NovelToon NovelToon
DURI YANG TERSEMBUNYI

DURI YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:672
Nilai: 5
Nama Author: Meindah88

Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.

Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.12

Hari bahagia yang selama ini menjadi doa akan menjadi kenyataan. Penantian panjang semakin dekat dengan ujungnya. Tinggal menunggu waktu hingga kisah cinta yang dijaga dengan ketulusan akan segera berlabuh dengan ikatan suci

Namun, semuanya hanyalah mimpi

Hari-hari berlalu begitu cepat, seolah waktu berlari tanpa menyisakan jejak. Di wajah Anna terukir senyum yang tak mampu ia sembunyikan. Mata indahnya memancarkan kebahagiaan hangat. Karena hari yang selama ini dinantikan akhirnya tiba. Penantian panjangnya akan usai dengan waktu. Alvaro, pria yang telah mengisi hatinya, akan datang untuk melamarnya.

Demi menuntaskan pendidikannya dan menunggu wisuda yang telah lama diperjuangkan, Anna memilih menunda pernikahannya. Meski Alvaro sering mendesak namun pada akhirnya ia pun memahami setiap alasan Anna.

Kini hari bahagia itu sedang menanti  dengan perlahan. Jantung Anna berdegup lebih cepat setiap kali membayangkan masa depan yang akan mereka rajut bersama.

" Akhir-akhir ini, bibi sering melihat Neng Anna tersenyum-senyum sendiri," goda seorang pembantu yang baru saja datang membawa nampan. Keriput di wajahnya tampak ikut berbinar, seolah merasakan kebahagiaan putri majikannya.

"Jangan asal ngomong, Bi. Aku biasa saja," elak Anna, wajahnya bersemu merah saat berusaha mengalihkan pandangan, tak sanggup menatap wanita paruh baya yang terus menggoda.

"Bibi ikut bahagia, akhirnya Neng Anna bisa bersama dokter Alvaro," tambahnya dengan penuh harap.

" Terimakasih, Bi. Suatu saat kalau aku sudah pergi dari rumah bersama Alvaro, aku janji tidak pernah melupakanmu , Bi.

Pembantu itu tersenyum lebar, menatap Anna penuh kagum.

" Wah...wah... sepertinya ada yang sedang bahagia nih," sapa seseorang yang tiba-tiba muncul. Keduanya menoleh mencari arah suara tersebut.

"Eliz, kenapa belum bersiap-siap? Sebentar lagi tamu datang, kamu juga harus dandan cantik, ya," ucap Anna sambil menatap adiknya yang ikut tersenyum sumringah.

"Mbak Anna, kamu tidak takut kak Alvaro memilih aku?" canda Eliz disertai tawa renyah. Anna ikut tertawa mendengar candaan itu, tapi siapa sangka, bibi yang masih bersama mereka justru berpikir lain.

"Jangan memaksakan sesuatu yang bukan milik kita, nak," ujar pembantu itu dengan suara tenang. Ucapan sederhana itu langsung menghentikan tawa mereka berdua. Kalimatnya ringan, tapi maknanya menusuk dalam.

Wajah Eliz seketika memerah. Ucapan pembantu itu menusuk hatinya. Baginya, kenapa harus ikut campur? Bukankah pembantu itu orang luar yang hanya bergabung dalam keluarga mereka?

"Eliz cuma bercanda, Bi. Dia tidak bermaksud lain," ujar Anna cepat, menenangkan adiknya yang sudah terlihat murung.

"Bibi hanya mengingatkan, karena tidak semua harapan berjalan sesuai keinginan kita." Setelah berkata demikian, bibi itu berlalu. Ia bukan bermaksud ikut campur. Sebagai orang yang sudah lama mengenal putri-putri majikannya, ia bisa memahami karakter keduanya.

" Ayo, aku antar kamu ke kamar, ya . Nanti aku yang pilihkan baju untukmu. Hari ini adalah hari bahagiaku, aku tak ingin ada keluarga yang tidak bahagia,” ucapnya panjang lebar. "Tidak usah, Mbak. Eliz bisa sendiri." Eliz memutar kursi roda yang didudukinya dengan kedua tangan. Meski terasa berat, rasa sakit di hatinya akibat ucapan pembantu itu justru membuatnya seolah punya tenaga lebih. "Orang-orang semua memilih Mbak, Anna. Kenapa aku tidak berhak bahagia?" Cairan bening itu terus mengalir membasahi pipinya.

