Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Desakan dan Dilema
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ketegangan yang kian memuncak. Setiap waktu, setiap kali Mita melihat Sam di rumah, pria itu tidak pernah lepas dari ponselnya. Rumah yang semula tenang kini kerap dipenuhi gema suara Sam yang sedang berdebat sengit dengan Vanya di telepon. Hubungan yang semula penuh kemesraan itu kini berubah menjadi medan pertempuran ego yang melelahkan.
Dari balik dinding ruang tengah atau saat menyiapkan keperluan rumah, Mita bisa mendengar potongan-potongan argumen dari seberang telepon yang diucapkan dengan nada menuntut. Vanya terus-menerus mendesak Sam tanpa kelonggaran sedikit pun.
Menikah atau berhubungan intim sekarang juga—itu adalah ultimatum yang terus dilayangkan Vanya secara berulang-ulang, membuat posisi Sam kian tersudut.
Ketegangan itu tidak mengenal waktu, bahkan sejak matahari baru saja terbit.
Pagi itu di meja makan, Mita sedang menyendokkan nasi goreng ke piring Sam ketika ponsel pria itu di atas meja mendadak bergetar hebat. Nama Vanya berkedip di layar. Sam menghela napas kasar, menyambar ponselnya, dan langsung menjawabnya dengan nada tinggi tanpa memedulikan keberadaan Mita yang duduk tepat di hadapannya.
"Vanya! Bisa tidak kamu sabar sedikit?! Aku sedang sarapan!" teriak Sam, wajahnya langsung memerah menahan kesal.
Ia mendengarkan sejenak suara melengking dari seberang telepon sebelum kembali membentak, "Aku tidak bisa melakukannya sekarang! Berapa kali harus aku katakan, tunggu sampai kita resmi menikah! Jangan paksa aku untuk melanggar prinsipku sendiri!"
Sam langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak dan membanting ponselnya kembali ke atas meja, membuat sendok di piringnya berdenting. Mita yang menyaksikan hal itu dari jarak dekat hanya diam, menatap prihatin pada Sam yang kini kehilangan selera makannya.
Bahkan saat Sam sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, teror telepon itu tidak juga berhenti. Mita yang mengantarnya hingga ke pintu depan kembali harus menyaksikan kemarahan pria itu meledak di halaman rumah.
Baru saja Sam membuka pintu mobil, ponselnya kembali menjerit. Sambil mencengkeram setir dengan satu tangan, Sam berteriak frustrasi ke arah speaker ponselnya.
"Astaga, Vanya! Aku mau berangkat kerja! Tolong mengerti posisiku sebagai calon CEO!" seru Sam dengan suara menggelegar, hingga gema suaranya terdengar jelas oleh Mita yang berdiri di teras rumah.
"Pilihannya tidak seburuk itu, Vanya! Berhenti mengancamku dengan pilihan menikah siri atau tidur bersama sekarang juga! Kamu membuatku gila!" Sam memutuskan panggilan itu dengan napas terengah-engah, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang mengepul di halaman.
Kondisi itu tidak membaik sedikit pun hingga matahari terbenam. Saat sore hari tiba dan Sam melangkah masuk ke dalam rumah, penampilannya sudah acak-acakan. Dasi yang sudah dilonggarkan dan rambut yang kusut masai menjadi bukti betapa hancurnya hari pria itu. Mita yang menyambutnya di ruang tengah kembali disuguhi pemandangan yang sama. Ponsel Sam berbunyi lagi, dan Sam langsung mengangkatnya dengan sisa-sisa kesabaran yang habis.
"Cukup, Vanya! Aku baru saja menginjakkan kaki di rumah!" teriak Sam parau, suaranya terdengar lelah sekaligus penuh amarah.
Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu di bawah tatapan mata Mita yang tenang namun prihatin. "Aku tidak mau mendengar desakan itu lagi malam ini! Menikah atau berhubungan intim sekarang? Berhenti memberikan pilihan gila itu padaku! Aku butuh waktu untuk berpikir!"
Brakk!
Sam melemparkan ponselnya ke atas sofa dan menjatuhkan dirinya di samping benda itu, menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. Sam benar-benar merasa terjebak dalam hubungan yang dibangunnya sendiri. Di satu sisi, ia masih berusaha mempertahankan sisa-sisa cintanya, namun di sisi lain, desakan agresif Vanya justru perlahan mengikis kepercayaannya.
Melihat pemandangan itu, Mita tetap bersikap tenang, menunaikan aktivitasnya tanpa ingin mencampuri urusan pribadi mereka. Namun, di balik ketenangannya, terselip rasa iba yang mendalam. Mita memilih untuk tidak berkata apa-apa atau memberikan penghakiman, membiarkan Sam bertarung dengan pilihan hidupnya sendiri di ujung sambungan telepon yang seolah tanpa akhir.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)