NovelToon NovelToon
DINIKAHI ANAK MANTAN SUAMI

DINIKAHI ANAK MANTAN SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Patahhati / Nikahkontrak / Berondong
Popularitas:52.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bubu.id

Tak ada yang menginginkan perceraian terjadi, demikian halnya dengan Sabina Carissa. Wanita 32 tahun yang hidup di Jakarta itu harus menelan pil pahit. Pernikahannya dengan Radis yang berjarak usia 12 tahun akhirnya kandas di tengah jalan.

Galih Ahsan, lelaki 25 tahun yang bekerja menjadi reporter surat kabar mendadak terjebak pernikahan dengan Sabina tanpa dihadiri orang tuanya. Tak ada pilihan, dua insan akhirnya memutuskan saling membuka diri, hingga Galih mendapat kabar ibunya sakit dan keduanya harus pulang ke kota kelahiran Galih.

Di kota dengan sebutan kota pelajar, bahtera yang dibangun Galih mulai diterpa badai. Sebuah kebenaran terbuka, ayah tiri Galih yang baru satu tahun menikahi ibunya adalah mantan suami Sabina.

Mampukah Galih mempertahankan keutuhan rumah tangganya sedang Radis mulai menyesali perceraiannya?

"Kamu ngapain selalu ikutin aku? Aku janda, anakku dua. Berhenti ganggu aku!" (Sabina)

"Masa sih? Aku pikir mbak baru lulus SMA!" (Galih)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASIH SAYANG DI HATI

"Bina, kapan kamu pulang, Nak? Bagaimana kabar Zidan dan Zio? Apa kamu nggak kangen ibumu ini? Mau sampai kapan kamu menghindari kami, hem?"

Suara paruh baya terdengar lirih dan penuh kasih terdengar dari seberang benda pintar yang sedang di genggam Sabina. Sabina belum lagi menjawab, tapi bulir sudah ke luar saja dari pelupuk matanya. Sejujurnya ia rindu dengan ibunya, tapi ia belum ingin kembali. Sudah cukup ia menjadi beban selama ini dan menjauh adalah jalan yang dipilih Sabina.

"Ka-bar Zi-dan dan Zi-o sehat, Buk, ta-pi maaf Sabina belum bisa pu-lang!" Sabina menarik napas dan mengusap lagi air mata yang membasahi pipi. Ia tak ingin Sulastri sang ibu merasakan kesedihannya.

"Alhamdulillah ibu senang mendengarnya. Tapi ya kapan kamu pulangnya? Apa kamu mau dengar berita kematian ibu dulu baru akan pulang?"

Air mata Sabina mengalir lebih kencang mendengar kata kematian terucap dari bibir Sulastri. Di dalam hati Sabina bermunajat semoga ucapan ibunya tak benar-benar terjadi. Sabina berharap ibunya berusia panjang, ya setidaknya sampai ia sukses dan mampu membanggakan Sulastri.

"Bin, kamu masih di sana, kan? Kok nggak ada suaramu sih? Tika, coba lihat ponsel ibu, apa ini masih tersambung dengan mbak mu?" Sulastri berteriak kepada Tika adik Sabina yang kini tengah hamil 7 bulan dan bekerja dari rumah selama kehamilannya.

"Masih kok, Bu."

"Mbak ... Mbak Bina!" Tika berusaha memanggil Sabina.

"Eh ya, maaf Bu, Bina melamun tadi," lirih Sabina tak menyadari kini Tika lah sosok yang bicara dengannya.

"Ini Tika dan bukan ibu, Mbak."

"Eh kamu, Tik. Bagaimana kabar kandungan mu? Semua sehat saja, kan? Kata ibu sudah masuk bulan ke tujuh, ya?" tanya Sabina lembut pada adik perempuan yang berjarak usia 6 tahun darinya, adik bontotnya, adik satu-satunya karena mereka memang hanya dua bersaudara.

