Apa tujuan dari kehidupan?
Kekayaan?
Kekuasaan?
Kejayaan?
Tidak, tujuan dari kehidupan hanyalah kesenangan.
Ketika mereka mendapatkan kekayaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kekuasaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kejayaan, mereka senang.
Tujuan hidup sesimpel itu, pada akhirnya ketika mereka meraih tujuan, mereka akan senang.
Dan aku bereinkarnasi kedua kalinya untuk kesenangan.
Menggunakan segudang harta kekayaan dan pengetahuan, aku akan mencari kesenangan di kehidupanku yang ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hermit of Imagination, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
013. Yang benar saja
"Saya ada dimana?'
"Di Tempat kejadian kasus pembunuhan lima orang yang organ dalamnya diambil."
Orang yang menjawab ku adalah seseorang yang memiliki tinggi sekitar dua meter, tubuhnya tidak terlalu besar, tapi itu penuh dengan otot. Tapi yang paling menonjol adalah rambut dan jenggotnya yang lebat seperti singa. Tidak lebih tepat mengatakan itu seperti babon, mungkin. Dia adalah yang paling menonjol dari kelompok ini, kemungkinan dia pemimpinnya.
"Lima orang dibunuh dan organnya diambil, itu sangat kejam." Aku berakting seperti orang yang shock.
"Apa sih, yang kau katakan sekarang? Bukankah kau tadi melihatnya dengan muka yang sangat biasa?" Kali ini Ferdinand yang menjawab ku.
"Ehh!? Benarkah saya melakukan itu."
"Hahh?"
"Sebenarnya, saya tidak bisa mengingat apapun, bahkan aku juga lupa. Tolong beritahu saya siapa saya ini, dan saya berasal dari mana? Dan kenapa saya diikat."
"Jangan berpura-pura lupa ingatan. Kepalamu tadi tidak kena serangan sama sekali."
"Se-serangan, siapa yang menyerang saya? Pak polisi, tolong saya!!!"
"Baiklah, disini pak polisi." Ferdinand yang menjawab
Orang ini polisi? Juga, bukankah dia mengatakan dia adalah wakil komandan dari pasukan kepolisian khusus. Yang benar saja, orang yang tidak tau cara berkomunikasi ini. "Umur negara ini sudah tipis."
"Hah, apa katamu?"
Sialan, keceplosan.
"Bu-bukan aku yang mengatakan itu, aku tidak mengatakan apa-apa!"
"Sudahlah cepat jawab pertanyaanku. Kau tahu kan, dimana lokasi pelaku kasus ini?"
"Saya sudah bilang, saya tidak tahu apa-apa. Bahkan namaku saja saya tidak bisa mengingatnya."
"Haah." Ferdinand berbalik menghadap orang dibelakangnya. "Komandan bolehkah aku menggunakan penyiksaan. "
"Tentu saja tidak boleh. Dia hanya warga sipil yang tidak bersalah."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Hai tuan tersangka." kali ini kakak polisi cantik yang berbicara denganku. "Adakah cara mengembalikan ingatanmu?"
"Hmm? Mungkin ada."
"Gimana?"
"Jika orang itu bersujud meminta maaf, mungkin akan aku pertimbangan."
"Kenapa juga aku harus bersujud kepadamu, dan juga apanya yang dipertimbangkan? "
"Ingatanku tentu saja! Akan aku pertimbangkan mengembalikan ingatanku kepadaku. "
"Dari awal kau tidak pernah kehilangan ingatan, sialan." Ferdinand menjawab dengan kesal.
"Komandan." Vienna berbicara. "Orang ini adalah orang yang sangat baik, buktinya dia bisa membuat wakil komandan marah."
"Memangnya itu bisa dijadikan bukti sebagai bahwa orang baik, dan juga kenapa orang yang membuatku marah adalah orang yang baik."
"Cukup kalian berdua. Hahh …" komandan menghela nafas lelah terhadap perilaku dua rekannya ini, setelah itu dia menghadapku. "Aku tidak tahu namamu. Tapi, bisakah kita bekerja sama. "
"Tentu saja."
