Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Beberapa waktu kemudian, suasana kamar itu kembali sunyi. Edo berbaring di sisi ranjang sambil mengatur napas. Salma berada di sampingnya, masih tersenyum puas. Sesekali perempuan itu menatap Edo seolah tidak ingin malam tersebut berakhir. "Makasih, ya, Do. Kamu bikin aku senang malam ini," ujar Salma sambil menyentuh lengan Edo.
Edo tersenyum. "Sama-sama, Teh." Dalam hati, ia justru sedang menghitung keberhasilan rencananya. "Rekaman sudah ada. Tinggal memastikan semuanya tersimpan dengan baik." Edo melirik sekilas ke arah ponselnya yang ia letakkan di tempat tersembunyi. Ia menahan senyum. Satu juta rupiah yang dijanjikan Ohang sudah terbayang di kepalanya.
"Do..." Salma kembali memeluk lengan lelaki itu. "Kamu jangan pulang dulu."
Edo menoleh. "Kenapa, Teh?"
"Temenin aku sampai pagi."
Edo pura-pura berpikir. Padahal sejak awal ia memang sudah berencana pulang malam itu.
"Jangan, deh. Besok aku harus kerja. Kalau aku ketahuan warga menginap di sini, malah panjang urusannya."
Wajah Salma langsung berubah kecewa. "Sebentar saja, Do."
"Maaf, Teh. Lain kali saja."
Salma mengembuskan napas kecewa. "Kamu tega meninggalkan aku secepat ini."
Edo mengusap bahu Salma, berusaha mempertahankan peran sebagai lelaki yang sedang jatuh cinta. "Bukan begitu. Aku juga sebenarnya masih ingin di sini. Tapi kita harus hati-hati. Aku nggak mau hubungan kita malah diketahui orang."
Salma akhirnya mengangguk. "Iya. Kamu benar."
Edo segera bangkit dari ranjang. Ia mengambil pakaiannya, lalu melirik sekali lagi ke arah ponsel yang digunakan untuk merekam. "Aman." Ia menahan senyum puas. "Yes! Berhasil! Uang satu juta akan menjadi milikku!" soraknya masih dalam hati.
Salma masih duduk di tepi ranjang. "Besok kabari aku, ya?"
"Pasti." Edo mendekat dan mengecup kening Salma sekilas. "Jangan khawatir. Aku nggak akan lupa sama Teteh."
Salma memeluk Edo sebentar, "Sekali lagi makasih untuk malam ini."
______
Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika akhirnya pekerjaan Mia selesai. Ia mematikan mesin jahit, merapikan potongan kain yang masih tersisa di atas meja. Tubuhnya terasa pegal setelah seharian bekerja, tetapi ia berusaha tidak mengeluh.
Mia kemudian berjalan keluar dari area produksi ke loker untuk mengambil tasnya. Ia pun keluar bersama Neneng menuju gerbang pabrik.
"Mi, kamu mau pulang naik apa?" tanya Neneng sambil membetulkan tali tas di bahunya.
"Nggak tahu, Teh. Palingan naik angkot, itu pun kalau masih ada."
"Kalau sudah nggak ada?" Neneng menoleh.
Mia terdiam sejenak. "Naik ojek, kali," jawabnya akhirnya. Itu hanya dusta kecil. "Aku kayaknya jalan kaki aja deh sampai seperempat jalan. Mudah-mudahan di jalan besar masih ada angkot. Kalau naik ojek dari sini, uangku pasti nggak bakal cukup sampai minggu depan," batinnya.
"Oh, oke." Neneng mengangguk santai. Baru berdiri dua menitan di depan gerbang, mata wanita berambut ikal itu tiba-tiba berbinar. "Eh, itu suami dan anakku sudah datang menjemput!" Neneng menunjuk ke arah depan. Seorang lelaki yang mengendarai motor matic tampak melaju mendekati gerbang. Di depannya terlihat seorang anak laki-laki kecil berumur sekitar empat tahunan yang duduk dengan tenang. Neneng langsung melambaikan tangan. "Aku duluan, ya, Mi!"
"Iya, Teh." Mia ikut melambaikan tangan sambil tersenyum.
Neneng kemudian menghampiri suami dan anaknya. Tidak lama kemudian, ketiganya pergi meninggalkan kawasan pabrik.
Mia berdiri sendirian di depan gerbang. Ia celingak-celinguk ke kanan dan kiri. Sama seperti beberapa hari lalu ketika lembur membantu line delapan, suasana di sekitar kawasan industri mulai sepi. Beberapa kendaraan masih melintas, tetapi angkot yang biasanya mudah ditemukan sudah tidak terlihat satu pun.
Mia mengembuskan napas panjang.
