NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah Sang Mafia

Dendam Berdarah Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.

Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.

Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.

William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.

Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.

"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."

Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.

Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.

Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan..

"Aaaahhh!"

Teriakan terdengar nyaring di sebuah ruangan hotel mewah, dimana teriakan itu segera dia tahan dengan menekan tangannya ke mulut, dia tidak akan percaya apa yang terjadi, dan apa yang ia lihat sekarang ini di sisinya.

Bagaimana tidak, dia melihat seorang lelaki tanpa pakaian tertidur di sampingnya.

Dia segera menutup mulutnya dan matanya membulat, jantungnya berdegup sangat kencang seolah dia tidak percaya ini adalah kenyataan.

Dia terdiam dan nafasnya seolah tertahan dimana dia benar-benar tidak percaya apa yang sedang terjadi dengannya sekarang ini.

"Ini pasti mimpi buruk, bukan kenyataan. Oh, Akila, bagaimana bisa kau melakukan hal ini?!" bisik Akila dengan nada geram pada dirinya sendiri.

Sambil berusaha mengatur nafas dan mengendalikan emosinya, dia melihat lelaki di sisinya yang ternyata tidak terganggu oleh teriakan yang baru saja keluar dari mulutnya. Akila merasa panik, bingung, dan kecewa pada diri sendiri.

Tidak mampu menahan perasaan malu yang menyesakkan, dia mencoba mengumpulkan pakaiannya yang tercecer di atas ranjang dan segera mengenakannya.

Akila merasa seperti wanita yang nakal, jauh dari prinsip yang selama ini dipegang teguh olehnya.

"Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Aku bahkan tidak ingat apa-apa." keluhnya pelan sambil mencoba mengingat-ingat kejadian yang membawanya ke situasi ini.

Air mata malu mulai menetes, menandakan runtuhnya harga diri seorang Akila.

Dalam hatinya, dia bersumpah akan mencari jawaban atas semua hal aneh ini. Namun, untuk saat ini, dia harus meninggalkan lelaki yang masih tertidur pulas di atas ranjang luas itu, tidak ada niatan sedikitpun dari Akila untuk melihat wajah lelaki itu, yang bisa dilihat oleh Akila hanyalah tubuhnya yang berada di dalam selimut.

Lelaki itu tertidur dengan menoleh ke sisi yang lain sehingga wajahnya tidak jelas di mata Akila.

Dengan gemetar, Akila segera meraih tasnya yang tergeletak di lantai dekat ranjang. Tangannya bergetar hebat saat ia mengancingkan bajunya yang kusut. Ia tidak berani menoleh lagi ke arah ranjang, tidak berani melihat pria asing yang telah merenggut keperawanannya semalam—meskipun ia sendiri tidak ingat apapun.

Setelah memastikan semua pakaiannya sudah rapi, Akila melangkah pelan menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seperti kakinya terikat rantai. Ia membuka pintu dengan hati-hati, takut jika pria itu terbangun. Namun syukurlah, pria itu tetap tertidur lelap.

Akila keluar dari kamar hotel dengan langkah tergesa-gesa. Lorong hotel yang mewah dan sunyi terasa seperti labirin yang tak berujung. Ia terus berjalan, hampir berlari, hingga akhirnya mencapai lobi hotel. Tanpa menatap siapa pun, ia melesat keluar dan berjalan cepat di sepanjang trotoar.

Matahari pagi menyengat kulitnya, namun Akila tidak merasakan apa-apa selain kebekuan di dadanya. Ponselnya bergetar di dalam tas, tetapi ia mengabaikannya. Beberapa kali ia mendengar deringan yang tak kunjung berhenti, tapi ia tidak punya kekuatan untuk menjawab.

Akhirnya, ponselnya berdering lagi untuk kesekian kalinya. Dengan napas berat, Akila mengeluarkan ponselnya dan melihat layar.

Nona Wijaya 👑

Akila terdiam. Namanya saja sudah cukup membuat perutnya mual. Namun tangannya bergerak otomatis, menerima panggilan itu.

"Halo, Kakak!" Suara manis Kiara terdengar dari seberang sana, penuh dengan nada ceria yang membuat Akila ingin muntah. "Kakak di mana? Dari tadi aku telepon gak diangkat!"

Akila menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang mendidih. Suara gadis yang baru semalam ia lihat bergumul dengan tunangannya sendiri itu terdengar begitu riang, seolah tidak ada yang terjadi.

"Aku... lagi di luar," jawab Akila singkat, suaranya serak dan lemah.

"Wah, untung banget! Aku lagi butuh teman nih, Kakak!" Kiara tertawa kecil, terdengar begitu manis dan polos. "Aku mau ke mal, mau belanja baju baru. Ayah kasih uang banyak nih, katanya buat persiapan pernikahan Kakak sama Kevin!"

