NovelToon NovelToon
Melarikan Diri Dari Raja

Melarikan Diri Dari Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Time Travel
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.

Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.

Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.

Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.

Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.

Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.

Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Di Balik Mimpi

Pagi itu, suasana di kastil Duke Utara terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya. Udara dingin masih menyelimuti seluruh bangunan, membuat embun menempel di kaca-kaca jendela. Dari luar, suara angin yang berembus di antara pepohonan sesekali terdengar samar.

Esmera berjalan menuju ruang makan dengan langkah perlahan. Sejak bangun tidur, pikirannya terasa sedikit kacau. Mimpi yang dialaminya semalam masih terbayang begitu jelas di kepalanya.

Sekumpulan serigala berukuran sangat besar.

Mata mereka yang tajam.

Dan yang paling membuatnya tidak tenang adalah ketika makhluk-makhluk itu berubah menjadi manusia. Namun, Esmera tidak berniat menceritakan mimpi itu kepada Edris.

Entah kenapa, sejak terbangun tadi, dia merasa mimpi tersebut bukan sesuatu yang ingin dibicarakannya.

Begitu Esmera memasuki ruang makan, langkahnya langsung terhenti.

Matanya menyapu meja panjang yang biasanya dipenuhi oleh beberapa pelayan dan makanan. Namun, pagi ini hanya ada satu orang yang duduk di sana.

Edris.

Pria itu sudah berada di tempatnya, duduk dengan tenang sambil menikmati sarapan. Beberapa hidangan telah tersaji di atas meja, tetapi dari posisi duduknya, Esmera bisa melihat bahwa Edris seperti sedang menunggunya.

Esmera mengerutkan kening. Kenapa hanya ada dia?

"Yang Mulia."

Edris mengangkat pandangannya. Tatapan pria itu langsung tertuju kepadanya."Duduklah."

Esmera berjalan mendekat, kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengannya."Maafkan aku Yang Mulia, sepertinya aku terlambat untuk sarapan bersama dengan keluarga Duke Relis." Ucap Esmera.

"Tidak, kau tidak terlambat, aku yang meminta agar sarapan pagi ini hanya disiapkan untuk kita berdua."

Esmera mengangkat alis."Kenapa begitu? Ini akan mengundang rumor baru lagi Yang Mulia."

Edris mengambil cangkir minumannya dengan santai."Jangan memulai perdebatan di atas meja makan, Esmera. Duduk dengan tenang dan makanlah."

Untuk sejenak Esmera hanya terdiam, namun tak lama kemudian, dia pun menuruti ucapan Edris. Esmera mengambil makanan di hadapannya, berusaha mengabaikan tatapan Edris.

Suasana sempat hening beberapa saat. Hanya terdengar suara peralatan makan yang sesekali beradu dengan piring.

Edris kemudian membuka percakapan."Apa tidurmu nyenyak?"

Tangan Esmera yang sedang memegang sendok berhenti sejenak. Mimpi itu kembali terlintas di kepalanya.

Danau yang luas.

Udara yang sangat dingin.

Sekumpulan serigala besar yang muncul di hadapannya.

Esmera menghela napas kecil sebelum menjawab."Lumayan." Hanya itu, dia tidak mengatakan apa pun mengenai mimpinya.

Edris memperhatikannya beberapa saat, tetapi tidak bertanya lebih jauh. Dia kemudian kembali menyantap sarapannya sebelum akhirnya berkata,"Aku ingin membicarakan sesuatu tentang wilayah Utara."

Esmera mengangkat wajah.

Edris meletakkan sendoknya."Duke Relis memberitahuku bahwa ada sekumpulan serigala besar yang mendiami sekitar Danau Tibe."

Esmera langsung membeku. Sendok di tangannya hampir terlepas."Serigala... besar?"

Edris mengangguk.

Wajah Esmera berubah seketika.

Sekumpulan serigala besar.

Danau Tibe.

Dua hal itu sama persis dengan apa yang dia lihat dalam mimpinya semalam. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Edris menyadari perubahan kecil di wajah Esmera, kemudian ia melanjutkan."Ukurannya jauh lebih besar daripada serigala biasa. Karena itu, masyarakat sekitar dilarang mendekati danau tersebut."

Esmera menelan ludah.

Edris kemudian menambahkan dengan nada yang lebih serius,"Ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Serigala-serigala itu dicurigai mampu berubah menjadi manusia."

