Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meng Chahua
...----------------...
Ia melihat seorang wanita memakai gaun pengantin membelakanginya. Sosok itu samar-samar, tapi ia tahu dia adalah seorang pengantin wanita. Xuan Han berusaha berjalan mendekatinya, namun tiba-tiba kepalanya pening dan sakit. Saat itulah ia berteriak kesakitan dan membuka matanya.
Itu hanya mimpi. Ia masih di sekitar telaga. Di sekitarnya gelap, namun karena ada telaga yang bercahaya biru, tempat itu jadi tidak terlalu gelap.
Berdiri, ia mendapati beberapa potongan ular besar itu berserakan. Xuan Han penasaran apa yang membunuhnya begitu cepat.
Menggeleng sebentar, ia melihat jalan lain dan segera melangkah ke sana. Namun ia merasa bingung, kemudian meraba-raba punggungnya. Tidak ada luka bakar. Ia lalu menatap kakinya. Di sana juga tidak ada luka. Xuan Han seperti di dalam mimpi. Ia melompat-lompat dan tidak merasa lemah. Aneh. Namun di saat bersamaan juga sangat menyenangkan. Ia bisa berjalan dan berlarian dengan baik lagi.
Menatap sekitarnya, ia menduga ada bahaya lagi. Di luar mungkin masih ada pertarungan hewan buas itu. Tidak baik keluar, meskipun tidak ada getaran lagi.
Melihat ke bawah, ada beberapa batu yang runcing. Xuan Han memilih batu yang seperti pisau lalu berjalan.
Seperti biasa, guanya gelap. Xuan Han sedikit bergidik. Namun, ia tiba-tiba berhenti dan menatap telaga. Jika tidak ada potongan ular itu, ia pasti akan mandi. Menggeleng, ia mulai berjalan.
Tidak lama, menemukan sebuah ruangan. Gua ini ternyata lebih bersih dari gua yang pernah ia jelajahi sebelumnya. Suara tetesan air memecah kesunyian malam itu. Ada puluhan cahaya kunang-kunang yang beterbangan, jadi tempat itu tidak gelap. Ia menikmatinya sebentar, sebelum mendengar suara rintihan.
Mengerutkan kening, dari kejauhan samar-samar terlihat seseorang. Xuan Han mendekat dengan menggenggam batu runcing di tangannya. Bergerak hati-hati, ternyata itu seorang gadis bergaun merah muda yang sedang bersandar. Ia jadi ingat murid Istana Langit. Apa ia salah satunya? Xuan Han tetap waspada. Mungkin saja gadis ini berbahaya.
Ia membungkuk, memperhatikan wajahnya, Xuan Han terkejut. Ternyata wanita ini memiliki wajah yang lembut, putih, dan bersih. Ia terlihat kalem, bahkan rambutnya terasa seperti dirawat setiap hari.
Xuan Han memperhatikan rambutnya. Tidak ada tusuk rambut bunga peony. Meskipun bukan hanya itu yang menjadi salah satu ciri murid Istana Langit, setidaknya ia ingin memastikannya.
Tidak lama wajahnya yang lembut mengerut. Alis-alisnya yang indah ditekuk. Gadis itu seperti mengigau ketika tidur.
"Darah... Darah...."
Wajahnya bergetar. Menoleh beberapa kali, lalu akhirnya membuka matanya. Xuan Han terkejut. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu bangun. Seperti anjing, ia langsung menarik pakaian Xuan Han yang hancur dan menggigit bahunya hingga membuatnya terjatuh dan batu runcing di tangannya terlempar. Xuan Han mengertakkan giginya. Darahnya dihisap. Ia mendorong gadis itu dan mengumpat. Tapi ia tidak bisa disingkirkan dan terus menghisap darahnya. Rasa sakitnya menjalar dan ia tanpa sadar berteriak kesakitan.
Sangat menyenangkan bila ada wanita yang mau tidur dengannya, tapi jika menggigit seperti ini, Xuan Han membencinya. Gadis itu terus menghisap darahnya dan suaranya terdengar menyeramkan.
"Darah... Aku perlu darah..."
Xuan Han mendorongnya dan berusaha menyingkir, namun ia tidak bisa. Lalu karena darahnya terus dihisap, perlahan-lahan kepalanya menjadi pening dan semakin lemas, kemudian kesadarannya perlahan-lahan menghilang.
Ketika Xuan Han bangun, tubuhnya terasa lemah. Matanya berkunang-kunang. Ia melihat gadis tadi sedang berdiri di depannya sembari menyisir rambutnya menggunakan sisir kayu. Kemudian, dengan kedua tangannya yang lihai, ia mengikatnya menggunakan pita putih.
"Kamu sudah sadar..."
Suaranya jernih dan ia menoleh.
Xuan Han masih ingat bagaimana gadis itu menggigit bahunya, dan sekarang ada bercak bekas gigitan dengan darah yang mengalir. Ia merasakan kesemutan dan meringis kesakitan.
