Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6,1
Kemudian, setelah tiga gerakan itu selesai, Yamada bergerak.
Swish!
Pedang kayu melesat di udara, dengan suara yang agak berantakan. Gerakannya masih kaku, terlalu banyak menggunakan tenaga lengan, sehingga keseimbangannya goyah dan dia hampir jatuh ke depan.
Elena berkedip, sedikit menahan tawa.
"Coba lagi. Jangan pakai lengan saja. Pakai pinggangmu. Putar pinggangmu."
Yamada mengulangi, kali ini mencoba memutar pinggang seperti yang dikatakan Elena.
Kali kedua lebih baik. Suara tebasannya lebih bersih.
Ketiga lebih baik lagi. Kakinya tidak goyah.
Keempat—
Duk!
Pedang kayu Yamada menghantam tepat di bagian tengah boneka latihan, di bagian dada yang terbuat dari jerami yang diikat kencang. Jerami itu bergetar.
Elena terdiam, matanya sedikit melebar.
Yamada menatap boneka itu, lalu menatap pedang kayunya sendiri, dengan ekspresi datar.
"Begitu? Benar seperti ini?"
Elena menatapnya, dari pedang kayu ke wajah Yamada, dengan ekspresi tidak percaya yang mulai tumbuh.
"Kau..." Dia berkata pelan.
"Apa? Salah?"
"Sejak kapan kau bisa seperti itu? Sejak kapan kau bisa memukul tepat di tengah seperti itu? Selama ini kau selalu memukul meleset, kena bahu boneka atau malah kena tiang penyangganya."
Yamada mengangkat bahu, dengan gerakan yang sangat Yamada sekali.
"Baru belajar. Barusan. Kau yang mengajari."
"Baru belajar?" Elena mengulang, suaranya naik satu oktaf. "Baru belajar lima menit langsung bisa mengayun sebersih itu? Kau bercanda?"
Yamada memandang tangannya sendiri yang memegang pedang kayu. Tangannya sedikit bergetar karena belum terbiasa.
[Skill acquired.]
Suara yang sudah tidak asing lagi muncul di kepalanya.
[Basic Swordsmanship Lv.1]
[Proficiency: 12%]
Yamada tersenyum tipis. Senyum yang hanya dia mengerti artinya.
Jadi begini cara kerja sistem. Semakin dia melakukan sesuatu, semakin sistem memberikan angka dan skill.
Dia menyerang lagi, dengan semangat yang baru, semangat untuk melihat angka itu naik, karena angka yang naik itu seperti game, dan game itu sedikit mengusir rasa malas.
Duk!
Proficiency berubah di sudut penglihatannya.
[Proficiency: 18%]
Serangan berikutnya, tebasan horizontal yang dia tiru dari Elena.
Duk!
[Proficiency: 24%]
Yamada berhenti sejenak, mengatur napas.
"Semakin sering digunakan, semakin meningkat. Seperti... seperti mengasah pisau. Semakin sering dipakai, semakin tajam, asal tahu cara mengasahnya."
Elena mengira dia sedang berbicara kepadanya, menjelaskan teknik pedang.
"Apa? Apa yang meningkat?" Tanyanya bingung.
"Tidak. Tidak ada. Aku bicara dengan pedangnya." Jawab Yamada ngasal.
Yamada kembali menyerang, kali ini gerakannya jauh lebih halus, jauh lebih efisien. Dia tidak lagi membuang tenaga dengan mengangkat pedang terlalu tinggi.
Elena mulai serius memperhatikannya, tidak lagi dengan tatapan seorang guru pada muridnya, tapi dengan tatapan seorang rival yang melihat bakat aneh.
Dalam waktu kurang dari satu jam, gerakan Yamada telah berubah drastis. Dari kaku seperti robot berkarat, menjadi mengalir seperti air.
Dia tidak hanya meniru gerakan Elena.
Dia mulai memperbaiki sendiri gerakan itu, mencari jalan pintas yang paling malas tapi paling efektif.
"Kalau pusat gravitasi dipindahkan sedikit ke depan... sekitar dua sentimeter..." Gumamnya pelan sambil mengubah posisi kaki kirinya sedikit.
"...maka tenaga serangan meningkat tanpa harus menambah tenaga ayunan. Hemat energi."
Dia mencoba.
Duk!
Boneka kayu yang tadi hanya bergetar, kini bergeser sedikit ke belakang karena benturan yang lebih keras. Jerami di bagian tengahnya mulai rontok.
Elena membuka mulutnya, tidak bisa berkata apa-apa.
"Yamada."
"Hm?" Yamada menoleh, sambil mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan.
"Kau benar-benar aneh. Aneh banget. Bukan aneh yang jelek, tapi aneh yang... yang tidak masuk akal."
Yamada menghela napas, menurunkan pedang kayunya.
"Orang lain juga bilang begitu. Di kehidupan sebelumnya juga."