Esmera langsung terdiam. Wajahnya yang semula hanya tegang kini perlahan memucat.

Edris mengamati perubahan ekspresi Esmera dengan saksama."Esmera."

Gadis itu tidak menjawab. Pikirannya sedang berputar. Mengapa dia memimpikan sesuatu yang bahkan baru saja diceritakan Edris? Apakah itu hanya kebetulan?

Atau... Apakah mimpi semalam memang berkaitan dengan apa yang terjadi di Utara?

"Esmera." Kali ini suara Edris terdengar lebih tegas.

Esmera tersentak dan akhirnya mengangkat wajah.

"Apa kau melihat sesuatu di masa depan tentang mereka?"

Esmera terdiam.

Edris melanjutkan pertanyaannya."Apakah mereka memang manusia? Atau mereka memang serigala yang memiliki kemampuan untuk mengubah wujudnya menjadi manusia?" Tatapan Edris begitu serius.

Esmera bisa merasakan bahwa pria itu benar-benar mengharapkan jawabannya. Namun, apa yang harus dia katakan? Dia tidak pernah melihat kejadian mengenai serigala-serigala itu dalam kehidupan pertamanya. Setidaknya, dia tidak mengingatnya.

Karena itu, Esmera akhirnya menggelengkan kepalanya."Aku tidak melihat apa-apa tentang masalah di Utara."

Edris diam beberapa saat."Jadi, di masa depan mereka tidak ada?"

"Entahlah." Esmera menundukkan pandangannya."Tapi aku tidak melihat apa pun tentang berita mereka." Dia menarik napas pelan."Maaf Yang mulia, kali ini aku tidak bisa membantu."

Edris tidak langsung menjawab. Pria itu hanya memandang Esmera dalam diam. Ada sesuatu yang aneh. Esmera terlihat berbeda sejak dirinya menyebutkan serigala-serigala di Danau Tibe.

Edris sudah cukup lama memperhatikan gadis itu. Dia tahu kapan Esmera sedang menyembunyikan sesuatu, meskipun gadis itu berusaha keras menutupinya.

"Apa kau tidak apa-apa?" Pertanyaan itu membuat Esmera kembali gugup.

Dia mengangkat wajah."Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

"Kau terlihat kurang sehat."

Esmera buru-buru menggeleng."Aku tidak apa-apa, Yang Mulia."

"Tapi wajahmu pucat."

"Mungkin karena udara di Utara terlalu dingin."

Edris masih menatapnya.

Esmera berusaha mempertahankan wajah tenang meskipun pikirannya masih dipenuhi bayangan mimpi semalam.

Setelah beberapa saat, Edris akhirnya tidak mendesaknya lagi."Jika tidak ada penglihatan apa pun tentang serigala-serigala itu di masa depan, berarti mereka memang bukan masalah yang besar."

Esmera mengangkat pandangannya."Maksud Anda?"

"Mereka tidak akan menjadi ancaman yang cukup besar untuk mengganggu kedamaian kerajaan di masa depan."

Esmera terdiam sejenak."Semoga saja begitu."

Edris kemudian mengambil cangkirnya dan meminumnya."Aku akan pergi ke Danau Tibe."

Esmera langsung menatapnya.

"Aku ingin melihat keadaan di sekitar danau secara langsung." Edris berbicara dengan tenang, seolah apa yang akan dilakukannya bukan sesuatu yang berbahaya."Kau tetaplah di sini. Jangan pergi ke mana pun karena ini tempat asing."

Esmera mengerutkan kening.

"Aku akan menempatkan satu pengawal untuk menjagamu." Edris menatapnya tajam."Jadi jangan macam-macam."

Esmera langsung memasang wajah tidak senang."Apa maksudnya jangan macam-macam?"

Edris tidak menjawab. Dia hanya menatap Esmera dengan ekspresi datar. Tatapan itu sudah cukup menjelaskan maksudnya.

Esmera mendengus kecil. Tentu saja dia tahu apa yang dimaksud pria itu. Edris jelas khawatir dirinya kembali melarikan diri. Namun, justru karena itulah Esmera tidak bisa hanya duduk diam di kastil."Aku ingin ikut ke Danau Tibe."

Edris yang baru saja hendak mengambil makanannya berhenti. Tatapannya kembali tertuju pada Esmera.

"Tidak." Jawabannya begitu cepat.

Esmera mengerutkan kening."Kenapa?"

"Karena tempat itu belum diketahui aman."

