"Aku merindukan mu"
itulah ungkapan setiap malam. Kanza Mahendra
saat harus berjauhan dengan Rasyi Syakilla.
Gadis ceria yg berhasil mengambil hati manusia dingin. yg bahkan tak tersentuh. namun kini saat berjauhan hati Kanza selalu merindukan nya.
Setelah melewati banyak perjuangan. hingga kini mereka telah benar benar bersama. membuat Kanza ingin selalu bersama dengan wanita yg saat ini telah memenuhi hati nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiia sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 12
*
Rasyi kembali masuk ke ruangan Kanza. masih terlihat Kanza yg masih belum membuka mata nya badan nya panas namun sekujur tubuh Kanza trus mengeluarkan keringat dingin,
"Maafkan saya tuan kalau tidak sopan" ucap Rasyi sebelum menyeka badan Kanza dengan air es.
Rasyi dengan kasih sayang menyeka Kanza dengan air dingin. agar panas nya cepat mereda.
"Kenapa masih tinggi saja" pikirnya yg trus memeriksa suhu tubuh Kanza namun belum ada penurunan.
Akhirnya Rasyi kembali keluar, niatnya untuk bertanya kenapa Edo belum kembali namun saat akan membuka pintu Rasyi kembali berpikir. saat dia buka pintu yg akan terlihat pertama kali adalah wajah Melisa yg membuat dia tidak nyaman
"Kenapa aku tidak coba telpon sendiri" ujar Rasyi
dia pun mencari kontak.dan trus memanggil nya namun beberapa kali Rasyi menelpon. Edo sama sekali tidak diangkat,
Rasyi yg trus mengompres Kanza. saat Rasyi mencoba menyeka tangan Kanza. Kanza mulai membuka mata nya sedikit-sedikit.
"Kamu sudah bangun?? tanyanya sambil duduk di samping Kanza.
Namun Kanza yg sepertinya belum sadar sepenuh nya, mencoba bicara namun tidak terdengar oleh Rasyi.
"Ada apa?? tanya Rasyi bingung
"kamu mau air" ucap Rasyi yg melihat Kanza menatap gelas di nakas.
Rasyi pun membantu Kanza dengan mengangkat kan kepalanya dan meletakkannya kembali setelah selesai.
"Kamu minum obat ya?? agar panas nya cepat turun"
Rasyi mengambil obat dan menyuapkan nya ke mulut Kanza. Kanza yg sedang lemas hanya mengikuti perintah Rasyi tanpa penolakan.
"Apa kamu tidak punya pakaian lain disini?? tanya Rasyi sambil melihat lemari kecil di ujung ruangan.
Kanza yg belum bisa bersuara hanya menunjuk menggunakan jarinya. Rasyi yg melihat langsung mendekat ke lemari yg di tunjuk Kanza.
Karna yg Rasyi lihat hanya ada beberapa kemeja dan zas, Rasyi melihat ada bungkusan paper back yg ternyata ada kaos lengan pendek di dalam nya. Rasyi pun langsung mengambil nya untuk digunakan Kanza. karena saat menyeka tubuh Kanza. Rasyi melihat baju Kanza sudah basah karna keringat nya,
"Kamu duduk sebentar ya" agar aku bisa bantu ganti pakaian kamu"" ucap Rasyi sambil membantu bangunkan tubuh Kanza.
Kanza yg sudah duduk di ranjang hanya pasrah saat Rasyi trus membantu membukakan kancing kemeja nya.
Tapi tangan Kanza memegang tangan rasyi. untuk menghentikannya,
"Kenapa, kau takut aku akan memanfaatkan mu sekarang??
ujar Rasyi dengan wajah licik nya.
"Kamu tenang aja, anggap saja ini bantuan rasa kemanusianku" imbuh Rasyi dan melanjutkan kegiatannya
Tapi saat sudah membuka semua kancing kemeja Kanza. Rasyi yg menarik kemeja Kanza pelan. tapi mata Rasyi melotot saat melihat sesuatu di punggung Kanza.
