"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB—12
"Minggir kalian semua! Jangan menghalangi jalanku." suara seorang pemuda berusia 20 tahun.
"Aku hanya ingin menanyakan dimana ibuku (Bi Titin)berada?" tanya Pemuda itu dengan nada tinggi.
Dua orang—buah Arga yang ditugaskan untuk menjaga agar tidak ada seorang pun yang masih ke dalam rumah itu menghadang pemuda itu di depan gerbang.
"Tidak bisa! Kamu tidak diperbolehkan masuk! Ini perintah dari Pak Arga." tangan salah satu anak buah menghalangi Pemuda itu.
"Suruh majikan mu keluar! Aku ingin tahu, dimana ibuku berada? Terakhir ibuku mengirim pesan jika dia tidak bisa di kabari ada sesuatu yang terjadi dengan ibuku!" pemuda itu mengerang, berteriak. "KELUAR KALIAN!!!"
Ceklek!
Pintu rumah terbuka. Pria itu keluar dari dalam rumah. Langkah kakinya berjalan sangat lambat. Diiringi senyum tipis.
Tak ...
Tak ...
Tak ...
Langkah kaki penuh percaya diri. Tanpa ada sedikitpun rasa takut di dalam hatinya. Arga berjalan menghampiri pemuda itu.
"Ada apa ribut-ribut di depan rumahku?" tanya Arga, sambil berjalan mendekat secara perlahan.
"HE-YAH!!! Katakan dimana kamu menyembunyikan Ibuku?" Teriak pemuda itu, bertanya sambil menunjuk Pria yang berjalan menghampiri gerbang.
"Siapa kamu?" tanya Arga tegas.
"Aku? Tidak penting siapa aku! Katakan dimana ibuku? Apa yang terjadi dengan ibuku? Kenapa dia tidak bisa dihubungi?" suara pemuda itu semakin kencang dengan nada tinggi penuh amarah.
Arga tersenyum menyeringai. "Hmph ... ternyata kamu anak pembantu itu," ucapnya dengan nada angkuh.
"Pesan terakhir ibuku sebelum aku tidak bisa menghubunginya. Ia meminta agar dia datang ketempat ini jika dia tidak bisa dihubungi selama dua hari! Katakan apa yang terjadi dengannya?" desak pemuda itu dengan suara mengerang.
Kedua anak buah Arga memegang pemuda itu. Sehingga pemuda itu tidak bisa bergerak atau melawan.
"Sayangnya kamu bertanya kepada orang yang salah ... Aku tidak tahu dimana pembantu tua itu berada," jawabnya lirih dan kesan dingin tanpa rasa bersalah.
Keributan yang terjadi di luar gerbang terdengar keras di telinga Kirana.
"Ada apa di luar? Kenapa berisik sekali? Apa yang terjadi, kenapa sangat ribut?" gumamnya lirih penuh pertanyaan.
"Sebaiknya aku turun." wanita buta itu berjalan keluar.
Tangannya meraba-raba jalan dengan tongkat yang membantunya menelusuri jalan. Semakin ia dekat, semakin jelas juga keributan yang ia dengar.
"Suamiku? Kenapa dia masih ada di rumah? Bukannya dia bilang mau kembali ke kantor! Kenapa masih di sini?"
Kirana sampai di depan pintu. Tangannya menelusuri pintu mencari gagang pintu.
Gppp!
Tangannya memegang, lalu menggesernya kebawah.
Ceklek!
Pintu perlahan terbuka. Wanita itu kemudian berjalan keluar.
"Sayang! Kamu belum pergi? Ada apa kenapa aku mendengar ada yang ribut?" sahutnya memanggil suaminya.
Pemuda itu mendongak ke arah seruan seorang wanita buta.
"Bu Kirana ...!" lirih pemuda itu terkejut melihat kondisi wanita itu.
Begitu pula dengan suami dari wanita itu. Ia memalingkan pandangannya ke arah sang istri yang memangilnya.
"Sayang! Kenapa kamu keluar?" tanya Arga.
pemuda itu memberontak—berusaha melepaskan dirinya dari ke dua anak buah Arga yang memegangi dirinya.
"Lepaskan saya!" pinta pemuda itu berontak.
"Ada apa ini? Siapa disana?" Kirana bertanya kepada mereka yang ada di sana.
Pemuda itu berseru. "Ini saya Bu, Kacul. Anak Bi Titin. Apa Bu Kirana masih ingat saya?"
"Kacul?" Kirana mencoba mengingat. "Oh, jadi kamu anaknya Bi Titin."
Arga mencoba untuk terlihat tenang. "Sayang! Apa kamu kenal dengan dia?" tanya Arga.
