NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama Menuju Masa Depan

Keesokan paginya, suasana di dalam ruang terapi pribadi terasa dipenuhi oleh energi yang membara. Kejadian di rumah sakit dan momen intim semalam seolah menjadi bahan bakar baru bagi Jiro. Tidak ada lagi sisa-sisa kemalasan atau keputusasaan di wajah tampannya. Pria itu kini duduk tegak di atas matras, melilitkan beban pergelangan kaki dengan tangannya sendiri tanpa perlu diperintah.

Senjani yang baru saja masuk sambil membawa nampan berisi air mineral tertegun melihat pemandangan itu. Dia menahan senyum tipis di bibirnya, menyadari bahwa Tuan Muda yang angkuh ini sedang berusaha keras membuktikan ucapannya semalam.

"Mas Jiro kelihatan semangat sekali hari ini," goda Senjani sembari meletakkan nampan di atas meja.

Jiro berdeham, mencoba menguasai ekspresi wajahnya agar tetap terlihat datar. "Aku hanya tidak ingin membuang waktu lagi. Semakin cepat aku bisa berjalan, semakin cepat pula aku bisa menyingkirkan lalat-lalat pengganggu seperti dokter junior di rumah sakit itu dari dekatmu."

Senjani tertawa renyah, melangkah mendekat dan berlutut di samping Jiro untuk memeriksa kerapian lilitan beban di kaki suaminya. "Oke, kalau gitu kita langsung masuk ke menu latihan utama hari ini ya. Hari ini kita akan mencoba latihan pembiasaan beban tubuh secara penuh di atas kedua kakimu menggunakan parallel bar."

Senjani membantu Jiro untuk bangkit dari matras dan berpindah ke ujung jajaran tiang besi sejajar yang kokoh. Jiro mencengkeram besi di sisi kiri dan kanannya dengan sangat kuat. Otot-otot lengannya menegang, urat-uratnya menonjol memperlihatkan kekuatan tubuh bagian atasnya yang prima.

"Sekarang fokuskan pikiran pada otot perut dan panggul terlebih dahulu, Mas. Gunakan lenganmu hanya sebagai penyeimbang, bukan penopang utama. Perlahan... angkat tubuhmu," instruksi Senjani lembut namun tegas, menempelkan kedua telapak tangannya di pinggang Jiro untuk memberikan sokongan taktil.

Jiro memejamkan matanya, mengembuskan napas panjang melalui hidung. Dia mengerahkan seluruh konsentrasi otaknya untuk mengirimkan sinyal ke bagian bawah tubuhnya yang selama enam bulan ini terasa seperti balok kayu mati.

"Argh..." Jiro menggeram pelan. Dengan satu sentakan tenaga yang besar, dia mendorong tubuhnya ke atas.

Lututnya gemetar hebat, bergoyang ke kanan dan ke kiri seolah siap patah kapan saja. Namun, dengan bantuan cengkeraman tangannya pada tiang besi dan topangan hangat tangan Senjani di pinggangnya, Jiro berhasil menegakkan tubuhnya secara penuh. Pria itu berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri untuk pertama kalinya sejak kecelakaan tragis itu.

Mata Senjani seketika berkaca-kaca melihat pemandangan tersebut. "Mas... Kamu berdiri. Kamu berhasil berdiri dengan tegak!" ucapnya menahan haru yang membuncah di dalam dada.

Jiro membuka matanya, menatap lurus ke arah cermin besar di depannya. Dia melihat pantulan dirinya sendiri yang sedang berdiri. Rasa bangga dan haru yang teramat sangat menyeruak di dalam rongga dadanya, meruntuhkan sisa-sisa trauma masa lalu yang sempat mengurungnya.

"Jangan menangis dulu, Senjani. Ini baru permulaan," ucap Jiro dengan suara yang bergetar menahan emosi, meskipun matanya sendiri tampak memerah. Dia menatap ke ujung tiang besi yang berjarak sekitar tiga meter di depannya. "Aku ingin mencoba melangkah."

T-Tunggu, Mas. Jangan dipaksakan dulu, otot Kamu bisa kram seperti waktu itu—"

"Aku pasti bisa. Percayalah padaku," potong Jiro cepat, tatapannya mengunci manik mata istrinya di dalam pantulan cermin. Ada keyakinan yang mutlak di sana.

Senjani menelan ludahnya, mengangguk patuh. Dia memposisikan dirinya berdiri tepat di depan Jiro, berjalan mundur perlahan dengan kedua tangan yang tetap bersiap di bawah ketiak Jiro untuk mengantisipasi jika suaminya tiba-tiba limbung jatuh.

