NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Kabut semakin tebal. Lampu-lampu minyak di rumah-rumah desa mulai dipadamkan satu per satu oleh penduduk yang sudah merasakan ada yang salah. Hanya beberapa titik cahaya yang masih menyala, cukup untuk memperlihatkan sosok di gerbang.

Pria Bertopeng Kayu berdiri diam. Tongkat hitamnya menancap di tanah. Api kecil kemerahan di ujungnya tidak berkobar, hanya menyala pelan seperti bara yang menunggu angin.

Ki Sura berdiri di depan rumah, kedua tangan masih disembunyikan di balik lengan baju. Matanya menyipit.

“Jangan ada yang mendekat,” perintahnya kepada dua pemuda penjaga. Suaranya rendah, tetapi tegas. “Biarkan dia bicara dulu.”

Jayengrana sudah berada di samping Ki Sura. Tombaknya masih disamarkan sebagai tongkat, tetapi genggamannya sudah berubah. Istrinya dan Jaka tetap di dalam rumah. Pengemis Tua belum kembali.

Dari kejauhan, suara pria bertopeng terdengar jelas, meski ia tidak berteriak. Suaranya tenang, hampir seperti sedang berbicara di ruang tertutup.

“Aku tidak datang untuk membakar desa ini malam ini.”

Ki Sura menjawab tanpa meninggikan suara. “Lalu untuk apa kau berdiri di gerbangku?”

Pria itu sedikit memiringkan kepala. Topeng kayunya tidak memperlihatkan ekspresi apa pun.

“Aku datang untuk menagih.” Ia menoleh perlahan ke arah Jayengrana. “Tiga hari. Itu yang kau berikan kepada mereka, bukan? Aku bisa menunggu. Tapi aku ingin memastikan… bahwa Senopati yang sudah mati itu mengerti apa yang sedang ia bawa.”

Jayengrana melangkah satu langkah ke depan. “Katakan langsung.”

Api di ujung tongkat berdenyut sekali.

“Perjanjian di dalam tubuhmu bukan milikmu sendiri. Ia punya sejarah. Ia punya utang. Dan utang itu… sedang jatuh tempo.” Pria bertopeng mengangkat tongkatnya sedikit. “Kau memilih melindungi istri dan anak itu. Pilihan yang bagus. Tapi setiap kali kau melindungi, jejakmu semakin terang. Semakin mudah ditemukan. Semakin menarik perhatian sesuatu yang lebih lama dari kita berdua.”

Ki Sura menginterupsi. “Cukup. Jika kau hanya ingin berbicara, bicaralah di luar desa. Jangan di gerbangku.”

Pria bertopeng tidak bergerak. “Aku bisa masuk kapan saja, Ki Sura. Kau tahu itu. Tapi aku memilih menunggu. Karena aku ingin melihat… apakah dia akan menyerahkan mereka untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Atau sebaliknya.”

Jayengrana merasakan tanda di dadanya berdenyut lebih kuat. Suara Penunggang muncul, lebih dingin dari biasanya.

*“Jangan menjawab dengan amarah. Ia sedang mengukur lagi.”*

Jayengrana menarik napas pelan. “Aku tidak akan menyerahkan siapa pun.”

“Bagus,” jawab pria bertopeng. “Itulah yang aku tunggu.”

Ia memutar tongkatnya sekali. Api legam di ujungnya membesar sejenak, cukup untuk memperlihatkan bayangan beberapa sosok di belakangnya. Bukan prajurit biasa. Mereka berdiri diam di dalam kabut, tidak maju, tidak mundur.

“Tiga hari,” ulang pria bertopeng. “Setelah itu, aku akan kembali. Dan kali ini… aku tidak akan berdiri di gerbang.”

Ia berbalik. Api di tongkatnya padam perlahan. Sosok-sosok di belakangnya ikut menghilang ke dalam kabut seolah tidak pernah ada.

Dalam hitungan napas, gerbang desa kembali kosong. Hanya kabut yang tertinggal, dan bau samar seperti kayu yang terbakar terlalu lama.

Ki Sura tidak bergerak untuk beberapa saat. Kemudian ia berbalik menuju rumah.

“Masuk. Semua.”

Di dalam, istri Jayengrana langsung berdiri. Wajahnya pucat, tetapi matanya tetap tajam. “Apa yang dia mau?”

Jayengrana menutup pintu. “Waktu. Dan keputusan.”