\*\*\*

Anna keluar dari kamarnya dengan anggun setelah selesai berdandan. Gaun putih bermotif yang berbalut ditubuhnya jatuh dengan sempurna, menghadirkan kesan elegan yang sulit digambarkan. Setiap langkahnya memancarkan pesona begitu lembut. Seolah ia adalah bunga yang baru mekar di pagi hari. Rambut panjangnya tergerai indah, membingkai wajah cantiknya dengan sempurna. Senyum tipis menghiasi wajahnya menambah daya tarik alami.

Saat Anna melewati lorong rumah, suasana seakan berbeda, anggun, menawan, dan memikat. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terlihat terdiam sesaat terpukau oleh kecantikannya.

Alvaro berdiri, masih terpaku dengan pandangan penuh takjub. Niatnya menjemput calon istri begitu kuat, namun sebuah tangan tegas menahannya agar tetap duduk.

"Jangan buat malu, kamu tetap di samping ayah," bisik suara itu, penuh perintah tanpa ruang untuk bantahan. Tentu saja Alvaro menurut, apalagi mereka sedang berada di rumah wanita yang akan dilamarnya. Lidya menatap calon menantunya dengan hangat, matanya memancarkan ketenangan.

"Kamu cantik sekali, Nak. Pantas saja Alvaro tergila-gila padamu," ucapnya lembut di tengah keramaian orang-orang.

" Alvaro tidak bisa berpaling dari," imbuhnya lagi.

Sesaat kemudian muncul wanita cantik, dengan gaun putih polos yang memancarkan keanggunan dimiliki. Wajahnya teduh dihiasi senyum tipis yang banyak menyimpan banyak cerita. Seorang bibi berdiri mendampingi, kedua tangannya menggenggam erat pegangan kursi roda yang menjadi tempat wanita itu duduk. Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, kursi roda itu didorong dengan memasuki ruangan. Seketika, tatapan tamu tertuju padanya. Beberapa orang saling bertukar pandangan raut heran. Seakan tidak menyangka dengan kedatangannya. Bisik-bisik pelan mulai terdengar dari berbagai sudut ruangan bercampur rasa ingin tahu yang tak dapat mereka sembunyikan. Namun, dengan tatapan dan bisikan itu, banyak pula yang memandangnya kagum.

" Eliz mengenakan gaun yang sama denganku di hari pertunanganku. “Tapi, apa alasan di balik ini?” Anna memicingkan mata, menatapnya penuh tanda tanya. Sementara itu, Alvaro memandang Eliz dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan. Apakah Alvaro mengagumi Eliz, adik Anna? Ataukah ia terpikat oleh kecantikannya hingga berpaling padanya? Hanya dia yang tahu jawabannya.

" Ternyata ada bidadari yang lebih cantik," ucap pria berwajah garang itu, membuat semua orang menatapnya dengan penuh perhatian. Dialah ayah Alvaro, seorang pengusaha besar yang dikenal luas di wilayahnya dan memiliki kerja sama erat dengan negara lain. Sosoknya sangat berpengaruh dan disegani di kota itu. Hari ini, dengan kata-katanya yang mengejutkan, pria itu kembali membuat semua orang bingung.

" Apa maksud papa mengatakan itu? Jaga perasaan Anna calon menantu kita, pak."

Lidya yang memahami situasi itu segera menegur suaminya. Ia tak ingin orang berpikir hal yang lain.

" Yang dikatakan Tuan Denis memang kenyataan, Bu Lidya," ujar Yusi dengan penuh percaya diri. Eliz tersipu malu mendengar pujian itu.

"Sebaiknya kita fokus membahas tujuan Alvaro datang bersama keluarganya ke rumah ini.

Tanpa mengundur waktu, dengan sorot mata yang tenang namun berwibawa, tuan akhirnya mengungkapkan kedatangannya. Suasana yang sebelumnya hangat mendadak berubah hening ketika ia menyampaikan niat suci putranya, Alvaro, untuk melamar salah satu putri Yusi. Setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar tegas, berkelas, dan berkharisma, seolah setiap yang diucapkan membawa kepastian tak terbantahkan.

Namun, kejutan sesungguhnya datang di detik berikutnya. Saat tuan Denis menyebutkan nama wanita yang telah dipilihkan putranya Alvaro sebagai calon pendamping hidupnya.

Udara seakan berhenti berhembus, wajah-wajah yang sebelumnya tenang berubah dipenuhi keterkejutan.

" Duaaar,"....!!!

1
Novi Tasa
ceritany bgus
Meindah88: Terimakasih..🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!