"Mas Kenzo! Pocongnya kabur lagi!" teriak Srini sambil ngemil ceker ayam._
"Bukan waktunya makan, sri! Itu pocong bawa kabur anak kepala desa!"
Kenzo, dukun muda nyeleneh dan Srini, kuntilanak centil juga narsis , harus menghadapi Gerombolan pocong pemburu nyawa,Pengkhianatan makhluk gaib yang mereka percaya ,Rahasia mengerikan di balik kematian orang tua Kenzo.
misteri apa yang terjadi mengapa bisa ribuan pocong mengepung sebuah desa dan mengapa orang tua Kenzo bisa mati secara misterius. temukan jawabannya di buku ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the last shadow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Ketika Nyi Mayangsari keluar dari portal gaib, angin malam yang dingin menyambut langkah anggun kakinya. Langit gelap dipenuhi bintang-bintang berkilauan, sementara bulan bersinar terang bak lentera raksasa di angkasa. Pepohonan tinggi menjulang di sekitar, dikelilingi semak belukar yang rimbun. Suara jangkrik dan dengungan hewan malam berpadu menciptakan harmoni alam yang misterius.
Dia melangkah pelan, matanya tajam menatap ke depan, meskipun hanya kegelapan pekat yang menyelimuti pandangannya. “Ternyata tempat ini yang disebut Hutan Wingit... Hmmm, menarik,” gumamnya sambil terus berjalan tanpa arah pasti.
“Aku tidak tahu harus mencari manusia itu ke mana. Tidak ada petunjuk apa pun,” keluhnya lagi dengan nada dingin.
Tiba-tiba, aroma anyir darah yang menyengat bercampur dengan bau kapur barus menusuk hidungnya. Nyi Mayangsari menghentikan langkah. Matanya menyipit tajam. “Keluar lah, makhluk bodoh! Aku tahu kalian bersembunyi!” teriaknya lantang, suaranya bergema di antara pepohonan.
Dia mengibaskan tangannya dengan angkuh. “Tuan sama peliharaan, sama saja. Tidak pernah mandi. Bau sekali,” sindirnya sinis.
Seolah merasa terhina, suara gemeretak ranting terdengar dari balik pepohonan. Tak lama, ratusan pocong bermunculan dari berbagai arah, menatapnya dengan pandangan dingin yang memancarkan aura penuh kebencian.
“Cih!” Nyi Mayangsari mendecih jijik. “Tuan kalian saja lemah makanya mati. Tapi kenapa kalian menghadangku? Bukan aku yang membunuh tuan kalian, brengsek!” teriaknya geram.
Rupanya mereka adalah sisa pasukan Ki Darmo yang berhasil melarikan diri setelah kekalahan tuannya. Dipenuhi dendam tanpa akal sehat, mereka kini hanya mengandalkan insting membunuh dan menyerang siapa saja yang mereka temui.
Tanpa aba-aba, ratusan pocong itu melesat dengan kecepatan mengerikan, menerjang Nyi Mayangsari dari segala arah.
Dengan tenang namun penuh kewaspadaan, Nyi Mayangsari mengibaskan lengan kanannya. Dari ujung jarinya keluar kilatan cahaya keemasan yang menyapu beberapa pocong hingga meledak menjadi abu di udara.
Namun jumlah mereka terlalu banyak. Puluhan pocong masih menyerbu tanpa henti, melompat dari atas pohon, merayap dari bawah tanah, dan mengepung Nyi Mayangsari dengan ganas.
“Dasar makhluk bodoh, kalian memang tak punya otak!” teriaknya.
Dia mengangkat kedua tangannya tinggi ke udara. Energi gaib yang dahsyat memancar dari tubuhnya, membuat tanah di sekitarnya bergetar hebat. Angin kencang berputar mengelilinginya, menciptakan pusaran energi yang memusnahkan puluhan pocong dalam sekejap.
“Apa masih belum cukup?” sindirnya tajam, wajahnya penuh dengan keangkuhan.
Beberapa pocong yang tersisa mundur ketakutan, namun Nyi Mayangsari tak berniat memberi ampun. Dengan satu hentakan kaki, gelombang energi besar menyapu seluruh area hutan. Semua pocong yang tersisa lenyap menjadi abu, tak bersisa sedikit pun.
Hutan Wingit kembali sunyi. Hanya angin yang berbisik di antara pepohonan, seolah menyaksikan kekuatan luar biasa Nyi Mayangsari yang baru saja ditunjukkan.
“Dasar makhluk rendahan,” katanya sambil menepuk-nepuk gaunnya yang tetap bersih tanpa noda.
Dengan langkah anggun, dia kembali berjalan lurus ke depan. “Kalau gangguannya hanya sebodoh ini, perjalanan ini pasti membosankan,” gumamnya sinis, sembari memikirkan langkah berikutnya untuk menemukan manusia sakti yang telah menjadi buah bibir di dunia gaib.
Dia melanjutkan langkahnya hingga tiba di sebuah desa gaib yang tampak mencolok di tengah hutan wingit.
Rumah-rumah beratapan daun dengan dinding kayu yang bercahaya redup berjajar rapi sepanjang jalan.
Lampu-lampu lentera berwarna ungu berkelip di setiap sudut desa,menciptakan suasana gaib yang memikat.
Penduduk desa yang terdiri dari makhluk gaib dengan bentuk beragam ada yang berwujud manusia dengan sayap kupu-kupu, ada pula yang memiliki tanduk kecil di dahi berhenti sejenak menatap Nyi Mayangsari dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Seorang wanita tua dengan jubah panjang menghampirinya. "Selamat datang di Desa Tarashakti, wahai wanita agung. Apa yang membawamu ke sini?"
Nyi Mayangsari tersenyum tipis. "Aku sedang mencari seseorang. Mungkin kalian bisa membantuku."
Wanita tua itu tersenyum penuh arti. "Mencari manusia sakti, bukan? Kau datang ke tempat yang tepat. Tapi hati-hati, desa ini penuh rahasia yang bahkan seorang dewi sepertimu harus waspadai."
Dengan tatapan tajam penuh percaya diri, Nyi Mayangsari menjawab, "Aku tidak pernah takut pada rahasia, apalagi ancaman."
feed back la yaa😍