Penglihatan Rasyi terkunci. saat melihat beberapa bekas luka lama yg hampir memenuhi punggungnya. dengan tato sayap besar yg menapulasi lukanya,
"Apa yg sudah dialami nya, kenapa seperti ini" bisik nya iba yg melihat tubuh Kanza,
Rasyi yg langsung tersadar. berusaha terlihat seperti tidak melihat apa-apa. setelah selesai Rasyi membantu Kanza membaringkan kembali tubuh nya.
"Kamu istirahat lah, aku akan mencari sesuatu untuk kamu makan agar tenaga mu cepat pulih" ucap Rasyi sambil menunjukan senyum nya.
Namun saat akan bangkit dengan membawa mangkuk es untuk mengompres Kanza tadi. Kanza memegang tangan Rasyi. seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Kalau kamu ingin berterima kasih. ucapkan lah setelah kamu benar-benar sadar" Kanza yg mendengar perkataan Rasyi langsung melepas tangan nya.
Rasyi pun berlalu meninggalkan Kanza dalam ruangan. pantri adalah menjadi tujuan Rasyi. namun saat baru menutup pintu dan hendak berbalik Rasyi terkejut dengan kehadiran Edo yg berdiri di depan meja Melisa,
"Nona Rasyi, bisa kita bicara sebentar?? tanya Edo
"baiklah, tapi izinkan aku mengembalikan ini terlebih dulu"
Tapi Edo langsung menatap pengawal, mereka yg paham akan tatapan tuan nya langsung berjalan mendekati Rasyi dan mengambil apa yg sedang di pegang Rasyi,
"Mari nona" ajak Edo sambil mempersilahkan Rasyi masuk dalam lift,
Edo yg mengajak Rasyi, membawanya ke taman yg ada di lantai delapan. Edo pun langsung mengajak Rasyi duduk di bangku.
"Bagaimana keadaan tuan nona??
"seperti sudah sedikit lebih lumayan,"
"begitu ya, tapi terima kasih nona sudah membantu merawat tuan Kanza" ucap Edo memandang Rasyi
"Anggap saja, aku menolong karena sifat kemanusiaan"
jawab Rasyi dengan senyum getir nya
"Saya sudah lama mengenal tuan Kanza, menurut saya dia sebenarnya bukan orang yg buruk nona, tapi nasib nya yg menjadi kan dia buruk" Edo dengan santai nya berbicara ke Rasyi dengan membuang arah.
"Apa aku tanya saja soal luka lama di tubuh tuan Kanza"
bisik Rasyi dalam hati sambil memandang Edo.
"Apa ada yg ingin anda tanyakan nona??
tanya Edo yg merasa raut wajah Rasyi yg berubah.
Namun Rasyi kembali tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
"Tuan Edo" panggil Rasyi
"iya nona"
"apa tidak sebaiknya anda membawa tuan Kanza ke dokter atau rumah sakit??
"Anda tau nona, tuan Kanza dari dulu sampai sekarang tidak pernah menginjakkan kaki nya ke rumah sakit" ucap Edo
"Kenapa?? Rasyi yg mulai penasaran.
"hanya karena luka lama, makanya kalau tuan Kanza sakit saya hanya akan merawat nya di apartemennya saja." jelas Edo
"Ternyata kalian berdua sama saja ya aneh nya" ketus Rasyi
"Nona, boleh saya bertanya??"
"tentu" singkat Rasyi yg langsung melihat ke Edo
"apa nona memanggil saya kemarin untuk membahas soal ganti rugi??" tanya Edo ke Rasyi yg mulai terlihat serius.
"Sebenarnya iya, saya hanya merasa saya harus tanggung jawab tentang kesalahan saya" ucap Rasyi getir
"Kalau begitu saya punya solusi untuk anda"
"apa itu??"
"bagaimana kalau anda bekerja dengan tuan Kanza"
tawar Edo ke Rasyi.
"Saya sebenarnya tidak masalah kerja disini. tapi tuan apa saya bisa memohon pada anda izinkan saya tetap kuliah"
pinta Rasyi yg mulai bernada lirih,
"Anda tetap bisa kuliah nona"
"benarkah tuan" ucap Rasyi antusias
"benar nona. anda tetap bisa kuliah dan bekerja di waktu yg bersamaan dengan begitu anda bisa mencicil utang anda dengan tuan Kanza" jelas Edo
"Terima kasih tuan, kalau begitu apa pekerjaan saya tuan??