Jaka yang selama ini diam akhirnya berbicara. Suaranya pelan.

“Dia tidak sendiri. Ada yang lain di belakangnya. Bukan manusia.”

Ki Sura menatap anak itu lama, lalu mengalihkan pandangan ke Jayengrana. “Anak ini melihat lebih dari yang seharusnya.”

Jayengrana tidak menjawab. Ia berjalan ke jendela, menatap keluar. Kabut masih tebal. Tidak ada gerakan. Tidak ada suara.

Namun di dalam dadanya, tanda perjanjian terus berdenyut. Bukan peringatan. Bukan ketakutan.

Seperti seseorang yang sedang menunggu.

Pengemis Tua muncul di ambang pintu tanpa suara. Jubahnya basah oleh kabut. Ia menatap Ki Sura, lalu ke Jayengrana.

“Mereka sudah menandai desa ini,” katanya pelan. “Bukan hanya kalian. Seluruh Watu Ireng.”

Ki Sura mengertakkan rahang. “Aku sudah menduganya.”

Pengemis Tua melangkah masuk. “Tiga hari itu bukan hadiah. Itu jebakan. Ia memberi waktu agar kau semakin terikat. Semakin sulit meninggalkan mereka. Semakin terang jejakmu.”

Jayengrana menoleh. “Lalu apa yang harus kulakukan?”

Pengemis Tua menatapnya dalam. “Pilih. Tetap di sini dan biarkan desa ini ikut terbakar… atau pergi sekarang, sebelum jejak itu mengeras.”

Istri Jayengrana meraih lengan suaminya. “Kita tidak bisa terus lari.”

“Aku tahu,” jawab Jayengrana. Suaranya tenang, tetapi ada besi di baliknya. “Tapi aku juga tidak akan membiarkan orang-orang di sini mati karena kita.”

Ia menatap Ki Sura. “Ada tempat lain? Lebih jauh? Lebih sulit dilacak?”

Ki Sura terdiam cukup lama. Kemudian ia mengangguk pelan.

“Ada. Tapi perjalanan ke sana… tidak aman. Dan aku tidak bisa menjamin kalian akan sampai.”

Jayengrana menghela napas. Di luar, kabut terus bergerak, seolah masih menyimpan bayangan yang belum benar-benar pergi.

Ia menatap istrinya, kemudian Jaka, kemudian kembali ke Ki Sura.

“Siapkan jalan itu. Kita pergi sebelum fajar.”

Ki Sura menatapnya tajam. “Kau yakin?”

Jayengrana mengangguk sekali.

“Aku tidak akan memberi mereka tiga hari.”

》》》》》》》》》》》》》》

Malam belum benar-benar beranjak ketika rumah Ki Sura mulai bergerak. Tidak ada suara keras. Tidak ada perintah yang diteriakkan. Hanya gerakan cepat dan terukur.

Ki Sura membuka sebuah peti kayu di sudut ruangan belakang. Ia mengeluarkan beberapa kain gelap, dua bilah pisau pendek, dan secarik peta tua yang sudah usang di lipatannya. Ia meletakkannya di meja rendah.

“Jalur ini,” katanya sambil menunjuk garis tipis di peta, “melewati lereng yang jarang dilalui. Ada gua di tengah perjalanan. Kalian bisa beristirahat di sana jika terpaksa. Setelah itu, teruslah ke utara sampai menemukan batu hitam yang berdiri sendiri. Dari situ, ikuti aliran sungai kecil ke arah barat. Desa yang ku maksud berada di balik punggungan.”

Jayengrana mengamati peta itu dengan seksama. “Berapa lama?”

“Jika tidak ada gangguan, dua hari. Jika ada… lebih lama. Atau tidak sampai.”

Pengemis Tua yang berdiri di dekat pintu menambahkan, “Jejak api legam masih ada di sekitar desa. Mereka belum pergi jauh. Hanya menunggu.”

Istri Jayengrana membungkus bekal sederhana yang diberikan penduduk desa: nasi dingin, beberapa potong ikan asin, dan air dalam botol bambu. Tangannya sedikit gemetar, tetapi gerakannya tetap rapi. Jaka duduk di sampingnya, memegang sepotong kain yang berisi batu-batu kecil. Ia tidak bertanya apa-apa. Hanya mengamati.

