mau ngajak kamu makan sebenarnya." ucap Laura.

"Ah! cewek kampung yang tadi nabrak aku pasti kurir yang nganter makanan kamu deh. Soalnya tadi dia keluar dari lift khusus! Gak tau diri banget sih, lift yang biasa kan ada." tambah Laura saat ia teringat bertabrakan dengan Dinda di depan lift khusus.

Daffa mengerutkan keningnya, itu pasti Dinda.

"Iyakan? tadi yang nganterin pesanan kamu cewek kan?" tanya Laura lagi.

"Iya, itu mungkin dia." jawab Daffa. ia tidak mungkin bilang bahwa gadis itu adalah pacarnya bukan kurir makanan, tetapi ia tidak mau Laura tersakiti lagi.

Laura melihat jam di tangannya, 15 menit lagi jam makan siang akan berakhir. Jika ia tidak pergi sekarang ia pasti akan bertemu Angga.

"Babe, aku harus pergi. Masih ada pemotretan lagi." ucap Laura berbohong.

Daffa hanya mengangguk, Laura mencium singkat bibir Daffa lalu segera pergi.

****************

Saat ini Dinda sedang berada di ruang tamu kos nya, ia meminta bi sari untuk membuatkannya makanan. Ia merutuki kebodohannya yang membuang makan siang nya, alhasil gadis itu kelaparan.

"Ini mbak makanan nya udah jadi." ucap bi Sari yang berjalan ke arah Dinda dengan membawa piring berisi nasi goreng kesukaannya.

"Makasih bi, maaf ya udah ngerepotin." ucap Dinda, sebenarnya ia bisa masak sendiri, tetapi saat ini ia sedang tidak mood untuk masak.

"Tidak apa-apa mbak, tapi bukannya tadi siang mbak'e bilang mau makan diluar? ini baru jam 4 tapi mbak Dinda udah laper lagi? gak biasanya." tanya bi Sari. gadis itu biasanya hanya makan siang dan sarapan saja.

"Tadi siang makan nya cuma dikit bi." jawab Dinda.

"Yasudah, bibi tinggal ya mbak. Mau beresin dapur habis itu pulang." ucap bi Sari dan langsung kedapur.

Dinda sedang asik menyantap nasi goreng dan tiba-tiba terdengar suara nyaring memanggil namanya.

"Dindaaaaaaaa, I'm come!!!!"

Itu adalah suara sahabatnya, Gea.

"Waalaikumsalam" jawab Dinda.

"Heheheheh, assalammualaikum." ucap Gea sambil cengengesan.

Tak lama setelah Gea masuk, Angga menyusul di belakang.

"Nih! handphone kamu ketinggalan di ruangan Daffa." ucap Angga meyodorkan ponsel ke arah Dinda.

"Makasih" ucap Dinda.

"Din, gue kangen sama lo..." ucap Gea dengan nada centilnya.

Dinda hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Dinda sudah menghabiskan nasi gorengnya dan menuju dapur untuk minum dan mencuci piringnya sendiri. Setelah selesai Dinda menghampiri Gea yang sedang menonton tv dengan membawa dua gelas jus di tangannya.

"Ih baik banget, tau aja abang nya haus." ucap Angga yang ingin mengambil jus di tangan Dinda.

"Ehh, ini untuk aku sama Gea, abang kalau mau ambil aja sendiri!." ucap Dinda.

Angga mendengus.

"Udah di bawain juga handphone nya." ucap Angga.

Dinda tidak menanggapi ucapan Angga.

"Sayang aku mandi dulu ya, habis itu baru aku anter pulang." ucap Angga pada Gea.

Gea hanya mengangguk. Angga pun pergi meninggalkan dua orang gadis itu.

Dinda dan Gea sedang asik berbicara, lalu ponsel Dinda berdering menampilkan nama Daffa. Pria itu menelpon Dinda lagi, tetapi di abaikan oleh gadis itu.

"Kok gak di angkat?" tanya Gea.

"Biarin aja, Gue lagi kesel sama dia!" jawab Dinda.

"Mau cerita?" tanya Gea lembut.

Dinda mengangguk menatap Gea dengan matanya yang berkaca-kaca padahal belum memulai cerita. Gadis itu emang cengeng. Dinda pun menceritakan semuanya dari awal dengan menahan tangis menceritakan bagian saat Daffa membentaknya. Gea pun ikut kesal mendengar cerita sahabatnya.

"Kok bisa ya? Dia ngebentak lo cuma gara-gara lo nanya tentang si Laura2 itu ke kak Angga." ucap Gea tak habis pikir.

"Gue juga gak tau Ge, dia bilang cuma dia yang kenal Laura dengan baik. Itu artinya dia gak mau orang2 cerita hal2 buruk tentang Laura kan?" ucap Dinda.

"Jangan-jangan dia masih punya perasaan sama si Laura itu." ucap Gea serius.

"Jadi maksud lo si Laura ini mantan Daffa?" tanya Dinda polos.

Gea memutar bola matanya. Sahabatnya ini bodoh apa gimana sih? pikir Gea.

"Udah pasti dia itu mantan si Daffa... Lo gak kepikiran kesana apa? nih, lo bilang waktu Daffa ngajak lo ke butik si pemilik butik itu nanyain si Laura kan? pemilik butik itu juga bilang biasanya Daffa suka liat Laura pakai gaun yang seksi." ucap Gea ngegas!.

Dinda sedang mencerna perkataan Gea dan mengingat kata-kata Daisy lagi waktu itu.

"Gue sempet mikir kesana sih, tapi habis itu gak gue pikirin lagi. Soalnya gak penting." ucap Dinda.

Gea menggelengkan kepala nya melihat Dinda.

"Bodoh sama polos itu ternyata sama ya. Ck ck" ucap Gea.