Setelah latihan selesai— lebih tepatnya setelah Elena menyerah karena lelah memperhatikan Yamada yang semakin lama semakin efisien dan malah membuat Elena yang kelelahan— Yamada kembali ke kamar dengan tubuh yang berkeringat dan sedikit pegal, tapi dengan perasaan puas yang aneh.
Dia menutup pintu, menguncinya lagi, dan membuka status sistemnya, dengan perintah di dalam hati.
[STATUS]
Name: Yamada
Age: 15
Race: Human
Level: 1
HP: 100/100
MP: 82/100
Strength: 11 (+2)
Agility: 13 (+3)
Intelligence: ??? (Hidden by trait)
Luck: 7
Skills:
• Basic Magic Analysis Lv.1 (Proficiency 15%) • Basic Swordsmanship Lv.1 (Proficiency 31%)
Unique Trait:
• Lazy Genius - Active
Soul Synchronization: 68%
Yamada menatap angka terakhir itu dengan kening berkerut. Angka yang paling penting.
"Turun."
Kemarin sore 71%. Tadi pagi saat bangun masih 70%. Sekarang 68%.
Apa artinya? Suara Yamada yang asli bertanya, dia juga bisa melihat status itu sekarang, karena sinkronisasi mereka semakin dalam.
Yamada tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Dia hanya menatap sistem, dengan tatapan curiga.
"Kalau terus turun seperti ini..." Dia menghitung cepat di dalam kepalanya, dengan kemampuan matematika yang masih terbawa dari kehidupan sebelumnya. "Tiga persen dalam satu hari. Kadang dua persen. Jika penurunannya stabil, tidak naik turun..."
Dia menghitung dengan jari di udara.
"Kurang dari sebulan. 28 atau 29 hari, seperti yang sistem bilang kemarin. Sama dengan hitungan Emergency Quest tadi."
Jadi kita benar-benar akan mati? Atau salah satu dari kita akan hilang? Tanya suara itu lagi, dengan nada takut yang kembali.
Yamada terdiam, menatap angka 68% yang berkedip pelan, seolah-olah mengejeknya.
Kemudian dia tersenyum. Senyum tipis, tapi kali ini senyum yang penuh tekad, bukan senyum pasrah.
"Belum tentu."
Kenapa? Bukankah sistem sudah bilang begitu?
"Karena sistem mengatakan kemungkinan. Probabilitas. Estimasi. Dia bilang 'Estimated synchronization failure: 29 days'. Estimasi bukan vonis. Kemungkinan bukan kepastian. Selama itu masih kemungkinan, masih ada celah untuk mengubahnya. Dengan cara paling malas sekalipun."
Yamada menutup status itu.
"Aku belum pernah suka menyerah. Menyerah itu butuh usaha untuk menerima kekalahan. Lebih mudah mencoba bertahan."
Kesadaran kedua terdiam. Lama. Suara napasnya pun tidak terdengar di dalam kepala.
Kemudian terdengar suara kecil, sangat kecil, hampir seperti bisikan, tapi penuh ketulusan.
Terima kasih.
Yamada yang sedang mengambil handuk untuk mengelap keringat, berhenti.
"Untuk apa?"
Karena kau tidak mencoba mengusirku. Dari kemarin, kau bisa saja mencoba mengambil alih sepenuhnya. Kau lebih pintar, kau lebih kuat, sistem bahkan bilang kau adalah Primary Soul. Tapi kau tidak melakukannya. Kau malah mengajakku berdiskusi, mengajakku kesepakatan.
Yamada terdiam. Dia tidak menyangka akan mendengar ucapan terima kasih seperti itu dari jiwa yang seharusnya menjadi saingannya memperebutkan satu tubuh.
"Kita berada dalam tubuh yang sama." Jawabnya akhirnya, dengan suara pelan.
Dia melihat tangannya sendiri, tangan yang berkeringat karena latihan pedang.
"Kalau kau hilang, aku juga mungkin tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh ini. Aku butuh ingatanmu. Aku butuh pengetahuanmu tentang desa ini, tentang ayah, ibu, Elena, tentang Hutan Elaria. Tanpa kamu, aku hanya orang asing yang tersesat di dalam tubuh orang lain."
Jadi kau hanya membutuhkanku? Karena butuh informasi? Jadi aku cuma ensiklopedia berjalan bagimu? Suara itu bertanya, dengan nada sedikit merajuk, seperti teman yang tersinggung.
"Untuk sekarang, ya. Untuk sekarang aku butuh ensiklopedia berjalan yang bisa menjelaskan kenapa Elena marah kalau aku malas latihan." Jawab Yamada jujur.
...Kau benar-benar tidak romantis. Tidak peka sama sekali.
Yamada tertawa kecil, tawa pertama yang benar-benar lepas sejak dia bereinkarnasi.
"Aku baru mati beberapa hari lalu dan bereinkarnasi jadi anak 15 tahun dengan dua jiwa. Romantis adalah hal terakhir yang ada di dalam daftar prioritas kemalasanku."
Itu alasan?
"Ya. Alasan paling jujur yang pernah kubuat."
Malam kembali tiba dengan cepat. Desa menjadi sunyi. Lampu-lampu minyak di rumah-rumah mulai dipadamkan satu per satu.
