Perpisahan Denan Al fatan dan Akia Rinjani di masa kecil. Akhirnya di pertemukan lagi lewat sebuah pekerjaan. Dimana Denan Al Fatan adalah CEO tempat Akia bekerja mencari uang.
Kisah cinta mereka banyak di taburi perselisihan, kesalah paham dan juga masalah keluarga.
Penyatuan cinta yang penuh warna-warni dalam sebuah kehidupan yang menjadikan mereka kuat dan tegar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Sesak
Denan pun pulang kerumah ketika hari merangkak sore. Tidak ada hasrat sama sekali melakukan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Paling tidak pergi ke bar atau ke karokean untuk melepas penat yang menyiksa.
Benar saja baru saja masuk kerumah, Denan sudah di hadapan kan dengan kedua orang tuanya yang tengah menunggu kepulangan pemuda tersebut. Denan sendiri sudah membaca apa yang akan di katakan mereka tentang tindakannya tadi siang.
"Denan, sini nak!" Panggil Rama sang Ayah yang pada dasarnya sangat menyayangi Denan. Ia melakukan itu supaya Denan mau berkumpul bersama mereka untuk kembali membahas masalahnya dengan Xenia. Gadis yang menurut mereka sangat cocok untuk Denan.
Dengan enggan Denan pun menghampiri dan duduk di sofa mengikuti keinginan Mama dan Papanya.
"Nak, kenapa tidak menemui Xenia tadi?" Tanya Rama penuh tatapan serius. Ia tau kalau Denan tidaklah meeting diluar tadi tapi sengaja menghindari Xenia.
"Lalu kenapa Pa?" Tanya Denan balik. Ia sangat malas membahas masalah itu lagi. "Kurasa Papa tahu alasannya?" Sambung Denan lagi tanpa basa basi. Sudah biasa ia menunjukkan sikap dingin seperti itu di depan mereka.
"Bukankah Kamu belum menemukan pacar?" Delik Rama lagi yang mengingatkan Denan akan perjanjian mereka.
"Aku mengerti," jawab Denan pula seraya menundukkan kepala. Ia tidak mau menatap mata Sang Ayah ketika berhadapan karena rasa hormatnya.
"Alangkah baiknya jika kamu jalan dulu sama Xenia, sampai kamu bisa membuktikan ke Papa kalau kamu bisa memiliki kekasih tanpa salah memilih." Rama hanya ingin Denan sadar dan mengakhiri rasa kecewanya pada perempuan. Toh kejadian itu sudah berlangsung sangat lama. Sangat tidak baik bagi Denan untuk terus mengingat hal itu.
Rama sebenarnya tidak mau menuntut Denan masalah jodoh. Ia hanya ingin putra semata wayangnya bisa mendapatkan jodoh yang tidak hanya karena Ia anak orang kaya tapi karena gadis itu bisa mencintai Denan dengan tulus dan Xenia masuk dalam daftar uji ketulusan.
"Denan, Papa sangat menyayangi kamu tapi Papa juga sangat ingin kamu segera menikah di usia mu yang sudah cukup, agar kami bisa segera menimang cucu darimu," ulas Rama dengan nada mulai melemah.
"Pa, tapi permintaan kalian membuat Denan merasa tertekan. Denan belum menemukan gadis yang benar-benar tulus mencintai Denan. Tapi Denan pasti menemukannya sebelum waktu perjanjian ku sama Papa berakhir," jawab Denan yang menegaskan ulang pernyataannya.
Perubahan sikap Denan memang cenderung menyedihkan. Ia menjadi sangat dingin terhadap gadis, semenjak Ia tak lagi mempercayai yang namanya Cinta sejati ketika tahu jika dirinyw di khianati kekasihnya yang dulu. Tapi meski begitu, Ia akan berusaha mencari wanita walaupun mungkin belum secepat itu juga Ia asal memilih.
"Denan, Xenia adalah gadis yang baik, Mama kenal betul keluarganya dengan sangat dekat. Apa salahnya jika kamu mencoba mengenal dia lebih jauh," terang Yuni yang ikut meyakinkan sang Putra.
"Tapi Denan tidak tertarik," sahut Denan langsung tanpa mengangkat kepala sambil beranjak dari duduknya.
"Denan...!" Mama Yuni ingin memintanya tenang dulu jangan sampai terbawa emosi.
"Sudahlah, Denan bosan membahas ini berulang-ulang," sergah Denan lagi. Ia pun meninggalkan kedua orang tuanya menuju balkon.