"anda cukup menjadi pelayan tuan Kanza. menyiapkan sarapan membersihkan apartement nya dan memasak untuk tuan Kanza makan malam,"
Rasyi yg tadi seperti nya sudah terbang merasa bahagia. karena impian tetep berjalan walaupun dia harus bekerja. tibs-tiba mendengarkan perkataan Edo membuatnya seperti terjatuh ke bawah kembali,
"Nona Rasyi, nona anda tidak apa-apa?? panggil Edo dengan menggoyangkan tangan nya di depan wajah Rasyi. yg terlihat melamun,
"Ahh iya, saya tidak apa-apa" ucap Rasyi dengan senyum terpaksa nya.
"Bagaimana dengan tawaran saya nona"m??" tanya Edo
"begini tuan, saya tidak masalah bekerja menjadi pelayan. tapi untuk menjadi pelayan tuan Kanza menurut saya itu bagaikan bunuh diri tuan" jelas Rasyi panjang lebar yg membuat edo tertawa mendengarnya.
"Hahahahha, nona. nona apa menurut anda tuan sekejam itu"
Edo yg tidak bisa menahan tawanya. berusaha mengalihkan pandangan nya agar bisa sedikit lebih tenang.
"Apa selucu itu tuan?? tanya Rasyi yg mulai kesal dengan Edo
"Maafkan saya nona" tapi saya hanya tidak menyangka anda akan setakut itu dengan tuan Kanza."
"Saya bukan takut, tapi saya merasa tidak akan mudah bekerja apa lagi harus berkomunikasi dengan nya" keluh Rasyi
"Tapi menurut yg saya lihat, tuan Kanza melakukan apa yg anda katakan. apa lagi anda sudah melihat yg tidak sembarang orang bisa liat di tubuh tuan Kanza"
"Maksudnya" ucap Rasyi bingung.
"yg anda lakukan di ruangan tuan Kanza"
"tuan ada disitu?? tanya Rasyi tak percaya.
Namun hanya di jawab anggukan saja oleh Edo.
Flashback'on*
Edo yg sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. menelpon dokter Yudha. untuk membuatkan resep obat yg untuk tuannya.
setelah sampai di rumah sakit Edo langsung menemui dokter Yudha.
"Apa dia sakit lagi?? tanya dokter Yudha sambil menyiapkan resep obat yg dipesan Edo
"benar"
"aku sudah lama tidak bertemu dengan nya. setelah dia lebih baik mintalah dia menemui ku untuk melakukan terapis lagi"
"Sepertinya tidak perlu ku jelaskan kau juga tahu seperti apa kepribadian nya. dan jika aku memaksa kali ini bukan aku yg menemuimu malah kau yg harus menemuiku di kamar mayat"
Yudha hanya tersenyum. mendengar perkataan Edo sebenarnya Yudha. Kanza ataupun Edo mereka hanya berbeda setahun apalagi mereka sudah saling mengenal cukup lama yg membuat mereka bisa memanggil santai saat tidak ada orang lain.
Saat sudah selesai mendapatkan obat Edo langsung pergi kembali ke kantor. tapi baru berapa ratus meter keluar dari rumah sakit Edo terjebak macet. Edo yg membunyikan klakson mobil nya berharap jalanan cepat lancar. namun tidak membuahkan hasil. setelah sempat bertanya dengan orang sekitar ternyata ada kecelakaan di depan sana yg membuat jalanan macet. Edo yg bingung tidak tau harus berbuat apa hanya memukul setir karena kesal.
Tapi tiba-tiba ponselnya berdering. terlihat nomor kantor yg menghubungi nya.
"halo"
"halo tuan," ucap pengawal
"ada apa"
"apa anda masih lama tuan??
"saya masih terjebak macet"bagaimana tuan kanza??
Eso bertanya yg mengkhawatirkan Kanza.
"Begini tuan, demam tuan Kanza semakin tinggi jadi nona Rasyi meminta kami agar menghubungi tuan agar segera kesini tuan" jelas pengawal.
