'GURUKU ISTRIKU, SURGA DUNIAKU, DAN BIDADARI HATIKU.'
***
Dia adalah gurunya, dia adalah muridnya. Sebuah cinta terlarang yang berakar di antara halaman-halaman buku teks dan derap langkah di koridor sekolah. Empat tahun lebih mereka menyembunyikan cinta yang tak seharusnya, berjuang melawan segala rintangan yang ada. Namun, takdir, dengan segala kejutannya, mempertemukan mereka di pelaminan. Apa yang terjadi selanjutnya? Petualangan cinta mereka yang penuh risiko dan janji baru saja dimulai...
--- INI ADALAH SEASON 2 DARI NOVEL GURUKU ADALAH PACARKU ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Spesial Honeymoon
Kaesang dan Tyas menikmati makan siang mereka yang tenang di puncak gunung tinggi New Zealand. Keduanya bahkan sudah berada di sana dari beberapa jam yang lalu.
"Yang, aku kenyang," kata Tyas, lalu meletakkan kotak makanannya di tanah di sampingnya.
Tadi sebelum mereka sampai di helipad Kaesang sudah menghubungi restoran terdekat untuk memesan makan siang untuknya dan Tyas. Ia memesan dua porsi makanan dan semuanya adalah kesukaan Tyas.
"Nih minum dulu," Kaesang menyodorkan satu botol air putih ke Tyas dan ia terima tanpa ragu. Tyas meneguk minuman yang Kaesang berikan dengan sedikit tergesa.
"A-hhh," de-sah Tyas lega, lalu meletakkan botol minumnya yang setengah penuh di samping.
Ia menoleh ke Kaesang. Di sana Kaesang sedang memakan makanannya dengan santai, seolah ia sedang berada di restoran.
Tyas tersenyum tipis. "Yang, kamu santai banget sih makannya? Ini udah siang loh, kita nggak mau kemana-mana lagi gitu?" tanyanya, tanpa memalingkan wajahnya dari Kaesang.
Kaesang menoleh, tapi sebelum itu ia telan dahulu makanan yang ada di mulutnya.
"Kamu udah bosen Dear? Panas ya? Oke, kita habis ini pergi kok dari sini. Aku juga udah agak bosen cuma duduk-duduk aja di sini," kata Kaesang.
Makanannya yang masih tersisa sedikit ia tutup, lalu ia masukkan ke dalam kantong kresek hitam yang tergeletak di dekat kakinya. Ia juga meminta tempat makanan Tyas dan botol minumnya, lalu memasukkan semuanya ke dalam kantong kresek yang sama
"Aku bukan bosen Yang, cuma nanya aja aku. Ehm, di puncak sini emang bagus banget pemandangannya. Cuma ya agak boring aja kalo kita cuma duduk dan mandangin gini aja," balas Tyas. Ya, jika boleh jujur ia juga merasa bosan dengan hanya duduk-duduk saja di puncak gunung ini, tanpa melakukan apapun.
Ia ingin melakukan sesuatu yang lain, yang lebih dari hanya sekadar duduk.
Kaesang berdiri, ia mengulurkan tangannya ke Tyas, lalu Tyas menerima uluran tangan Kaesang dan berdiri.
"Kita pergi ya, yuk," ajak Kaesang. Ia menggandeng tangan Tyas membawanya kembali ke helicopters mereka yang sudah menunggu.
Setibanya di sana, ia menuntun Tyas masuk kembali ke dalam helicopters. Tapi sebelum itu ia berikan kresek bekas makanannya dan Tyas tadi ke orang yang bersiaga di sana.
Ya, Tyas dan Kaesang tidak hanya berdua menaiki helicopters tadi. Ada beberapa orang yang ikut dengan mereka sebagai bodyguard untuk menjaga keselamatan mereka.
Kaesang dan Tyas duduk di kursi tengah. Kaesang membantu Tyas memakai sabuk pengaman, kemudian duduk dan memasang sabuk pengamannya sendiri.
Ia menatap Tyas, di sana Tyas tengah menatap ke arah jendela helicopters yang sudah mengudara.
Pemandangan di luar jendela membuat Tyas kagum. Ia tidak henti-hentinya tersenyum dan berdecak.
"Kamu kayaknya seneng banget, Dear?" tanya Kaesang, ikut tersenyum melihat Tyas tersenyum.
Tyas menoleh ke Kaesang, senyumnya masih mengembang. "Iya Yang. Ini adalah saat-saat terbaik dalam hidupku. Aku, kamu, kita berada di sini, aku bahagia banget Yang. Terima kasih ya!" serunya semangat, lalu ia menyandarkan kepalanya di pundak Kaesang.
Kaesang mengusap kepala Tyas dengan sayang. Hatinya berbunga-bunga. "Ini bukan apa-apa Dear. Setelah ini akan ada hal menakjubkan lagi yang akan aku berikan ke kamu sebagai hadiah. Tunggu aja ya, pokoknya aku akan bikin honeymoon kita di sini berkesan dan nggak akan bisa kita lupakan sampai kapanpun."
Tyas merasa sangat bahagia mendengar janji Kaesang. Tentu saja, ia mencintai Kaesang dan honeymoon ini adalah yang terbaik.
Tak lama helicopters yang mereka naiki mendarat di helipad tempat mereka berangkat tadi.
Tyas dan Kaesang turun, tidak lama berhenti di depan mereka sebuah mobil berjenis Avanza hitam dan seseorang bodyguard membukakan pintu mobil itu untuk Kaesang dan Tyas.