"Tapi kalau aku melihat para serigala itu, mungkin saja aku bisa melihat sesuatu." Itu alasan yang Esmera gunakan. Padahal sebenarnya dia sendiri tidak tahu apa-apa.

Dia tidak memiliki ingatan mengenai serigala-serigala tersebut di kehidupan pertamanya. Dia hanya penasaran, mengapa mereka muncul dalam mimpinya? Mengapa mimpinya begitu nyata?

Dan mengapa apa yang dia lihat di dalam mimpi ternyata sama dengan masalah yang sedang terjadi di Utara? Esmera ingin melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Edris tidak langsung menjawab. Dia hanya memandangi Esmera dalam diam. Ada kekhawatiran yang jelas tersimpan di dalam tatapannya. Namun, kemudian dia teringat ucapan Duke Relis sebelumnya.

Serigala-serigala itu tidak akan menjadi agresif selama manusia tidak mengganggu mereka.

Edris memang tidak berniat mendekati mereka. Dia hanya ingin melihat keadaan sekitar Danau Tibe. Setelah mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya Edris menghela napas."Baiklah."

Ada ekspresi puas yang terlihat di wajah Esmera.

"Jangan terlalu senang dulu." Edris menatapnya serius."Kita hanya melihat keadaan di sekitar danau. Kau tidak boleh bertindak sembarangan."

Esmera mengangguk cepat.

"Dan jangan mendekati serigala-serigala itu."

"Aku tahu."

Edris kemudian kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi."Kalau begitu, ganti bajumu dengan yang lebih tebal."

Esmera kembali mengangguk.

"Gunakan pakaian dingin yang tebal. Udara di sekitar Danau Tibe jauh lebih dingin daripada di sini."

"Baik, Yang Mulia." Esmera kemudian berdiri dari kursinya. Namun, sebelum meninggalkan ruangan, dia sempat menoleh ke arah Edris.

Ada satu pertanyaan yang terus berputar di dalam kepalanya. Apakah yang akan dia temukan di Danau Tibe benar-benar sama seperti yang dia lihat dalam mimpinya?

Atau justru mimpi itu merupakan peringatan tentang sesuatu yang jauh lebih besar?

Esmera belum mengetahui jawabannya.

Yang dia tahu, pagi itu untuk pertama kalinya sejak tiba di Utara, rasa penasaran di dalam dirinya jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

1
Yuliana Hakim
nunggui up'nya...jgn lama2 thor
Diah Al Khalifi
bisa2 nya di anggap pujian🤣🤭
𝐈'𝐦𝐄𝐥𝐥𝐢𝐞𝐍𝐨𝐭𝐋𝐢𝐞🔮
Ihhh makinn seruu😭😭 Lanjuttt qhaqhaa~~🥰
✨Susanti✨
semangat ya
✨Susanti✨
makasih udah update kak
Saasaa: sama-sama
total 1 replies
Yuliana Hakim
semoga bisa secepatnya up..
Hani Melanie05
KAKAAA UP LAGI DONG
Saasaa: sudah di up selamat baca
total 1 replies
Hani Melanie05
WAJIBB BACA SII
SERU BANGET
Saasaa: terimakasih sudah baca 🥰
total 1 replies
✨Susanti✨
edris tenang, soalnya dia bisa bela diri n bawa senjata
kalo berada diposisi esmera, sudah ketar ketir 😩
✨Susanti✨
menunggu drama tak terduga selama perjalanan 🤭
✨Susanti✨
selain latar, tokoh, susunan alur
aku suka interaksi para pemeran ga vulgar masih ada batasan-batasan
Saasaa: terimakasih
total 1 replies
✨Susanti✨
siapa yang ga bingung kalo edris begini, beda dengan kehidupan sebelumnya
✨Susanti✨
kadang cinta menutup akal n logika
✨Susanti✨
gini nih jadi pria harus tegas, meski lawan bicara keluarga sendiri
✨Susanti✨
semangat esmera, kamu harus lebih berani
✨Susanti✨
/Good/
✨Susanti✨
good, kamu harus punya kendali untuk hidupmu.
✨Susanti✨
emang dari awal edris tidak akan melepaskan esmera
✨Susanti✨
kayaknya raja edris ini tipe-tipe pria yang gabisa ngungkapin perasaan ?
ato kalo Ndak dia baru nyadari perasaannya ketika Esme meninggal 🤔
✨Susanti✨
dan ternyata...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!