"nona Rasyi" ucap Edo
"iya benar tuan, nona Rasyi saat ini ada di ruangan tuan Kanza sedang merawat tuan Kanza tuan"
"Baiklah aku akan secepatnya kesana. kalian tetap berjaga di ruangan tuan Kanza. mengerti" perintah Edo
"baik tuan" ucap pengawal yg lalu menutup telpon dan kembali menuju ruangan Kanza.
Edo yg mengingat kembali perkataan pengawal tadi bahwa Rasyi merawat Kanza. ada terukir senyum di wajah Edo. tapi tiba-tiba klakson dari mobil belakang membuyarkan lamunan Edo.
Saat jalanan mulai lancar Edo pun langsung tancap gas menuju kantor untuk memberikan obat Kanza. sampai di kantor Edo berlari kecil menuju lift melewati loby dengan beberapa pasang mata yg memandang nys heran. karena terlihat buru-buru.
Pengawal yg melihat Edo keluar dari lift. langsung menyambutnya dan membukakan pintu ruangan Kanza mempersilahkan Edo masuk.
Saat masuk dalam ruangan Edo yg melihat Kanza duduk bersandar di tepi ranjang istirahat nya berniat masuk. namun langkah nya terhenti saat melihat Rasyi berjalan mendekati Kanza dengan kaos di tangan nya.
"Apa yg akan nona Rasyi lakukan?? ucapnya pelan agar tidak ada yg sadar kehadirannya.
Namun saat dia melihat Rasyi akan membuka kemeja Kanza. terlihat jelas wajah terkejut Edo. saat dia akan benar-benar masuk untuk menghentikan Rasyi langkahnya kembali terhenti. saat melihat Kanza tidak melakukan penolakan dengan yg di lakukan Rasyi.
"Benarkah ini anda tuan?? ucapnya dalam hati
Edo terus melihat yg dilakukan Rasyi di ruang istirahat Kanza. terlihat jelas Rasyi melakukannya dengan hati-hati dan penuh kasih sayang. Edo yg terus melihat tanpa membuat suara menaikan ujung bibirnya.
Sebenarnya dalam perjalanan dari rumah sakit ke kantor. banyak pikiran khawatir dikepala Edo. namun saat melihat Rasyi yg merawat Kanza rasa khawatir yg tadi mengganggu nya kini hanya tertinggal rasa bahagia melihat tuan nya bisa menerima bantuan orang lain selain dirinya.
Takut kehadirannya akan membuat Rasyi canggung Edo memilih keluar. dan menunggu Rasyi di meja Melisa.
Flashback.off*
"Sebaiknya anda pikirkan nona. saya akan menunggu jawaban anda malam ini?? ucap Edo yg lalu bangkit dari duduk nya
Namun saat Edo akan pergi Rasyi memanggil nya. tanpa menoleh Edo hanya diam pada tempat nya.
"Baiklah, saya mau tuan" ucap Rasyi singkat
"bagus nona, anda bisa mulai bekerja besok saya akan kirimkan alamat apartemen tuan Kanza nanti dan saya juga akan mengirimkan detail tentang pekerjaan dan gaji anda"
Mendengar penjelasan Edo. Rasyi hanya diam dengan wajah datar.
"Baiklah nona, kalau begitu saya akan ke ruangan tuan Kanza"
"boleh saya ikut??
"tentu" jawab Edo dengan senyum
"sebaiknya anda jangan berpikir aneh-aneh saya hanya akan mengambil tas saya saja yg masih ada diruangan tuan Kanza" jelas Rasyi,
"Baiklah nona, ayo" ajak Edo
"kalau begitu anda langsung keruangan tuan duluan saja nona. saya akan kebawah untuk membeli bubur untuk tuan"
Rasyi hanya mengangguk. dengan perintah Edo. saat sudah sampai dilantai ruangan Kanza Rasyi keluar lift. dan Edo kembali turun menuju loby untuk membeli bubur untuk tuan Kanza,
Masuk ke dalam ruangan, namun terlihat Kanza masih tertidur Rasyi kembali memeriksa kening nya, tapi saat di sentuh ternyata masih terasa panas,
"Kenapa panasnya tidak turun juga" ucap Rasyi pelan. dengan memandang lekat wajah Kanza.
happy reading😊
mampir juga yuk keceritaku
RAIN BUKAN HUJAN
terimakasih