Ujian rumah tangga tak selalu datang dari orang luar, namun terkadang datang dari orang-orang terdekat. Salah satunya adalah mertua. Begitu juga dengan kisah yang dialami oleh tokoh yang ada didalam kisah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Anjaz Wiratama adalah anak tunggal dari pasangan Wisnu Wiratama dan Anita Wiratama. Anjaz hidup terpisah dari keluarganya. Dia memilih hidup mandiri dirumahnya sendri. Hasil dari kerjakerasnya selama ini, sedangkan Anita dan Wisnu tinggal dirumah kediaman Wiratama bersama dengan kedua orangtua Wisnu yaitu Wiryo Wiratama dan istrinya Wina wiratama.
Hari ini Anita memutuskan untuk mengunjungi putraya karna sudah beberapa minggu Anjaz tidak datang kerumah orangtuanya. Anita terus didesak oleh ibu mertunya Wina agar menjeput Anjas pulang kerumah utama.
Saat ini anjaz sudah berada dalam perjalanan menuju pulang nmun ditengah jalan yang cukup sepi anjaz melihat seseorang yang tergletak bangku yang ada dipinggir jalan dalam keadaan pingsan. Satu tanganya berdandar diatas koper dan tangan lainya memegangi perutnya.
" Astaga, siapa itu? Apakah itu mayat atau hanya pingsan? " ujar anjaz seorang diri.
Anjaz menepikan mobilnya dan membranikan diri untuk turun, jalanan sangat sepi karna dijam-jam sekarang orang-orang masih sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Apa lagi jalan yang dilalui anjaz merupakan jalan yang lumayan sepi.
Anjaz mendekat dan dia tampak meingat wajah yang tak asing untuknya.
" Ya Tuhan, ini gina kan? Ini bener-bener gina mantan kariawan dikantor dulu. Sedang apa dia disni? Tunggu-tunggu apa dia masih hidup? " anjaz mengecek nafas gina melalui jarinya yang ia tempelkan didekat hidung.
" Dia masih hidup, gin gina bangun gin! " anjaz menepuk pipi gina dan gina perlahan membuka matanya.
" Pa-pak an-jaaz. " ucap gina lirih.
" iya ini aku, kamu ngapain disni gin kamu tidur atau pingsan? Ini kenapa kamu bawa koper sgala, kamu kabur dari suami kamu? Ck, wanita kalau marah sukanya main kabur. Dah sono pulang dari pada kamu lontang lantung dijalan? " anajaz tak sadar jika gina sudah berlinang airmata saat mendengar peranyaan-pertanyaan yang anjaz lontarkan.
" Ya elaaah, pake nangis segala sii! " ucap anjaz merasa tak enak hati. Entah kenapa melihat gina menangis anjaz merasa tak tega. Kemudian anjaz meraih saku celananya dan membrikan sapu tanganya pada gina.
" Pakai ini, hpus airmatamu! Saya paling tidak suka melihat perempuan nangis. " ucap anjaz sambil membuang muka, namun dia mencuri pandang kearah gina.
" Trimakasih pak, nanti saputanganya saya kembalikan. Maaf saya harus pergi! " gina berdiri dan berusha berjalan dengan pelan melewati anjaz.
Namun baru beberapa langkah gina merasa pusing dan matanya berkunang-kunang. Gina ambruk dan untung saja anjaz masih berada dibelakangnya dan dengan sigap menangkap tubuh gina yang ternyata demam tinggi dan nadinya terasa begitu lemah.
" Ya Tuhan gina, bangun gin! " Anjaz terus membangunkan gina dengan menepuk wajahnya.
"Astaga dia demam tinggi! Ck, jika aku membawa dia kedokter aku akan terlambat pulang dan mama pasti marah. Jika aku membawa dia pulang mama psti akan mengira yang bukan-bukan. Ah sudahlah urusan mama dipkir nanti, dari pada dia terbaring dijalanan! " anjaz membuka pintu mobilnya dan membaringkan gina dikursi belakang lalu anjaz memasukan koper gina kedalam bagasi mobilnya.
Stelah merasa gina aman anjaz kembali mengemudikan mobilnya karna sang mama sudah berulang kali menelfonya.
Sementara dirumah arul kini sinta tengah dimanjakan dengan berbagai makanan yang biasa digemari oleh ibu hamil, yaitu rujak buah. Bahkan Aswita sendri yang membuatkanya untuk sinta.
" Dimakan ya sayang, nanti mama bikin lagi buat stok. Oya mulai hri ini kamu tinggal disni saja, nnti saat papanya arul pulang kalian langsung saja menikah. " Ucap aswita pada sinta sembari menyuapi sinta rujak buah dengan begitu tlaten.
" Tapi ma, mas arul kan belum resmi berpisah dengan gina. Lalu bagimana aku dan mas arul akan menikah? " tanya gina dengan suara yang dibuat semanja mungkin.
" Sayang kita bisa nikah siri dulu. Nanti stelah prpisahanku dengan gina slesai kita akan menikah secara resmi diKUA. " Arul yang dari tadi diam kini ikut berbicara karna takut sinta menolak pindah dan menikah siri denganya.
" Emm,okeee kalau begitu aku mau mas! " ucap sinta yang langsung mendapatkan pelukan dari aswita.
" Trimakasih sayang, mama beruntung memiliki menatu spertimu. Andai saja dari dulu kalian menikah, pasti kalian sudah menjadi keluarga yang bahagia. " Ucapan Aswita terdengar menyesali pernikahan putraya dengan gina.
" Sudahlah ma, yang penting sekarang sinta akan menjadi istriku dan dia akan membrikan mama cucu. Jangan ungkit sesuatu yang membuat kita jadi mengingat wanita mandul itu! " ujar arul dengan tegas pada ibunya.
Sinta tersenyum penuh kemenangan.
****
Anjaz sudah sampai dirumahnya, dia memanggil satpam untuk membantunya membawa koper gina.
" Jonoooo! " teriak anjaz saat sudah turun dari mobil dan sudah menggendong gina karna gina masih pingsan.
" Siaaap bos, ada yang bisa jono bantu? " ucap jono sembari memberi hormat dan siap mendaptakan perintah.
" Bawa koper yang ada dibagasi kedalam rumah! " ucap anjaz.
" Waduuuh sibos nemu dimana bos, itu bening bener bos? " Ucap jono sambil mendongak dan berusha melihat gina.
" Jaga mata kamu jono, berani kamu menatapnya lebih dari 5 detik. Matamu aku congkel pake piso dapur! " ucapan ajaz begitu mengerikan ditelinga jono. Hingga jono tak berani lagi mengatakan apapun dan langsung mengambil koper dan membawanya. Bahkan jono berjalan lebih cepat dari anjaz.
" Heeek, si gina makan apa sii. Berat bener, untung aku rajin olahraga angkat beban. Kalau tidak tanganku bisa patah ini! " gumam anjaz sembari trus berjalan masuk rumah. Semetara Anita yang sedang menunggunya sudah menatapnya dengan tatapan menghunus karna melihat putranya membawa pulang seorang perempuan apa lagi dalam keadaan pingsan.
" Anjaaaz! Siapa wanita itu dan kamu apakan dia? Kenapa kamu membawanya pulang! " bentak anita yang langsung membuat wajah anjaz sketika pucat.
" Siap-siap denger ocehan mama sampai pagi! " gumam anjaz dengan lirih.
Abang gak asik nih gak bisa diajak krjasama bohong.