Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anda Sedang Cemburu?
Artis terkenal yang sedang naik daun?
Mendengar ucapan Julian, aku sempat menoleh sejenak untuk memperhatikan wajah gadis itu lagi. Namun, setelah mengingat-ingat beberapa saat, aku tetap tidak bisa mengenali siapa nama selebriti itu.
Sembari sibuk dengan pikiranku sendiri, langkah kakiku tidak berhenti bergerak mengikuti ritme jalan Bastian menuju area luar hotel yang lebih sepi. Begitu kami sampai di sudut tempat parkir yang agak remang-remang, aku langsung mempercepat langkah, menyusulnya dari samping, lalu melingkarkan tanganku di lengannya sambil tersenyum manis.
"Pak CEO, apakah Anda sedang cemburu?"
"Bastian?"
Aku mencoba bersikap manja untuk mencairkan suasana, tetapi Bastian tetap berjalan lurus ke depan tanpa ekspresi. Kesal karena diabaikan, aku langsung berlari kecil ke hadapannya dan merentangkan kedua tangan untuk menghadang jalannya. "Mas Bastian!" panggilku, sengaja meniru gaya panggilan Sheila tadi demi menggodanya.
Bastian langsung menghentikan langkahnya. Dia menundukkan kepala, menatapku lekat-lekat, lalu seulas senyum tipis yang berbahaya muncul di bibirnya. "Kamu panggil aku apa tadi?"
"Mas Bastian?" gumamku pelan dengan nada ragu.
Mendengar sebutan itu keluar dari mulutku, sorot mata Bastian mendadak berubah menjadi lebih gelap dan intens. Dia langsung mengulurkan lengan kokohnya ke pinggangku, menarik tubuhku erat-erat ke dalam dekapannya hingga dahi kami saling bersentuhan.
"Mulai sekarang, baik di rumah maupun di atas tempat tidur, kamu harus panggil aku dengan sebutan itu," bisiknya berat.
Wajahku langsung terasa panas karena malu. Secara naluriah, aku mencoba mendorong dadanya untuk mundur, tetapi dekapan lengan Bastian di pinggangku terlalu kuat, membuatku sama sekali tidak punya celah untuk meloloskan diri.
"Tapi ini..."
"Panggil aku begitu sekarang," desaknya, sebelum akhirnya menundukkan kepala untuk menghujani bibirku dengan ciuman intens.
Di sudut area parkir yang remang-remang itu, Bastian memelukku dengan sangat erat. Beruntung posisi kami cukup tersembunyi, sehingga tidak akan menarik perhatian orang lain atau petugas yang lewat.
Ketika ciuman itu akhirnya mereda, aku hanya bisa bersandar lemas di dadanya karena kedua kakiku sudah terasa seperti jeli. Bastian menahan beban tubuhku dengan satu tangan yang menopang pinggangku. Terdengar suara kekehan pelan yang seksi dari dadanya. "Besok akan kubuatkan keanggotaan gym untukmu. Dengan kondisi fisikmu yang selemah ini, aku ragu kamu bisa bertahan untuk memberiku momongan dalam waktu dekat."
Aku mendongak sambil tersenyum tipis. "Jadi, kamu dengar apa yang dikatakan Julian tadi?"
"Aku dengar," jawab Bastian sambil mempererat pelukannya pada tubuhku. "Bagi saya, tidak masalah anak kita nanti laki-laki atau perempuan. Apapun itu, saya pasti akan menyayanginya."
Seandainya saja dia menambahkan kalimat "asalkan itu anak darimu" sebelum ucapan tadi, mungkin itu akan menjadi kalimat paling manis dan romantis yang pernah kudengar darinya selama tiga tahun ini.
Namun, sebelum aku sempat tenggelam dalam angan-anganku, Bastian sudah melepaskan pelukannya dan kembali berdiri tegak. "Ayo jalan, Rian sudah menunggu di depan."
Rian, atau nama lengkapnya Rian Adi, adalah sekretaris sekaligus asisten pribadi Bastian. Dia adalah orang kedua setelah Julian yang mengetahui status hubungan rahasiaku dengan bos besar ini. Aku masih ingat betul bagaimana ekspresi syok dan tidak percaya di wajah Rian saat pertama kali mengetahui kebenarannya. Profesionalitas kerja yang biasanya selalu dia agungkan hampir saja runtuh berantakan hari itu.
Aku dan Bastian berjalan berdampingan menuju mobil. Begitu kami masuk ke kursi belakang, Rian menoleh sejenak untuk menyapa, "Malam, Pak Bastian," lalu beralih menatapku sambil mengangguk sopan dengan senyum tipis sebagai bentuk salam.
Di sepanjang perjalanan pulang, Bastian memilih untuk memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya, beristirahat sejenak tanpa menunjukkan sisa-sisa keintiman yang baru saja kami lakukan di tempat parkir tadi.
Melihat perubahan sikapnya yang kembali formal, aku tidak protes karena sudah terbiasa dengan ritme tersebut. Aku hanya memalingkan wajah memandangi gemerlap lampu kota di luar jendela sampai mobil akhirnya berbelok masuk ke halaman vila.
Sebelum turun, aku menyenggol pelan lengan kemeja Bastian dan bertanya dengan suara setengah berbisik, "Kamu... mau menginap di sini malam ini?"
Mendengar pertanyaanku, Bastian perlahan membuka matanya. Bagian putih matanya tampak dihiasi urat-urat merah tipis, sebuah tanda jelas bahwa dia kekurangan waktu tidur selama beberapa hari terakhir karena urusan pemakaman dan pekerjaan kantor.
Bastian sempat ragu selama beberapa detik. Dia mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya yang tampak tegang, lalu mengalihkan pandangan ke arah Rian di kursi kemudi. "Rian, besok tolong bantu kemasi barang-barang saya yang ada di apartemen pusat kota, lalu pindahkan semuanya ke vila ini."
"Baik, Pak Bastian," jawab Rian dengan nada yang profesional.
Selesai memberi instruksi, Bastian langsung membuka pintu mobil dan turun terlebih dahulu. Dia sempat berdiri di luar sambil menatapku yang masih duduk termangu di dalam dengan dahi sedikit berkerut. "Kenapa masih diam di sana? Kita sudah resmi menikah, dan kamu masih berpikir kita akan tinggal di rumah yang terpisah?"
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik