NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mamba Hitam

Rahasia Sang Mamba Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Joko Joko

Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12 - Seratus Meter

Hari kedua orientasi dimulai dengan olahraga pagi.

Panitia menyebutnya character building. Ayla menyebutnya hukuman kolektif dengan kaus seragam.

Mahasiswa baru Fakultas Desain dan Media Kreatif dikumpulkan di lapangan atletik kampus. Sebagian besar masih mengantuk. Beberapa membawa minyak angin. Ada yang sudah berkeringat sebelum pemanasan dimulai.

Nisa berdiri di samping Ayla sambil mengikat tali sepatu.

“Aku benci lari,” katanya.

“Kenapa masuk animasi?”

Nisa mendongak. “Hubungannya apa?”

“Tidak ada. Aku hanya bertanya.”

“Kamu kalau bertanya bikin orang merasa sedang diuji.”

Ayla melihat sekeliling. “Hari ini memang ujian.”

Nisa langsung waspada. “Ujian apa?”

Di depan barisan, Dimas berdiri dengan wajah lebih kalem daripada kemarin. Mungkin setelah ditegur Bu Ratri, dia memutuskan tidak lagi bermain galak. Vira tidak terlihat. Alina hadir sebagai panitia kehormatan, duduk di bawah tenda dengan wajah sedikit pucat, tetapi tetap tersenyum pada semua orang.

Panggung sakitnya belum selesai.

Seorang dosen olahraga yang dipinjam dari fakultas lain berdiri di tengah lapangan. Namanya Pak Joko. Tubuhnya masih tegap, suaranya keras, dan dia terlihat senang membuat anak desain menderita.

“Kita mulai dengan lari seratus meter per kelompok. Tidak usah takut. Ini bukan kompetisi serius. Kita hanya lihat kekompakan dan semangat.”

Ayla mendengar beberapa mahasiswa menghela napas lega.

Kesalahan pertama: percaya pada orang dewasa yang berkata tidak serius.

Pak Joko melanjutkan, “Tapi kelompok tercepat akan mendapat poin tambahan. Kelompok terlambat akan tampil yel-yel di depan semua.”

Suara keluhan langsung terdengar.

Nisa menepuk dahinya. “Aku mati.”

“Belum.”

“Kamu bisa lari?”

Ayla menatapnya.

Nisa mengangguk sendiri. “Pertanyaan bodoh. Tentu kamu bisa.”

Kelompok animasi dibagi menjadi beberapa tim. Ayla dan Nisa satu tim dengan tiga mahasiswa lain: Fajar, Riko, dan Melati. Fajar tinggi kurus, Riko berkacamata tebal, Melati terlihat pendiam tapi matanya tajam.

Fajar melihat Ayla dengan semangat. “Kita aman, kan? Kamu kemarin push up lima puluh kayak minum air.”

Ayla berkata, “Lari estafet bukan cuma soal satu orang.”

Riko mengangkat tangan. “Aku asma ringan.”

Nisa menatapnya panik. “Kamu baru bilang sekarang?”

“Aku juga baru ingat karena takut.”

Melati membuka botol minum. “Kalau kalah, kita yel-yel saja. Hidup terlalu pendek untuk lari.”

Ayla mengangguk. “Aku suka filosofimu.”

Nisa hampir menyerah sebelum mulai.

Urutan ditentukan. Riko pertama, Nisa kedua, Melati ketiga, Fajar keempat, Ayla terakhir. Jarak per orang tidak penuh seratus meter, tetapi cukup untuk membuat anak desain mengutuk pilihan hidup.

Kelompok lain mulai lebih dulu. Ada yang lumayan cepat, ada yang tongkat estafetnya jatuh, ada yang lupa berhenti. Suasana jadi ramai. Tawa, sorakan, dan teriakan senior bercampur.

Saat giliran kelompok Ayla, Alina berdiri dari tenda.

Dia tersenyum pada Nisa. “Semangat, ya.”

Nisa gugup. “Iya, Kak.”

Lalu Alina melihat Ayla. “Kak, jangan terlalu memaksakan diri. Kamu baru pulang ke Indonesia, mungkin belum terbiasa cuaca panas.”

Ayla menatap matahari.

“Cuaca panas?”