Yamada sedang duduk di meja belajarnya, membaca buku sejarah lagi, mencoba mencari informasi lebih banyak tentang Hutan Elaria dan tentang "Mata" yang disebutkan di dalam buku, ketika tiba-tiba— seluruh lampu minyak di kamarnya berkedip.
[Ding!]
Suara sistem muncul, tapi kali ini bukan bunyi 'ding' yang pelan dan informatif. Bunyinya keras, melengking, seperti alarm bahaya.
Sistem muncul dengan warna merah darah, menutupi seluruh penglihatannya, berkedip-kedip.
[Emergency Quest detected.]
[Priority: CRITICAL]
Yamada mengangkat alis, jantungnya langsung berdebar kencang.
[Emergency Quest: Survive.]
Objective: Survive until sunrise.
Time remaining: 8 hours 00 minutes.
Reward: System synchronization +5%. Soul Stability +10%.
Failure: Death. Permanent erasure of both souls.
Yamada berdiri dengan cepat, kursinya terjatuh ke belakang dengan suara keras.
"Apa? Survive? Bertahan hidup? Dari apa?"
Seolah-olah menjawab pertanyaannya, suara langkah kaki terdengar dari luar rumah. Bukan langkah kaki manusia.
Satu. Berat, menyeret.
Dua. Lebih berat, dengan cakar yang menggores tanah.
Tiga. Banyak. Puluhan langkah kaki yang bergerak bersamaan, mengelilingi rumah.
Yamada membuka jendela kamarnya dengan cepat, mengabaikan udara dingin malam.
Di kejauhan, di balik pepohonan di perbatasan desa, di arah Hutan Elaria—
sepasang mata merah menyala dalam kegelapan. Seperti bara api kecil yang melayang di udara.
Kemudian satu lagi muncul di sebelahnya. Dan satu lagi di sebelahnya lagi. Dan satu lagi.
Puluhan cahaya merah, sepasang demi sepasang, muncul dalam kegelapan malam, seperti kunang-kunang yang terbuat dari darah. Mereka bergerak pelan, tapi pasti, mendekati cahaya desa.
Suara geraman rendah terdengar, membuat bulu kuduk Yamada berdiri. Geraman lapar, geraman buas yang bukan berasal dari hewan biasa.
Yamada menatap mereka, dengan napas tertahan.
"Monster? Serangan monster? Malam ini?"
Kesadaran kedua, Yamada yang asli, tiba-tiba berteriak di dalam kepalanya, dengan suara yang penuh ketakutan murni, ketakutan yang berasal dari ingatan yang paling dalam, trauma yang terkubur.
YAMADA! TUTUP JENDELAMU! KUNCI PINTU! JANGAN BIARKAN MEREKA MASUK! JANGAN BIARKAN MEREKA MENCIUM BAU KITA!
"Apa? Kenapa? Apa mereka berbahaya?" Yamada bertanya cepat, sambil menutup jendela tapi tetap mengintip dari celah kecil.
Jangan biarkan mereka masuk!
"Kenapa? Jelaskan!"
Kesadaran itu terdiam sepersekian detik, lalu suaranya berubah menjadi ketakutan yang begitu nyata hingga Yamada bisa merasakan tubuhnya sendiri gemetar, bukan karena dingin, tapi karena ketakutan milik orang lain.
Karena aku mengenal mereka. Aku mengenal mata merah itu. Aku melihatnya di hutan.
Yamada menatap makhluk-makhluk bermata merah di luar yang semakin mendekat, geramannya semakin keras.
"Apa mereka? Apa nama mereka?"
Jawabannya membuat seluruh tubuh Yamada, kedua jiwa di dalamnya, membeku seketika, darahnya berhenti mengalir.
Monster yang membunuh semua orang di Hutan Elaria. Monster yang seharusnya tidak pernah bisa keluar dari hutan. Mereka... mereka datang untuk menjemputku. Atau menjemputmu. Mereka tahu kita ada di sini.
Pada saat yang sama, jendela sistem di depan Yamada berubah lagi, menampilkan informasi musuh dengan warna merah yang berkedip-kedip cepat.
[Enemy detected: Elaria Shadow Wolf - Pack]
[Number: 27]
[Average Level: 18]
[Warning.]
[Enemy level significantly exceeds host level. Host Level: 1. Enemy Level: 18.]
[Survival rate: 12%]
Yamada menelan ludah. Tenggorokannya kering.
Untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi, sejak dia mati konyol ditabrak truk, sejak dia harus berbagi tubuh dengan orang asing—
dia benar-benar merasa bahwa kehidupan keduanya, yang baru berumur tiga hari, berada dalam bahaya yang nyata, bahaya yang tidak bisa diselesaikan dengan bermalas-malasan.
Dan di luar sana, di balik kegelapan...
sesuatu yang besar, sesuatu dengan mata merah yang jauh lebih besar dari yang lain, mulai mendekati rumahnya dengan langkah yang membuat tanah bergetar pelan.