"Siapa namamu?"
"Lucy. "
"Baiklah Lucy, apa kau tau dimana pelakunya berada?"
"Aku tahu."
"Lihat." Ferdinand memotong pembicaraan kami. "Dari awal dia tidak kehilangan ingatannya."
"Tidak! Kau salah, ini bukan dari ingatanku, ini dari instingku. "
"Hooh … jadi sedari mendasar kau ini orang yang menyebalkan ya … "
"Ferdi, sudah cukup." komandan menyela. "Ini nggak akan berakhir jika terus begini. "
"Dengarkan, kata ayah, Ferdi!" Aku menambahkan.
"Siapa juga yang ayahku, dan jangan memanggilku Ferdi." Dia tampak berbeda di puncak kesabaran.
"Cukup kalian berdua. Hah … ayo kita lanjutkan. Lucy, jika kau dari awal tahu sesuatu, kenapa kau tidak bekerja sama, jika begitu semuanya bisa selesai dengan cepat."
"Jika sedari awal ada orang yang tau adat mengatakan 'permisi pak, bisakah saya bertanya sesuatu?' dengan nada yang sopan, aku tentu saja bisa diajak kerjasama." Aku mengatakan ini sambil melirik Ferdinand.
Ferdinand sekarang menyalakan rokoknya untuk menenangkan dirinya.
"Fuuh." Dia menghembuskan asap rokok dan berbicara. "Tekanan lebih mudah membuat orang berbicara fakta kenyataan."
"Sopan santun lebih mudah untuk mengajak orang lain bekerjasama." Aku membalas."Juga, kenapa kau menduga aku mengetahui sesuatu?"
"Sebelum aku berbicara denganmu, aku mendengar kau bergumam 'yang penting adalah mengejarnya atau tidak. Karena mungkin saja pelakunya memiliki relik dan aku bisa mengambilnya.' Dari situlah aku tau bahwa kau sudah tau lokasi pelakunya. "
"Dari situ saja?" Memang benar sih, aku bergumam tentang itu, dan sedari awal aku tau kemungkinan lokasi pelakunya.
"Lucy, bekerja sama, lah. jika kau bekerja bukan hanya kau dibebaskan, kau mungkin juga bisa mendapatkan hadiah. Relik kan, yang aku mau? Selama itu bukan yang berbahaya, aku akan memberikan semua jarahan. Bahkan kau akan mendapatkan uang tambahan."
Semua relik? yang benar saja, siapa juga yang akan percaya?
Oh, benar juga, relik. aku lupa bahwa aku memiliki satu relik. betapa bodohnya tidak menggunakan dipertarungkan tadi. Meskipun itu hanya relik pertahanan peringkat satu, itu mungkin tadi bisa mengubah arus pertarungan.
"Baiklah. " lagipula aku juga tidak mau dijadikan kambing hitam. "Tapi aku punya syarat."
"Apa itu?"
"Buatkan aku KTP."
"Itu saja?"
"Iya."
"Baiklah."
"Itu saja, kau tidak tanya KK, asal usul atau sebagainya." Aku sedikit terkejut dengan apa yang dia katakan.
"Kalau ada koneksi semua gampang." Vienna mengatakan.
"Yang benar saja polisi mengatakan seperti itu. Juga bisakah kalian melepaskan aku dulu? Nggak enak rasanya diikat. "
"Kau tidak akan berusaha lari lagi dengan menabrakkan sapu, kan?"
"Ya ampun, lihatlah sekelilingmu! Mana mungkin aku bisa kabur." Benar, di sekelilingku dipenuhi anggota Ordo Stella, sangat amat sulit untuk kabur lagi, dan aku juga tidak berniat untuk kabur.
"Lepaskan dia!" Dia memerintahkan orang terdekat.
Salah satu anggota datang melepaskan ikatan.
"Ahh, enak rasanya memiliki kebebasan." Lukaku juga sudah disembuhkan.
Sebenarnya setelah mengamatinya secara singkat, aku tahu bahwa kelompok ini sebenarnya adalah kelompok orang baik.
