Spin Off dari novel Pernikahan Paksa Sang Pewaris. Visual berada di part 14.
Angel dihantui oleh rasa penasaran saat menerima surat dan paket dari seseorang yang misterius. Namun dia tak bisa menemukan petunjuk apapun tentang orang tersebut. Dan akhirnya mau tidak mau Angel mengabaikannya saja.
Hingga suatu malam dia ditolong oleh seorang pria yang dia yakini adalah sosok misterius itu. Benarkah itu adalah pria yang selama ini Angel sebut sebagai peneror dirinya?
Temukan semua jawaban atas pertanyaan dalam benak kalian di sini.
Diusahakan update setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desi Manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 12 - Mimpi Buruk
Jadilah bagian dari mimpi indah yang ingin selalu kulihat dalam tidurku, bukan mimpi buruk yang selalu ingin kuhindari.
🌷Happy Reading🌷
"Jeremy Scott," panggil seseorang dengan pangkat cukup tinggi dengan suara tegas.
Kontan Jeremy langsung bangkit dari duduknya. Belum sempat pria paruh baya yang merupakan atasan pria itu menyampaikan apapun, Jeremy langsung melepas kalung anggota serta merobek paksa tiap lambang yang berada di baju seragam miliknya dengan paksa.
"Aku muak dengan aturan dan aku juga muak dengan kalian semua. Kalian selalu mengutamakan perintah, perintah dan perintah tanpa tahu bagaimana nasib warga sipil di lapangan. Aku muak dengan kalian yang bermuka dua. Visi misi kalian untuk melindungi negara dan tiap warga negara hanyalah omong kosong belaka. Aku, Jeremy Scott, mengundurkan diri dari posisi yang kumiliki mulai saat ini!"
Jeremy berkata dengan lantang. Dia meletakkan barang-barang yang dia cabut paksa dari tempatnya dengan sedikit keras hingga menimbulkan suara layaknya gebrakan meja.
Orang-orang yang berada dalam ruangan itu tampak kaget. Seorang agen yang tidak memiliki jabatan tinggi sungguh berani bertindak seperti itu di hadapan para petinggi.
"Kau..." Atasan Jeremy yang tadinya akan memberi informasi tentang sanksi berat berupa skorsing serta tidak menerima gaji sama sekali menggeram. Pria itu menunjuk tepat di wajah Jeremy. Wajahnya berubah merah padam.
"Aku sudah bukan bawahan Anda lagi, tidak ada gunanya Anda memasang wajah seperti itu. Aku tidak merasa segan apalagi takut. Oh iya, ini surat pengunduran diriku," ujar Jeremy sambil mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam sakunya. Dia letakkan juga surat tersebut di atas meja.
Bahasa Jeremy memang berubah menjadi tidak terlalu formal. Dia menggunakan kata aku bukan saya. Namun rupanya hatinya tak sanggup untuk memanggil mantan sang atasan dengan sebutan kau. Masih tersisa sedikit kesopanan untuk mantan atasan walau tidak ada lagi respect yang tersisa.
"Agen Jeremy Scott, minta maaf sekarang juga!" perintah pria paruh baya itu dengan tegas. Sorot matanya memancarkan aura permusuhan yang terasa kental.
Jeremy malah terlihat pura-pura tidak dengar. Kedua matanya memandang langit-langit ruangan.
"Agen Jeremy Scott!" panggil pria itu lagi setengah berteriak. Merasa harga dirinya sebagai seorang atasan suda diinjak-injak oleh agen biasa seperti Jeremy.
"Aku ini tidak tuli. Anda tidak perlu teriak-teriak begitu."
"Minta maaf sekarang selagi aku masih berbaik hati padamu!"
Jeremy tergelak. "Maaf? Hahaha. Apa kalian bahkan mengatakan maaf pada keluarga korban yang harus menderita karena kehilangan orang yang terkasih? Apa kalian merasa bersalah pada korban karena nyawa mereka terbuang sia-sia? Apa kalian pernah memikirkan warga sipil dengan tulus? Aku tidak meminta maaf kepada orang-orang gila jabatan, bermuka dua, dan hanya mementingkan diri sendiri. Kurasa itu sudah cukup jelas. Aku permisi."
Jeremy berbalik. Tangannya terkepal erat. Perasaan dalam hatinya kala itu bercampur aduk. Dia sudah mengorbankan begitu banyak untuk menjadi agen rahasia.
Semuanya. Namun waktu adalah suatu hal paling berharga yang tidak dapat kembali lagi. Masa mudanya yang harusnya dia habiskan dengan keluarga, teman dan orang-orang terkasih harus dia habiskan dengan berlatih, berlatih dan berlatih agar dia layak menjadi seorang agen. Di sisi lain, dia semakin melihat dengan jelas bahwa melindungi warga negara bukanlah prioritas mereka. Prioritas mereka adalah mengikuti perintah, tak kurang dan tak lebih. Hal yang membuat dirinya muak apalagi setelah melihat banyaknya korban tak bersalah yang berjatuhan.