Mereka lalu naik, dan pintu di tutup dari luar.
Mobil pun berjalan menuju ke spot mereka selanjutnya. Di perjalanan Tyas dan Kaesang tidak banyak bicara, ada satu orang supir di depan membuat mereka sedikit canggung.
Tidak lama mereka sampai di depan sebuah gedung besar yang terlihat seperti mall. Tyas menatap dari jendela mobil, lalu ia menoleh ke Kaesang, di sana Kaesang lagi-lagi sedang menatap ke arahnya.
"Ini mall? Kita ke mall Yang? Kalo kita cuma ke mall di Indonesia juga ada Yang. Ngapain jauh-jauh ke New Zealand?" tanya Tyas.
Kaesang menggeleng. "Ini mall paling gede di New Zealand. Emangnya kamu nggak mau ngasih keluarga di rumah oleh-oleh? Mereka pasti nanyain oleh-oleh saat kita pulang nanti," katanya.
Tyas menepuk keningnya, lupa. "Oh iya, tapi Yang kita di sini masih kurang beberapa hari lagi kan, kenapa kita beli oleh-olehnya sekarang? Kan masih ada hari besok dan besoknya lagi," katanya heran.
Alis Tyas mengerut, heran. Kaesang dan dirinya honeymoon di New Zealand kurang beberapa hari lagi, tapi Kaesang langsung mengajaknya berbelanja oleh-oleh hari ini.
"Besok kita jalan-jalan lagi Dear, berwisata keliling New Zealand, terus lusa kita foto-foto buat album. Pokoknya kita di sini bakal sibuk terus, nggak ada waktu untuk istirahat. Apalagi sehari sebelum kita pulang ke Indonesia. Beuhh, di hari itu Dear, kita nggak akan ada waktu untuk istirahat. Kamu pasti akan ngerasa capek, karena dari pagi sampai malam kita akan jalan terus!" seru Kaesang sumringah.
Kedua matanya membola menunjukkan keseriusannya. Tyas sedikit terhenyak mendengar ucapan Kaesang. Lalu ia meraih tangan Kaesang.
"Kamu mau ajak aku kemana lagi Yang? Kok jalan? Kita jalan kaki?" tanya Tyas bingung.
Kaesang tersenyum miring, lalu ia melepas sabuk pengamannya, mendekatkan wajahnya pada telinga Tyas. "Kita olahraga ran-jang dari pagi sampai malam Dear. Aku akan bikin kamu ha-mil di sini," bisiknya.
Lalu Kaesang menarik diri.
Jantung Tyas tiba-tiba berdetak kencang, gugup. Dalam pikirannya sudah terbayangkan saat-saat dimana ia akan bermain dengan Kaesang dari pagi sampai malam. Pastilah kakinya akan keram dan ia kesulitan berjalan.
Tyas menepuk dada Kaesang. "Kamu niat banget Yang, ehm kita keluar yuk, keburu sore nanti," katanya mengalihkan pembicaraan.
Ia dan Kaesang lalu keluar dari mobil. Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam mall besar di depan mereka, di mana mall itu adalah mall terbesar di New Zealand.
"Yang," panggil Tyas, menatap ke sekeliling dengan pandangan kagum.
Kaesang menoleh, tersenyum manis. "Ada apa, Dear?" tanyanya lembut.
"Ini beda banget sama mall di Indonesia ya, kayak lebih wah gitu. Kamu paham kan maksudku?" tanya Tyas, masih tetap menatap ke sekelilingnya.
"Iya, ini alasanku ajak kamu kesini Dear. Mall ini tuh kek ada keistimewaannya tersendiri gitu. Beda dari mall lain. Hmm, kamu mau beli apa dulu? Makanan? tas? sepatu?" tanya Kaesang.
Mereka lalu menaiki tangga eskalator menuju ke lantai atas.
"Oleh-oleh buat keluarga di rumah dulu Yang. Soal yang lain ntar dulu aja," jawabnya.
"Oke. Kita keliling dulu cari tempat yang jual makanan di mana," kata Kaesang.
Mereka berkeliling mencari kios yang menjual jajanan di mall itu. Setelah menemukannya mereka masuk dan mencari jajanan yang mereka inginkan.
"Yang, barang yang kita beliin ke ayah sama bunda waktu itu..." Tyas tidak melanjutkan ucapannya.
Ia dan Kaesang tengah berkeliling di dalam toko jajanan itu untuk mencari jajanan yang mereka inginkan.
"Kenapa Dear? Mereka suka? Waktu kita kasih dulu mereka nggak ngomong apa-apa kan? Takutnya mereka nggak suka," jawab Kaesang.
Wajah Tyas berubah mendung. Tapi Kaesang tidak menyadari itu, ia fokus memilih-milih jajanan di depannya.
"Kayaknya bunda nggak suka Yang. Beberapa hari kebelakang kita kan jarang ke tempat bunda lagi ya? Kayaknya mereka nggak suka sama barang pemberian kita," kata Tyas, suaranya pelan.
Waktu dia dan Kaesang datang dulu untuk meminta izin untuk tinggal bersama di rumah Kaesang, reaksi orang tuanya sangat berbeda dari yang ia perkirakan.
Ayahnya tampak marah, bundanya terkejut setelah itu menangis. Tyas dan Kaesang menjelaskan jika mereka akan rajin datang jika ada waktu senggang. Tapi mereka tidak bicara apapun.
Kaesang dan Tyas pergi dari sana, sampai hari ini mereka tidak datang lagi dan bertukar kabar.
Bersambung ...