Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Auri sudah merasa lebih baik. Usai makan malam, ia dan kedua orang tuanya sudah duduk bersama lagi. Namun kali ini, Auri sudah bisa mengutarakan isi hatinya tanpa emosi yang meluap-luap.
"Benar kata abah neng. Mungkin kami yang tidak merasakan jadi neng, bakal dengan mudah ngomong ke neng kalau bagaimana pun juga pak Estu adalah papa kandung neng. Mungkin sekarang belum, tapi suatu saat nanti --saat neng menikah pasti butuh pak Estu.''
Auri tak menyahut. Ia tahu, ia sadar akan hal itu. Tapi seandainya saat tiba waktunya Auri menikah, Estu sudah tidak ada dalam arti yang sesungguhnya bukankah cukup dengan wali hakim saja???
Sayang, itu terlalu jahat untuk di lakukan manusia berpendidikan dan beragama seperti Auri.
"Tapi neng harap ,neng ga bakal ketemu dan berurusan sama pria itu bah,mi!'' kata Auri. Salamah dan Aceng hanya bisa menghela nafas dengan panjang. Memang mereka bisa memaksa Auri?
"Nya geus atuh, istirahat!'' Salamah mengusap punggung tangan Auri. Gadis itu pun mengangguk pelan lalu beranjak ke bilik kamar berdinding bambu itu.
Auri pun merebahkan dirinya di kasur itu. Jendela kamarnya lupa belum di tutup. Ia pun bangkit lagi untuk menutupnya, bisi loba rengit! (Banyak nyamuk)
Perlahan tapi pasti, rasa lelah dan kantuk itu pun menguasai tubuh Auri. Lelah fisik dan mentalnya sungguh ia rasakan begitu berat hari ini.
Di rumah yang berbeda, Mahesa sedang menceramahi Candra. Ternyata Rino menceritakan kejadian-kejadian yag menimpa Candra selama tiba di sini. Termasuk menjadi sasaran tamparan dari gadis yang di akui anak oleh Estu tadi sore.
"Makin ke sini sikap kamu sama sekali tidak profesional Ndra. Papa malu mendengarnya!'' Mahesa memijat pelipisnya.
"Tidak profesional dari mana Pa? Semua kerjaan udah beres kok.''
"Iya, tapi kadang-kadang bicara mu menyakitkan.''
"Aku belajar dari papa lho...'' celetuk Candra. Mahesa melebarkan matanya dan melotot dengan tajam ke arah Candra. Rino sendiri terlihat berpura-pura sibuk dengan gadget nya. Candra salah tingkah di tatap seperti itu.
Ayolah...dia bukan abg yang di pelototin langsung nurut, dia sudah de-wa-sa!
"Kamu juga Rino!''
Rino langsung menegakkan punggungnya.
"Sa-saya pak bos?''
"Ya, kamu! Seharusnya kamu nasehatin teman kamu yang tidak tahu sopan santun ini. Kelakuannya seperti orang yang tidak pernah di didik tatakrama dan berpendidikan!'
Brakk!
Mahesa memukul lengan kursinya hingga dua pemuda itu terkejut. Setelahnya, ia memilih masuk ke dalam kamar yang di huni Candra. Biarlah Candra tidur di kamar Rino, untuk malam ini.
"Bos Lo emang, No! Ighhhh...!'' Candra geregatan sambil menggenggam tangannya.
"Bos gue, bapak Lo!'' sahut Rino sedikit nyolot.
"Saya dengar!!!'' teriak Mahesa dari kamarnya. Dua pemuda itu pun buru-buru masuk ke kamar Rino untuk mengamankan diri.
********
Lelaki berperawakan tinggi itu sedang menatap hasil foto prewed nya dengan calon istri yang di jodohkan oleh orang tua masing-masing. Awalnya, lelaki yang tak lain Ikhsan itu menolaknya. Tapi...keadaan yang memaksanya untuk menerima perjodohan itu.
Calon istrinya cantik juga berpendidikan seperti halnya sang mantan. Tapi di mata orang tuanya, calon istrinya ini yang terbaik. Auri--kekasih yang sudah ia pacari beberapa tahun tak juga mendapatkan restu dari orang tuanya terutama sang ibu.
Alasannya?
Klasik! Dari keluarga yang tak setara katanya! Di tambah lagi, tampaknya Auri memang belum mau di ajak ke jenjang yang lebih serius. Ikhsan sendiri tak tahu alasannya kenapa.
Yang pasti, keduanya mengakhiri hubungan itu dengan baik-baik tanpa drama dan saling membenci. Bahkan dalam sudut hati Ikhsan, ia masih sangat menyayangi Auri.
"Hasil fotonya bagus ya jang?'' tanya bu hajah. Ikhsan menoleh sekilas pada ibunya.
"Ya bu'' jawab Ikhsan singkat.
"Cocok kalian berdua ini, sama-sama P**!'' kata perempuan gempal itu bangga. Ikhsan tak menanggapi ucapan ibunya.
"Oh iya, undangannya belum selesai semua jang. Tadi ibu sudah tanya, katanya masih kurang berapa ratus lagi gitu.'' Ikhsan mengernyitkan alisnya.
"Beberapa ratus lagi? Memang ibu bikin berapa undangannya?''
"Dua ribu lima ratus, dan kamu tahu ibu bikin di mana? Di percetakannya Auri, biar omsetnya banyak! Niat ibu bagus kan?''
Ikhsan berdiri dari bangkunya.
"Ibu! Niat ibu memang mau ngasih omset apa mau menghina Auri bu?''
"Menghina apa sih? Ibu udah berbaik hati lho kasih orderan sebanyak itu. Jarang-jarang kali dia dapat orderan segitu. Syukur-syukur mesinnya ngga rusak. Kalo rusak kan tuh uangnya bisa buat benerin mesin.''
"Ikhsan tahu apa tujuan ibu. Mau menunjukkan kalo Ikhsan lebih dulu menikah kan?''
Bu Hajah tak menyahut, ia hanya melirik tak tentu arah.
"Ah...udah lah! Terserah kamu mau ngomong apa. Udah deh, ibu mau istirahat. Capek!!''
Perempuan gempal itu pun meninggalkan Ikhsan yang terdiam.
Ikhsan mengusap wajahnya dengan kasar. Ibunya memang semaunya sendiri, tanpa bertanya padanya lebih dulu.
"Ibu keterlaluan!!!'' gumam Ikhsan.