Jayengrana berlutut di depan anak itu. “Jika terjadi sesuatu di perjalanan, kau tetap dekat dengan dia,” katanya sambil menunjuk istrinya. “Jangan lari sendiri. Jangan mencoba membantu dengan cara yang membuatmu terlihat.”

Jaka mengangguk. “Aku tahu jalur tersembunyi. Tapi di hutan ini… aku belum pernah.”

“Tidak apa,” jawab Jayengrana. “Kita pelajari bersama.”

Ki Sura menatap mereka bertiga lama. Kemudian ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam lengan bajunya: seutas tali kulit yang di ujungnya tergantung kepingan kayu berbentuk lingkaran sederhana.

“Ini bukan pusaka,” katanya. “Hanya penanda. Jika kalian benar-benar terjepit, bakarlah. Asapnya akan kukenali. Aku tidak berjanji akan datang. Tapi setidaknya aku akan tahu kalian masih hidup.”

Jayengrana menerima tali itu tanpa banyak kata. Ia menyimpannya di dalam lipatan bajunya.

“Terima kasih.”

Ki Sura menggeleng. “Jangan berterima kasih dulu. Aku baru saja memberi kalian jalan yang lebih berbahaya daripada tinggal di sini.”

Angin malam berembus kencang. Lonceng kayu di gerbang desa berdentang pelan sekali, lalu diam.

Pengemis Tua membuka pintu. “Waktunya.”

Mereka keluar tanpa membawa lampu. Hanya cahaya bulan yang menembus kabut tipis yang menuntun langkah. Dua pemuda penjaga membuka gerbang belakang desa yang jarang digunakan. Tidak ada kata perpisahan yang panjang. Hanya anggukan singkat dari Ki Sura yang berdiri di ambang pintu, menatap mereka sampai siluet mereka hilang di antara pohon.

Hutan di belakang Watu Ireng terasa lebih gelap daripada biasanya. Bau tanah basah dan daun busuk memenuhi udara. Jayengrana berjalan di depan, tombak siap di tangan. Istrinya di tengah, memegang tangan Jaka. Pengemis Tua menutup barisan, sesekali menoleh ke belakang.

Mereka berjalan dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Hanya bunyi langkah yang ditekan semaksimal mungkin dan napas yang diatur.

Tiba-tiba Jaka menarik lengan istri Jayengrana.

“Berhenti,” bisiknya.

Semua berhenti.

Jaka menunjuk ke arah kanan, ke sela-sela pohon yang lebih rapat. “Ada yang mengikuti. Bukan orang. Jejaknya… dingin.”

Jayengrana mengaktifkan pecahan Mata Pemburu. Dunia di sekelilingnya menjadi lebih tajam. Ia melihat goresan halus di kulit pohon, seperti cakaran yang terlalu rapi. Dan di tanah, jejak kaki yang tidak meninggalkan cetakan dalam, seolah yang berjalan hampir tidak menyentuh tanah.

Naluri Niat menangkap sesuatu yang samar: bukan permusuhan yang panas, melainkan rasa lapar yang sabar.

Pengemis Tua bergumam pelan. “Mereka sudah melepaskan pengintai.”

Jayengrana memberi isyarat. Mereka mengubah arah, masuk lebih dalam ke jalur yang lebih curam. Tanah mulai menanjak. Akar-akar pohon mencuat seperti jari-jari yang mencoba menahan langkah.

Setelah beberapa saat, suara yang mengikuti mereka mereda. Tapi tidak benar-benar hilang. Hanya menjauh, seolah menunggu kesempatan yang lebih baik.

Istri Jayengrana berbisik, “Apakah kita akan terus seperti ini? Lari?”

Jayengrana tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan, ke gelapnya hutan yang seolah tidak berujung.

“Tidak,” katanya akhirnya. “Kita lari sampai menemukan tempat di mana kita bisa berhenti tanpa harus takut. Setelah itu… aku yang akan mencari mereka.”

Pengemis Tua yang berjalan di belakang terdengar mendengus pelan. “Mudah dikatakan.”

“Aku tahu,” jawab Jayengrana. “Tapi aku sudah selesai memberi mereka waktu.”

Di kejauhan, di balik pepohonan, sesuatu yang berpijar samar kemerahan menyala sejenak, lalu padam.

Seperti mata yang berkedip.

Kemudian hutan kembali gelap total.

Mereka terus berjalan menuju utara, menyusuri jalur yang ditunjukkan Ki Sura, sementara fajar masih jauh di balik horizon.

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!