NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: DUA ORANG YANG IKUT GABUNG!

Di dalam ruang PMR yang hening, Dimas terbaring lemas di atas kasur busa. Tangannya terus memegangi bagian belakang kepalanya yang terasa cenut-cenut akibat 'sabetan' buku berdebu dari Alya. Di sampingnya, Raka duduk setia menemani sahabatnya yang baru saja pulih dari pingsan.

​"Gimana, Mas? Masih sakit?" tanya Raka mengamati benjolan di kepala Dimas.

​Dimas meringis sambil memejamkan mata. "Pake nanya lagi! Ya sakit lah, anjrit... Aduh, duh..."

​Raka menghela napas pasrah. "Hmm... kalau udah ketahuan sama Alya gini, mending kita pasrah aja lah, Mas."

​Dimas menoleh kaget. "Serius lu, Rak?"

​"Iya, daripada tambah banyak masalah nanti. Lu lihat sendiri kan 'damage' pelemparan bukunya kayak gimana?" ujar Raka menunjuk benjolan Dimas.

​Dimas menelan ludah, membayangkan lagi aura membunuh Alya. "Oke deh, gue ikut kata lu aja."

​Tepat saat obrolan mereka kehabisan topik, bel tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi nyaring di seluruh penjuru sekolah.

​"Lah, udah bunyi aja. Yuk, balik ke kelas," ajak Raka bangkit dari kursinya.

​Dimas mengangguk setuju. "Ya. Btw, abis ini jangan cari gara-gara lagi ya kita, Rak. Kepala gue bisa makin bonyok kalau Alya ngamuk lagi."

​Raka menepuk dadanya santai. "Tenang aja, aman!"

​"Hmm... kalau gitu, lu udah nyelesain tugas Prakarya belum?" tanya Dimas lagi.

​"Nanti aja lah, minggu depan. Toh tugasnya cuma nyari sejarah makanan harian di Google, gampang itu," sahut Raka enteng.

​"Iya juga ya..."

​"Lu mau ke kelas sekarang kan, Mas? Gue ikut," pangkas Raka.

​"Sip, gas!"

​Dimas merosot turun dari kasur PMR lalu berjalan menuju pintu keluar bersama Raka. Sembari menyusuri koridor sekolah, mereka berdua asyik membahas pelajaran berikutnya, menyusun rencana keseruan untuk hari-hari mendatang, hingga berdiskusi tentang tantangan besar mereka dalam menghadapi 'duet maut' Alya dan Aira.

​Hembusan angin sore mengalun lembut di sepanjang koridor, menghadirkan suasana hangat dan nyaman yang seolah mengabadikan momen-momen kebersamaan mereka sebagai sahabat.

​Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Di persimpangan koridor, mata Raka mendadak tertuju pada seekor kucing milik Kepala Sekolah yang sedang melahap makanannya dengan lahar. Tapi bukan kucing itu yang mencuri perhatian Raka, melainkan dahan pohon mangga di sebelahnya yang meliuk rendah—sarat akan buah-buah mangga berukuran besar dan matang.

​Hasrat Raka untuk memetiknya mendadak melonjak drastis.

​"Rak, jangan macem-macem! Itu mangga punya Kepsek!" peringat Dimas panik menahan lengan sahabatnya.

​Akan tetapi, Raka memekakkan telinga. Ia berjinjit, mengulurkan tangannya hampir berhasil menggapai mangga terbesar—tepat ketika seorang guru piket melintas di koridor bawah dan menangkap basah aksi nekatnya.

​"WOI! SIAPA ITU MAU METIK MANGGA?!" teriak sang guru menggelegar.

​"KABUURRR!" jerit Raka refleks memutar balik.

​Tanpa pikir panjang, Raka dan Dimas langsung melesat kencang bagai angin, melompati anak tangga dan menerobos koridor. Mereka akhirnya berhasil masuk ke dalam kelas 10A dan langsung ambruk di kursi masing-masing dengan napas tersengal-sengal dan jantung yang berdegup kencang.

​"Aduh! Kan ketahuan... Kenapa dah lu lakuin itu, Rak?!" omel Dimas sambil mengelus dadanya yang masih kempas-kempis.

​Raka menyenggir tanpa dosa. "Maaf, 'skill' tersembunyi gue keluar sendiri tadi."

​Dimas memutar matanya malas. "Eleh! Ada-ada aja alasan lu!"

