NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Riak Kecil di Balik Perhatian

Beberapa hari berlalu sejak pemeriksaan kehamilan itu.

Perubahan fisik pada tubuh Hanifah kini mulai terlihat jelas secara signifikan. Perutnya mulai tampak membuncit dan menonjol ke depan. Meskipun usia kandungannya baru saja menginjak tiga bulan, ukuran dan bentuk perutnya sudah terlihat menyamai ibu hamil yang usia kandungannya lima bulan.

Hal itu tentu saja sangat wajar, mengingat ada tiga janin sekaligus yang sedang tumbuh aktif di dalam rahimnya.

Pagi itu, seperti biasa Hanifah mengantar Arkana hingga ke depan rumah. Di tangannya sudah ada kantong plastik berisi kotak bekal yang baru saja disiapkannya.

Arkana mengenakan helm sambil menatap perut istrinya.

"Ingat ya, Dek. Jangan kecapekan."

Hanifah mengangguk. "Iya, Mas."

​"Jangan coba-coba nekat mengangkat jemuran pakaian di halaman belakang," Tambah Arkana dengan nada penuh peringatan. "Nanti sore biar Mas saja yang angkat setelah pulang kerja."

"Iya, Mas."

"Terus jangan nyuci baju banyak-banyak. Kalau menumpuk, biar Mas yang cuci."

"Iya."

"Tanaman di belakang juga jangan disiram dulu. Nanti jalannya basah."

Hanifah mengembuskan napas panjang. Ia menatap suaminya dengan tatapan jenaka sambil berkacak pinggang pelan. "Mas..."

​"Iya, ada apa, Dek?" tanya Arkana polos.

"Kalau semuanya tidak boleh... Terus aku di rumah mau ngapain?"

Arkana tersenyum kecil. "Ya istirahatlah memang mau apa lagi."

"Masak tidak boleh. Nyuci tidak boleh. Nyapu juga tidak boleh. Sampai nyiram tanaman juga tidak boleh." keluh Hanifah setengah memprotes, meski hatinya merasa sangat disayangi.

Arkana mengangguk tanpa merasa bersalah. "Iya, seharusnya begitu."

Hanifah menggeleng sambil tertawa kecil. "Kalau begitu aku jadi pengangguran sukses di rumah."

Arkana ikut tertawa, lalu melangkah mendekat satu langkah.

"Dokter kemarin sudah bilang. Kehamilanmu berisiko. Mas tidak mau mengambil risiko sedikit pun." Ia kemudian mengusap lembut perut Hanifah. "Di sini ada tiga calon jagoan kita. Kalau sampai mereka kenapa-kenapa, Mas tidak akan bisa memaafkan diri sendiri."

Mendengar itu, senyum Hanifah perlahan berubah hangat.

"Iya, Mas. Aku janji lebih hati-hati."

Di saat itulah terdengar suara salam dari depan pagar.

"Assalamu'alaikum."

Keduanya menoleh bersamaan. Ternyata Bu Sulastri datang sambil membawa sebuah mangkuk besar yang ditutup rapat.

"Wa'alaikumsalam, Bu," jawab mereka hampir bersamaan.

"Loh, Arkana mau berangkat kerja?" tanya Bu Sulastri begitu melihat Arkana sudah mengenakan jaket dan helm.

​"Iya, benar, Bu. Ini saya baru saja mau memanaskan mesin motor," jawab Arkana jujur.

Bu Sulastri mengangkat mangkuk yang dibawanya.

"Ini Ibu tadi masak sayur bening, khusus untuk kalian buat makan siang Hanifah

Arkana tersenyum, merasa terbantu.

"Wah, terima kasih banyak, Bu. Saya sudah sarapan dan bekal juga sudah dibawakan Hanifah."

Bu Sulastri mengangguk, lalu beralih menatap Hanifah.

"Kalau kamu. Sudah sarapan, Hanifah?"

"Sudah juga kok, Bu. Tadi pagi sarapan sedikit roti," jawab Hanifah sambil tersenyum canggung.

​Arkana tampak ragu sejenak, ia melirik istrinya lalu kembali menatap Bu Sulastri. "Bu... kalau boleh, saya ingin menitipkan satu permintaan kepada Ibu selama saya pergi bekerja."

​"Eh, permintaan apa itu, Nak Arkana? Katakan saja, kalau Ibu bisa pasti Ibu bantu," sahut Bu Sulastri antusias.

​"Kalau Ibu kebetulan sedang senggang atau sempat, tolong sesekali tolong tengok Hanifah di dalam rumah, Bu," pinta Arkana serius.

​Bu Sulastri langsung mengernyitkan dahi, tampak heran. "Memangnya ada apa? Hanifah sedang sakit?"

"Dokter bilang kandungannya harus benar-benar dijaga. Jangan sampai terlalu capek." jelas singkat Arkana, membuka sedikit informasi.

Bu Sulastri menoleh kepada Hanifah.

"Emang gimana hasil kontrol kemarin?"

​Hanifah tersenyum malu-malu, ia melirik Arkana sekilas meminta persetujuan sebelum akhirnya menjawab. "Alhamdulillah semuanya sehat dan normal, Bu. Dan... ada kejutan sedikit."

​"Kejutan apa?" tanya Bu Sulastri penasaran.

​Hanifah menarik napas dalam. "Hasil USG kemarin menunjukkan kalau saya ternyata sedang hamil bayi kembar tiga, Bu."

​"Masa? Kamu tidak sedang bercanda, kan?" tanya Bu Sulastri dengan mata yang langsung membulat sempurna karena terkejut. "Masyaallah..." Beliau spontan melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk mengusap pelan lengan Hanifah dengan raut wajah tidak percaya. "Alhamdulillah... Pantas saja Ibu perhatikan perutmu belakangan ini sudah mulai terlihat besar sekali untuk ukuran hamil muda. Tapi ketiganya sehat semua di dalam, kan?"