"Alhamdulillah semua baik, Mbak. Betul bayiku sudah masuk bulan ke tujuh. Oh ya, Mbak Bina kapan main ke Bogor? Ibu sudah kangen sama Mbak Bina lho, setiap kali yang dibicarakan ya mbak Bina. Kok mbak belum menghubungi, bagaimana Zidan dan Zio, apa mbak punya uang atau enggak, pokoknya selalu tentang Mbak."

Sabina tersenyum getir. Ada desiran halus tapi memancarkan atmosfer luar biasa ke hati Sabina dan menimbulkan sesak yang sangat kuat. "I-ya, Mbak belum bisa ke sana. Kamu baik-baik dan sehat selalu sama ibu ya, Tik. Sementara Mbak titip ibu. Mohon maaf Mbak belum bisa kirim uang karena penghasilan mbak diutamakan untuk membayar pondoknya Zidan dan beli susunya Zio," lirih Sabina.

Sabina lagi-lagi mengusap air mata yang tak terbendung. Sabina selalu sedih bicara dengan Tika. Sabina merupakan anak tertua, tapi ia merasa tak bisa diandalkan. Tika lah yang mengurus dan memenuhi semua kebutuhan Sulastri. Tika memang bekerja sebagai Accounting di kantor pusat perusahaan alat rumah tangga yang dimiliki oleh perusahaan Jepang. Gaji Tika besar, ia sangat dipercaya oleh atasannya, hingga saat hamil pun Tika diizinkan bekerja dari rumah karena kandungan Tika lemah sedang ruangan Tika berada di lantai 3 dan harus naik turun tangga.

"Mbak itu ngomong apa sih, nggak perlu memikirkan kirim-kirim uang untuk ibu. Mendengar mbak sudah bekerja dan sehat, aku sama ibu sudah senang. Aku yang malah minta maaf nggak bisa kirim uang ke Mbak, dokter sudah memintaku nanti melakukan persalinan caesar karena ada masalah tali pusat yang terlalu panjang dan menghalangi jalan lahir. Oleh karena itu, aku sedang menabung untuk persiapan persalinan Mbak, yah berjaga-jaga saja," kata Tika.

"Terima kasih banyak ya, Tik. Mbak doakan persalinan kamu nanti lancar. Normal dan caesar sama saja yang penting bayimu terlahir sehat, sempurna tanpa kurang satu apa pun."

"Aamiin."

"Sudah tersambung dengan Mbak mu lagi, Tik?" kata Sulastri yang baru datang dari arah dapur. Tika mengangguk dan memberi ponsel yang digenggamnya pada Sulastri. Beberapa saat Sabina dan Sulastri berbincang lagi dan Sabina mengakhiri panggilannya karena hari mulai siang sedang Sabina berencana menjenguk Zidan di pondoknya.

Sabina pun menekan tombol tengah dan menghadap pada gadis yang sejak tadi menyimak setiap pembicaraannya setelahnya.

"Pasti senang ya punya kakak. Aku iri sama mbak Tika punya Kakak seperti mbak Sabina." Kalimat yang diucap Viola terdengar lirih. Meski keduanya tak memiliki hubungan darah, tapi hubungan Sabina dan Viola memang sangat dekat. Sabina kini meraih jemari Viola.

"Kamu juga adikku, Vi. Kamu dan Tika adalah adikku yang hebat. Aku bangga dengan kalian." Viola yang senang mendengar ucapan Sabina lantas tersenyum.

"Sudah yuk kita berangkat! Mbak mau mampir agen dulu beli keperluan pondok." Walau untuk hidupnya saja sudah pas-pasan, tapi Sabina selalu membawa sesuatu jika mengunjungi Zidan. Ia ingin membantu sedikit pada pondok yang telah mendidik Zidan.

.........

