Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Seseorang
Peluru-peluru menghantam aspal dan badan ambulans, menimbulkan percikan api yang menyebabkan kegelapan jalan tol. Arkan, meski tubuhnya masih didera racun dan luka tembak, menarik Zia masuk ke dalam ambulans dengan satu sentakan kuat.
"Rio! Kemudi!" perintah Arkan singkat.
Rio melompat ke kursi depan, menginjak gas sedalam-dalamnya. Ambulans itu melesat zigzag menghindari hujan peluru dari atas flyover . Di dalam mobil ambulance yang sempit, Arkan jatuh terduduk, napasnya pendek dan berat.
"Om, darahnya... darahnya tidak berhenti!" Zia panik, tangannya mencoba menekan luka di punggung Arkan yang kini membasahi lantai ambulans.
Arkan menggenggam tangan Zia, menghentikan gerakannya. "Zia, dengarkan aku. Tidak ada waktu. Mereka bukan orang Hendra, bukan juga orang Valerie. Mereka adalah unit eliminasi The Oversight ."
"Kenapa? Kenapa mereka menginginkan kita mati?"
Arkan menarik sebuah kalung perak dari balik kaus dalamnya. Di ujung kalung itu terdapat sebuah liontin berbentuk kunci kecil yang sangat rumit. "Ini bukan soal uang lagi. Ini soal data yang tersimpan di dalam liontin yang kamu pakai, Zia."
Zia meraba mengulanginya. Ia selalu memakai kalung pemberian almarhum kakeknya yang dilarang dibuka sejak kecil. “K-kalungku?”
"Kalungmu adalah hardware -nya, dan kunci ini adalah software -nya," bisik Arkan, wajahnya semakin pucat. "Jika disatukan, itu akan membuka akses ke komunikasi satelit yang bisa mematikan seluruh sistem perbankan dunia. Ayahmu tidak kalah judi, Zia. Dia menyembunyikan 'kiamat digital' ini di leher putrinya agar tidak jatuh ke tangan orang-orang seperti Hendra."
Tiba-tiba, suara dengungan keras terdengar dari atas. Sebuah drone tempur berukuran kecil terbang rendah di samping jendela ambulans.
"menunduk!" Arkan memeluk Zia.
BUM!
Pintu belakang ambulans meledak, terlempar lepas hingga menyisakan ruang terbuka yang mengerikan. Angin kencang masuk ke dalam, menerbangkan peralatan medis di sekitar mereka. Dari arah belakang, dua mobil SUV hitam besar melaju kencang, mencoba memepet mereka.
Arkan meraih sebuah tas hitam di bawah kursi medis. Ia mengeluarkan senapan laras panjang yang telah dimodifikasi.
"Bocil, pegang kemudi dari belakang atau kita semua mati!" perintah Arkan.
Zia, dengan tangan gemetar, membungkuk ke celah antara kursi depan dan belakang, membantu Rio menstabilkan setir saat ambulans itu mulai oleng karena ban belakangnya tertembak.
Arkan berdiri di ambang pintu belakang yang menganga. Dengan satu tangan memegang luka dan tangan lainnya memegang senjata, ia menembak drone yang melayang di udara.
DOR!
Drone itu meledak, jatuh menghantam satu mobil pengejar hingga terguling hebat di jalan tol. Namun, mobil satunya lagi berhasil mendekat. Seorang pria bertopeng keluar dari jendela SUV, mengarahkan bazoka kecil ke arah mesin ambulans.
"Om Arkan! Dia punya bom!" teriak Zia histeris.
Arkan melihat ke depan. Mereka mendekati jembatan yang melintasi sungai besar di pinggiran Jakarta. Rio, kunci setir ke arah penghalang jembatan!
"Bos, kamu gila?!" seru Rio.
"Lakukan saja! Sekarang!"
Ambulans itu menempel pada pembatas jembatan dengan kecepatan tinggi. Di detik-detik sebelum mobil itu terjun ke sungai, Arkan memeluk Zia dengan sangat erat
"Tahan napasmu, Zia!"