"Sekarang, beritahu kami dimana lokasi pelakunya?" Komandan bertanya lagi.
"Tepat di bawah lokasi."
"Tepat di bawah lokasi!?" Dia memiliki nada sedikit terkejut. "Kami sudah memeriksa sekitar lokasi dan lokasi itu sendiri, tapi kami tidak menemukan apapun, gua tidak ada, bahkan lubang sekalipun."
"Tentu saja, karena itu tidak terlihat dengan jelas karena kalian sangat dekat. tapi jika melihatnya dari jarak yang sangat jauh, itu akan terlihat jelas." aku mengeluarkan White branch. " ikuti aku."
Aku dan tiga orang lainnya terbang ke udara.
"Pelaku membuat sebuah lubang dibawah tanah dan menutupnya dengan tanah menggunakan sihir tanah. "
"Kau tahu." Ferdinand berbicara. "Tanah yang dihasilkan oleh sihir dan tanah alami itu memiliki beberapa hal yang berbeda. Seperti warnanya itu berbeda dan juga tanah hasil sihir itu tidak memiliki batu didalam, hanya ada tanah. Jika sesederhana yang kau bicarakan, maka kami sudah menemukannya. "
"Aku tahu itu. Sekarang lihatlah ke bawah. jelaskan."
Jika dilihat dari langit. bisa dilihat ada sebuah lingkaran tanah yang memiliki warna lebih gelap dari warna tanah sekitarnya. lingkaran itu sangat besar seukuran lapangan sepakbola.
Mereka tidak menyadari ini karena mereka dari awal sudah berada tepat di atas tanah, tapi tidak tebang.
"Ohh pantas saja kami tidak menemukannya." Komandan berseru.
"Kalian mencari lubang yang tertutup dengan membandingkan warna tanah. Tapi kalian sendiri sudah berada di atas penutup lubang itu, jadi warna tanahnya semua terlihat sama. Tapi jika kalian melihatnya dari langit itu akan tampak berbeda."
"Orang ini benar-benar niat dalam bersembunyi."
"Panggilan untuk seluruh divisi." Komandan berteriak memberikan perintah ke semua anggota yang ada.
"Bolehkah aku sekarang untuk pergi? " aku bertanya kepada Ferdinand.
"Tidak!"
"Eh? Kenapa?"
"Kemungkinan ini bisa menjadi jebakan yang kau gunakan untuk kami! Jadi sampai akhir kau harus bersama dengan kami. "
"Pesimis sekali!"
"Hanya berjaga-jaga."
Selagi aku berbicara dengan Ferdinand, semua divisi sudah terbang dan berberis di langit.
"Kapten divisi 1, melaporkan divisi 1 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 2, melaporkan divisi 2 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 3, melaporkan divisi 3 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 4, melaporkan divisi 4 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 5, melaporkan divisi 5 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 6, melaporkan divisi 6 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 7, melaporkan divisi 7 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 8, melaporkan divisi 8 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 9, melaporkan divisi 9 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 10, melaporkan divisi 10 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 11, melaporkan divisi 11 siap melaksanakan perintah."
"Kapten divisi 12, melaporkan divisi 12 siap melaksanakan perintah."
"Hoi … apakah ini keseluruhan anggota kalian?" aku bertanya kepada Ferdinand.
"Iya."
"Memang begitu seriusnya, sampai haus mengerahkan seluruh anggota?"
"Tidak."
"Lalu kenapa semua anggota ada disini? Di hutan ini?
"Jalan-jalan."
"Hah?" aku meragukan apa yang aku dengar.
Pasukan polisi khusus jalan-jalan? Memang mereka tidak punya kerjaan?
"Negeri ini benar-benar memiliki umur yang sudah mau habis!"
pakai nama aja Thor
saudaraku mohon ini yg sering baca novel saya gk enak baca pakai pihak pertama
Salam Permata Elemen.
🔥SEMANGAT TERUS THOR NGETIKNYA👏👏👏🔥
'setelah meminumnya' yang bener thor