Matahari semakin meninggi. Pukul 11:30 saat keduanya sampai di pondoknya Zidan. Waktu menjenguk memang di hari Minggu pekan kedua, tapi berhubung minggu lalu Sabina tak diperbolehkan izin cuti oleh Edo, akhirnya Sabina menjenguk Zidan di hari sekolah. Sabina bersyukur pihak pondok tak keberatan dan mengizinkannya.

Sama seperti sebelumnya, setiap kali menjenguk Zidan selalu ada perasaan bahagia yang tumpah ruah dalam jiwa Sabina. Bagaimana Zidan yang dulu kurang mendapat bimbingan ilmu agama dan contoh dari Radis kini telah berada di tempat yang tepat.

Jantung Sabina berdetak tak karuan dalam sebuah kamar dengan beberapa ranjang bertingkat yang menjadi tempat Zidan tidur dan beristirahat setiap harinya. Seorang pengelola pondok memang mengarahkan Sabina, Viola dan Zio ke kamar Zidan karena ruang kelas saat ini sedang melakukan kegiatan belajar mengajar.

Tak berselang lama sosok yang dinanti pun tiba. Seorang kakak kelas yang menjadi pembimbing kamar Zidan masuk merangkul seorang lelaki kecil berusia 11 tahun di sampingnya. Tak ada kata terucap, dia Zidan sosok yang dulu sangat keras dan sulit dikendalikan sudah berubah dalam satu tahun ini. Zidan menatap Sabina tanpa kata, hingga Sabina membuka tangannya dan Zidan pun perlahan mendekat dan memeluk ibu yang begitu ia rindukan. Kakak kamar yang sebelumnya mengantar Zidan pun meninggalkan kamar memberi waktu Zidan dan Sabina untuk berbincang.

"A-bang Zidan," sapa Zio pada sang kakak yang tubuhnya sudah lebih tinggi kini. Zidan yang mendengar panggilan Zio melepaskan pelukan Sabina dan kini memeluk sang adik yang dulu sering ia buat menangis dan ia jahili. Bagaimana pun ikatan darah itu tak kan luntur dan kasih sayang itu ada. Zidan juga rindu dengan Zio, ia mencium beberapa kali kening Zio membuat Zio tersenyum sumringah.

Bersambung ....

1
🌹 Mommy caeeeem 😍
yoloo...yoloo..keren banget kmu nak..cakep abizzzx...ank sapa sih kmu...😍
dee
kok ga up lg, kak?
Siti Zuriah
lanjut smoga kbr yg d trima bina benar dan perjalanan bina krmh sakit ga ada halangan
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Alhamdulillah, disaat Bina bingung ada penolong datang
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
emang Yoga Omnya Galih..?
Jar Waty
lanjut thor
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
tulus kok nyelakain orang
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
huu.. cemen
beraninya keroyokan.
lawan sendiri kalo berani
Dwisya Aurizra
jangan2 itu akal2an yoga biar sabina keluar lagi, trus dia melanjutkan rencana nya, kalo iya teh bener2 licik.
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂: bukan deh kayanya, kan Edo juga dikabarin kalo Galih masuk RS lagi
total 1 replies
dee
lhah, jd bingung.. omnya galih tuh bukannya edo, y?
Nur Nuy
segitunya si yoga semoga ada balasannya, kasian Galih
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Galih mau meliput apa sih sampe ninggalin rumah sakit, masih bonyok juga.
Sementara jafi suster pribadinya Galih aja Bina
Dwisya Aurizra: 😂😂😂🤭🤭
total 3 replies
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Aamiin
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
wadduh gimana ini ditolong gak ya,
pastinya ditolong lah ya sisi kemanusiaan Bina kan masih tinggi
Jar Waty
lanjut thor
mott_
Hihi anak muda ini nanti... 😁😁
Nur Nuy
ayo bubu lanjutkan makin seru
Siti Zuriah
smoga galih bs mengalahkn preman" srhn nya yoga ya bubu
Imas Atiah
mampir nih Awal baca udh bikin nyesek
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
bos kalian lagi sibuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!