"Iya, Bu. Dokter bilang perkembangan mereka bagus." sahut Hanifah.

Bu Sulastri tersenyum haru. "Alhamdulillah, sehat-sehat ibu calon tiga bayi."

Arkana kemudian melirik jam tangannya. "Wah, saya harus berangkat. Khawatir telat absen." Ia menoleh kepada Bu Sulastri. "Bu, sekali lagi saya titip Hanifah. Kalau dia nekat angkat ember atau nyuci banyak, tolong dimarahi saja."

Bu Sulastri tertawa kecil.

"Tenang. Ibu akan menjaga Hanifah seperti anak Ibu sendiri."

Hanifah langsung tersenyum haru. "Terima kasih, Bu."

Arkana menyalami istrinya.

"Mas berangkat dulu, dek. Assalamu'alaikum."

"Hati-hati di jalan, Mas. Waalaikumsalam."

Motor Arkana perlahan keluar dari halaman rumah hingga menghilang di tikungan. Hanifah masih melambaikan tangan sampai suaminya benar-benar tidak terlihat.

"Ayo masuk, Nak," ajak Bu Sulastri sambil menepuk pelan pundak Hanifah. "Nanti sayurnya keburu dingin."

"Iya, Bu. Mari silahkan masuk." jawab Hanifah.

Mereka berdua berjalan masuk dan memilih untuk duduk lesehan di atas tikar ruang tamu yang nyaman. "Hanifah, kamu duduknya bersandar saja di bantal besar itu. Jangan duduk terlalu tegak lurus begitu, Nanti punggungmu cepat pegal," titah Bu Sulastri perhatian.

​Hanifah tersenyum canggung, merasa agak sungkan. "Tidak apa-apa kok, Bu. Saya malah merasa tidak enak kalau di depan Ibu malah asyik bersandar begitu."

Bu Sulastri terkekeh. "Dasar anak ini. Masih sungkan juga sama Ibu."

Hanifah hanya tersenyum.

"Oh iya. Pakaian bayi yang kemarin sudah Ibu cuci." lanjut Ibu Sulastri.

Hanifah langsung menoleh.

"Benarkah, Bu?"

"Iya. Tapi ranjang bayinya cuma satu. Kalau nanti benar tiga bayi... Sepertinya Pak Hadi harus membuat dua ranjang lagi." ujar Bu Sulastri menimbang-nimbang.

Hanifah langsung menggeleng.

"Jangan, Bu. Nanti malah merepotkan dan membebani Ibu dan Bapak."

"Repot bagaimana? Pak Hadi itu malah senang kalau ada kerjaan. Lagipula..." Bu Sulastri menjeda kalimatnya. Bu Sulastri tersenyum lembut. "Ibu dan Pak Hadi sudah menganggapmu seperti anak sendiri."

Mata Hanifah mulai berkaca-kaca.

"Terima kasih banyak, Bu. Atas kebaikan kalian untuk kami."

Bu Sulastri lalu melanjutkan, "Pak Hadi juga sebenarnya kangen cucu. Anak-anak kami sudah punya keluarga masing-masing. Jarang sekali pulang. Kalau nanti beliau tahu kamu hamil kembar tiga... Ibu yakin beliau pasti semangat membuatkan ranjang bayi."

Hanifah tertawa kecil membayangkannya.

...​✧─────────── ✦ ───────────✧...

Menjelang siang, ponsel Hanifah berdering. Di layar digital itu tertulis nama 'Mas Arkana'. Tanpa membuang waktu, Hanifah segera menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut.

​"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Hanifah terlebih dahulu.

​"Wa'alaikumsalam, Dek," sahut Arkana dari seberang sambungan telepon.

"Mas, tumben menelepon." tanya Hanifah penasaran.

​"Ini kebetulan sedang jam istirahat siang, Dek. Tadi Mas baru saja Mendapat telepon dari Ayah," jelas Arkana, membuka inti pembicaraan.

​Hanifah langsung dirundung rasa penasaran. "Ada apa memangnya Ayah menelepon Mas?"

"Ayah minta kita ke rumah nanti sore. Katanya ada yang ingin dibicarakan. Mas juga belum tahu soal apa."

Hanifah mengangguk pelan.

"Oh... Begitu ya, Mas."

​"Sekalian nanti setelah dari rumah Ayah, kita mampir juga ke rumah orang tuamu, ya. Tadi Mas juga sempat dikabari kalau Ibumu bilang sedang kangen sekali dengan kamu."

​Hanifah tersenyum senang. "Lho, kok Ibu sendiri tidak ada menelepon atau mengirim pesan ke aku dari pagi?"

​"Katanya sengaja tidak mau menelepon langsung karena takut mengganggu waktu istirahat tidur siangmu, Dek," jawab Arkana dibarengi kekehan kecil.

Hanifah terkekeh kecil. "Ibu memang begitu."

"Makanya nanti siap-siap, ya. Mas pulang lebih awal. Biar tidak kemalaman."

​"Iya, Mas. Aku akan bersiap-siap sebelum Mas datang."

​"Kalau begitu, Mas tutup dulu ya teleponnya. Selamat istirahat kembali dan hati-hati di rumah."

​"Iya, Mas. Mas juga hati-hati kerjanya. Assalamu'alaikum."

​"Wa'alaikumsalam."

Telepon pun terputus. Hanifah memandangi layar ponselnya beberapa saat. Entah mengapa, ia seperti merasa bahwa Ayah Arkana ingin menyampaikan sesuatu yang cukup penting.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!