Karya ini merupakan karya jalur kreatif.
Nanji Laoren sedang diambang kematian oleh penyakit kronis ketika bertemu dengan sistem misterius yang dapat memperpanjang umurnya.
Sistem misterius yang menamakan diri sebagai sistem panjang umur membawa Nanji Laoren ke dunia baru–yang penuh dengan konspirasi, pertempuran kekuasaan, dan rahasia kelam masa lalu.
Seiring waktu, Nanji Laoren terjebak dalam pusaran waktu kompleks, dimana harus memilih antara kesetiaan terhadap wanita dan keinginan untuk hidup abadi selamanya.
Apakah hidup tanpa akhir bisa memberikan makna sejati bagi Nanji Laoren? Atau kebahagiaan sejati Nanji Laoren justru ada dalam momen-momen terbatas bersama wanita yang dicintainya?
Simak perjalanan Nanji Laoren dalam Sistem Panjang Umur. Hanya terbit di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dewa Keberuntungan?
Pagi ini Nuan begitu bersemangat. Ia bakal memulai pekerjaan barunya di kasino milik keluarga Ye.
“Kakak, cepatlah! Nanti kita terlambat!” Nuan yang sudah rapi melirik ke arah jam tangannya.
“Lihatlah siapa yang begitu antusias bekerja hari ini!” Nanji menggoda Nuan hingga gadis itu merajuk lagi.
“Ah, kakak jangan begitu! Aku hanya ingin memberikan kesan terbaik pada Tuan Ye dihari pertama kerja!”
“Ya ya ya, baiklah! Ayo kita berangkat!
“Paman, Bibi, kami berangkat dulu!”
“Ya pergilah!” Paman Wu menyahut singkat dari ruang dalam.
“Hati-hati berkendara, Nanji! Jam berapa kalian pulang?” Bibi Wu terlihat khawatir saat menyerahkan bekal makan siang untuk Nanji dan Nuan.
“Ah, ibu! Bagaimana aku bisa menjawab? Aku belum tahu pasti berapa jam aku harus bekerja! Apalagi ini hari pertama,” jawab Wu Nuan.
Nanji menukas, “Mungkin kami pulang sedikit telat hari ini, aku akan mengabari bibi nanti.”
“Jaga Nuan, Nanji! Dia tidak pernah kerja di kota. Kau tahu, kota cukup jauh dari sini.”
“Percayalah padaku, Bibi Wu! Nuan akan baik-baik saja.”
Setelah mobil berjalan, Wu Nuan memberi ide, “Kakak, apa tidak sebaiknya kita menyewa rumah di kota? Aku takut mendapatkan jadwal kerja malam dan kau tidak bisa mengantar pulang karena sibuk.”
“Boleh! Perjalanan ke kota memang memakan waktu, lama-lama kita bisa menua di jalan. Betul tidak?”
“Lucu sekali!” Nuan tertawa, candaan Nanji cukup meredakan stres menghadapi hari pertama kerja.
“Tapi idemu bagus, Nuan!” tukas Nanji. Ia memang berencana membeli sebuah rumah di kota. Selain untuk tempat tinggal, rumah juga sebagai tempatnya bekerja di masa depan. Karena tidak mungkin ia tetap tinggal di rumah Bibi Wu setelah mengatakan memiliki pekerjaan.
Sampai di kasino keluarga Ye, Nanji disambut ramah oleh asisten Ye Han di lobby.
“Tuan Ye Han sudah menunggu anda. Silahkan ikuti saya, Tuan Nanji!”
“Baik!” jawab Nanji.
Nuan menatap Nanji curiga. Sikap pegawai kasino yang menyambut mereka dianggapnya terlalu berlebihan.
“Kakak, sebenarnya apa yang sudah kau lakukan? Kenapa dia begitu hormat padamu? Apa Tuan Ye yang dimaksud adalah temanmu? Kenal dimana?” cerca Wu Nuan dengan suara sepelan mungkin.
Nanji tersenyum tipis. “Aku tidak melakukan apa-apa. Ye Han teman lamaku. Kamu berjumpa di pusat lotre.”
“Benarkah? Aku merasa tidak seperti itu!” Nuan sampai mengerutkan kening layaknya orang berpikir keras.
Asisten Ye Han membuka pintu untuk Nanji. “Silahkan masuk, Tuan! Nona!”
“Sudahlah, wajahmu terlihat jelek jika begitu. Ayo! Jangan biarkan Tuan Ye menunggu!”
Nuan mengangguk patuh. Ia mengikuti Nanji masuk ke ruangan dengan pintu ganda besar dengan hati deg-degan.
“Nanji, akhirnya kau datang!” sapa Ye Han, berdiri menyambut begitu melihat Nanji masuk ruangannya.
Nanji menanggapi sopan. “Salam, Tuan Ye! Perkenalkan ini sepupuku–Wu Nuan. Aku harap kau bisa memberinya pekerjaan yang cocok di tempat ini.”
Ye Han menatap Wu Nuan dari atas sampai bawah. “Sepupumu cantik sekali, Nanji! Sebagai permulaan, aku akan menempatkan dia di bagian pelayanan. Jika pekerjaannya bagus, dalam dua bulan aku bisa menaikkannya ke bagian administrasi. Bagaimana?”
“Nuan, kau mendapatkan bagian pelayanan lebih dulu. Bagaimana menurutmu?” tanya Nanji. Matanya beralih menatap Nuan.
Wu Nuan mengangguk beberapa kali. “Aku tidak masalah ditempatkan di bagian pelayanan. Aku pasti bisa melakukan pekerjaan dengan baik. Tidak akan mengecewakan Tuan Ye dan juga kakakku.”