​"Yaudah lah, lu tidur aja dulu, Mas. Mumpung di kelas baru ada kita berdua nih," ujar Raka menunjuk deretan kursi yang masih kosong.

​"Oh... oke deh. Terus lu sendiri mau ngapain di kelas?" tanya Dimas sambil menyandarkan kepalanya di atas meja.

​"Gue mau gacha dulu," sahut Raka santai sambil menarik ponselnya.

​Tak lama kemudian, bel sekolah berbunyi nyaring menandakan jam pelajaran berikutnya telah dimulai. Para siswa-siswi yang tadinya bersantai di koridor mulai mempercepat langkah kaki mereka menuju kelas masing-masing.

​Tepat saat kelas 10A kembali penuh, guru mata pelajaran IPS melangkah masuk.

​Pelajaran jam keempat diisi dengan materi IPS yang padat. Tanpa basa-basi, guru meminta seluruh siswa-siswi mencatat rentetan rangkuman materi yang memenuhi papan tulis.

​Setelah berjam-jam berkutat dengan pena, banyak murid yang langsung merebahkan diri di meja untuk beristirahat, sementara beberapa lainnya mengeluh lantaran catatannya terlalu banyak. Begitu guru IPS melangkah keluar ruangan, Dimas langsung meluruskan kedua tangannya ke depan, meringis merasakan jemarinya yang mendadak kaku.

​"Gila... mentang-mentang kita udah resmi jadi murid tetap, dikasih catatannya seenak jidat begini," gerutu Dimas meluapkan kekesalannya.

​Raka menoleh sebentar, menyahut santai. "Haah... tapi ya mau gimana lagi, biarlah."

​Seraya Dimas sibuk mengomel sendiri meratapi nasib jemarinya, di sudut lain Alya justru duduk terdiam. Pikirannya melayang, teringat kembali pada perdebatan sengitnya dengan Raka di markas klub kemarin—terutama soal sindiran Raka tentang rasa khawatirnya yang berlebihan, serta insiden pelemparan buku berdebu yang bikin Dimas pingsan.

​Berbagai pertanyaan dan keraguan berkecamuk dalam batin Alya. "Kenapa juga aku harus secemas itu sama klub mereka? Apa aku emang terlalu tegas?"

​Sebaliknya, Raka yang duduk tak jauh dari Alya malah tampak super santai. Ia sama sekali tidak terganggu dan justru asyik merampungkan lukisan di buku sketsanya.

​"Wih... mantap! Bagus!" gumam Raka puas menatap hasil karyanya.

​Karena gambarnya sudah selesai, Raka mulai merapikan buku sketsa dan alat tulisnya ke dalam tas. Sesudahnya, Raka bangkit berdiri dan berjalan pelan menuju pintu kelas, tak lupa melirik ke arah Dimas sambil memberikan kode mata rahasia.

​Dimas yang peka langsung mengangguk paham dan mengekor berjalan di belakang Raka.

​Sementara kedua cowok itu diam-diam menyelinap keluar, Alya masih saja melamun dengan pandangan kosong menatap meja. Aira yang gemas melihat tingkah sepupunya itu akhirnya memajukan badan dan menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Alya.

​CTEK!

​Alya tersentak, mengeripkan matanya kaget.

​"Woi! Lu kenapa bengong gitu, Al?" tegur Aira menaikkan sebelah alisnya.

​"Ehh... hmm, enggak. Gak ada apa-apa kok," sahut Alya gugup, menetralkan raut wajahnya. "Ki-kita ke kantin aja yuk?"

​Aira menyunggingkan senyuman jahil yang sangat mencurigakan. "Hmm... sepertinya gue tahu lu mau ke mana... Lu pasti mau ngintip mereka berdua lagi kan?"

​Muka Alya seketika merona tipis. "Hah?! Gak ya! Siapa juga yang mau ngeliatin mereka berdua!"

Dugaan Aira sama sekali tidak melesat. Setelah berbelit-belit dengan rasa gengsinya, Alya akhirnya melangkahkan kaki menyusuri koridor untuk mengikuti jejak Raka dan Dimas.

​Namun, kali ini Alya tidak ingin sekadar menjadi 'pengawas liar' yang mendobrak pintu seperti kemarin. Ia sudah menyiapkan sebuah kejutan besar—sebuah skenario yang menurut bayangannya bakal sukses membuat Raka dan Dimas jantungan dan bertekuk lutut.