Mendengar nama Kevin, jantung Akila terasa tertusuk. Air matanya kembali menggenang, namun ia menahannya. Kiara tahu persis apa yang terjadi semalam, ia melihatnya langsung, dan kini ia bertingkah seolah semua itu tidak pernah terjadi. Seolah ia adalah adik yang baik dan perhatian.

"Kakak temani aku yah! Aku janji gak bakal lama, cuma sebentar kok," bujuk Kiara dengan nada merajuk yang dulu selalu membuat Akila luluh. Tapi sekarang, Akila hanya merasakan jijik yang mendalam.

Sebenarnya Akila ingin menolak, ingin membentak, ingin meneriaki Kiara dan mengatakan bahwa ia tahu semua kebusukannya. Tapi ia ingat ancaman Kevin. Ibu tirinya yang kejam, ayahnya yang dingin. Jika ia melawan, mereka akan membuangnya. Mereka akan menyiksanya. Ia tidak punya tempat berpulang.

"Iya... aku datang," jawab Akila akhirnya, suaranya lirih dan hampa.

"Yess! Aku jemput ya Kakak! Cuma lima belas menit lagi!" Kiara berseru gembira, lalu menutup telepon tanpa memberi kesempatan Akila untuk menjawab.

Akila menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Ia terdiam di tengah trotoar, menatap langit yang terik namun hatinya terasa sangat dingin. Dalam benaknya, ia berkata pada dirinya sendiri, "Aku harus bertahan. Aku tidak punya pilihan. Suatu saat... suatu saat nanti, mereka semua akan membayar."

Lima belas menit kemudian, sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti di hadapannya. Kiara menurunkan kaca samping, memperlihatkan wajah cantiknya yang tersenyum lebar. Seperti biasa, Kiara tampak sempurna dengan riasan tebal dan pakaian modis yang membuatnya terlihat seperti bintang film.

"Ayo Kakak, naik!" seru Kiara riang.

Akila naik ke kursi penumpang dengan wajah datar. Begitu ia duduk, Kiara langsung menggeber mobilnya, melaju kencang di jalanan kota yang mulai padat.

"Kakak kok diam saja sih? Ada masalah?" tanya Kiara pura-pura perhatian, namun matanya tetap tertuju pada jalan. "Oh iya, semalam Kakak pergi ke mana sih? Aku pulang duluan soalnya Kevin bilang Kakak udah pergi."

Akila mengepal tangannya di pangkuan. Dia masih berpura-pura. Dia masih bermain sandiwara. Kiara tahu persis bahwa Akila melihat mereka, tapi ia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.

"Tidak apa-apa," jawab Akila singkat, suaranya dingin.

"Ah, Kakak tuh kaku banget sih!" Kiara tertawa sambil sesekali melirik Akila dengan pandangan penuh kemenangan. "Aku cuma sayang sama Kakak, jangan marah-marah gitu dong! Lagipula... sebentar lagi Kakak bakal nikah sama Kevin, kan? Aku senang banget Kakak akhirnya dapat jodoh!"

Akila terdiam. Ia mendengar nada sarkasme di balik kata-kata Kiara. Gadis itu dengan sengaja menyakiti hatinya, menikmati setiap detik penderitaan yang ia lihat di wajah Akila.

"Kakak tahu gak, aku udah lihat gaun pengantin yang bagus banget di mal nanti," lanjut Kiara dengan semangat palsu. "Kalau Kakak beli, pasti Kevin bakal terpesona!"

Mendengar nama Kevin, hati Akila seperti diremas-remas. Ia ingin berteriak, ingin membanting pintu mobil dan pergi. Namun ia hanya bisa diam, menahan semua sakit yang ia rasakan.

Dan di saat itulah ponsel Kiara berdering. Kiara melirik layar dan matanya berbinar. Tanpa ragu, ia mengangkat panggilan itu dengan speaker.

"Sayang!" sapa Kiara manis.

"Kiara, kamu di mana?" Suara Kevin terdengar dari seberang sana. Akila langsung menegang, darahnya mendidih. Kevin berbicara dengan Kiara begitu mesra, seolah Akila tidak ada di sebelah Kiara.

"Di jalan, mau ke mal bareng... Kakak," ucap Kiara dengan nada menggoda, menekankan kata 'Kakak' seolah sedang mempermainkan Akila.

"Wah, hati-hati kalau sama si gadis dingin itu," kekeh Kevin dengan nada meremehkan. "Jangan sampai kebawa-bawa sikap dinginnya, sayang."

Akila menggigit bibirnya sampai hampir berdarah. Tangannya yang sudah mengepal kini semakin erat, hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Ia mendengar mereka berdua bercanda di depannya, mengolok-olok dirinya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Sudahlah sayang, aku lagi nyetir ini. Nanti kita lanjutin lagi ya?" kata Kiara dengan suara cadel yang membuat Akila mual.

"Oke, hati-hati, sayangku," jawab Kevin, lalu menutup telepon.