Gadis itu melambaikan tangannya dan suara siulan pedang muncul bersamaan dengan cahaya putih yang Xuan Han lihat sebelumnya. Lalu, sebuah pedang ada di tangannya. Dan tiba-tiba saja ada sarung di tangan kirinya. Ia memasukkan pedang itu dan meletakkannya di punggungnya, lalu mendekati Xuan Han.
"Maafkan aku, tapi darahmu sangat segar."
Xuan Han ingin marah, namun melihat bagaimana kemampuan gadis itu, ia memendamnya, lalu berusaha berdiri. Gadis itu mendekatinya kemudian membungkuk.
"Namaku Meng Chahua. Terdengar agak aneh, tapi aku suka."
Ketika mendengar ini, Xuan Han tertegun sebentar. Gadis ini terdengar sopan dan seperti orang baik. Ia jadi ikut menunduk sedikit untuk membalasnya. "Xuan, namaku Xuan Han."
"Nama yang cukup bagus." Ia mengeluarkan botol pil dari cincin penyimpanannya. Mengulurkannya sembari berkata, "Pakai ini untuk menyembuhkan lukamu."
Xuan Han menatap botol itu sebentar. Sedikit ragu-ragu, ia mengambilnya, lalu mengocoknya. Ternyata hanya ada satu pil di dalamnya. Ia membukanya dan menghirup aromanya. Aromanya terasa pekat dan ia tidak menyukainya.
"Apa ini obat?"
"Ya."
"Apa ini bisa menyembuhkan dengan cepat?"
"Kamu bisa mencobanya."
"Tidak menyakitkan bagi orang biasa sepertiku?"
"Orang biasa?" Meng Chahua sedikit menaikkan alisnya. "Ya."
Xuan Han segera mengambil pil itu dan langsung menelannya. Pil itu terasa pahit, jadi buru-buru ia menelannya utuh. Tidak lama, perlahan-lahan ada butiran cahaya yang muncul di sekitar bekas gigitan itu. Secara bersamaan, lukanya berangsur-angsur menghilang seiring butiran cahaya yang menipis. Xuan Han menepuk bahunya dan tidak merasakan sakit lagi. Selain itu rasa sakit dan lemas pada kepala dan tubuhnya perlahan-lahan menghilang.
"Ajaib, ini benar-benar mengesankan. Nona Meng, kau benar-benar hebat."
Meng Chahua berjalan melewati Xuan Han. Terdiam sebentar. "Xuan Han, apa kamu juga tersesat? Ikutlah denganku, apa kamu mau?"
Tanpa ragu-ragu Xuan Han setuju. Bagaimanapun juga ia masih lemah. Dan, melihat bagaimana kemampuan gadis ini, mungkin ia jauh lebih kuat dari Li Yin dan Xiao Meimei.
Setelah mendapatkan jawabannya, Meng Chahua segera berjalan. Xuan Han mengekorinya. Terdengar banyak suara lagi, dan telinga Xuan Han terasa lebih sensitif. Ia merasa terkejut mendapati pendengarannya jauh lebih tajam. Berjalan mengikuti Meng Chahua dari belakang, ia merasa jauh lebih aman. Selain itu, bentuk tubuh gadis itu juga indah untuk diperhatikan. Namun, ia memiliki pertanyaan.
"Nona Meng, apa kamu berasal dari Istana Langit?"
Tanpa menoleh, Meng Chahua menjawab, "Tidak."
Xuan Han menunggu sebentar dan tidak ada kata lagi yang keluar dari Meng Chahua. Ia mengambil kesimpulan jika Nona Meng ini tidak tahu, atau memang ia malas banyak bicara pada orang sepertinya.
"Nona Meng, kamu sangat hebat."
Meng Chahua tidak menjawab.
Sepanjang perjalanan selanjutnya hanya terdengar suara-suara kelelawar, air yang jatuh, dan beberapa batu yang berjatuhan. Xuan Han sempat lengah, namun akhirnya ia mendengar suara desisan.
Meng Chahua berhenti. Ia melambaikan tangannya dan pedangnya melesat ke depan, menimbulkan angin kencang. Itu terlihat mengagumkan. Lalu terdengar suara potongan dari jauh. Pedangnya kembali dengan berlumuran darah. Xuan Han tidak berani berbicara. Sepertinya dugaannya benar bahwa gadis ini jauh lebih kuat.
Gadis itu menyimpan kembali pedangnya lalu lanjut berjalan.
Sebenarnya, Xuan Han juga penasaran mengapa gadis ini menghisap darahnya. Ia jadi bertanya-tanya, apa ada semacam teknik kultivasi yang memerlukan darah manusia untuk naik tingkat? Jika itu benar, maka... Xuan Han menelan ludahnya. Tapi, tidak mungkin bukan gadis yang berpenampilan cantik, menawan, dan juga punya suara lembut seperti ini mengembangkan teknik kultivasi yang menyeramkan seperti itu? Atau mungkin gadis ini sedang berpura-pura? Xuan Han memang kehilangan ingatan tentang dirinya, tetapi pikirannya masih berjalan.
Gadis itu berjalan semakin jauh dan lebih jauh. Ia lalu berhenti, dan tanpa menoleh bertanya, "Kenapa diam?"