"Tentu saja! Dia dulu sering datang kesini," jawab Kirana.
"Tolong kalian bisa lepaskan pemuda itu. Dia tadi meminta kalian untuk melepaskannya." suruh Kirana kepada anak buah suaminya.
Kedua anak buahnya menoleh ke arah Arga terlebih dahulu. Menunggu perintah dari suami wanita itu.
Arga mengayunkan tangannya. "Lepaskan dia." suruh Arga tegas.
"Baik, Pak!"
Mereka melepaskan pemuda itu.
"Sih! Lepas!" Kacul mendengus dingin.
Kirana penasaran apa yang membuat anak Bi Titin datang ke rumahnya.
"Kacul. Ada apa kamu datang kesini?" tanya Kirana penuh perhatian.
"Maaf Bu! Sebelumnya saya membuat keributan di sini." ucapnya lihir.
"Tidak apa-apa! Katakan apa yang membuat mu datang kesini?" tanya Kirana sekali lagi dengan suara lembut.
"Begini Bu. Saya hanya ingin menanyakan keberadaan ibu saya. Namun kedua orang ini menghalangi saya masuk," kata Kacul dengan suara jengkel.
"Bi Titin?" Kirana bingung. "Maaf, Kacul. Saya juga tidak tahu! Saya juga berniat menanyakan Bi Titin sama kamu," jawab Kirana dengan nada getir.
"Apa Bu?! Ibu juga tidak tahu?" ucap Pemuda itu kaget.
Kirana mengangguk pelan. "Iya ..." suaranya lirih, dan tangannya meraba-raba udara mencari keberadaan suaminya.
"Sayang! Apa kamu benar-benar tidak tahu di mana Bi Titin?" tanya dengan nada mendesak.
"Aku sudah bilang sama dia, bahwa aku juga tidak tahu di mana keberadaan Bi Titin," jawab Arga datar.
"Bu Kirana! Saya mendapatkan pesan dari ibu saya," kata Kacul dengan suara keras.
"Pesan apa?" tanya Kirana penasaran.
Arga semakin kesal dengan pemuda itu. Tatapannya tajam melihat saat melihat pemuda itu. Tangannya sedikit mengepal di antara pahanya tanpa ada yang menyadari hal itu.
'Pria ini! Sepertinya dia juga ingin bernasib sama dengan wanita tua itu.'
Arga kemudian bersuara. "Katakan yang jelas! Apa sebenarnya pesan dari ibumu itu?" suruhnya tegas dan mendesak.
"Iya! Pesan apa yang Bi Titin krim sama kamu?" Kirana semakin penasaran.
"Ini " tangannya menunjukkan layar ponselnya di hadapan mereka.
"Ibuku menyuruh ku untuk datang kesini, jika dia tidak bisa di hubungi dan meminta ku memangil polisi jika dia benar-benar tidak bisa di hubungi. Jiak dia menghilang dia meminta ku untuk melapor suami Bu Kirana." pemuda itu membacakan pesan terakhir dari ibunya.
Seketika tubuh Kirana gemetar hebat. Apa maksud dari pesan itu?
'Tapi ... kalau Bi Titin memang menghilang, kenapa dia sampai meminta anaknya melaporkan suamiku?'
"Kacul! Apa yang kamu katakan? Apa maksud dari pesan Bi Titin? Saya tidak mengerti?" tanya Kirana dengan suara terkejut.
"He-yah! Apa maksudnya ini? Jadi kamu menuduh ku?" seru Arga tidak terima.
"Maaf Pak! Bu! Jika ibu saya tidak bisa di temukan. Saya akan melaporkan kalian berdua kepada polisi." Pemuda itu mengancam Arga dan Kirana.
"Sebentar! Saya masih tidak mengerti? Bi Titin tiba-tiba saja hilang? Lalu apa yang Suami saya lakukan? Dia tidak melakukan apa-apa?" kata Kirana membela suaminya.
"Sayang! Kamu pergi kedalam! Biar aku yang menangani ini," pinta Arga.
Arga menyuruh anak buahnya mengantar istrinya masuk.
"Tapi! Sayang—"
"Sudah! Kamu masuk saja," potong Arga.
'Dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?'
"Bu Kirana, jangan masuk dulu!" pinta Kacul
Kirana berhenti.
Arga langsung menatap tajam. "Apa maksudmu?"
Kacul menelan ludah, tetapi tetap berdiri tegak. "Saya cuma ingin memastikan Ibu saya benar-benar tidak ada di rumah ini." Kacul menatapnya tajam.
'Kamu ingin mencari ibumu?' Arga tersenyum.
'Kalau begitu... jangan sampai kamu menyusulnya.'
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,