Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Janji Manis
Pagi berikutnya, Rashid terbangun lebih awal dari biasanya. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan aneh. Semalam ia tidur dalam keadaan lapar setelah makanan yang dipesannya datang terlambat. Hal sederhana yang seharusnya tidak menjadi masalah itu justru membuat pikirannya kembali kepada Kinara.
Selama lima tahun menikah, ia hampir tidak pernah memikirkan soal makanan. Kinara bahkan selalu memastikan ia tak akan tidur dalam keadaan lapar. Setiap kali pulang, selalu ada sesuatu di meja makan. Jika ia mengatakan ingin makan tertentu, Kinara akan berusaha membuatkannya. Jika Rashid pulang terlalu malam, Kinara bahkan masih menunggunya.
Kala itu, Rashid mengira apa yang dilakukan Kinara adalah tugas yang seharusnya dilakukan Kinara sebagai istrinya. Tetapi sekarang, ia baru menyadari bahwa kebiasaan tersebut ternyata adalah bentuk perhatian.
Rashid menggeleng pelan. "Sudahlah. Untuk apa kau masih memikirkan mantan istrimu? Kau sudah memiliki Marissa sekarang," gumamnya menyadarkan dirinya sendiri.
Rashid mengayunkan kakinya turun dari tempat tidur, ia bergegas ke kamar mandi dan keluar kamar.
Ketika melewati kamar Marissa, ia melihat pintunya masih tertutup. Ia mengetuk beberapa kali. "Marissa? Kau sudah bangun belum?"
Namun, tidak ada jawaban. Rashid kembali mengetuk. "Marissa, bangun. Aku harus berangkat kerja."
Beberapa saat kemudian, suara Marissa terdengar dari dalam. "Mas pergi saja dulu. Aku masih mengantuk."
Rashid menghela napas. "Baiklah."
Ia turun ke lantai bawah, harapannya menemukan sarapan kembali pupus. Meja makan itu tetap kosong seperti semalam.
Rashid berdiri beberapa saat sebelum akhirnya mengambil roti dari lemari dapur dan membuat sarapan seadanya. Ia bahkan sempat melihat jam di tangannya. Dulu, pada waktu seperti ini, Kinara biasanya sudah berada di dapur.
Rashid kembali menggeleng. Ia tidak seharusnya membandingkan Marissa dengan Kinara, kehidupannya sekarang sudah berbeda.
Usai membuat roti lapis seadanya, Rashid duduk di meja makan seorang diri, menikmati roti lapis buatannya. Di saat itulah ia kembali mengenang beberapa hari ke belakang, saat Kinara masih menjadi istrinya.
Kinara selalu memastikan semua keperluannya pagi itu sudah siap bahkan sebelum ia sempat membuka mata. Menghela napas lelah, Rashid jadi merindukan masa di mana ia dilayani layaknya raja. Bersama Marissa, sepertinya ia harus mulai terbiasa untuk mandiri.
Selepas menghabiskan sarapannya, Rashid meletakkan piringnya di wastafel. Ia tak berniat mencucinya, tetapi saat teringat bahwa piring itu tidak akan mungkin dicuci, maka ia pun terpaksa mencuci piring bekas makannya sendiri.
“Sepertinya aku harus memanggil Bu Mimi lagi,” monolognya berniat memanggil ART-nya dulu.
Awalnya, Rashid menggunakan ART dengan tujuan agar Kinara tidak perlu repot mengurus rumah sendirian. Tetapi kala itu, Kinara menolak dan berkata bahwa ia ingin menjaga rumah yang Rashid beli dari kerja kerasnya seorang diri saja.
“Aku kira Mas sudah berangkat.”
Mendengar suara Marissa, Rashid sontak menghentikan gerakannya. Ia mematikan kran wastafel lalu menoleh ke belakang.
“Oh, kau sudah bangun. Mas baru mau berangkat,” katanya datar lalu mengeringkan tangannya sendiri dengan handuk yang tergantung di dekat wastafel.
Alis Marissa terangkat sedikit, menyadari nada bicara Rashid yang datar saat menjawab pertanyaannya.
“Mas marah, ya?”
Rashid kembali menoleh, menatap wanita yang akan segera ia nikahi beberapa hari ke depan lalu menggeleng pelan. “Tidak,” sahutnya lagi, datar. Ia membenahi pakaiannya dan bersiap untuk berangkat saat tiba-tiba Marissa memeluknya dari belakang.
“Maaf, Mas. Maaf kalau sudah membuat Mas melakukan semuanya sendirian. Mas tahu, kan? Aku sedang hamil dan harus tidur yang cukup,” katanya dengan nada yang dibuat manja. “Aku janji, Mas. Setelah kita menikah dan anak kita lahir, aku akan melayanimu dengan baik. Aku minta, saat ini Mas mengerti kondisiku, ya?”
Mendengar nada lembut dan memohon itu, Rashid akhirnya luluh dan mengangguk pelan. “Mas mengerti. Mas juga tidak marah. Sayangnya Mas ini pasti sedang kewalahan karena mengandung anak kita,” ucapnya lembut.
Marissa tersenyum manis, memeluk Rashid kian erat. “Oh, ya, Mas.” Ia melepaskan pelukannya, kini menatap pria yang akan menjadi suaminya dengan lekat. “Mas hari ini sibuk, kan?”
Rashid mengangguk. “Ya, hari ini ada meeting dengan salah satu investor. Kenapa?”
Tiba-tiba, wajah Marissa berubah muram. “Mas Rashid tidak bisa menemaniku lagi, ya?” tanyanya dengan sendu. “Aku kesepian, Mas. Aku juga mau punya waktu berdua dengan calon suamiku dan membahas soal pernikahan kita.”
Rashid mengusap pipi perempuan itu penuh kasih. “Maafkan Mas, ya. Akhir-akhir ini Mas memang sibuk. Tapi … bagaimana kalau Rissa pergi belanja saja? Beli apa saja yang Rissa mau sekaligus membeli keperluan untuk pernikahan kita.”
Mendengar kata ‘belanja’, mata Marissa langsung berbinar senang. “Benar tidak apa-apa kalau aku pergi belanja lagi, Mas? Mas tidak keberatan, kan? Kalau uang Mas habis bagaimana?”
Rashid menggeleng dengan yakin. “Uang Mas tidak akan habis, lagipula Mas mencari uang memang untukmu dan calon anak kita.” Ia lalu mengeluarkan sebuah kartu kredit dan memberikannya kepada Marissa. “Ambil ini dan pakai untuk belanja.”
Marissa menerimanya dengan senang hati, tak lupa memberikan senyuman termanisnya pada Rashid. “Terima kasih, Mas. Hati-hati saat bekerja, ya. Jangan lupa kabari aku,” katanya sambil melambaikan tangan saat Rashid berpamitan untuk bekerja.