JANGAN DIBOM LIKE YA 😊🙏
Reno Pradipta, pengusaha tampan dan kaya raya, pria yang bisa dikatakan sempurna itu nyatanya tak tersentuh oleh wanita manapun setelah patah hatinya di masa lalu.
Karena itulah, banyak rumor beredar yang mengatakan kalau Reno adalah penyuka sesama jenis. Tentu saja, kabar itu membuat Sang Bunda khawatir terhadap anak satu-satunya dan demi menepis rumor itu, Reno harus menikah, itu lah permintaan Bundanya.
Lalu, Reno pun berpikir untuk mencari gadis yang sama-sama membutuhkan status pernikahan, beruntung, Reno bertemu dengan Aliya yang malang.
Aliya yang akan terjun bebas itu diselamatkan oleh Reno yang ternyata akan menjadi takdirnya.
Ikuti kisah cinta Aliya yang berusaha meruntuhkan dinding es diantara dirinya dan Reno💙
Jangan lupa like, komentar dan vote.
Subscribe supaya tidak tertinggal update terbarunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mas Reno Sayang
"Kenapa? Salah? Tangan Bapak hangus terbakar, ku pikir dengan memotong tangan itu benar," jawab Aliya dan Reno menggelengkan kepala pada Aliya yang bertindak tanpa sepengetahuannya.
Lebih lagi, Aliya hanya mengatakan kalau tangan Bapak, bukan lengan kemeja, Reno merasa sedang disumpahi oleh Aliya.
"Dengar!" kata Reno dan belum sempat Reno melanjutkan ucapannya, justru Aliya yang meminta Reno untuk mendengarkan.
"Bapak yang harus mendengarkan, seenggak sekali saja, Bapak mengucapkan terimakasih atas usaha orang lain," kata Aliya yang kemudian pergi dari kamar Reno.
Aliya menutup pintu kamar itu dengan sedikit kencang.
"Hai! Tangan ku masih utuh! Kenapa kamu bilang tanganku terbakar! Apa kamu sedang menyumpahi ku?" teriak Reno dari balik pintu.
Dan Aliya yang masih berdiri di depan pintu kamar Reno tak mau mendengarkan.
"Aneh, dia yang salah, kenapa harus berterimakasih," gerutu Reno seraya mengambil kaos yang lain.
"Ada juga kamu yang minta maaf!" kesal Reno pada Aliya.
Dan malam ini, keduanya saling diam.
Setelah makan malam, Aliya yang masih berada di dapur itu melihat Reno pergi tanpa permisi padanya.
"Mau kemana?" tanya Aliya pada dirinya sendiri.
"Apa... jangan-jangan dia mau nemuin cewek lain?" tanyanya lagi.
"Ah, biarlah, siapa aku, enggak boleh berpikir terlalu jauh, Al! Kecuali dia yang mau sendiri! Hiihii," Aliya tertawa, membayangkan kalau hal itu terjadi.
****
Di tempat yang gelap, seorang pria muda tengah terkulai lemas karena baru saja mendapatkan pukulan yang bertubi-tubi.
Pria muda itu adalah Gilang.
Lalu, Gilang harus mendongakkan kepala saat melihat sepatu yang mengkilap berada di depan wajahnya.
"Di-dia, pria yang ada di apartemen Aliya!" kata Gilang dalam hati.
Setelah itu, pandangan Gilang menjadi gelap.
"Sudah kamu katakan padanya?" tanya Reno pada Arman yang baru saja memberi pelajaran untuk Gilang.
"Sudah, saya pastikan, dia tidak akan berani lagi menampakkan dirinya di hadapan Tuan atau Nyonya," kata Arman yang selalu menundukkan kepala.
"Bagus! Kalau dia tewas, pastikan tidak akan menggangguku!" perintah Reno seraya pergi meninggalkan ruangan gelap itu.
"Baik, Tuan!" jawab Arman.
Dan setelah malam itu, tidak ada lagi yang tau keberadaan Gilang, bahkan untuk mengetahui dia masih bernyawa atau tidak pun tak ada tau.
****
Di kampus, Aliya yang sedang bersama dengan Zulfa itu mendapatkan pertanyaan dari sahabat Gilang yang kehilangannya.
"Al, lo tau di mana Gilang?" tanyanya seraya berjalan cepat ke arah Aliya.
Aliya yang sedang berjalan bersama dengan Zulfa itu menoleh, ia menjawab kalau sudah tidak ada urusan dengannya.
"Kenapa tanya aku, aku enggak tau apa-apa lagi tentang dia!" jawab Aliya yang kemudian mengajak Zulfa untuk segera pergi.
Seraya berjalan, Zulfa pun mengingatkan Aliya, Aliya yang berjanji akan bercerita padanya.
"Gimana, ya. Nanti... kapan-kapan aja, Fa!" jawab Aliya.
"Enggak mungkin aku cerita sama Zulfa, kalau bocor, ada yang ngamuk, apalagi kalau Bunda tau, enggak... enggak, aku enggak boleh cerita rahasia ini!" Aliya membatin dan Zulfa pun tidak memaksa.
Setelah itu, Aliya mentraktir temannya di kantin.
"Al, aku seneng kamu nikah sama Pak Reno," kata Aliya seraya menatap Zulfa dengan tersenyum.
"Kenapa?" Aliya bertanya seraya menatap sahabatnya itu.