Mereka runtuh keluar dari pintu belakang yang terbuka,sekian detik sebelum ambulans itu dihantam bom dan meledak menjadi bola api raksasa di udara. Tubuh Arkan dan Zia jatuh bebas dari ketinggian dua puluh meter, tali permukaan air sungai yang dingin dan gelap
Dingin yang menusuk segera menyergap. Zia sempat kehilangan arah, namun tangan kuat Arkan menariknya ke permukaan. Di bawah cahaya remang dari ledakan di atas jembatan, Zia melihat Arkan berusaha keras untuk tetap mengapung.
"Om...bertahanlah..." tangis Zia pecah di tengah arus sungai yang deras.
"Bawa... bawa ini..." Arkan menggantung liontin kunci miliknya ke tangan Zia. "Jika aku tidak sampai ke tepian... cari seseorang bernama 'The Ghost' di Kota Tua. Dia satu-satunya orang... yang bisa menyelamatkanmu."
"Tidak! Om tidak boleh bicara begitu! Kita pergi bersama!" Zia merangkul leher Arkan, berusaha menyeret pria itu ke tepian sungai yang dipenuhi semak belukar.
Saat mereka berhasil mencapai daratan yang berlumpur, Arkan sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Zia menariknya ke bawah jembatan beton yang gelap, bersembunyi di balik pilar-pilar besar.
Zia menatap wajah Arkan yang tampak damai namun sangat pucat di bawah sinar bulan. Ia kemudian menatap liontin di tangannya dan kalung di lehernya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur terdengar di atas lumpur. Bukan satu orang, tapi banyak. Cahaya senter mulai menyapu permukaan sungai.
Zia menggenggam kunci perak itu erat-erat. Ia menyadari satu hal, Gadis manja yang dulu hanya tahu sekolah dan merajuk kini telah mati. Di tengah kegelapan bawah jembatan, dengan suaminya yang lemah di pangkuannya, Zia perlahan berdiri.
Ia mengambil senjata Arkan yang masih tersangkut di jaket pria itu.
"Kalian ingin kunci ini?" gumam Zia dengan suara yang kini dingin dan tanpa emosi, matanya berkilat menatap cahaya senter yang mendekat. "Datang dan ambillah."
Cahaya senter itu semakin dekat, membelah kabut tipis di pinggiran sungai. Suara sepatu bot yang menginjak lumpur terdengar seperti detak jam kematian. Zia bisa melihat bayangan tiga pria bersenjata lengkap bergerak taktis ke arah pilar tempatnya bersembunyi.
Zia melirik Arkan. Pria itu masih bernapas, namun sangat tipis. Darah di punggungnya mulai bercampur dengan lumpur hitam.
“Jangan jadi mangsa, Zia. Jadilah pemburu.” Kalimat Arkan saat latihan menembak di vila tiba-tiba bergema di kepalanya.
Zia menarik tuas senjata laras pendek itu,sebuah modifikasi Glock-17 milik Arkan. gadis itu tidak lagi menangis. Ia memposisikan dirinya di balik beton, menunggu hingga bayangan pertama muncul di balik sudut pilar.
DOR!
Tembakan pertama Zia mengenai bahu salah satu pengejar. Pria itu terjatuh, namun rekan-rekannya segera membalas dengan rentetan peluru otomatis. Zia merunduk, debu beton berterbangan di atas kepalanya.
"Ambil gadis itu hidup-hidup! Kita butuh kalungnya!" teriakan salah satu pengejar.
Zia melihat sebuah botol bensin kecil yang terjatuh dari tas taktis Arkan. Dengan nekat, ia melempar botol itu ke bawah, mengumpulkan minyak dari sisa mesin ambulans yang terbawa arus ke tepi, lalu menembaknya.
DUAARR!
Kontak api kecil menciptakan dinding pembatas antara dirinya dan para pengejar. Di tengah kekacauan itu, sebuah tangan besar tiba-tiba membekap mulut Zia dari belakang.
Zia meronta hebat, mencoba mengarahkan senjatanya, namun pria yang membekapnya jauh lebih cepat. Ia mengunci tangan Zia dengan teknik yang sangat profesional.
"Kalau kau ingin dia tetap hidup, diamlah," bisik suara berat dengan aksen aneh.
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