Nisa memegang lengan Ayla. “Jangan jawab.”

Peluit berbunyi.

Riko berlari.

Lima langkah pertama cukup baik. Langkah keenam mulai kacau. Langkah kesepuluh, kacamatanya melorot. Dia berhasil menyerahkan tongkat pada Nisa dengan napas seperti ikan di darat.

Nisa berlari sekuat tenaga. Tidak cepat, tetapi jujur. Wajahnya panik, mulutnya membaca doa pendek. Dia menyerahkan tongkat ke Melati sambil hampir jatuh.

Melati ternyata lebih cepat dari penampilannya. Dia berlari stabil, tidak dramatis, lalu menyerahkan tongkat ke Fajar.

Fajar tinggi, tetapi koordinasinya buruk. Dia berlari seperti orang dikejar tagihan. Cukup cepat, tetapi hampir keluar jalur.

Saat tongkat sampai ke tangan Ayla, kelompok mereka tertinggal cukup jauh.

Pak Joko meniup peluit kecil. “Ayo! Terakhir!”

Ayla menggenggam tongkat.

Lalu berlari.

Lapangan mendadak berubah sunyi bagi beberapa orang.

Gerakannya tidak seperti mahasiswa yang sedang berlari untuk ospek. Tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada panik, tidak ada napas kacau. Tubuhnya condong pada sudut tepat, langkahnya panjang, ritmenya bersih.

Dia menyusul satu orang.

Dua.

Tiga.

Dalam beberapa detik, jarak yang tadi terasa mustahil hilang.

Nisa berdiri dengan mulut terbuka. “Ya Allah.”

Fajar berteriak, “Ayla! Ayo!”

Melati yang biasanya datar ikut bertepuk tangan.

Ayla melewati garis finis lebih dulu.

Bukan sedikit.

Jauh.

Pak Joko melihat stopwatch di tangannya, lalu melihat Ayla.

“Kamu atlet?”

Ayla mengembalikan tongkat. “Bukan.”

“Pernah latihan lari?”

“Pernah lari dari banyak hal.”

Pak Joko tidak tahu harus tertawa atau bertanya lebih lanjut.

Di tenda, wajah Alina kaku.

Mahasiswa baru mulai bersorak. Beberapa merekam. Akun menfess yang kemarin menyerangnya kini mulai mengunggah video baru.

Anak desain larinya kayak atlet nasional.

Ayla Prameswari makin mencurigakan tapi keren.

Kak Alina bilang dia belum terbiasa panas, ternyata panasnya yang belum terbiasa sama dia.

Nisa membaca komentar terakhir dan tertawa sampai batuk.

Ayla mengambil air. “Lucu?”

“Maaf. Tapi ini lucu.”

Pak Joko mendekati Ayla lagi. “Kamu serius tidak pernah ikut atletik?”

“Tidak.”

“UKM olahraga mau merekrut orang sepertimu.”

“Saya jurusan animasi.”

“Justru itu. Sayang sekali.”

Ayla minum. “Pak, kalau saya mau lari, saya tidak perlu UKM.”

Pak Joko tertawa keras. “Sombong, tapi buktinya ada.”

Suasana yang mulai mencair itu tidak bertahan lama.

Salah satu senior panitia datang tergesa ke arah Alina dan berbisik. Wajah Alina berubah. Dia melihat ponsel, lalu menatap Ayla.

Ayla menangkap tatapan itu.

Beberapa detik kemudian, ponsel Ayla bergetar.

Pesan dari nomor tidak dikenal:

Kalau masih sayang keluargamu, jangan ikut campur urusan yayasan.

Ayla menatap pesan itu.

Nisa melihat ekspresinya berubah. “Kenapa?”

Ayla menghapus senyum.

“Ada yang akhirnya berani bicara.”

“Siapa?”

“Orang bodoh.”

Dia meneruskan pesan itu ke Arga.

Balasan datang hampir langsung.

Jangan balas. Kirim tangkapan layar lengkap.

Ayla mengetik:

Terlambat kalau aku ingin membalas?

Arga:

Ayla.

Ayla tersenyum kecil. Nama yang dikirim sendirian oleh Arga ternyata sama menyebalkannya dengan pesan Guru.

