Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11. PERMAINAN DIBALIK DAPUR
H-5 sebelum hari pernikahan kilat itu digelar, suasana di kediaman keluarga cabang tampak ramai. Sanak saudara dan kerabat jauh mulai berdatangan. Azka dan keluarganya begitu sibuk menyambut tamu dengan topeng kesantunan mereka.
Di tengah riuk pikuk itu, Aira mendapati sosok yang selama dua minggu ini sangat ia rindukan: Paman Rizky. Pria itu terpaksa hadir atas permintaan langsung Nenek Dina demi memastikan segala urusan logistik dan keamanan keluarga besar berjalan lancar.
Saat Rizky melangkah terpisah menuju area dapur bersih yang sepi untuk mengambil segelas air, Aira menangkap kesempatan itu.
Tanpa membuang waktu, ia membuntutinya dari belakang, menyelinap cepat sebelum orang lain menyadari.
Klik. Aira merapatkan pintu geser dapur, menguncinya tipis dari dalam.
Rizky yang baru saja menuangkan air dingin ke dalam gelas kristal tersentak pelan ketika merasakan sepasang lengan halus tiba-tiba melingkar erat dari belakang pinggangnya. Aroma harum tubuh Aira yang begitu intim langsung merayap masuk ke indra penciumannya.
"Paman..." bisik Aira serak di balik punggung tegap Rizky, menyapukan napas hangatnya tepat di tengkuk pria itu hingga membuat bulu kuduk Rizky meremang hebat.
Rizky membeku. Otot-otot tubuhnya menegang seketika. Dua minggu berusaha menahan diri dan mengabaikannya mendadak runtuh hanya dalam satu sentuhan berani wanita ini.
Rizky memutar tubuhnya dengan cepat, berniat memprotes, namun Aira justru makin gencar. Wanita itu memajukan tubuhnya, menatap lurus mata Rizky yang membara, lalu mengikis jarak hingga bibir mereka menyatu.
Sebuah ciuman yang hebat, dalam, dan membakar seketika terjadi di antara mereka.
Rizky yang awalnya mencoba menolak, akhirnya menyerah pada godaan Aira. Tangan besarnya mencengkeram pinggang Aira, menarik tubuh wanita itu makin rapat, membalas ciuman tersebut dengan gairah dan keputusasaan yang tertahan selama dua minggu.
Namun di tengah ciuman yang kian memanas dan napas yang makin memburu—
Langkah kaki mendekat.
Suara tawa Azka terdengar jelas dari luar lorong dapur, disertai suara dering telepon yang tersambung.
Aira serta-merta menghentikan aksi ciuman hebat itu. Dengan sigap, ia mendorong dada Rizky dan menarik pria berbadan tegap itu untuk menunduk sembunyi bersama di balik meja kitchen set yang tinggi dan gelap.
Rizky sempat mengernyit bingung, namun Aira meletakkan satu jarinya di atas bibirnya sendiri, memohon diam.
Pintu geser dapur sedikit berderit ketika Azka melangkah masuk sambil menerima panggilan telepon. Pria itu tidak menyadari ada dua orang yang tengah bersembunyi menahan napas hanya beberapa senti di bawah meja konter dapur.
"Halo, Rani? Iya, ini aku," tawa Azka terdengar begitu meledak dan menyebalkan. "Kamu tenang saja, Sayang. Besok semua sandiwara ini selesai. Kamu harus lihat betapa bodohnya Aira! Dia benar-benar percaya kalau aku sudah bertobat dan sangat mencintainya. Dia tersenyum manis terus dari kemarin!"
Dari sebalik telepon, suara tawa Rani terdengar samar namun jelas.
Azka melanjutkan dengan nada sangat sinis,
"Dia pikir dia akan resmi jadi istriku dan menguasai warisan? Jalang konyol itu tidak tahu kalau besok aku sudah menyiapkan surat nikah palsu! Secara hukum kita tidak pernah menikah, tapi seluruh dokumen aset pribadinya sudah sah berpindah tangan ke aku malam ini. Setelah itu, kita tinggal buang dia!"
Mendengar pengakuan licik dan menjijikkan itu, mata Rizky berkilat penuh amarah yang mematikan. Rahang tegasnya mengeras kaku, dan tangannya mengepal erat hingga urat-urat di punggung tangannya hampir pecah.
Rizky hendak berdiri untuk meremukkan leher keponakannya saat itu juga, namun Aira dengan cepat menahan dada Rizky dan menggelengkan kepala gelisah, memohon agar pria itu menahan diri.
Azka mengambil botol minuman dari kulkas kecil di sudut dapur, lalu berjalan keluar sambil tertawa puas menutup teleponnya.
Begitu pintu dapur benar-benar tertutup rapat dan suasana kembali hening, Aira menghela napas lega.
Tanpa membuang waktu dan tanpa memberi Rizky kesempatan untuk memproses emosinya, Aira langsung menarik kerah kemeja Rizky dan kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir pria itu.
Ciuman kali ini jauh lebih gila, penuh gairah, dan pekat akan luapan emosi yang saling memburu. Rizky meluapkan seluruh amarah dan gairahnya yang terkunci, melumat bibir Aira dengan intensitas yang membuat dada mereka kempas-kempis.
Setelah beberapa saat saling menguras energi hingga keduanya kehabisan napas, Aira melepaskan pagutan itu perlahan.
Jemarinya yang gemetar menyapu lembut bibir Rizky yang basah dan memerah.
Aira mendongak, menatap manik mata elang Rizky yang masih dipenuhi gejolak emosi, lalu tersenyum tipis nan memikat.
"Sekarang Paman sudah tahu?" bisik Aira dengan nada suara yang tenang namun sarat akan dominasi. "Kenapa saya berbuat seperti ini selama dua minggu terakhir?"