“Bagus! Pergilah bersama asistenku untuk mendapatkan pengarahan, jadwal dan seragam kerja,” kata Ye Han. Wu Nuan mengangguk dan mengikuti pria yang ditunjuk Ye Han.
Setelah Wu Nuan menghilang di balik pintu, Ye Han kembali bicara, “Mau melihat-lihat kasino baru keluarga Ye, Nanji? Mencoba keberuntunganmu mungkin?”
Nanji tersenyum lebar saat menjawab, “Dengan senang hati! Jangan marah jika aku menang banyak hari ini hahaha!”
“Ayo, aku tunjukkan permainan yang paling banyak diminati. Aku sedang memberi diskon khusus untuk beberapa hari–selama soft opening. Grand opening baru akan dilakukan dua minggu lagi.”
“Apa keluarga kelas atas banyak yang bermain disini?” tanya Nanji. Ia mengikuti langkah Ye Han menuju ruang lain yang lebih mewah.
“Tentu saja, aku mengundang semua keluarga kaya di Qingdao. Mereka bahkan sudah terdaftar sebagai member eksklusif. Kau ingin mencari seseorang, bukan? Aku akan mengenalkanmu pada putra pertama keluarga Song. Dia memiliki relasi jauh lebih baik dariku, siapa tahu kau bisa menemukan orang yang kau cari setelah berkenalan dengannya.”
Hiruk-pikuk pecinta permainan judi terdengar memenuhi ruang luas yang menjadi tujuan Ye Han dan Nanji. Teriakan, makian, dan sorak sorai menggema di berbagai sudut.
Nanji berdecak kagum. “Soft openingnya saja begini, bagaimana nanti waktu grand opening?”
Ye Han tertawa penuh kebanggaan. “Selamat datang di kasino terbesar dan termewah di kota ini, Nanji. Meski belum sebesar Venetian Macau, tapi aku yakin fasilitas di sini tidak kalah menarik.”
Nanji tersenyum penuh arti. Ia bergumam pada dirinya, juga untuk Ye Han. “Ini ladang emas, Tuan Ye!”
“Benar sekali! Mau mencoba roulette? Jangan khawatir akan bermasalah saat bermain, kasino ini legal.”
“Roulette? Boleh juga!”
Ye Han mengedikkan kepala ke arah permainan bola kecil yang dilempar ke atas roda berputar. “Kebetulan sekali. Lihat pria yang memakai kacamata, dia anak pertama keluarga Song. Kau bisa main dengannya! Sebagai tim.”
Putra pertama keluarga Song berwajah masam karena dirundung kesialan. Matanya menggelap frustasi saat menatap roda putar dengan bola kecil di dalamnya.
“Aaarrgghh, sial, sial, sial! Kalah lagi, kalah lagi!” gerutu Song Lian.
“Hari yang buruk, Tuan Song?!” Ye Han menepuk bahu Song Lian, menyapa ramah pelanggannya.
“Dewa judi sepertinya sedang cuti hari ini. Keberuntungan pun enggan berpihak padaku!” jawab Song Lian. Ia meminum wine di gelasnya dengan sekali teguk.
“Hohoho, tenang kawan! Aku membawa seseorang untuk membantumu! Dia dewa keberuntungan keluarga Ye! Namanya Nanji Laoren.”
Song Lian memiringkan kepala, menatap Nanji yang tersenyum ramah padanya. “Dewa keberuntungan?! Namanya memiliki arti bintang panjang umur. Ayo silahkan main dewa panjang umur, sejauh mana kau akan membawa keberuntungan bagiku! Kau tahu, kalah bisa membuatku pendek umur hahaha!”
“Ayo tunjukkan pada Tuan Song kemampuanmu, Nanji!” Ye Han mulai menyemangati dan memanaskan suasana.
Nanji berkilah, “Anda berlebihan, Tuan Ye! Aku tidak seberuntung itu, tapi aku akan mencobanya.”
“Silahkan, Tuan! Mau pasang berapa?” Gadis cantik penjaga permainan tersenyum manis, sebelum bertanya.
Song Lian menjawab, “Dia main dengan chipku!”
Nanji meletakkan chip yang diberikan Song Lian pada warna favoritnya, dan memilih nomor 19.
Croupier memutar roda berlawanan arah jarum jam, dan kemudian memutar bola kecil berwarna gading ke jalur belakang mangkuk dengan arah yang berlawanan. Tak lama, roda putar melambat dan berhenti tepat di angka 19.
Semua mata terbelalak, Nanji langsung menang pada permainan pertama. Ye Han tertawa melihat wajah skeptis Song Lian. Sorak sorai terdengar dari orang-orang Song Lian.
Dan kemenangan Nanji berulang hingga empat kali berturut-turut. Tidak! Nanji baru saja menang lagi. Lima kali.
Song Lian mendekati Ye Han. “Kau tidak mengakali mesin ini atau mengatur agar aku menang terus, kan? Mana mungkin ada orang seberuntung dia! Hem, menang lima kali berturut-turut? Gila!”
“Kau pikir aku mau merugi? Tentu saja tidak ada hal seperti yang kau pikirkan itu. Nanji Laoren adalah dewa. Sebaiknya kau menjalin hubungan baik dengannya!” ucap Ye Han provokatif. “Dia berhasil mengembalikan uangmu yang hilang di tempat ini dalam beberapa menit saja, huh!”
“Yeah, kau benar! Aku akan memuja dewa keberuntunganmu itu jika dia memberikan lebih banyak keuntungan padaku hari ini hahaha!” tukas Song Lian dengan ekspresi serakah.
Nanji yang mendengar kata-kata Song Lian bergumam lirih. "Kita memang akan menjadi rekan bisnis setelah ini, Tuan Song!"
BERSAMBUNG….
~Karya ini merupakan karya jalur kreatif~