Dinda mencubit perut Gea karena dikatai bodoh dan membuat Gea menjerit kesakitan. Sebenarnya Gea sudah sering di cubit oleh Dinda, tapi ia masih tidak biasa dengan rasa sakit itu.

"Kenapa sayangku?" tanya Angga di depan pintu dan berjalan menghampiri Gea.

"Sakit perutnya, di cubit Dinda." jawab Gea merengek.

"Ni anak suka banget sih nyubitin orang. nih rasain ni cubitan dari korban2 Lo." ucap Angga sambil mencubit pipi Dinda dengan kuat.

"Aaawwwwww sakit tauuu!!" ucap Dinda kesakitan.

Angga dan Gea hanya tertawa melihat bekas cubitan di pipi Dinda yang membuat pipi gadis itu merah.

"Assalammualaikum"

Dinda, Gea dan Angga bersamaan melihat kearah pintu.

"Waalaikumsalam" ucap mereka bertiga serentak. Gea dan Dinda melirik satu sama lain saat melihat pria itu masuk.

"Lahh, katanya mau lembur Daff, ini baru jam 5, dan lagi bukannya mandi dulu baru ngapel." ucap Angga nyerocos.

"Siapa yang mau ngapel sih, gue mau ngomong sama Dinda bentar, habis itu baru balik lagi ke kantor." ucap Daffa.

"Alasan doang lo mah, lewat telpon kan bisa." ucap Angga.

"Terserah gue lah! Sayang, aku mau ngomong sebentar sama kamu." ucap Daffa beralih menatap Dinda yang sedari tadi hanya diam.

Dinda dan Daffa saat ini berada di halaman belakang kos. Dinda masih tidak mau melihat Daffa, gadis itu memandang ke arah lain.

"Sayang, aku tau aku salah karena udah ngebentak kamu, aku kesini mau minta ma.." ucapan Daffa terpotong saat ponsel Daffa berdering. Pria itu menjawab telpon dan berjalan sedikit menjauh dari Dinda.

"Halo sayang, kenapa?" tanya Daffa.

"Kamu dimana? tolongin aku babe" ucap Laura di sebrang sana.

"Ada apa sayang?" tanya Daffa khawatir.

"Perut aku sakit banget! kayaknya salah makan deh, please tolong aku.. aku gak bisa nyetir sendiri, aku di apartemen sendirian." ucap Laura, suaranya seakan sedang menahan rasa sakit. Tutt..tutt.. sambungan telpon mereka terputus, Daffa panik!

"Sayang, aku harus pergi.. Nanti aku hubungi kamu lagi." ucap Daffa dan berlalu begitu saja meninggalkan Dinda.

Dinda tahu siapa yang menelpon, nomer itu adalah nomer yang sama dengan si pengirim pesan tempo hari. Dinda pun kembali masuk dan hendak ke kamar, tetapi Angga menghentikan langkahnya.

"Daffa mau kemana dek? buru-buru amat!" tanya Angga.

Dinda membalikan badannya, lalu mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Ia pun menaiki tangga menuju kamarnya. Saat ini gadis itu hanya ingin sendiri.

"Yeee, tu anak di tanya bukannya jawab." ucap Angga kesal.

"Tadi kan udah di jawab yang" ucap Gea.

"Gak kedengeran tuh jawabannya." ucap Angga.

Gea hanya menggelengkan kepala nya melihat Angga.

TBC❤❤

Jangan lupa kritk dan sarannya yaa...:)

1
Firgi Septia
enak saja titip anaknya memangnya dinda tempat penitipan anak setelah apa yg dia lakukan dimaafkan iya tapi lukanya pasti membekas
Firgi Septia
ini jg yg bikin Dinda menderita dari season 1 datang seperti TDK terjadi apa2
Firgi Septia
mustinya si Daffa dan Vanesa dapat karma masa Dinda memaafkan saja mustinya Vanessa tetap di penjara dan Daffa menyesal adeuh belum jg oma si Daffa minta maaf mustinya jg dia dapat karma masa yg jahat cuma dimaafkan saja baru hidup bahagia kaya TDK adil rasanya Thor Dinda dari awal dikhianatin, dapat kdrt menderita terus TDK ada bahagianya
Firgi Septia
memaafkan si bisa tapi jangan di cabut laporannya sehingga si Vanesa bebas, mustinya dinda jangan cabut laporan biar Vanessa dapat pelajaran biar dia kapok tidak berbuat jahat lagi, bingung sama sifat Dinda baik sih baik tapi jangan terlalu baik jadi kelihatan bego
Rafid Dwi wicaksana
ya begitulah cinta itu buta,udah dikhianati Mash aja cinta...kl AQ sih ogah
Ajeng Rias
good job thort
Modish Line
bego bgt sih Dinda , engga usah sok baik deh jadi org
Modish Line
sakit jiwa tuh si vanesha
Ikoh Jenggung
lanjut
OY
seru dan banyak semangat
OY
Alhamdulillah semua pada senang semoga juga penulis seneng buat update setiap hari hehe
Ikoh Jenggung
lanjut
OY
waduh bikin penasaran nih😁
shitie Khomariyah
ditunggu kelanjutanya kak.
Kangen Bapak dan ibu
lama bngt thor...kangen nih
Kangen Bapak dan ibu
si alvin qo gitu bngt.udah ngerusak anak perawan ya hrs tanggungjwb.hamil ataupun tidak.gedek gw
Widi Yanti
semoga cpt sembuh thor. jgn lmaa lama menghilang. penasaran dgn kisah febby
Ikoh Jenggung
semoga cepat sembuh dan jangan kelamaan Hiatus nya
Ikoh Jenggung
makasih up nya
Ikoh Jenggung
lg thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!