"Padahal masih jam sembilan, tapi angkot sudah nggak ada." Ia memandang jalan di depannya. "Hah! Selalu saja seperti ini." Ia teringat Edo, tapi tak mungkin suaminya itu mau menjemput. "Bismillah..." Mia mempererat pegangan pada tasnya, kemudian mulai berjalan meninggalkan gerbang.
Baru beberapa langkah, suara klakson motor terdengar dari belakang. Mia spontan menghentikan langkah. Sebuah motor melambat tepat di belakangnya. Lampu depannya menyorot tubuh Mia hingga membuat perempuan itu menyipitkan mata.
Pengendara tersebut kemudian mematikan lampu jauh dan berhenti di sebelah Mia.
Mia mengenali sosok itu. "A Iki?" panggilnya memastikan.
"Teh!" Rifki tersenyum lebar. Ia segera membuka helmnya. "Teteh baru pulang?"
"Iya, A." Mia memperhatikan Rifki sebentar. Lelaki itu tampak masih mengenakan pakaian kerja. "A Iki juga baru pulang?"
"Iya."
"Lho, bukannya shift pagi?"
Rifki tertawa kecil. "Iya, Teh. Tapi tadi ada sedikit masalah di OW. Supervisor minta para leader jangan dulu pulang."
"Ohh..." Mia membulatkan bibir. "Ya, ya."
Rifki tersenyum sebelum kemudian memperhatikan Mia dari atas sampai bawah. "Teteh kok jalan kaki?"
Mia ikut melihat ke arah jalan. "Iya, A. Tadinya aku mau naik angkot. Tapi ternyata sudah nggak ada."
"Terus Teteh mau pulang jalan kaki?"
Mia mengangguk canggung. "Iya."
Rifki mengernyit. "Jalan kaki sampai kontrakan?"
Mia terkekeh kecil. "Ya enggak lah, A. Paling sampai minimarket di depan sana." Ia lagi-lagi terpaksa berdusta, malu kalau harus jujur pada Rifki, bahwa dirinya mau jalan kaki sampai seperempat jalan supaya bayar ongkos ojeknya nanti tidak terlalu mahal.
Rifki hendak menyahuti, tetapi tiba-tiba terdengar suara guntur menggelegar dari kejauhan. Guruhnya cukup keras sampai membuat Mia spontan menengadah. Wajah Rifki langsung berubah serius. "Mending Teteh pulang bareng aku aja, yuk?"
Secepat kilat Mia menggeleng. "Nggak usah, A. Terima kasih."
"Nanti keburu hujan, Teh." Rifki menunjuk langit yang mulai dihiasi kilat. "Ayo!" ajaknya lagi.
Mia terdiam. Beberapa detik kemudian, angin malam berembus lebih kencang. Ujung kerudung Mia bergerak tertiup angin.
Rifki kembali membujuk. "Hayu, Teh!"
Mia menggigit bibir bawahnya. "Tapi aku malu, A. Tadi pagi aku sudah merepotkan Aa dengan ikut nebeng naik motor Aa. Masa sekarang juga nebeng lagi?"
Rifki terkekeh kecil. "Ya Allah... Teh." Geleng-geleng kepala Rifki. "Aku tidak merasa direpotkan kok. Kita kan tetanggaan. Sudah seharusnya saling membantu."
Mia menunduk sesaat. Demi apa pun, ia sungguh merasa tidak enak, tetapi melihat langit yang semakin dipenuhi kilat membuatnya akhirnya mengangguk. "Ya sudah kalau begitu."
Rifki tersenyum lega. "Nah, begitu dong." Ia mengambil helm yang tadi pagi dipakai Mia. Helm berwarna biru muda itu langsung disodorkan kepada Mia. "Ini, Teh. Pakai."
Mia menerima helm tersebut. "Terima kasih, A."
"Sama-sama."
Mia memasang helm di kepalanya, kemudian mengancingkan talinya dengan hati-hati.
Sementara itu, Rifki kembali mengenakan helmnya. Setelah memastikan Mia sudah siap, ia menyalakan mesin motor. "Naik, Teh."
"Iya." Mia naik ke jok belakang dengan menjaga jarak secukupnya.
Rifki menoleh sedikit. "Pegangan, Teh."
"Iya, A." Seperti tadi pagi, Mia memegang ujung jaket Rifki.
Motor pun perlahan bergerak meninggalkan kawasan pabrik.
Tanpa mereka ketahui, sejak tadi, ada seseorang yang melihat adegan itu dengan napas memburu dan gigi yang saling begemeletak. "Kurang ajar!" desisnya. "Katanya tadi nggak sengaja berangkat bareng, tapi sekarang kok malah pulang bareng lagi! Dasar perempuan munafik!"
digsntung pula
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