"Aku jadi sering ditraktir!" jawab Zulfa dan keduanya pun tertawa bersama.
Aliya juga mengatakan kalau harus menghidupi seorang Zulfa pun sekarang sanggup.
Dan Zulfa mendaftarkan diri untuk menjadi madu Reno.
"Serius?" tanya Aliya yang tak percaya, bagi Aliya tidak akan ada wanita yang sanggup bertahan dengan pria itu, pria sombong, arogan dan angkuh.
Tetapi, bagi Aliya, Reno sangatlah tampan dan itu membuat Aliya tidak akan mungkin mau berbagi dengan siapapun, walau Aliya tau perasaan Reno bukanlah untuknya.
Tetapi, bagi Aliya, selama statusnya masih menjadi istri dari Reno, maka Reno adalah miliknya.
"Bercanda!" kata Zulfa yang kemudian tertawa seraya menepuk bahu Aliya yang masih menatapnya.
Aliya pun menarik nafas dalam.
Setelah dari kuliah, Aliya pun berniat pulang, tetapi, tiba-tiba saja Aliya merasa mual dan Aliya meminta pada Zulfa untuk tidak menunggunya.
"Fa, aku mau ke toilet dulu, kamu duluan aja, ya!" kata Aliya yang kemudian meninggalkan Zulfa.
Aliya pun menutup pintu toilet dengan rapat.
Setelah mengeluarkan isi perutnya, Aliya pun merasa lega dan saat itu juga, Aliya mendapatkan pesan kalau orang tuanya sudah berada di depan apartemen.
Aliya pun segera pulang dan segera menyapa kedua orang tuanya, lalu, membawanya masuk ke apartemen.
"Dimana suami mu, Nak?" tanya Surti pada Aliya, terlihat, Surti meletakkan tas jinjingnya di ruang tengah.
"Ada, Pak-" jawab Aliya terhenti saat teringat kalau dirinya harus berpura-pura.
"Mas Reno masih bekerja dan biasanya sore hari baru pulang," jawab Aliya seraya tersenyum.
Setelah itu, Aliya mencoba menghubungi Reno yang sedang duduk di sofa panjang ruangannya, baru saja, Reno membahas perihal pekerjaan dengan Arman.
Reno yang melihat ponselnya bergetar itu pun segera menerima panggilan itu.
"Mas, ada Ibu dan Ayah di apartemen," kata Aliya.
"Apa? Kenapa bisa? Dari mana mereka tau alamat ku?" tanya Reno merasa curiga pada Aliya yang lagi-lagi bertindak tanpa sepengetahuannya.
"Siapa lagi, aku!" jawab Aliya seraya tersenyum pada Surti dan Edi yang sedang memperhatikan.
"Ingat! Lain kali kalau bertindak itu harus bilang dulu! Kamu itu enggak hidup sendirian di apartemen, ngerti!" kata Reno panjang lebar dan Aliya yang tak mau mendengarkan itu pun menjawab dengan caranya.
"Iya, Sayang. Semangat, kerjanya, ya!" kata Aliya dan Reno menarik nafas dalam.
Dalam hatinya, Reno sangat merindukan seseorang yang mengucapkan itu padanya.
"Sudah lama sekali, tidak ada yang menyemangati ku!" kata Reno dalam hati.
"Mas," lirih Aliya dari sambungan teleponnya dan mendengar suara Aliya yang sangat lembut itu mampu membuat Reno menjadi merinding.
Bulu-bulunya berdiri dan Reno merasa kalau panggilan itu harus segera diakhiri.
"Ya sudah, antarkan mereka ke ruang tamu! Aku sangat sibuk, tidak dapat pulang" perintah Reno dan mendengar kata tak dapat pulang itu membuat Aliya bersedih.
"Enggak adil, kamu!" kata Aliya dalam hati setelah sambungannya itu terputus.
Tetapi, Aliya yang cerdik itu tidak habis akal, Aliya tersenyum seraya mencari nama mertuanya di layar ponselnya.
Setelah itu, Aliya segera menghubunginya.
"Halo, Bunda, sedang apa?" tanya Aliya.
Dan selama Aliya berbicara dengan Reka, Surti membuat minumnya sendiri juga untuk Edi.
"Ya sudah, Bunda akan datang, malam ini, kamu tidak perlu memasak," kata Reka, ia merasa tidak enak hati pada besannya kalau mengetahui anaknya tidak mendapatkan asisten, padahal, Reno sangatlah kaya dan mampu.
Tidak lama kemudian, Reka pun datang bersama salah satu asisten rumahnya.
"Di mana Reno?" tanya Reka pada Aliya yang baru saja membukakan pintu.
"Masih sibuk, Bun. Mas Reno bilang enggak bisa pulang," lirih Aliya yang dibuat semanja mungkin.
"Anak itu, enggak sopan!" kata Reka seraya masuk dan menghampiri besannya yang sedang beristirahat di ruang tengah.
Setelah itu, Reka pun menghubungi Reno.
"Ren, Bunda ada di apartemen!" kata Reka dan hanya mengatakan itu sudah mampu membuat Reno untuk pulang.
"Kancil!" geram Reno dalam hati.
Ya, Reno mengetahui kalau ini pasti akal-akalan Aliya.
Bersambung.
hei Aliya...kl km bunuh diri dosa km mlah 2x lipat lho..
km aja bego jd prempuan...