​Sebelum menuju ke markas klub, Alya memutar arah langkahnya menuju ke ruang guru. Dengan wajah mantap dan berkas formulir di tangannya, Alya resmi mendaftarkan dirinya sebagai anggota sah Klub Penyelamat Masa Muda di hadapan guru pembina!

​Tepat ketika Alya keluar dari ruang guru dengan senyum puas, ia menyadari ada bayangan yang menguntitnya dari balik pilar koridor.

​"Aira... lu gak usah sembunyi, gue tahu lu di situ," tegur Alya tanpa menoleh.

​Aira keluar dari balik pilar sambil menyengir lebar tanpa rasa dosa. "Hehe... ketahuan ya? Btw, wah... gokil juga langkah lu, Al! Langsung legal nih?"

​"Biar mereka gak punya alasan lagi buat bantah," sahut Alya membusungkan dada bangga.

​"Kalau gitu, masukkan nama gue juga!" seru Aira bersemangat. "Gak seru kalau gue cuma jadi penonton di luar!"

​Tanpa membuang waktu, Aira ikut masuk dan mendaftarkan namanya. Kini, dua cewek itu resmi menjadi bagian dari klub!

​Alya menyunggingkan senyuman kemenangan. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan betapa heboh dan kagetnya reaksi Raka dan Dimas saat melihat surat keanggotaan resmi mereka. Alya membayangkan dua cowok itu bakal panik, melotot, dan memohon-mohon ampun.

​Namun, ada satu hal besar yang sama sekali tidak diketahui oleh Alya...

​Di dalam markas klub, Raka dan Dimas sebenarnya sudah berada di titik zen—titik pasrah tingkat tinggi. Bagi dua cowok itu, setelah insiden pingsan ditimpuk buku berdebu kemarin, tak ada lagi hal di dunia ini yang bisa membuat mereka kaget. Mau Alya jadi anggota, jadi ketua, atau bahkan jadi pemilik sekolah sekalipun, mereka sudah siap menerima nasib dengan lapang dada.

​Brak!

​Pintu markas klub didobrak pelan oleh Alya. Ia berdiri di ambang pintu bersama Aira dengan gaya super dramatis, memamerkan lembar formulir pendaftaran resmi dari ruang guru.

​"Dengar kalian berdua! Mulai hari ini, aku dan Aira resmi bergabung dengan klub ini!" seru Alya tegas dengan nada penuh kemenangan.

​Alya berdiri menanti kepanikan mereka.

​Satu detik... dua detik... tiga detik...

​Keadaan ruangan hening total.

​Raka yang sedang selonjoran hanya menoleh pelan, menatap formulir itu dengan pandangan polos, lalu mengangguk-angguk kecil.

​"Oh... oke. Selamat bergabung," sahut Raka singkat, lalu kembali mengusap layar ponselnya.

​Dimas yang duduk di sampingnya ikut mengangguk pasrah sambil memegangi benjolan di kepalanya. "Iya, selamat datang. Anggap aja rumah sendiri..."

​Alya membeku di tempat. Wajah sangarnya seketika luntur, digantikan oleh raut wajah cengli dan bingung setengah mati. Reaksi santai nan pasrah dari Raka dan Dimas benar-benar merusak skenario megah yang sudah ia susun rapi di kepalanya!

​"Loh... kok... kalian gak kaget?!" jerit Alya frustrasi.

​"Capek kagetnya, Al. Mending pasrah," gumam Dimas mengelus dadanya.

​Aira yang berdiri di sebelah Alya langsung menyemburkan tawanya sampai memegangi perut. "WKWKWK! EKSPEKTASI LU HANCUR LEBUR, AL!"

Dengan masuknya nama Alya dan Aira secara resmi dalam dokumen keanggotaan sekolah, Klub Penyelamat Masa Muda yang tadinya hanya diisi oleh dua cowok pemalas kini telah berubah menjadi klub beranggotakan empat orang. Niat Alya untuk memberi kejutan memang gagal total akibat sikap pasrah Raka dan Dimas, namun satu hal yang pasti: kehadiran dua anggota baru ini secara otomatis mencabut sisa-sisa hak kebebasan Raka dan Dimas di markas tersebut.

Langkah Alya untuk merevolusi klub baru saja dimulai, dan Raka serta Dimas hanya bisa bersiap menghadapi badai perubahan besar yang menanti mereka di esok hari.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!