Kiara meletakkan ponselnya di pangkuan, kemudian melirik Akila dengan senyum puas. "Maaf ya Kakak, tadi Kevin telepon. Dia tuh selalu perhatian banget sama aku," ucapnya dengan nada angkuh.

Akila tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela, menyaksikan gedung-gedung tinggi yang melintas dengan cepat. Di dalam hatinya, amarah dan kepedihan bertempur hebat. Ia tahu Kiara dan Kevin sengaja menyakitinya, sengaja mempermalukannya. Dan ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak punya tempat untuk berlindung.

"Kakak kenapa sih? Kok diem aja terus?" Kiara mulai kesal karena tidak mendapat reaksi yang diinginkannya. "Aku kan udah baik banget ngajak Kakak belanja. Seharusnya Kakak berterima kasih."

Akila masih diam. Ia memejamkan matanya, berusaha mengendalikan emosi yang siap meledak.

"Biasanya orang yang dikasihani tuh harus bersyukur, tahu!" lanjut Kiara dengan nada sinis. "Kakak ini anak angkat, Kakak. Ingat itu! Tanpa keluarga Wijaya, Kakak cuma sampah jalanan!"

Kalimat itu seperti pukulan telak di wajah Akila. Ia membuka matanya, menatap Kiara dengan tatapan kosong yang dingin. Namun Kiara hanya tertawa, menikmati setiap kata-katanya yang menusuk.

"Ah, lihat deh muka Kakak sekarang," cibir Kiara sambil tertawa. "Kayak orang mau nangis. Lucu banget sih!"

Kiara kembali tertawa, dan saat itulah—karena matanya tidak fokus ke jalan karena sibuk menatap Akila dan telponannya yang masih tertempel di tangan—ia tidak melihat mobil truk besar yang datang dari persimpangan.

"KIARA!" teriak Akila.

Namun sudah terlambat.

BRAK!

Terdengar bunyi benturan yang mengerikan. Tubuh Kiara terhempas ke depan, airbag mengembang menampar wajahnya. Akila juga terlempar ke samping, kepalanya membentur kaca jendela dengan keras.

Mobil putih itu berputar beberapa kali di tengah jalan, menabrak pembatas jalan sebelum akhirnya berhenti dengan kondisi ringsek di bagian depan. Kaca-kaca pecah berserakan di mana-mana. Asap mengepul dari kap mesin yang hancur.

Di dalam mobil, Kiara terguling lemas di kursi pengemudi, darah mengalir dari pelipisnya. Ponselnya terlempar ke lantai mobil, layarnya masih menampilkan nama 'Kevin'—panggilan yang baru saja ia tutup beberapa detik yang lalu.

Akila terbaring di kursi penumpang, tubuhnya terasa sakit di sekujur bagian. Darah mengalir dari lukanya di kepala, membasahi rambut hitamnya yang panjang. Ia mencoba membuka mata, tetapi pandangannya mulai kabur.

Terdengar suara klakson mobil di kejauhan, suara orang-orang yang berteriak dan berlarian menuju lokasi kecelakaan. Namun bagi Akila, semua suara itu seperti terdengar dari jauh, semakin menjauh...

Sebelum ia kehilangan kesadarannya, satu nama terakhir terlintas di benaknya.

Kevin...

Dan kemudian semuanya menjadi gelap.

---

Bersambung

1
Adinda
coba diperhatikan lagi nama tokohnya biar gak salah
Alia Chans: oke kak 🙏🥲
total 1 replies
Adinda
valen bukannya aqila
Nayla Syberia
Sebenernya bagus sih,cuman entah knp si William tetep ga berubah yaa,kek iblis gitu berwujud manusia,mungkin para pengikutnya bakal sungkem kalik yaa.
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
Alia Chans: Makasih buat saran nya
Btw kan sifat William mencerminkan judul novel nya ya kak🤭🤭
total 1 replies
mary dice
sangat rumit ckckck
Alia Chans: ..🤭🤭🤭
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nelson Sihombing
Dah di curi, kasih makan pun tak
Haryati Atie
harus nya akila bisa ambil kepercayaan william dh dia percaya bru kabur akila.
Alia Chans: Ini lagi ngajari Akila hal sesimpel itu🤭
total 1 replies
Nelson Sihombing
suka karakter Akila
Haryati Atie
thourr tipo ya jdi vallen .
Alia Chans: Sorry atas ketidaknyamanan nya, soalnya seingatku Valen tadi😭😭
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
kok jadi Valen kak
Mia Camelia
suka nih sama sisi posesif nya wiliam ke akila🤭
lanjut thor😄
Alia Chans: siap kak🤭/Smile//Smile/
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya 😘
Alia Chans: Thank you kak🙏🏻
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
crazy up kak
Alia Chans: Ditunggu ya 🤭/Slight//Slight/
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
🔵🌹 Widian🧕
nah ...jadi sial kan mengolok-olok kakak sendiri.
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .
Alia Chans: emm gimana ya...🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!