Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Deru badai salju di perbatasan utara perlahan-lahan mereda, menyisakan hamparan putih yang ternoda oleh jelaga hitam sisa-sisa pertempuran panjang. Di dalam tenda komando utama yang beraroma besi dan kayu bakar basah, kemenangan besar akhirnya resmi dideklarasikan. Pasukan kekaisaran di bawah kepemimpinan mutlak Jenderal Damian Valerius berhasil mematahkan benteng terakhir faksi pemberontak dan mengamankan wilayah strategis utara sepenuhnya.
Namun, di tengah keheningan malam pasca-perang yang melelahkan, perhatian sang Jenderal tidak lagi tertuju pada peta strategi militer atau laporan jumlah tawanan perang.
Di sudut tenda peristirahatannya yang hangat, duduk seorang wanita muda berbalut gaun sutra bangsawan berwarna gading pucat—Putri Mahkota Elaina Valancaster. Sebagai sandera politik bernilai tinggi dari keluarga kerajaan utara yang kalah, Elaina memperlihatkan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada tangisan histeris, tidak ada tatapan penuh kebencian, ataupun amukan layaknya kaum bangsawan yang kehilangan takhta. Wanita itu duduk dengan postur tubuh yang anggun dan santun, jemarinya yang lentik merapikan selimut tipis di atas bahu dayangnya yang tertidur kelelahan.
Damian, yang berdiri menyandar pada tiang kayu tenda sambil melipat tangan di depan dada bersarung kulit hitamnya, mengamati wanita itu dalam diam.
"Anda tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan para pelayan Anda, Yang Mulia," suara rendah Damian memecah keheningan tenda, datar namun tidak bernada mengancam. "Selama mereka berada di bawah perlindungan panji Valerius, tidak ada seorang pun yang akan menyentuh sehelai pun rambut mereka."
Elaina mendongak perlahan. Sepasang manik mata safir jernih miliknya menatap langsung ke arah sang Jenderal. Wanita itu tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kesopanan, kelembutan, dan ketulusan yang memancarkan aura bangsawan sejati yang lahir dari garis keturunan murni istana besar.
"Terima kasih, Jenderal Valerius," jawab Elaina dengan suara lembut yang merdu, nyaris berbisik namun terdengar begitu jelas di dalam ruangan yang sunyi. "Kehormatan besar bagi kami bisa diperlakukan dengan adil, di tengah dunia yang terbiasa menyelesaikan segalanya dengan ujung pedang."
Damian tertegun sejenak. Ada sesuatu di dalam cara bicara wanita itu—sebuah kehalusan budi bahasa, ketenangan emosional, dan kepatuhan yang tidak dibuat-buat—yang menyeret pikirannya entah bagaimana melayang jauh ribuan mil ke selatan.
Seketika itu juga, bayangan wajah seorang wanita berambut kecokelatan dengan manik mata hijau yang belepotan tepung di dapur belakang Kediaman Valerius melintas begitu saja di dalam kepalanya. Aurelia. Istrinya yang aneh, yang selama berbulan-bulan selalu menunjukkan ketakutan setengah mati, yang memilih menguleni adonan roti murah daripada menuntut permata, dan yang menghilang tanpa jejak tepat di hari keberangkatannya ke medan perang.
Damaina serta-merta menggelengkan kepalanya pelan, menghalau bayangan itu dari benaknya. Alis tebal pria itu bertaut tajam dalam kebingungan batin yang asing.
Kenapa aku tiba-tiba membandingkan mereka? batin Damian bertanya pada dirinya sendiri dengan nada ketus yang ditujukan pada kelemahan pikirannya sendiri.
Aurelia adalah wanita egois, manipulatif, dan arogan yang selama ini menjadi beban di dalam kastilnya. Sedangkan Elaina adalah seorang putri mahkota yang terpelajar, anggun, dan menguasai etika istana tingkat tinggi dengan sempurna. Membandingkan keduanya adalah hal yang tidak masuk akal, sebuah bentuk distraksi konyol yang tidak seharusnya singgah di kepala seorang panglima perang berpengalaman.
Namun, semakin Damian mencoba menepisnya, kehadiran Elaina di hadapannya justru menawarkan sebuah kontras yang sangat kontras dengan kekacauan domestik yang biasa ia hadapi di rumah.
Elaina tidak pernah meninggikan suara. Elaina tidak pernah melemparkan tatapan penuh teror atau mencoba menyembunyikan rahasia busuk di balik senyuman palsu. Setiap gerak-gerik wanita utara itu memancarkan kedamaian yang terasa menyejukkan di tengah kerasnya kehidupan militer.