Dia mengirim tangkapan layar lengkap.

Di seberang lapangan, Alina masih menatapnya. Wajahnya pucat, tetapi bukan karena sakit. Lebih seperti orang yang sadar sesuatu bergerak di luar rencananya.

Ayla mengangkat ponsel sedikit ke arahnya.

Alina langsung memalingkan wajah.

Pak Joko kembali meniup peluit. “Berikutnya latihan refleks dan koordinasi!”

Nisa mengeluh, “Masih ada lagi?”

Ayla menyimpan ponsel.

“Tenang. Kalau pingsan, aku seret.”

“Itu sama sekali tidak menenangkan.”

Namun Nisa tidak sempat protes lebih jauh. Dimas datang membawa daftar kelompok berikutnya. Kali ini latihan berupa simulasi tangkap bendera dan halang rintang ringan.

Ringan menurut panitia.

Tidak ringan bagi anak desain.

Saat peserta lain bersiap, Ayla melihat lagi nomor pengirim ancaman. Dia sudah tahu itu nomor burner. Tetapi cara orang itu menulis `keluargamu` menarik.

Mereka masih mengira keluarga Prameswari adalah titik lemahnya.

Kesalahan kedua.

Kesalahan pertama mereka adalah mengirim ancaman.

Kesalahan ketiga, yang biasanya terakhir, adalah berpikir Ayla akan takut.

Sebelum kelompoknya dipanggil ke latihan berikutnya, Ayla berjalan ke sisi lapangan dan mengambil foto area sekitar. Bukan selfie. Bukan dokumentasi ospek. Dia memotret posisi tenda panitia, pintu keluar samping, titik kamera kampus, dan tempat Alina berdiri saat pesan ancaman masuk.

Nisa memperhatikan dengan bingung. “Kamu foto apa?”

“Peta.”

“Itu lapangan.”

“Semua tempat bisa jadi peta kalau ada orang yang ingin menjebakmu.”

Nisa menatap langit sebentar, seperti meminta kesabaran tambahan. “Aku cuma ingin kuliah animasi, bukan ikut pelatihan intel.”

“Anggap saja referensi cerita.”

“Kalau suatu hari aku bikin film tentang kamu, orang pasti bilang tokohnya tidak realistis.”

Ayla tersenyum. “Buat dia lebih cantik.”

Nisa akhirnya tertawa.

Di tenda, Alina menerima telepon singkat. Wajahnya tetap lembut, tetapi bahunya menegang. Dia menjauh dari panitia, bicara dengan tangan menutup mulut.

Ayla memperbesar foto terakhir yang baru diambilnya.

Di belakang Alina, ada seorang pria memakai topi hitam berdiri dekat pagar kampus. Dia bukan mahasiswa, bukan staf, dan tidak terlihat seperti orang tua mahasiswa.

Pria itu juga sedang melihat Ayla.

Saat mata mereka bertemu dari jarak jauh, pria itu langsung pergi.

Ayla menurunkan ponsel.

Nomor burner, kantor yayasan, dan pengawas di kampus.

Permainan kecil Alina ternyata punya penonton yang lebih besar.

1
Osie
masih penuh misteri tapi seru..gak bosan nulis up lanjutannya thor💪💪💪💪💪💪
Bonny Liberty
cerita elit,cerdas,no menyerang.. menye...semangat!!!!!
Osie
up lagi ya thoorr🙏🙏🙏🙏🙏 ceritanya bagus bangeett..suka suka suka suka
Osie
datang lagi 1 teman mamba🤣🤣 makin seruuu
Osie
thoor aku baca udah sampai bab ini lho..sumpeh bagus banget alur ceritanya..tapi sayang msh sepi..pdhal kereen abiiss/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/so haraoanku ini cerita sampai end..i hope
Osie
yaaacckk arga kenapa gak langsung di bogor aja sisurya nya..kabutkan dia
Osie
jangan bilang emaknya si ratna juga ikut terlibat
Osie
alina siap siap menuju lubang kematian
Osie
ayla dilawan..ya manaaa bisaaaa..mama cuuyy udah biasa membunuh dlm senyap
Osie
wwaaww aku aku gaya ayla..kereen abiizzz..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!