"Baiklah. Majukan kaki kananmu terlebih dahulu, Mas. Geser perlahan, rasakan tumpuan berat badannya," pandu Senjani dengan suara yang bergetar.

Jiro memajukan tangan kanannya di atas besi penyangga. Dia mengumpulkan seluruh kekuatan batinnya, memaksa kaki kanannya untuk bergerak maju. Satu detik yang menyiksa berlalu. Kaki kanan Jiro terangkat beberapa sentimeter dari lantai marmer, lalu mendarat di depan dengan posisi yang agak kaku.

Tap.

Satu langkah berhasil.

"Itu bagus, Mas! Sekarang lanjut kaki kirimu, pelan-pelan," seru Senjani, air mata kebahagiaan akhirnya lolos membasahi pipinya yang kemerahan.

Jiro tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat tampan yang belum pernah dia perlihatkan kepada dunia selama ini. Dia memajukan tangan kirinya, lalu menyeret kaki kirinya untuk menyusul posisi kaki kanannya.

Tap.

Langkah kedua berhasil.

Namun, tepat saat Jiro mencoba mengambil langkah ketiga, otot betis kirinya mendadak mengalami kelelahan ekstrem. Cengkeraman tangannya pada tiang besi meleset karena telapak tangannya yang basah oleh keringat. Tubuh tegap Jiro mendadak kehilangan keseimbangan total dan ambruk ke arah depan.

"Mas Jiro!!!"

Senjani tidak berpikir dua kali. Alih-alih menghindar untuk menyelamatkan dirinya sendiri, dia justru merentangkan kedua lengannya lebar-lebar dan menubrukkan tubuh kecilnya ke depan untuk menangkap tubuh kekar Jiro yang sedang jatuh terjerembab.

Brak!!!

Tubuh mereka berdua jatuh bersamaan di atas matras tebal yang berada di bawah tiang besi. Jiro jatuh menimpa tubuh Senjani dengan posisi kepala Senjani yang terlindung aman di bawah dekapan lengan kekar suaminya. Senjani meringis pelan saat punggungnya menghantam matras, namun dia mengabaikan rasa perih itu demi memastikan kondisi Jiro.

"Mas... Mas Jiro gapapa? Ada yang terluka ga?" tanya Senjani panik, kedua tangannya meraba-raba wajah dan bahu Jiro yang berada di atas tubuhnya.

Jiro tidak langsung menjawab. Dia menumpu berat tubuhnya menggunakan kedua sikunya di sisi kepala Senjani, menatap wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat. Deru napas mereka yang memburu karena kelelahan dan kepanikan saling berkejaran di udara, menciptakan keheningan yang mendadak terasa sangat intim di antara mereka.

Jiro menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata jernih milik Senjani yang dipenuhi oleh kekhawatiran yang tulus untuknya. Mengapa wanita ini selalu mengorbankan tubuhnya sendiri setiap kali dia dalam bahaya? Mengapa wanita ini begitu bodoh untuk mencintainya yang sempat menjadi monster kejam?

Jiro mengulurkan tangan kanannya, mengusap air mata yang tersisa di pipi Senjani dengan ibu jarinya yang hangat. "Kenapa kamu selalu menyelamatkanku, Senjani? Jika tadi kita jatuh di atas lantai marmer yang keras, kamu bisa terluka parah karena menahan tubuhku."

"Karena tugasku adalah melindungimu, Mas," jawab Senjani lirih, suaranya melemah di bawah intensitas tatapan mata Jiro yang membakar jiwanya. "Aku ga peduli jika aku harus terluka, asalkan Kamu baik-baik aja."

Kata-kata itu meruntuhkan sisa-sisa kewarasan dia dalam Jiro malam itu. Pria itu menundukkan kepalanya, menyatukan kening mereka berdua, membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan lembut.

"Kamu benar-benar membuatku gila, Nona Terapis," bisik Jiro dengan suara bariton yang serak dan dalam, tepat di depan bibir Senjani. "Aku berjanji, langkah berikutnya yang kuambil... adalah langkah untuk membawamu menuju masa depan yang bahagia bersamaku. Tidak akan ada lagi air mata atau perlakuan kasar dariku untukmu."

Senjani tersenyum di sela tangis harunya, melingkarkan kedua lengannya di leher Jiro. mengeratkan dekapan mereka di atas matras terapi yang menjadi saksi bisu awal mula kebangkitan sang Tuan Muda Nandotomo dari kelumpuhannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!