"Anda tampak lelah, Jenderal," ucap Elaina lembut, membuyarkan lamunan Damian. Wanita itu dengan sopan menuangkan secangkir teh herbal hangat dari kendi tanah liat ke atas meja kecil, lalu mendorongnya perlahan ke arah Damian. "Udara malam di perbatasan ini bisa membekukan darah siapa saja, bahkan seorang pahlawan perang sekalipun."
Damian menatap cangkir teh yang terulur di hadapannya, lalu beralih menatap manik mata safir Elaina yang memancarkan perhatian tulus. Tanpa sadar, jemarinya terulur mengambil cangkir tersebut. Kehangatan cairan herbal itu merambat melalui kulit sarung tangannya, memberikan sensasi nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan di tengah dinginnya kamp militer.
"Terima kasih," kata Damian singkat, meneguk teh itu perlahan.
Elaina kembali tersenyum tipis, menundukkan pandangannya dengan anggun sebagai tanda hormat. Pemandangan itu begitu menenangkan, menyuguhkan sebuah gambaran tentang harmoni dan kelembutan seorang wanita ideal yang seharusnya mendampingi seorang pria terhormat di istana kekaisaran.
Namun, di balik dinding-dinding tenda yang kokoh itu, angin malam perbatasan bertiup semakin kencang, membawa serta bisikan-bisikan badai yang tidak hanya datang dari alam, melainkan dari rahasia-rahasia besar yang perlahan mulai terungkap di berbagai penjuru kekaisaran.
Jauh di belahan selatan kekaisaran, di dalam toko roti kecil yang hangat dan dipenuhi aroma mentega serta vanila, Shania sedang membereskan sisa-sisa adonan terakhir hari itu bersama Lily.
Setelah insiden beberapa saat lalu ketika bayangan patroli militer melintas di luar tokonya—yang ternyata hanyalah patroli rutin pengawal kota pelabuhan dan bukan pasukan pencari Valerius—Aurelia dapat kembali bernapas lega. Ia mulai terbiasa dengan ritme kehidupan barunya. Setiap hari, ia melayani para warga lokal yang ramah, menjual roti hangat buatannya, dan menikmati setiap detik kebebasan yang telah ia pertaruhkan dengan nyawanya sendiri.
Trauma psikologis akibat bayangan sang Jenderal memang belum sepenuhnya hilang dari ingatannya, namun perlahan-lahan, tumpukan tepung gandum, kehangatan oven, dan senyuman para pelanggannya berhasil merajut kembali serpihan jiwa Aurelia yang sempat hancur. Ia merasa telah menemukan tempatnya di dunia ini—sebuah tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, tanpa takut dihakimi atau dieksekusi mati atas identitas masa lalunya.
Malam itu, setelah menutup papan toko dan mengunci pintu kayu dari dalam, Shania duduk di kursi kayunya di lantai dua bangunan kecil tersebut. Ia membuka sebuah buku catatan tua tempat ia merencanakan menu-menu roti baru untuk musim panas mendatang.
Lilin di atas meja memancarkan cahaya kekuningan yang menari-nari lembut, menciptakan bayangan panjang di dinding kamar yang sederhana namun nyaman itu. Shania menarik napas panjang, merasakan kedamaian yang begitu nyata meresap ke dalam tulang-tulangnya.
"Akhirnya... aku bebas," bisik Aurelia pada dirinya sendiri, sebuah senyuman tulus mengembang di bibirnya.
Namun, di saat ketenangan itu terasa begitu sempurna dan utuh, suara ketukan pintu di lantai bawah mendadak terdengar.
Tok... tok... tok...
Ketukan itu lambat, berat, dan terdengar sangat disengaja di tengah keheningan malam kota pelabuhan yang sunyi.
Aurelia terkesiap seketika. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar, memukul tulang rusuknya dengan brutal. Bulu kuduknya meremang seketika. Lily, yang sedang merapikan tempat tidur di sudut ruangan, membeku ketakutan, menatap Aurelia dengan mata bulat yang terbelalak ngeri.
Tidak ada warga lokal yang datang mengetuk pintu toko pada tengah malam buta seperti ini.
Ketukan itu berulang sekali lagi—kali ini lebih keras, diiringi oleh suara derap sepatu asing yang berhenti tepat di depan pintu kayu utama toko roti tersebut, disusul oleh suara serak seorang pria tak dikenal yang memanggil namanya dari luar kegelapan malam—
mampir diceritaku juga ya😊