"Mau kemana kau Jeremy Scott? Duduk kembali!" panggil mantan sang atasan dengan penuh amarah.
Jeremy tidak mengindahkan panggilan tersebut. Dia hanya terus berjalan.
"Kau akan menyesal seumur hidup kalau kau berani keluar dari pintu itu!" ancam pria itu bersungguh-sungguh.
Jeremy masih tidak berbalik, bahkan berhenti saja tidak. Perkataan pria itu bagaikan sebuah radio rusak bagi Jeremy.
"Kupastikan kau tidak akan diterima di badan manapun lagi. Camkan itu baik-baik!"
Akhirnya Jeremy pun berbalik. Bibirnya sedikit terangkat ke atas. Senyuman yang tampak sinis dan mencemooh lawan bicaranya.
"Agen rahasia yang dipecat dan mengundurkan diri karena alasan apapun tidak akan diterima lagi di badan pemerintahan mana pun."
Jeremy mengucapkan dengan enteng salah satu peraturan utama yang dimiliki oleh seorang agen rahasia. "Dan Anda pikir aku masih mau bekerja di bawah perintah orang-orang seperti Anda? Aku cukup tahu diri. Tempatku bukanlah di sini. Aku..."
Jeremy sengaja menggantung perkataannya. "Lebih baik daripada kalian yang bermuka dua. Visi misi kalian adalah topeng. Kalian ini adalah oknum negara yang hanya mementingkan diri sendiri," ujar Jeremy dengan senyum yang semakin mengembang di bibirnya. Senyuman mencemooh yang begitu kentara.
Tanpa basa-basi lagi, Jeremy kembali berbalik dan melanjutkan langkah kakinya. Saat akan menggapai daun pintu, terdengar pria itu kembali berbicara.
"Kau akan menyesal atas apa yang kau lakukan hari ini, Jeremy Scott. Kau akan luntang-lantung di jalanan dan menyembah untuk sebuah kata maaf dari kami semua yang berada di dalam ruangan ini."
Jeremy berhenti. Tanpa berbalik, dia menjawab "ya aku akan minta maaf, di dalam mimpi kalian."
Setelah mengatakan hal tersebut, Jeremy membuka pintu lalu menutupnya dengan cukup keras. Cukup keras untuk membuat para petinggi paruh baya di dalam sana sampai terkejut karena debuman pintu.
"Hah hah." Helaan napas Jeremy terdengar cukup keras. Lalu pria itu terbangun dari tidurnya.
Jeremy menyapukan tangan kanan di dahinya. Peluh mengucur deras saat tadi mimpi itu kembali menyapa dalam tidurnya.
"Mimpi buruk lagi Bos?" tanya Ben yang tengah duduk tak jauh dari tempat bosnya tertidur.
Mr.J menegakkan tubuhnya. Matanya berpendar ke sekeliling. Ternyata itu semua hanyalah mimpi. Dia sedang tidak berada di tempat mengerikan itu. Sebaliknya, dia tengah berada dalam gudang tempat dia menjalankan misi.
"Bos..." panggil Ben sekali lagi.
Mr.J hanya menatapnya acuh. "Ya." Jawaban singkat yang dia utarakan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan Ben padanya.
"Bos perlu obat penenang?" tanya Ben sekali lagi.
"Memangnya kau ada bawa?" sahut Mr.J.
Ben menepuk jidatnya sendiri lalu menyengir. "Oh iya, Bos. Tidak bawa."
Mr.J geleng-geleng kepala. Baru bangun saja sudah langsung diuji kesabaran oleh sang asisten.
"Bagaimana nona muda itu? Apa dia rewel?" tanya Mr.J menatap Angel yang meringkuk kurang lebih dua puluh meter darinya dan Ben.
Ben menggeleng pelan. "Tidak, Bos. Nona Angel tampak begitu tenang apalagi setelah makan tadi."
Mr.J menatap Angel dalam. Wanita itu akan segera mereka bebaskan setelah dua puluh empat jam berlalu. Ya paling tidak jangan sampai jangka waktu yang ditentukan agar bisa dilaporkan pada polisi. Untuk kasus orang hilang, biasanya kepolisian akan menerapkan minimal dua kali dua puluh empat jam sebelum dilakukan pencarian.
"Di mataku, nona Angel itu adalah salah satu wanita paling tangguh yang pernah aku temui, Bos."
"Aku tidak bertanya pendapatmu, Ben."
Mr.J meremas wajahnya. Ternyata mimpi buruk itu masih saja mempengaruhi debar jantungnya. Organ pemompa darah itu masih berdebar tak karuan.
--- TBC ---
udah tah kek?
salken from me..