Di tatapnya kota itu dengan segala pemikiran di otak nya. Gedung-gedung terlihat menjulang tinggi tampak dari lantai tiga rumahnya dengan segala bentuk keindahan. Menawarkan sejuta kesan bagi penikmatnya. Posisi seperti itu hati Denan bergerimis. Perasaannya seakan teriris sangat sakit.
Terbayang sesaat, wajah gadis yang sampai saat ini sangat dicintainya. Masa indah mereka habiskan bersama dengan kedua sahabat sejati nya. Seingat Denan hari itu adalah hari paling terbahagia di dalam hidupnya. Ia sangat beruntung memiliki mereka semua. Tapi setelah itu dirinya di hempas kan sangat kuat hingga membekukan hatinya.
"Ck... Gila," decak nya setelah memutar ulang dalam benaknya kisah itu.
Ia tak percaya lagi adanya cinta maupun sahabat sejati di muka bumi ini, faktanya ketika Ia sangat mencintai dan mempercayai seseorang dalam hidup nya. Mereka tega mengkhianati dan melukai perasaannya. Siapa yamg tak sakit jika orang yang di titipi amanah untuk menjaga ke kasihnya malah memacarinya sendiri tanpa perasaan bersalah. Tragis memang jika harus di ingat lagi tapi sulit bagi Denan untuk melupakannya.
Sejenak Ia tertawa sinis dan melihat dengan tatapan kosong. Sungguh malang nasibnya mengalami hal itu hingga masih membekas sampai sekarang. Bahkan Ia kesulitan mengendalikan diri untuk belajar menerima dengan lapang dada namun belum berhasil jua sampai saat ini.
"Heh, Rasanya tidak ada namanya cinta sejati atau pun sahabat sejati, semua itu hanyalah kebohongan semata yang sudah hilang dari muka bumi ini. Zaman sekarang kebanyakan hanyalah tipu muslihat dan orang-orang munafik yang pura-pura baik di depan tapi menusuk dari belakang. Jika sahabat sejati mana mungkin sahabatnya menusuk dirinya hanya untuk merampas wanita yang Ia cintai, " Cengah nya lagi berargumen sendiri. Tidak ada lagi kebodohan dari itu yang Denan lakukan. Maka dari itu Ia tidak akan mudah percaya lagi pada orang lain.
Aaaaa...
Denan berteriak sekeras-kerasnya. Ia menekan kepalanya yang terasa berat. Ingin membuang semua gumpalan rasa sesak di dada yang selalu membuatnya merasa kesulitan bernafas. Sudah lama rasanya sesak itu masih saja selalu datang menyiksa. Tidak tahu sampai kapan itu akan berakhir.
"Aku benci semuanya....!" Teriaknya lagi mengeluarkan suara tertinggi yang Ia punya untuk menumpahkan kekesalannya. Pantulan suara itu seolah membahana sampai segala penjuru kota. Entah apakah suara lengkingannya di dengar orang lain atau tidak Ia hanya ingin dunia tahu jika Ia sangat terluka dan ingin mengakhirinya.
"Denan...!" Panggil seseorang yang datang menyadarkannya. Sengaja Pemuda itu datang memenuhi panggilan Ayah Denan. Sebab hanya Dimas lah yang mampu mengajak Denan bicara dengan kelembutan dan kesabaran.
Denan yang tahu itu saudara yang selalu menasehatinya lekas menoleh kearah sumber suara itu. "Kak Dimas," ucapnya setengah tersenyum.
Dimas adalah sepupu Denan anak dari Kakak Papanya. Dimas merangkul adik sepupunya itu dan tersenyum untuk menguatkan. Dimas sangat mengerti apa yang sudah Denan hadapi dalam hidupnya selama ini. Trauma dan kekecewaan mendalam masih terus membayangi hidup saudaranya itu
"Denan, percayalah Cinta sejati itu ada," desis Dimas lagi dengan suara yang mengalun lembut. Perkataan Dimas selalu saja mampu membuat Denan lebih tenang. Pemuda itu menangkap nanar luka yang masih tersembunyi di mata Denan sejak lama. Dimana seharusnya Denan sudah melupakan itu dan mencari kebahagian sendiri. Bukankah kebahagiaannya adalah yang utama dari pada mengingat hal yang membodohi diri sendiri.
Dunia memanglah kejam. Tak semua yang kini inginkan bisa terpenuhi. Tapi bukan berarti kita terpuruk dalam kebodohan yang nyata hingga berlarut-larut dalam goresan luka yang akan menghancurkan kita seumur hidup.